
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Liam melepas tangan Liora darinya, lalu berbalik dan memundurkan langkahnya menjaga jarak darinya.
"Jangan melewati batas Liora!" peringat Liam menunjuk Liora di wajah.
Wanita itu tersenyum, ia meraup jari telunjuk Liam gemas "Aku ingin kita seperti dulu" Tidak tahu malu.
"Jangan bermimpi! Aku sudah menikah, berhenti menggangguku." kesabaran Liam habis, ia segera pergi setelah mengucapkan kalimat tadi.
"Kau berbohong kan?" teriak Liora menghentakkan kaki tidak suka ucapan Liam.
Tapi kali ini Liam benar-benar acuh dan pergi meninggalkannya.
"Sial! Dia pasti sengaja untuk mengecohku" Liora bicara sendiri sambil menatap punggung Liam yang perlahan menghilang dari pandangannya. Pembicaraan mereka tidak berjalan baik.
......................
Jawaban Liora membuatnya benar-benar kecewa, selama lima tahun terakhir Liam masih berharap hubungan mereka bisa kembali suatu saat. Kalau kata Juan, Liam itu bodoh masalah percintaan.
Setelah melahirkan, Liora pergi meninggalkan Liam dengan alasan menenangkan diri namun nyatanya selama bertahun-tahun dia tidak kembali bahkan tidak memberi Liam kabar apapun dan sejauh itu dia masih berharap.
"Dimana?"
"Kerja! Kenapa? Kau sudah selesai bicara?" nada bicara Karin terdengar datar dan dingin.
Tanpa menjawab, Liam mematikan sambungan telpon nya kemudian bertanya pada resepsionis.
Setelah mendapatkan informasi ruangan dimana Karin bekerja, ia segera pergi memasuki lift yang berada tak jauh dari meja resepsionis.
Ting.
Liam sampai di lantai 7 dan segera keluar untuk menemui seseorang yang mungkin memerlukan penjelasan darinya atau mungkin sama sekali tidak menginginkan penjelasan.
Kakinya berhenti tepat di depan ruangan bertuliskan 'Planning Manager', tanpa mengetuk pintu Liam masuk begitu saja membuat Lea yang tersadar langsung menyusulnya.
Karin menatap diam pria di depannya sebelum buka suara pada Lea yang terlihat takut jika ia marah karena membiarkan sembarang orang masuk. Pernikahan Karin tidak di publikasi, wajar jika banyak orang tidak mengetahui status mereka dan wanita itu juga enggan memperjelas status mereka di depan publik.
"Maaf Bu" ucap Lea perlahan menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah Lea, aku mengenalnya kau bisa kembali ke mejamu" perintahnya dan di angguki paham oleh sekretarisnya.
"Ada apa?" tanya Karin perlahan menurunkan atensi matanya pada berkas di atas meja, tak berniat menatap Liam.
Liam tidak bicara, ia berjalan mendekati Karin dan memutar kursinya 90 derajat ke kanan untuk menghadap ke arahnya. membuat Karin melebarkan matanya.
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan ber tumpu pada kedua tangannya yang bertengger di kedua sisi kursi Karin, menatap dengan intens.
"Ke-Kenapa tiba-tiba kesini? Kau tidak kerja?" tanyanya memalingkan wajah saat wajah Liam benar-benar dekat, bahkan Karin merasakan hembusan napas Liam membuat dirinya bergidik ngeri.
Liam perlahan tersenyum saat melihat wajah gugup istrinya, seolah ia melupakan rasa sakitnya akibat Liora.
"Alasan kau ingin bekerja disini karena Felix?" tanya Liam kembali ke posisi awal sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Jangan mengambil kesimpulan tidak berdasar, Felix tidak bekerja disini" jawab Karin bangun dari kursi menuju sofa single yang ada di depan mejanya di ikuti Liam yang juga perlahan ikut duduk.
"Kau sendiri?"
"Dia Liora, kan. Wanita yang kau kurung sebelum aku!" sambung Karin langsung pada intinya.
"Berhenti membahas masalah Liora, aku datang ke sini ingin menjelaskan jika dia hanya mantan pacarku dan tidak punya hubungan apapun lagi selama lima tahun terkahir" jawab Liam sebagian berbohong.
"kau tidak perlu cemburu, aku sudah memperingatkannya untuk menjauh" lanjutnya.
"Aku tidak cemburu tuh" cepat Karin menjawab tapi tak berani menatap mata Liam.
"Kau cemburu" Liam tersenyum aneh.
"Sepertinya kau yang lebih cemburu karena Felix mendekatiku? Aku akan mengantarmu sayang" Karin bicara mengikuti intonasi Liam saat di lobby yang terdengar menyebalkan bagi Liam yang terlihat mati kutu sementara Karin tergelak.
"Jangan tertawa!"
Karin semakin mengejek menertawai Liam, membuat pria itu mendengus sebal dan dengan cepat menarik tengkuk leher Karin dan,
Cup~
Gantian Liam yang tersenyum sembari mengelap bibir menggunakan ibu jarinya, menatap puas Karin yang terdiam seperti batu.
"Kau curang" jawabnya pelan tapi Liam hanya menampakkan ekspresi masa bodo sambil tersenyum tipis.
"Kau-" Liam menunjuk wajah Karin yang reflek menjawab "What?" tanpa suara plus nyolot.
"Kau tidak akan bisa membuatku patuh, apalagi padamu! Jangan berharap" Karin menyilangkan tangan angkuh.
"Kau lupa janjimu waktu itu? Aku sudah mengizinkanmu bekerja di perusahaan Ayahmu." Ingin sekali Liam menjitak dahi Karin.
Karin melepas silangan tangannya dan beralih menyilangkan kaki sedikit mencondong ke depan menatap Liam cukup dekat, "Aku tidak peduli, lagi pula pernikahan ini tidak ada manfaatnya untukku jadi jika kau mau menceraikan ku, aku tidak keberatan."
Cklek!
Pintu di buka memperlihatkan sosok tuan Morgan yang reflek membuat Karin berdiri diikuti Liam.
"A-Ayah"
"Ucapanmu keterlaluan Karin! Bagaimana bisa kamu mengatakan itu pada suamimu" kata Tuan Morgan menutup pintu.
Liam terlihat mengulum bibir menahan senyum yakin Ayah mertuanya akan membela dirinya.
"Tidak Ayah, Karin hanya bercanda iyakan sayang" Ia menyenggol Liam menggunakan sikutnya kala Ayahnya akan duduk.
"Benar begitu Liam?"
Karin melotot, memberi isyarat pada Liam untuk mengiyakan ucapannya tapi Liam segera mengalihkan atensinya. "Sebenarnya Karin sudah beberapa kali minta cerai Om" Kali ini Liam kelewat jujur membuat kaki Karin yang berdiri di sebelah kursinya terasa lemas.
Karin hanya bisa tertawa bod*oh, sambil memaki dalam hatinya.
"Jangan dengarkan dia Liam, dan panggil saja Ayah." Ujar Tuan Morgan menatap putrinya.
"Om, tidak. Maksud Liam, Ayah tenang saja Liam tidak akan mendengarkan permintaan Karin" jawabnya berusaha mengambil perhatian Tuan Morgan untuk berpihak padanya.
"Karin ambilkan minuman dulu, kamu tidak menghidangkan apapun untuk Liam?" Karin memutar malas bola matanya dan segera pergi untuk mencarikan kopi dan dessert.
"Ayah dengar kamu menang tender untuk pembangunan gedung pusat pertahanan nasional"
"Benar Ayah, kali ini Rez Holdings punya kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak pemerintahan"
Tuan Morgan mengangguk, "Orang Tuan mu pasti bangga" tapi Liam hanya bisa tersenyum sopan untuk menanggapi ucapan mertuanya.
"Karin tidak membuat masalah kan?" tanyanya lagi.
Liam tersenyum paksa, "Tidak Yah, sebenarnya Karin wanita baik kadang dia juga punya sisi tidak terduga di balik wajah datarnya" kemudian Liam menoleh sebentar ke samping kiri "sangat merepotkan" umpatnya pelan tapi sampai saat ini masih bertahan.
"Kenapa?" perjelas Morgan yang mendengar samar, bersamaan dengan kedatangan Karin yang terlihat membawa dua kotak macaroon dan tiga gelas es americano.
Liam menggeleng beralih menatap Karin yang sedang meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
Saat akan kembali ke kursi kerjanya Karin sempat mendelik tajam pada pria itu, membuatnya kembali tersenyum mengejek.
Karin kembali ke kursi kerjanya sementara Liam dan Ayahnya masih bicara.
"Oh, iya Karin- minggu depan produk baru akan launching, Ayah ingin kamu dan Liam menghadiri acaranya"
"Liam sibuk Yah, dia punya banyak jadwal aku bisa pergi sendiri"
"Benarkah, yasudah kalau begitu kamu saja yang pergi nanti Felix bisa membantumu"
"Felix? Dia juga datang?"
"Karin akan pergi dengan Liam, Ayah tenang saja" Liam yang sudah mengamati keduanya, langsung buka suara saat ada kesempatan.
"Kamu tidak punya jadwal?"
"Tidak Yah , tidak ada jadwal untuk minggu depan" dengan cepat Liam menjawab sebelum Karin menyela-nya.
"Baiklah, kalian pergi berdua" ucap Tuan Morgan diangguki cepat oleh Liam sementara Karin tidak menjawab apapun.
Mereka terus mengobrol sampai telpon Liam berdering, menjelaskan jika Liam harus segera datang ke kantor pasalnya sudah pukul 11.04 AM tapi dia masih di tempat Karin.
Setelah pamit, Liam segera pergi dengan senyum yang terlukis di wajahnya entah kenapa setelah menjahili istrinya itu beban Liam sedikit berkurang, terutama masalah Liora.
Gadis itu masih tidak tahu menahu tentang Karin, jika dia sampai mengetahuinya Karin mungkin akan segera mendapatkan gangguan dari Liora yang lebih Jayden kenal sebagai ******* menjijikan, manipulatif, playing fiktif dan sangat mengganggu.
"Vin, katakan pada Jayden untuk mengosongkan jadwalnya aku ingin bicara"
"Oke"
Liam masuk kedalam lift setelah mematikan sambungan telpon.
Brukh!
......................
.
.
.
.
.