
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Jayden duduk di sofa ruang tamu, seraya meletakkan sebuah kertas di atas meja. Dan hanya dalam beberapa detik mereka semua langsung menemukan kesimpulan dibalik alasan malam itu.
"Kau baru tahu Karin?" tanya Jayden memastikan dan di angguki oleh Karin.
"Kemungkinan alasan penculikanmu bukan murni karena dendam pribadi Martin pada Liam, tapi karena dorongan dari pihak lain" sambung Adam di dukung kuat oleh laporan komunikasi antara Martin dan Riana ibu tiri Karin yang di dapat oleh Juan.
Karin mengepalkan tangannya, jika dugaan mereka benar Riana sudah benar-benar keterlaluan. Nama baiknya maupun Liam bisa tercoreng mengingat bagaimana wanita itu sempat ingin menjebak Karin dengan cara yang sama, hanya saja Karin masih bisa dibilang beruntung itu Liam bukannya pria suruhan Riana.
"Aku akan membantumu jika ingin bicara dengan Ayah, mungkin jika aku ikut ucapanmu akan lebih di dengar" tawar Liam.
Karin menggeleng, "Ayah sudah benar-benar terkena tipu daya Riana, sudah berpuluh kali bahkan ratusan kali aku menyadarkannya tapi hasilnya selalu nihil, dan aku tidak mau namamu terseret dalam hal ini, Ayah mungkin akan menilai mu aneh karena bicara masalah istrinya, terlebih kita tahu Ayah selingkuh saat Ibu masih hidup" Karin ingin membenci Ayahnya, tapi dia sadar pria itu satu-satunya keluarga baginya.
"Kemarin malam aku sudah menyerahkan file rahasia milik Ibu pada Zea, aku yakin dia bisa membantuku dengan membongkar korupsi dan pencucian dana Riana" sambung Karin, itulah alasannya mengajak Zea bicara di tempat lain, namun siapa yang menyangka beberapa orang suruhan Martin malah menculiknya dan melukai Zea yang ingin menolongnya.
"Oh iya, bagaimana keadaan Zea?" Karin tiba-tiba khawatir dia melupakan wanita itu. "Beruntung perkiraanku tepat, dan lukanya berhasil di atasi" jawab Adam di angguki paham olehnya.
"Zea, wanita berbisa itu pasti akan mengejar pelaku yang melukainya sampai ke akar-akar terlepas dari permintaanmu-pun dia akan menghalalkan segala cara" timpal Juan yang cukup mengenal karakter Zea. Jaksa gila dari keluarga terpandang yang tidak pernah sekalipun melepaskan mangsanya.
"Kalau begitu, bagus jika kalian bersama. Kenapa kau terlihat menolak?" tanya Karin penasaran.
Juan mendengus, "Dia itu lebih tua dariku Karin, sementara type ku itu yg lebih muda dariku"
"Umur itu cuma angka Juan, buktinya aku tiga tahun lebih muda dari pria gila ini, tapi sikapnya jauh lebih ke kanak-kanakan dariku!" Karin melirik dengan ekor matanya. "Gila-gila begini, tapi kau suka, kan?" Liam mengangkat sekilas kedua alisnya menggoda Karin, lalu tersenyum lebar.
"Lebih baik sekarang kau tandatangani cek ini, aku tidak mau mengeluarkan uangku untuk membersihkan mobilku!" kontan Liam dan Karin langsung bertukar pandangan saat Jayden berucap demikian.
Jayden menggeleng pelan, "Bisa-bisanya mobil kesayanganku- Hah! Kalian!"
Karin perlahan menunduk, Juan dan Adam tidak paham maksud Jayden sementara Liam langsung mengambil ceknya, "Ku belikan yang baru, maaf untuk itu"
"Tidak perlu." ucap Jayden yang tahu Liam secara finansial sangat mampu untuk mengganti mobilnya yang sudah ternoda itu.
Jayden mendengus, seraya mengambil cek yang sudah di tandatangani Liam.
Ting...
Karin bangkit untuk membukakan pintu.
Baru saja ia ingin membuka pintu, matanya melebar saat melihat dua wanita yang berada di depan.
Cklek.
"Kalian" Seru Karin tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Kau berhutang penjelasan dengan kami Nona Karin!" ucap Jessy yang tengah berdiri di sebelah safira sambil bersedekap.
"Hm. Masuklah" ajak Karin.
"Kenapa kau tidak bilang sudah menikah? Kenapa kami tidak di undang? Kau sengaja menyembunyikan-nya? Bahkan kau sulit di hubungi setelah malam itu?!" Jessy terus menimpali Karin dengan pertanyaan dan pertanyaan sambil mengikuti langkahnya tanpa menyadari para pria di ruang tamu sedang menatap ke arahnya.
"Jess" tegur Safira meraih lengannya, membuat wanita itu tersadar.
"Ah, maafkan aku" ucapnya ikut duduk di sebelah Karin sama halnya dengan Safira.
"Jadi suamimu yang mana Rin?" Jessy dan Safira itu berbeda, wanita itu jauh lebih lembut berbeda dengan Jessy yang lebih bar-bar sama dengan Karin.
Tapi Safira hanya mengangguk tidak menanggapi uluran tangan Liam, karena dalam persahabatan mereka tidak ada saling jabat tangan pada pasangan sahabat masing-masing apalagi saling menyimpan kontak, tidak ada dalam konsep pertemanan mereka.
Juan terdiam menatap Safira, dia cantik dan anggun proporsi tubuhnya yang bak model membuatnya menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum tipis.
Lain hal nya dengan Juan, Jessy berhasil mengalihkan pandangan Jayden.
"Kalian lanjutkan saja, aku ingin bicara dengan mereka" ucap Karin pada Liam seraya menarik kedua tangan sahabatnya itu menuju balkon.
-
-
-
Karin menjelaskan semuanya pada Jessy dan Safira, membuat dua wanita yang juga tahu betul siapa Riana mengumpat mengeluarkan emosinya saat mengetahui Karin sengaja di jebak olehnya.
"Tapi baguslah jika kau keluar dari rumah itu, Riana pasti akan melakukan segala cara untuk menyingkirkanmu" ucap Safira di angguki setuju oleh Jessy. "Jadi sekarang bagaimana? Kau sudah membuka hati untuk Liam?" tanya Jessy.
Karin mengangkat bahunya, "Entahlah, aku bingung"
"Jangan bingung, renungkan lagi dan ambil keputusan yang baik" saran Safira.
"Felix terus menghubungiku untuk membujuk mu, jika dia tahu kau belum sepenuhnya melupakannya, pria itu pasti akan melakukan hal nekat lainnya" Kali ini Karin kembali menganggukkan kepalanya setuju.
"Lalu bagaimana denganmu Fir? Dia masih kurang ajar padamu?"
"Menurutmu Rin!" sahut Jessy, "Ah, masih rupanya"
"Tapi menurutku dia sudah kelewat batas Fir, itu bukan sayang tapi jatuhnya pelaku kriminal, dia itu melakukan penganiayaan" sambung Karin.
"Dia mengancam akan memberitahu orang tuaku jika aku meminta putus darinya"
Karin reflek memeluk Safira yang berada di sebelahnya, membiarkan kepalanya bersandar pada bahunya. "Sebenarnya aku juga lelah, tapi kau tahu profesiku. Aku baru saja berhasil mendapatkan peran utama untuk film, aku tidak mau kesempatan itu hilang hanya karena masalahku dengannya" jelas Safira, perlahan air matanya menetes menahan rasa sakit yang dia tahan selama ini.
"Jess ambil air" cepat Jessy bangkit untuk mengambil air di dapur yang berada di sebelah kanan sofa.
"Tapi jika kau terus membiarkannya, tubuhmu pasti akan menjelaskan semuanya. Selama ini dia melukaimu di tempat tertutup yang masih bisa kau tutupi, tapi bekasnya tidak akan hilang begitu saja Fir." Safira paham maksud teman-temannya, "Sampai proses syuting film ini selesai, aku akan mengakhiri hubunganku dengannya" Karin dan Jessy mengangguk, mereka mampu membantu Safira tapi bantuan mereka mungkin akan semakin menarik tali kekang yang mengikat leher Safira selama ini.
-
-
-
"Kalian makan malam disini saja sekalian, mereka juga makan malam disini" tawar Karin saat kedua sahabatnya itu ingin pamit pergi.
Jessy melirik Safira yang mengangguk, dan mereka berdua setuju.
Selagi Karin dan Liam pergi ke kamar, Jayden terlihat melancarkan aksinya dengan membuka pembicaraan dan bertanya hal basa-basi pada Jessy, sedari tadi dia sudah menahan rasa penasarannya.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...