Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Bonchap 1


"Sayang, aku kangen banget sama kamu." Morgan setiap malam pasti menelpon atau memvideocall Zhoya, setiap hari dia menghubungi wanitanya, padahal baru empat hari mereka tidak bertemu.


Dia menatap Zhoya dilayar ponsel, kebetulan malam ini dia sedang bervideocallan dengannya. Yang paling menyebalkan adalah Zhoya sengaja memakai lingerie, membuat Morgan ingin secepatnya pulang dan mengurung Zhoya seharian di kamar.


"Aku juga kangen kak."


"Sepertinya aku yang ngidam, hampir tiap hari aku mual terus, apalagi pas mau adegan kiss scene." Morgan keceplosan, tapi memang faktanya seorang aktor harus profesional, dalam sebuah film pasti ada adegan kiss scene dengan lawan mainnya.


"Terus kakak ciuaman sama artis bernama Katie itu?" Zhoya merasa kesal mendengarnya, walaupun mereka berciuman karena pekerjaan, tetap saja mereka melakukan kontak fisik.


"Nggak, aku mual terus. Makanya aku minta gak usah ada adegan kiss scene. Lagian ini film laga."


Zhoya merasa lega mendengarnya.


"Aku rasa banyak lho film yang booming tanpa perlu ada adegan mesra apalagi adegan ranjang, aku ingin berakting seperti itu. Contohnya aktor Kirk Cameron, setelah menikah dia tidak ingin ada adegan ciuman, apalagi adegan ranjang." Morgan ingin menghargai perasaan Zhoya.


"Hmm... kalau aku sih gimana kakak saja," Walaupun sebenarnya dia senang dengan keputusan Morgan.


"Aku sudah beritahu mama dan papa kalau kamu lagi hamil, mereka sangat senang sekali. Apalagi mama, dia ingin bertemu dengan kamu, Zhoy."


"Iya kak, setelah kak Morgan selesai syuting, nanti kita berkunjung ke rumah mama dan papa."


"Iya, Zhoy." Pandangan Morgan fokus memperhatikan penampilan Zhoya, dia menelan saliva melihatnya, membuat celananya sesak. Malam ini dia harus bersolo karir.


"Selama di Inggris, kak Morgan ngidam apa?"


"Aku ingin buah-buahan yang masam, tapi sepertinya aku lebih ngidam kamu. Aku ingin sekali makan kamu."


Zhoya bergidik ngeri mendengarnya, "Kak Morgan pikir aku makanan apa."


Morgan hanya terkekeh.


"Tapi bagi aku kamu yang paling cantik dan paling seksi, cintamu membuat aku gila, sampai aku gak bisa melirik wanita lain. Karena memang hanya kamu yang aku mau."


Zhoya tersipu malu mendengarnya, membuat wajahnya memerah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau Morgan akhirnya bisa membalas perasaannya. Dia pikir dia hanya akan cinta sendirian, namun ternyata jauh di luar dugaan, kini cinta Morgan begitu besar padanya.


"Awas ya kalau keluar dari rumah, kamu jangan pernah pakai baju seksi! Kalau ada cowok yang tersenyum sama kamu, jangan dibalas senyumannya, pelototin aja! Dan satu lagi, kalau ada cowok ngajak kamu bicara, hiraukan saja!" Morgan juga kini menjadi pria yang posesif, padahal seharusnya Zhoya yang cemburuan karena dunia kerja Morgan tak akan lepas dari para artis dan model cantik.


Zhoya tertawa kecil, "Padahal kemarin malam aku habis belanja ke Mall bareng Mommy, aku bertemu teman sekolah, namanya Martheen, dia menyapa aku..."


"Terus kamu abaikan?"


"Ya nggak, aku hanya tersenyum dan membalas sapaannya." Zhoya malah nyengir kuda.


"Hhh..." Morgan sangat kesal mendengarnya.


"Hehe... masa ada orangnya di depan mata, aku gak balas sapa. Kak Morgan ini ada-ada aja."


"Lain kali jangan, kalau ketahuan begitu lagi, aku hukum kamu ya."


"Asal hukumannya yang enak-enak." Zhoya malah terkekeh. Dia mengedipkan matanya, menggoda Morgan.


"Wah nakal kamu ya, aku jadi ingin secepatnya syuting ini selesai. Aku kurung kamu selama satu minggu di kamar."


Zhoya ngeri mendengarnya.


Setelah selesai bervideocallan, Zhoya melihat ada pesan masuk dari Disha di layar ponselnya.


[Zhoya, kalau boleh tau kapan kamu pulang ke Indonesia? Aku ingin berpamitan sama kamu, aku dan Shiva harus pergi ke kota D.]