
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Cukup Felix" tegur Morgan yang ikut melerai keduanya.
"Felix sudah bilang, kan Om. Pria ini hanya akan membahayakan Karin!" Telunjuk Felix menegang mengarah pada Liam yang mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
Jayden berusaha menahan Liam untuk tidak tersulut emosi.
Morgan menatap putrinya yang masih tertidur. "Gara-gara dia Karin pasti jadi sasaran dari saingan bisnisnya!" Ucap Felix lagi.
"Lebih baik kau pergi, jangan membuat keributan disini" suara lemah Karin membungkam semua orang.
Riana berjalan ke arah banker Karin "Kamu baik-baik saja sayang?" ujarnya sok perhatian. Bukannya menjawab, Karin hanya membuang wajahnya ke sudut lain. "Bagaimana kondisimu Karin?" tanya Adam mengambil alih.
"Aku hanya pusing, rasanya aku ingin ke kamar mandi perutku terasa mual" jawabnya membuat Liam mendorong Felix dari hadapannya kemudian menghampiri banker Karin dan mengangkatnya ala bridal style menuju kamar mandi.
Melihat itu membuat Felix semakin berada di puncak emosi.
Liam perlahan menurunkan Karin dan menahan tubuhnya untuk berdiri di depan wastafel, reflek Liam mengusap lembut punggung Karin saat wanita itu memuntahkan isi perutnya.
"Pegang rambutku" pinta Karin yang dengan cepat Liam lakukan dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menahan tubuh Karin agar tidak jatuh.
Wanita itu mencuci mukanya dengan air dan menutup matanya sebentar merasakan kepala yang terasa pusing.
Sementara Liam malah ikut menutup matanya, leher jenjang Karin nan putih bak porselen membuatnya menelan kasar salivanya, sangat menggoda. Jika bukan di rumah sakit pria itu pasti sudah memangsanya.
Melihat Liam yang ikut menutup mata membuat Karin mengernyitkan dahinya, bingung. "Kau kenapa?"
"Jangan menggangguku. lehermu terlalu menggodaku" jawabnya enteng membuat Karin seketika mendorong tubuh Liam menjauh darinya hingga pria itu membuka matanya. Tapi Karin lupa jika sedari tadi Liam yang menahannya.
Beruntungnya Liam sigap dan menangkap tubuh Karin yang hampir jatuh. "Sudah ku bilang,kan jangan menggangguku! Bagaimana jika tadi kau jatuh? Kepalamu bisa terbentur kloset aku juga yang akan susah" jelasnya perlahan menarik tubuh Karin untuk berdiri sempurna dari posisi mereka yang sebelumnya miring.
Tanpa menunggu jawaban Karin, pria itu langsung mengangkatnya keluar dari kamar mandi.
Didalam hati, Karin hanya bisa merutuki sifat Liam yang bukan hanya menyebalkan tapi juga berotak mes*um.
Karin dengan sengaja mengalungkan tangannya di leher Liam agar Felix melihat dan segera pergi. Namun nyatanya itu tak berhasil dia masih saja berada di tempatnya.
Setelah meletakkan Karin, Liam berdiri di samping Adam yang sepertinya sudah mendapatkan hasil diagnosis.
Adam membolak balik kertas hasil tes "Beruntung racun yang masuk kedalam tubuh Karin tidak mencapai dosis mematikan, namun kedepannya akan terus kami pantau sampai kondisinya benar-benar pulih" jelas Adam pada Tuan Morgan dan Riana.
"Bagaimana kamu bisa teledor seperti ini Karin?" tanya sang Ayah yang juga ikut heran.
"Kenapa tidak tanya wanita di sebelahmu saja Ayah? Sepertinya dia yang menyuruh orang memasukkan racun kedalam minumanku" ucap Karin sembarang tanpa menatap Ayahnya melainkan menatap tajam Riana yang berdiri di sampingnya.
Morgan langsung menegur putrinya itu, "Karin jaga ucapanmu!"
"Tidak masalah, mungkin Karin masih perlu waktu untuk menerimaku" ucap Riana mengelus lembut lengan Ayah Karin membuat Karin mual kembali terulas.
"Ibumu datang jauh-jauh di tengah kondisimu seperti ini padahal dia juga harus menjaga bayinya"
Karin mendengus senyum, "aku tidak pernah meminta wanita ini datang, dia sendiri yang merepotkan dirinya untuk datang" kalimat tajam itu keluar dari mulut Karin
Riana hanya bisa tersenyum paksa mengepal tangan kirinya yang tersembunyi di sisi banker Karin.
"Kalau tidak suka pulang saja" sambungnya.
Liam sontak menggenggam tangan Karin memberinya kode untuk menjaga ucapannya, Liam tidak tahu siapa sebenarnya Riana. Karin memilih untuk menoleh ke kiri dan perlahan menutup matanya.
Tuan Morgan hanya bisa menghela napas panjang, sikap Karin terhadap Riana tidak pernah melunak semenjak kepergian ibunya, sifat lembutnya menghilang bak orang yang punya kepribadian lain.
Disaat Karin perlahan mulai tertidur, Riana keluar untuk mengangkat telpon sementara yang lain masih menunggu di dalam.
Juan berdiri di dekat pintu sementara yang lain duduk di sofa, sepertinya pria itu membawa berita tapi karena ada orang tua Karin membuat pria itu mengurungkan niatnya.
Juan melirik Jayden, tapi pria itu segera memberinya kode untuk diam dulu.
Berselang lima belas menit, Tuan Morgan pamit setelah menitipkan Karin pada Liam.
"Kau tidak pulang?" tanya Liam pada Felix yang masih setia duduk di sofa singgel sambil memainkan ponselnya.
Felix melirik Liam, Jayden dan Juan yang menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Kalian mengusirku!"
"Kau tidak di ajak kenapa masih di sana?" jawab Liam.
Mendengar jawaban Liam membuat Felix mendengus kesal, cepat ia bangun dari sofa dan keluar dari ruangan itu.
Liam ikut bangun dan berdiam sejenak di depan pintu setelah Felix pergi, "Sshut!" jari telunjuk ia letakkan di bibir merasa pria itu masih ada di depan membuat Liam perlahan membuka pintu dan-
Brukh~
Dugaan Liam tidak salah dan Felix langsung berdiri sambil mengusap sikunya yang terasa sakit akibat jatuh kemudian ia segera pergi karena merasa malu pada Liam dan teman-temannya.
Cepat Juan beralih menatap yang lain secara bergantian, dan menanyakan perihal Riana. "Kenapa? Jangan bilang ku tertarik dengan tante-tante" timpal Jayden.
Juan mendengus, "Maaf Tuan Jayden, tapi saya bukan anda" telak membuat Jayden melotot kesal padanya.
"Kenapa kau menanyakan ibu tiri Karin?" tanya Adam menatap Juan penasaran.
Juan kembali mengingat percakapan Riana yang tidak sengaja dia dengar dan berakhir menguping.
17 Menit yang lalu........
Kaki Juan berhenti saat nama Karin di sebutkan, suaranya berasal dari sudut lorong di dekat jendela membuatnya perlahan mundur beberapa langkah dan melihat seorang wanita sedang bicara pada seseorang di telpon.
"Karin baik-baik saja, dia sedang di rawat sekarang"
"Apa dia mengerjakan tugasnya dengan benar? Liam dan teman-temannya masih saja berada di dekatnya"
"APA! YAK! KENAPA PEKERJAANMU TIDAK ADA YANG BERES SATUPUN!"
"Aku tidak mau tahu, bereskan keteledoran mu sendiri jangan mengganggu ku! Gunakan kesempatan yang ku beri biar aku yang mengurus wanita itu"
Riana meremas kuat ponselnya sambil memaki pelan.
-
-
Liam menatap Karin yang sudah tertidur pulas dengan kepala yang jatuh ke samping kiri, cukup lama pria itu menatapnya hingga Adam menyadarkan lamunannya. "Apa yang akan kau lakukan?" Adam bertanya seraya meletakkan hasil tes ke atas meja.
"Ini bukan sekedar racun Liam, jika terlambat sedikit saja nyawa Karin bisa melayang. Jika ini di sengaja pelakunya bukan manusia" Yang lain ikut mengangguk, ucapan Adam tak salah.
Juan dengan wajah terlewat polos malah balik bertanya, "Kalau bukan manusia apa? Manusia jadi-jadian? Gumiho? manusia serigala?" Jayden sudah siap memukulkan botol plastik air mineral ke kepala Juan. "Percuma punya perusahaan besar, kalau otakmu sekecil biji jeruk" pria itu kesal disaat seperti ini sepupunya itu masih bisa bertanya dengan begitu polos.
Juan mempautkan bibirnya pada Jayden terlihat menyebalkan dan dalam hitungan setengah detik langsung di pukul oleh Jayden yang sedari tadi sudah gemas.
Juan mengaduh sambil memegang bibirnya, "Jangan sampai aku yang memukul kalian berdua" ucap Adam datar sementara Liam sudah terbiasa dengan pertengkaran keduanya.
Liam berpikir dalam diamnya "Tunggu dulu, sepertinya aku ingat sesuatu" sontak perhatian langsung tertuju padanya.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...