Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Bonchap 2


Drrrrtt... Drrrrtt...


Disha mendapatkan balasan dari Zhoya.


[Aku akan tinggal selama satu bulan di Amerika, karena itu aku titip restoran sama kak Disha selama aku di Amerika. Kak Disha adalah orang yang aku percaya.]


Disha tak bisa menolak permintaan Zhoya, karena dia telah berhutang budi pada Zhoya. Zhoya yang sudah menolongnya saat dia kebingungan mencari tempat tinggal, waktu di cemoohkan oleh para tetangga, gara-gara berita skandal dirinya bersama Morgan, walaupun sekarang Darwin sudah menjelaskan bahwa Disha bukanlah wanita murahan, pria itu rela menjatuhkan harga dirinya demi nama baik Disha sampai mengaku kalau dia telah melakukan pelecehan. Karena tidak ingin Disha dianggap wanita murahan.


Di Indonesia saat ini sudah jam 8 pagi, karena itu Disha mengantarkan Shiva ke tempat penitipan anak, sekaligus Shiva belajar disana. Disha akan menjemputnya setelah pulang bekerja.


"Shiva, mama kerja dulu ya sayang. Nanti Shiva mau mama belikan apa?"


"Shiva mau beltemu Om Dalwin. Katanya mau ajak Shiva sama mama ke festival." Shiva terlihat cemburut sekali karena beberapa hari ini tidak bertemu dengan Darwin lagi.


"Mungkin Om Darwin sedang sibuk, sayang." Disha paham betul, pria seperti Darwin sangat sibuk, apalagi dia harus mengurus masalahnya, mungkin karena banyak yang kecewa pada Darwin, makanya CSTV mendapatkan banyak masalah.


Apalagi Disha tidak sengaja melihat komentar di sosial media, banyak netizen yang mengutuk dan berbicara tidak mengenakan tentang Darwin.


Shiva hanya menganggukan kepala, lalu dia melihat seorang anak yang sedang di gendong oleh ayahnya, disampingnya ada ibunya. Mereka terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia. Mungkin karena di dalam hati kecilnya iri melihatnya.


Disha menyadari apa yang sedang diperhatikan oleh Disha. Membuat mata Disha berkaca-kaca.


"Ma, ayah Shiva dimana?"


Tiba-tiba Shiva menanyakan hal itu pada Disha, membuatnya terkejut.


"Teman-teman Shiva punya ayah, tapi kenapa Shiva nggak?" Anak itu bertanya lagi pada Disha.


Disha berusaha sekuat hati untuk menahan air matanya, dia tidak mungkin bilang yang sebenarnya, anak seusia Shiva belum mengerti dengan permasalahan orang dewasa.


"Emm... Shiva, mama harus berangkat sekarang. Shiva belanjar yang rajin ya." Disha memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari Shiva, dia mengusap lembut rambut Shiva.


Shiva terpaksa menganggukan kepala. Apalagi disekolah PAUD itu akan segera dimulai belajarnya.


Disha mencium kedua pipinya Shiva secara bergantian. Dia melambaikan tangannya ke Shiva, "Dah Shiva!"


"Dah mama!" Shiva membalas lambaian tangan mamanya, dia pun masuk ke dalam kelas, bergabung bersama bu guru dan teman-temannya.


Dari tadi Disha menunggu bus, di halte yang tak jauh dari tempat Shiva sekolah, namun ternyata sudah setengah jam dia menunggu, bus tak kunjung datang.


Disha terpaksa harus berjalan kaki saja, siapa tau nanti ada bus yang lewat, karena dirinya tidak mampu untuk membayar ongkos taksi, dia harus bisa berhemat sehemat mungkin.


Sambil berjalan kaki Disha melamun, teringat dengan perkataan Shiva yang menanyakan tentang ayahnya. Dia menghela nafas begitu panjang, sesungguhnya dia juga tidak menginginkan kehidupan seperti ini. Namun bagaimana bisa dia menerima Darwin, sementara dia masih trauma jika mengingat kejadian 4 tahun yang lalu.


Jalan yang Disha lalui begitu sepi, Disha tidak sengaja melihat ada dua orang preman yang sedang memalak seorang pelajar SMP, gadis remaja itu sangat ketakutan sekali.


"Cepat mana uangnya sini? Handphone kamu juga!" Bentak preman berbaju merah.


"Aku gak punya Om, tolong lepaskan aku." ucap gadis remaja itu sambil menangis.


Preman berbaju biru memperhatikan penampilan anak SMP itu, "Mending kita bawa anak ini untuk bersenang-senang. Pasti masih sempit." Dia cekikikan.


Disha sangat tau rasanya dilecehkan, makanya dia tidak ingin ada lagi siapapun mengalaminya, walaupun sebenarnya dia juga sangat takut, dia memberanikan diri untuk menolong gadis itu.


"Lepaskan dia, kalau tidak aku akan lapor polisi!" Disha memberikan ancaman kepada kedua preman itu.


Gadis remaja itu segera berlari, dia bersembunyi di belakang Disha, mungkin karena ketakutan dengan kedua preman itu.


Kedua preman malah tertawa meledek Disha, dia tidak takut dengan ancaman wanita itu. "Hahaha..."


Preman berbaju biru memperhatikan penampilan Disha, dia baru menyadari kalau Disha memiliki wajah yang sangat cantik. "Wah... wah ada yang nantangin nih, bagaimana kalau kita berantemnya di kamar aja, hm? Akan aku buat kamu menjerit nikmat." Dia menarik tangan Disha.


Dengan cepat Disha melepaskan tangan si preman berbaju biru itu, kemudian dia menamparnya, cukup keras.


Plakk...


Preman berbaju biru menjadi emosi, dia menatap Disha dengan beringas. "Brengsek, berani lho nampar gue!" Dia ingin berbalik menampar Disha.


Namun tiba-tiba ada seseorang yang menahan tangan preman itu.


Disha mencoba melindungi wajahnya dengan tangannya sambil menudukan kepala, dia menyadari ternyata ada seseorang di depannya, dia mendongakan kepala. Disha terperangah saat melihat siapa yang menolongnya.