
Pu-ting Dhisa yang belum keras itu di tarik oleh bibir Darwin, lalu lidahnya menjetikannya dengan manja.
Bagaikan orang yang sedang kehausan, Darwis begitu rakus menyedot pu-ting Disha, tubuh Disha menggelinjang bila dia merasakan hisapan rakus Darwin yang menggila.
"Ahhh... Mas!"
Suara de-sahan Disha membuat hasrat Darwin semakin memuncak. Dia sangat puas telah membuat Disha mende-sah seperti itu. Lalu tangannya menyelinap masuk ke dalam rok Disha, lalu menelusup masuk ke dalam kain tipis di bawah sana.
Disha terbelalak kaget saat merasakan tangan Darwin menyentuh hal yang paling berharga untuknya, membuat jantungnya berdetak begitu kencang, dia mengeluarkan keringat dingin saat teringat bagaimana pria itu memaksanya untuk bercinta dengannya 4 tahun yang lalu.
Namun Disha terus meyakinkan hatinya bahwa dia harus membuang dari rasa takut itu, dia memeluk kepala Darwin yang mulutnya sedang menyedot pay-daranya.
"Ahhh..." Satu des-ahan lagi lolos dari mulutnya saat Darwin menyelipkan satu jemarinya disana, lalu bergerak maju mundur dengan lembut.
Bibir Disha mengatup, rasanya dia dibuat menggila menahan segala kenikmatan yang dia rasakan di bagian dada dan bagian bawahnya, tangannya seakan sedang mencari sesuatu agar dia bisa kuat menahan kegilaan ini.
"Emm... Mas...ahhh...!" Hasrat semakin bergejolak merasuki jiwanya, tubuhnya tak bisa diam, dia menggelinjang hebat, Darwin telah sukses membuatnya terhanyut ke dalam permainannya.
Tiba-tiba Darwin menghentikan aktivitasnya, membuat Disha kebingungan, mengapa pria itu berhenti menghisap put-ingnya dan berhenti memainkan milikknya dengan jemarinya, padahal rasanya begitu membuat dia seakan melayang-layang diatas awan.
Rasanya dia ingin sekali marah karena pria itu seakan mempermainkannya. Seakan sedang membaca novel panas tapi malah di skip oleh authornya.
Darwin tersenyum smrik menatap Disha yang sedang menatap penuh tanda tanya padanya. "Bagaimana?" tanyanya.
"Apanya?" Disha tidak mengerti.
Disha sangat malu ditanya seperti itu. Namun dia tidak ingin berbohong, dia sangat menikmatinya, dengan pelan dia menganggukan kepalanya.
Darwin tersenyum lebar, dia mencium bibir Disha kembali, sementara tangan kanannya mere-mas-remas buah dada Disha, membuat wanita itu meremang.
Ciuman Darwin turun ke leher Disha, dia memberikan banyak kecupan disana, lalu memberikan hisapan kecil meninggalkan kepemilikannya.
Kemudian ciuman Darwin turun ke bawah, dia mengu-lum dan menghisap put-ing di dada Disha, lalu memberikan tanda merah di bongkaran yang indah itu.
Disha sudah tidak bisa menghitung berapa banyak kenikmatan yang Darwin berikan padanya, dia hanya bisa mendes-ah dan terus mendes-ah, pria itu terus saja menghujani tubuhnya dengan banyak ciuman, sampai kini Disha merasakan lidah Darwin menyusuri setiap inci area perutnya, pria itu seakan membawanya pergi mengarungi samudra yang luas.
Jantung Disa berpacu dengan begitu cepat saat merasakan Darwin membuka roknya, dia menelan saliva dengan susah payah, rasanya sangat malu sekali, walaupun dia sadar Darwin pernah melihatnya dulu.
Darwin berkeringat dingin saat membuka kain segi tiga yang membungkus sesuatu yang sangat berharga milik istrinya, sampai matanya membulat penuh begitu melihat dengan nyata bagaimana penampakan yang sangat indah di antara kedua pangkal paha itu.
Disha sangat malu memperhatikan Darwin yang sedang menatap dengan takjub miliknya, "Mas... aku..."
Darwin duduk diantara kedua paha Disha, dia membuka lebar-lebar paha itu, Disha tidak mengerti pria itu mau apa, namun dia menganga begitu Darwin mencium miliknya.
"Mas...ahh...ahh..." Disha merasa Darwin telah menyiksanya dengan berbagai macam kenikmatan pada tubuhnya, apalagi saat merasakan lidah Darwin bergerak hilir mudik menyapu disetiap kelembutan area intinya.
"Owh... hentikan...ah... !" Disha rasanya tidak sanggup menerima penyiksaan ini, sampai dia menengadah ke atas, dan bibirnya mengatup, dia mencengkram rambut Darwin.
Namun sialnya dia semakin terbuai, bibirnya bilang ingin berhenti tapi tubuhnya tidak, tanpa disadari tangan Disha menekan kepala Darwin, sampai dia melebarkan pahanya, memberikan akses pada Darwin untuk mengeksplorasi area miliknya dengan lidahnya.