Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - HOMEWRECKER


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Karin bangkit, dia berpikir Liam sudah tidak waras. Bagaimana bisa mengatakan kalimat itu dengan mudah, karirnya bagus dia pasti akan terjerat rumor jika membiarkan Karin berada di sisinya.


"Kalau begitu tunjukkan kamarku" ucap Karin meminta pada Liam. Tapi pria itu justru hanya menunjukkan dengan jari telunjuknya.


Setelah Karin masuk kedalam kamar, Kelvin datang membawa barang-barang milik Karin dengan tiga koper besar dan semuanya penuh. Membuat Kelvin mengumpat di sepanjang langkah menuju unit Liam.


"Letakkan saja di sana, nanti dia bisa mengambilnya sendiri" Suara Liam mengintrupsi Kelvin, lalu menyuruhnya untuk mendekat ke sofa.


Pria itu membisikkan sesuatu pada Kelvin selama beberapa detik, lalu Kelvin kembali menegakkan tubuhnya.


"Aku akan mengurusnya" ujar Kelvin melangkah pergi dari hadapan Liam sambil menelpon seseorang dari kontaknya.


......................


Liam berkata sembari menghembuskan nafasnya frustasi. Ditatapnya pantulan dirinya di depan sebuah cermin yang menampilkan betapa gagahnya dia yang dibalut oleh setelan jas hitam bermotif garis putih dengan dasi hitam yang bertengger di lehernya.


Pandangannya beralih pada sebuah foto yang berada disisi kiri tepat diatas kursi merah disampingnya. Lagi. Liam tersenyum miring ketika melihat wanita yang ada di sana.


Karin terkesiap dan hampir teriak saat Liam berada di kamar, lebih tepatnya berada di depan sedang membelakanginya. "Sejak kapan kau ada di sini?" Pertanyaan konyol itu tidak seharusnya keluar dari mulut Karin. Ayolah mereka sudah menikah, wajar jika Liam satu kamar dengannya.


"Kau!" Liam berbalik menatap Karin dengan tatapan tajam hingga nyali Karin ciut juga. "A-Apa" sahutnya lalu memalingkan wajah ke samping sambil komat kamit tidak jelas.


"Jangan pernah sekalipun berani keluar dari sini tanpa ijin dariku! Kau paham." Mungkin Liam marah karena Karin mengunci pintu kamar sampai dia tidak bisa masuk ke kamarnya sendiri tadi malam.


"Kenapa? Apa alasanku untuk patuh padamu?"


"Kau lupa- "Karena aku istrimu? Jadi menurutmu aku tidak bisa keluar dari sini?" Sela Karin.


"Itu kau paham. Jadi turuti saja"


"Aku, menuruti mu. Tck, jangan bercanda. Apa kau waras? Seharian di tempat ini? Tanpa keluar?Oh ayolah Tuan Liam, sekarang sudah abad ke berapa. Berhenti berpikir kulot" Karin perlahan mendekat memotong jaraknya dengan Liam.


"Kau tidak perlu se ketat itu padaku, aku tahu jalan pulang, dan masih punya akal sehat" ucapnya mendongak menatap Liam dari posisinya yang lebih pendek dari pria di hadapannya.


Liam tertawa kecil. "Oh. Apa kau takut istrimu yang cantik rupawan ini di rebut orang lain?" Potong Karin penuh percaya diri. Liam menoyor dahi Karin dengan jari telunjuknya, Karin mengusap dahinya, lalu Liam sedikit membungkuk untuk menyamakan tingginya dengan wanita gila di depannya itu. "Aku hanya takut wanita stres sepertimu membuat penghuni lain ketakutan, nanti aku yang kena imbasnya"


"Kau ya, selalu saja menjawab. Saat aku pulang nanti rubah sikapmu jika masih ingin di sini. "Kau mau mengusirku?" Lagi-lagi Karin menjawab, membuat Liam memutar malas bola matanya dan langsung pergi meninggalkan Karin yang masih mengumpat kesal dalam hati.


"Awas saja kalau dia pulang" Kesal Karin melempar handuk rambut ke keranjang cucian, sialnya lagi masuk dan tepat sasaran. Ia duduk di meja rias yang memang di siapkan untuknya kemarin sambil bergumam tidak jelas.


......................


Karin keluar dari ruangan Ayahnya setelah membicarakan sesuatu. Saat akan menutup pintu kaca yang sebelumnya terbuka, tiba-tiba pandangan Karin buram dan tubuhnya hampir hilang keseimbangan.


Ia berpegang pada gagang pintu kaca melihat sekilas Riana berjalan ke arahnya. "Karin, kamu baik-baik saja?" Tapi Karin dengan cepat menepis kuat hingga wanita itu hampir jatuh.


"Apa yang lakukan disini?" tanya Karin menatap jijik ke arah Riana.


"Aku datang karena Ayahmu minta di temani makan siang. Apa kamu sakit? Kenapa kamu berkeringat ..." tanya Riana menyentuh dahi Karin dengan punggung tangannya memastikan. Tapi lagi-lagi di tepis kasar oleh Karin.


"Kenapa kau peduli, jika aku sakit atau tidak." Jawab Karin menaikkan volume suaranya. "Bukankah aku memberitahumu?" Karin menatap sinis Riana, "Ku katakan, kau harus mengetahui tempatmu dan bertindak sesuai posisimu." Sentak Karin membuat Morgan langsung bangkit dari kursi kebesarannya.


"Karin, kamu bersikap kasar" kata Riana berusaha meraih tangan Karin. "Kamu di sana saja, Karin sepertinya sedang tidak enak badan, aku akan mengantarnya." Wanita licik itu berucap lembut pada Morgan agar tetap di kursinya, membuat Karin ingin melenyapkannya detik ini juga.


"Apa kamu baik-baik saja? Biar kulihat" Karin hanya diam kali ini, dia sudah muak dengan wanita di hadapannya itu. "Kenapa kamu demam?" Karin menarik Riana untuk setengah memeluknya, "Kau seharusnya bersyukur karena aku masih bersikap keras secara lisan. Dasar Homewrecker!" Bisik Karin tepat di telinga Riana. "Kehamilan keduamu tidak akan mengubah kelasmu dan menggeser namaku dari ahli waris. Kau paham itu? Dasar Jala*ng sialan .. Kenapa? Apa aku salah?" Karin meluapkan semuanya lalu tersenyum remeh.


Riana Tersenyum, ia maju selangkah lebih dekat, "Aku pergi ke rumah sakit hari ini. Kau tahu apa yang di katakan dokter?" Ia memegangi lengan Karin membuatnya untuk tetap tegap dan mendengar ucapannya. "Dokter mengatakan bahwa dia akan terlihat bagus jika mengenakan warna biru" Lanjutnya, lalu menyisir pelan rambut Karin dengan jari-jarinya. "Bayi yang ada dalam kandunganku, akan menjadi pewaris MK Group di masa depan. Kehamilan belaka?"


"Apa? Kau .. wanita pendusta yang tidak bisa dipercaya." Jawab Karin."Jangan terlalu Kasar, Karena aku akan menjadi ibu dari pewaris MK Group berikutnya. Jadi, jaga sikapmu pela*cur. Kau bilang apa tadi? Homewrecker?Jala*ng? Lain kali aku tidak akan membiarkanmu tidak menghormati ku lagi seperti ini. Jadi sebaiknya, bicara dengan sopan padaku!" Riana mendecakkan lidahnya menatap kasian Karin.


Karin membuang wajah, tangannya mengepal dengan kuat membelakangi Riana. Saat wanita itu ingin meraih Karin kembali, seseorang sudah lebih dulu mencegatnya dan membawa Karin keluar dari lorong itu, menjauh dari Riana.


Ini yang Karin benci, mereka akan melupakan posisi awal mereka dan bertindak sesuka hati tanpa rasa malu.


Ia memegangi kedua bahu Karin saat di dalam lift, memastikan jika wanita itu baik-baik saja. Sementara Karin masih menunduk menatap lantai, kepalanya pusing, wajahnya memerah karena amarah dan berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri sambil memukul pelan dadanya, menghilangkan amarah yang bersarang di dalam dirinya.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...