Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - LIFE FOR LIFE


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"Menurutmu Riana akan mencurigaiku?" tanyanya sambil menyiapkan jam tangan Liam sementara yang diberikan pertanyaan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Liam!"


Pria itu terkesiap. Dia langsung saja menoleh ke arah Karin yang barusan saja memanggil dirinya. "E-eoh."


"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?"


Suara wanita itu terdengar seperti sedang kesal. Jelas saja kalau dilihat dari raut wajahnya saat ini. Lagipula wanita mana yang tidak kesal ketika dirinya bertanya malah tidak dijawab. Terlebih lagi ketika yang ditanya itu malah melamun tidak jelas-seperti tidak menganggap seseorang yang berada di sekitarnya itu ada.


"Tidak ada, Sayang." jawab Liam sambil mengulas senyum tipis. “Aku hanya memandangi foto kita berdua yang terlihat begitu serasi," dia mengakhiri dengan mengusap lembut pipi wanita yang ada di depannya itu.


Sementara Karin sendiri menaikkan alis kanannya ke atas. Ia masih sedikit tidak percaya. "Kau yakin hanya itu?"


Liam mengangguk "Tentu jawabnya sambil kembali tersenyum. Dia mulai merendahkan tubuhnya-mensejajarkan wajahnya di depan perut istrinya itu.


"Selamat pagi, Sayang. Semoga harimu menyenangkan di dalam sana. Jaga Ibumu, Jangan rewel selagi Ayah pergi bekerja.” dia berbicara sendiri pada bayi yang ada di dalam sana. Kemudian memajukan wajahnya, dan menempelkan bibirnya untuk mengecup perut itu. Memang hanya sekedar kecupan. Tapi dia melakukannya dengan berulang-ulang kali sehingga membuat Karin menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.


Liam itu selalu bisa menciptakan suasana manis seperti ini.


"Hentikan, Liam. Kau bisa terlambat pergi bekerja jika terus menerus menciumnya."


Ucapannya berhasil menghentikan kegiatan Liam. Pria itu kembali berdiri dan menatap wajah cantik istrinya. Hanya sekedar menatap, namun itu berlangsung dengan sedikit lama sekaligus tanpa suara. Liam hanya diam dan itu membuat Karin jadi bingung. "Ada apa? Kenapa kau terus menatapku?"


Pria itu menggeleng. Kemudian mendekatkan wajahnya untuk memberikan kecupan sekilas pada bibir istrinya itu sebelum akhirnya bersuara. "Aku berangkat sekarang, Karin. Jangan lupa meminum susumu"


Karin mengerti, dan ia hanya mengangguk.


......................


Karin terkejut saat dirinya tadi membukakan pintu dan melihat Felix yang sudah berdiri di depan pintu sambil memperlihatkan senyuman manisnya. Kedatangan pria itu yang secara tiba-tiba membuat Karin sedikit kebingungan juga merasa heran, tumben sekali, pikirnya. Sudah beberapa bulan terakhir ia tak pernah lagi melihatnya.


"Apa maksud dari kedatanganmu kali ini."


Pertanyaan wanita itu membuat Felix terkekeh sekilas. Ia pikir wanita yang telah berstatus menjadi istri Liam itu memang benar-benar penuh telisik, mempunyai tingkat keheranan yang tinggi karena dirinya yang datang secara tiba-tiba persis dengan Karin yang dia kenal saat mereka masih menjalin hubungan, Karin selalu penuh dengan pertanyaan, kemana dia pergi? dengan siapa? dan memiliki hubungan apa?. Jika diingat lagi membuat Felix tanpa sadar menarik senyumnya.


"Tentu saja aku ingin melihatmu," jawabnya menjeda sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Aku merindukanmu."


Setelah berkata seperti itu dengan cukup serius, Felix yakin setelah ini dirinya akan mendapatkan respon mengejutkan dari wanita yang sedang mengandung itu. Melihat ekspresi wajahnya yang saat ini saja benar-benar membuatnya ingin sekali tertawa lepas. Felix benar-benar merindukan Karin sebagai kekasihnya.


"Jangan bercanda. Apa kau sudah gila? Aku bertanya serius."


Felix masih menahan dirinya untuk tidak tertawa. "Apa aku terlihat sedang bercanda? Aku sangat waras, Nyonya Liam." kali ini jawaban yang ia berikan benar-benar membuat wanita itu kesal, terlihat jelas sekali dari raut wajahnya saat ini.


Sementara Karin sendiri sangat tidak suka saat Felix mengatakan kata 'rindu' dari mulutnya itu.


"Cukup Felix, lebih baik kau pergi. Terakhir kali kau datang hanya untuk membuat masalah, jangan sampai kau melakukannya lagi atau aku- "Atau apa? Kau akan memanggil suamimu?" potong Felix meraih lengan Karin.


"Lepaskan bodoh!" tepis Karin.


Karin sudah dibuat habis kesabaran oleh pria satu ini "Kalau begitu ayo kita pergi keluar" ajaknya tiba-tiba.


"Kau serius? Apa sebenarnya kau masih memiliki rasa padaku? Selama ini kau menolak hanya karena ada Liam, kan?!" jawab Felix penuh percaya diri.


Karin menghela napas "Pikirkan apapun yang kau mau. tunggu disini aku akan mengambil ponselku di dalam sebentar" Felix mengangguk paham bak anjing yang patuh pada tuannya.


Pintu di tutup, Felix menunggu dengan semangat sampai ia mendapatkan notifikasi pesan.


+12345678910


💬"Pergi sekarang, atau ku panggil pihak keamanan!"


"Aish, Kamu masih saja tidak memberiku kesempatan Karin" gumamnya sambil meremas ponsel


Ting.


💬"Jangan berpikir semuanya akan berjalan sesuai keinginanmu. Pergi dan jalani hidup dengan benar."


"Karin!" panggilnya sambil mengetuk pintu, Felix masih saja belum menyerah, bahkan Karin bingung jalan pikiran pria itu bagaimana?


"Dasar pria gila. Apa dia buta? Aku bahkan sedang hamil masih saja dia tidak paham"


......................


"Bagaimana?" penampilan wanita itu terlihat acak-acakan, dari raut wajahnya dia pasti tidak tidur semalaman.


Nichole menggeleng pelan "Sepertinya salah satu dari mereka mengambil uangnya" diletakkannya dua lembar foto, disisi kanan ada foto direktur Bank sementara di sisi kiri ada foto pertarungan antara gangster A dan B.


"Kemungkinan terbesarnya, Direktur Frank yang merencanakan semuanya dan menyewa salah satu gangster seolah itu adalah perampokan" jelasnya yang tentunya langsung mendapatkan amukan Riana yang dibuat stres karena nyawanya terancam.


"Kita harus mengembalikan uang mereka bagaimanapun caranya, jika tidak-" ia menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan "kita akan mati"


"Aku sudah meminta seluruh anak buah kita untuk menangkap ketua Geng mereka" jawab Nichole berusaha menenangkan Riana.


Arrrgghhh........


Riana mengacak frustasi rambutnya, beling dan benda-benda lainnya berserakan di lantai, tak ada yang berani membereskan selain membiarkannya.


Sorot mata yang begitu tajam berhasil menusuk siapa saja yang berada di tempat itu "Cari uangku bahkan sampai ke ujung dunia. Cepat!!!" teriaknya.


-


-


-


Karin meletakkan gelasnya di atas meja, jam telah menunjukkan pukul 22.36 namun ia masih setia duduk di ruang tamu sambil menonton tontonan yang menurutnya jauh lebih menyenangkan ketimbang Film yang memenangkan piala oscar.


Karin tertawa bak psikopat yang tengah menikmati sebuah pembunuhan, rasa puas dan rasa dendamnya seolah terlampiaskan "Kau pikir bisa hidup tenang setelah apa yang kau lakukan padaku Riana?"


"Mata dibalas mata, gigi di balas gigi dan- Nyawa dibalas nyawa." Seringaian Karin bahkan mampu membuat setan di tempat itu bergidik ngeri.


Melihat Riana yang sedang menggila karena uangnya hilang dari rekaman cctv membuat Karin tak henti-hentinya mengembangkan senyum.


"Kamu belum tidur Karin?" tegur Liam yang terlihat baru saja melepas sepatunya membuat Karin langsung menoleh dan mematikan layar televisi "Kamu sudah pulang. Kenapa lambat sekali- Bukankah waktu itu kamu sudah berjanji tidak akan pulang terlambat" baru saja suaminya itu pulang, ia langsung memberikan beberapa pertanyaan yang membuat Liam hanya diam.


"Liam"


Karin itu suka cerewet di waktu yang kadang kurang tepat.


"Kamu tidak dengar"


"Ssuttt!" Liam langsung membungkam mulut istrinya itu dengan meletakkan jari telunjuknya dibibir Karin. "Aku lelah sayang, nanti saja bertanyanya"


Ekspresi wajah Karin langsung berubah, wajahnya merengut kemudian melangkah pergi dari hadapan Liam "Mau kemana?" tahan Liam mencengkeram lengan Karin.


"Tidur" ketusnya.


Tanpa aba-aba Liam menarik Karin hingga jatuh kedalam pelukannya dalam satu tarikan "Kamu marah?" tanyanya seraya melingkari pinggang istrinya.


"Aku mau tidur, tadi kau bilang kau sedang lelah!"


"Karena itu aku perlu melihat wajah istriku yang cantik supaya lelahnya hilang" Liam menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinga kemudian mengacak pucuk kepala Karin hingga rambutnya berantakan "Liam" wanita itu jadi semakin kesal.


"singkirkan tanganmu itu"


"Tidak akan"


"Kubilang singkirkan"


"Eoh- Kamu berani melotot pada suamimu"


Ctarr. Liam menyentil dahi Karin hingga sukses membuat sang empu meringis


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...