
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Kau bisa lihat ini, kan" ia kemudian mencari sesuatu dari dalam tabletnya "Alasan Liam menemui Liora malam itu karena ingin mengetahui siapa dalang utama dibalik kematian Nyonya Evelyn" mata Karin melebar berusaha menangkap maksud Kelvin ditengah kasus ibunya yang baru saja ia dengar.
"Apa maksudmu dalang? Bukankah waktu itu kalian bilang dia sendiri pelakunya?"
"Itu memang benar, hanya saja kami merasakan ada hal yang janggal- Liora dengan sadar menabrak Nyonya Evelyn yang seharusnya ini bukan kasus tabrak lari. Dan Liora juga tidak punya motif untuk menghabisi Nyonya Evelyn setelah identitas aslinya Juan sebutkan malam itu."
"Liam hanya ingin memperdaya Liora untuk mengorek informasi lebih dalam tentang tujuan utama kenapa Liora bisa terlibat- Terlebih dia juga terkena dampaknya, kau pasti paham maksudku Karin"
Karin tidak menjawab ucapan Kelvin melainkan wanita itu mendorong sedikit tubuh Kelvin untuk menyingkir dari pandangannya "Apa maksudmu memperdaya seperti ini?" Karin menyodorkan foto itu tepat di depan wajah Liam lebih tepatnya di depan matanya.
Mata Liam melebar, ia belum memeriksa ponselnya "Kau dapat darimana?" langsung saja Liam rebut benda tipis itu dari tangan istrinya.
"Vin, coba jelaskan kenapa aku bisa berada disini? Menurutmu waktu itu aku melakukan hal ini?" melihat tingkah Liam membuat Karin semakin kesal.
"Dengar Tuan. Aku bicara padamu! Jangan mengalihkan suasana."
Liam terkekeh "Tunggu Karin- Kau bilang ini fotoku? Tanya Kelvin malam itu apa yang kulakukan"
"Ini efek AI Karin" ucap Kelvin mengembalikan ponsel itu pada Karin.
"Kalian pikir aku bodoh? Aku tidak akan repot-repot datang kesini jika ini hanya AI!" sontak Liam dan Kelvin langsung berhenti tertawa dan saling bersitatap.
Karin menggerakkan jari telunjuknya memberikan kode pada sang suami untuk mendekat-
"Kalau masalah ini- mohon maaf bos, aku tidak bisa membantu" dalam hitungan kurang dari satu detik Kelvin sudah lebih dulu berlari keluar menyelamatkan dirinya sendiri.
"Karin. Sayang- Tunggu! dengarkan dulu, aku bahkan tidak melakukan apapun aku berani sumpah" Liam menekuk lututnya di depan Karin dengan kedua tangan yang menyatu tak lupa raut wajah memelasnya
"Kau ingat terakhir kali berjanji apa padaku Liam?!"
"Aku tidak akan melakukan kebiasaanku lagi"
Karin tersenyum kemudian melipat kedua tangannya "Jadi- "Jadi aku mengaku itu memang fotoku" Karin langsung memicingkan matanya "Tapi itu foto enam tahun yang lalu Sayang" sambung Liam dengan nada cepat sebelum istrinya itu semakin salah paham.
"Romantis sekali" sindir Karin sementara Liam perlahan bangun "Siapa yang menyuruhmu berdiri" Liam kaget dan langsung kembali pada posisinya sambil mengangkat kedua tangannya sesuai perintah istrinya.
"Sampai kapan aku akan seperti ini?" tanya Liam yang merasa kakinya mulai mati rasa setelah hampir lima belas menit ia terus di posisi seperti itu.
Karin menoleh sekilas kemudian kembali pada ponselnya "tiga puluh menit lagi, jadi tahanlah"
"Kamu kejam sekali sayang- Bagaimana jika karyawan melihatku di posisi seperti ini?"
"Itu lebih bagus, artinya mereka harus lebih takut padaku daripada dirimu" Karin mendengus, ia sedang menenangkan dirinya setelah tadi selesai membakar seluruh foto-foto pembawa sial itu.
Karin sandarkan tubuhnya di sofa sembari sesekali ia usap perutnya yang sudah membuncit itu "Mommy harap kamu tidak seperti Ayahmu, sayang."
"Kita sudah membahas masalah itu Karin"
"Aku sedang tidak membahasnya denganmu" ketus Karin, ini sudah yang kesekian kalinya Karin berusaha untuk menerima satu-persatu masa lalu Liam.
Akhirnya Liam memilih diam dan menuruti ucapan Karin selama wanita itu tidak marah padanya lagi.
Dan di tengah suasana hening itu tiba-tiba terdengar suara tawa dari tiga pria yang sangat Liam kenal
"Sialan! Kenapa mereka harus datang sekarang" gumamnya mengumpat pelan.
Jayden bangkit dari duduknya hanya untuk menghampiri Liam yang berlutut di posisinya "Oh my god Bro- What's wrong with you?"
"Kudengar kau berhasil?" Tanya Adam meraih batang rokok yang ada di atas meja sementara Liam tengah beradu umpatan dengan Jayden yang tengah menggodanya.
"Dam. Jangan merokok disini, istriku sedang hamil bodoh" tegur Liam dan Adam langsung sadar dia melupakan hal itu "Maaf Karin, aku lupa" spontan pria itu langsung mematikan rokoknya.
"Memang seharusnya mereka berada di tempat itu, aku hanya mengembalikannya" jawab Karin singkat kemudian ia memposisikan dirinya sedikit miring menghadap Liam "Maafkan aku Liam, aku juga mengirim mantan kekasihmu bersama Riana" ujarnya dengan wajah sedih yang dibuat-buat "Ah, maksudnya Adriana" koreksi Karin
"Bahkan jika kamu kirim mereka ke malaikat maut sekalipun aku sangat bersyukur Karin"
"Benarkah?!"
Liam mengedipkan sebelah matanya "Tentu saja sayang"
"Berdirilah-"
Liam berhasil, dengan cepat pria itu bangkit dari posisinya dan duduk tepat disebelah Karin.
"Jadi apa langkahmu berikutnya?" tanya Adam.
Karin menghela napasnya "Tentu saja mengambil kembali apa yang menjadi milikku"
Mendengar itu Jayden melirik sekilas pada Liam yang rupanya juga melakukan hal yang sama.
......................
Sudah beberapa jam Zea berada diruang interogasi akan tetapi keduanya masih tak mau mengaku. "Tidak ada cara lain lagi untuk kalian berdua bebas" ucapnya.
Zea tiba-tiba mengangkat tangannya meminta salah satu bawahannya yang berada diruang rekaman untuk masuk.
"Bawa dia keruangan lain" perintahnya sementara Riana akan tetap berada diruangan itu.
Zea terlihat sedang mencari sesuatu dari dalam file komputernya, membuat Riana lama kelamaan semakin tidak tahan berada diruangan itu dan itu berlangsung cukup lama hingga tiga puluh menit kemudian.
"Kali ini kau akan melakukan pembelaan apa?" tanyanya tiba-tiba tapi Riana terdiam "Kenapa? Kau sedang menunggu pengacaramu? Jangan menunggu sesuatu yang tidak akan datang Riana" ucap Zea kemudian tersenyum sekilas terlihat dari sudut bibirnya yang terangkat sesaat.
Kemudian Zea melemparkan beberapa foto obrolan dari sebuah ruang chat pribadi antara Riana dan Liora.
"Oke. Kita selesaikan ini dengan cepat! Nama?"
"Kau tidak akan menjawab juga?" pasalnya Riana masih saja diam dengan wajah sombongnya itu berpikir pengacaranya akan segera datang.
Namun jangan sebut Zea jaksa gila jika dia tidak melakukan hal apapun. "Kau mau aku yang men-dikte-kan namamu Nyonya?" melihat wanita didepannya itu masih saja diam membuat Zea membuang nafas kasar.
"Baiklah- Adriana Ruiz lahir di Los Angel kelahiran 1973, usia 52 tahun, telah menikah pada tahun 1997 kemudian bercerai dan pindah kenegara ini dengan nama baru dan identitas baru. Kau berkuliah ditempat yang sama dengan Evelyn Lewis dan bekerja ditempat yang sama juga" Zea tiba-tiba berhenti kemudian memutar laptopnya untuk ia perlihatkan pada Riana tidak lebih tepatnya pada Adriana Ruiz
"Kau tahu apa yang lebih menarik?" Zea tertawa kecil kemudian ia duduk di kursinya yang berhadapan langsung dengan Riana. "Tuan Morgan. Kalian berdua memiliki hubungan kemudian berakhir dengan kemenanganmu- yang berhasil menikahi Tuan Morgan setelah Nyonya Evelyn wafat dan semua itu sudah kau rencanakan sejak lama, apa aku salah Nyonya Adriana?"
"Kau pengarang yang handal rupanya" ucap Riana tersenyum kecil.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...