
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The StoryStory
......................
Tepat dugaannya. Sebuah private club tempat dimana beberapa pejabat biasa menghabiskan waktunya disini.
Bagaimana si breng*sek itu sampai ketempat ini.
Hal pertama yang menyambut Karin adalah Liam yang sedang dikelilingi oleh wanita penghibur disekitarnya. Wajah Karin terlihat menahan amarah, sudah dapat dipastikan jika dia ingin meledakkan seluruh penghuninya. Tapi ini berbeda, bukan itu fokusnya saat ini.
Karin berjalan kearah Liam dan menarik dua wanita penghibur yang ingin membuka kancing kemeja yang tengah digunakan suaminya itu.
"Keep your hands away from him!" (singkirkan tanganmu darinya!)
Kedua wanita itu tidak terima ketika Karin menarik tangan mereka dari Liam. Mereka tersenyum remeh melihat Karin, sedangkan Liam dia terkekeh tidak jelas melihat Karin yang menahan amarah di sampingnya.
"Shut up bi*tch! You disturb our pleasure!" (Diamlah *******. Kau mengganggu kesenangan kami)
Karin menghembuskan napas kasar. Sungguh, kedua wanita ini sedang menguji kesabarannya. Lain hal dengan Liam, pria itu sedang memperhatikan wajah marah Karin dengan menopang wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Dia bersikap sangat imut bahkan senyumnya selalu tertera di bibirnya. Ingat, dia sedang mabuk.
"Kau membuang-buang waktuku." Karin langsung menarik dan memelintir tangan kedua wanita itu, membuat mereka merintih kesakitan.
Sementara Liam dia begitu gembira melihat Karin menyiksa kedua wanita itu, dia tertawa sambil menepuk-nepuk kedua tangannya.
"Go away!"
Wanita penghibur itu langsung pergi ketakutan meninggalkan Karin setelah mendapat teriakan dan amukan darinya. Karin menatap Liam yang sedang terkekeh tidak jelas melihatnya, jasnya berantakan kancing baju sudah tidak ada yang terikat dengan benar.
Lain hal nya dengan Jayden dan Juan yang sudah terkapar tidak sadarkan diri, akibat terlalu banyak minum.
"Ayo. Aku akan membunuhmu!"
Karin menarik kerah Liam meluapkan rasa kekesalannya, lalu menuntunnya menuju mobil dengan memapah menggunakan sisa tenaganya.
-
-
-
Karin menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah meletakkan tubuh bongsor pria yang sedang mabuk dan meracau tidak jelas itu ke ranjang. Sungguh ia kehilangan banyak tenaga membawanya sampai ke kamar.
Ia membuka sepatu yang melekat di kaki Liam dengan kasar, lalu lempar jas yang tengah bertengger di tangannya ke keranjang cucian kotor. "Dia sungguh menyusahkan, lagi pula kenapa dia harus minum dalam kondisi yang tidak tepat."
Karin terus saja mengeluarkan sumpah serapahnya sambil memungut sepatu Liam untuk diletakkan diluar, baru setelah itu ia bisa istirahat.
Liam kalo ngak bikin Karin emosi, rasanya ada yang kurang.
-
-
-
Gorden putih tipis itu menari diterpa angin.
Matahari mulai memasuki celah jendela kamar, pagi telah datang. Liam dan Karin masih tertidur dalam kondisi saling berpelukan layaknya memeluk bantal guling. Tadi malam Liam menarik Karin yang ingin mengambil bantal dan mengunci dalam pelukannya, tidak membiarkan Karin melepaskan diri.
Kaki mereka saling mengait, tangan yang saling melingkar di pinggang satu sama lain. Karin dapat merasakan wangi khas tubuh Liam yang menelusup kedalam indra penciumannya ketika wajahnya membentur dada bidang milik pria itu.
Fakta sebenarnya adalah Liam dan Karin sudah terbangun sejak tiga puluh menit yang lalu. Mereka hanya terlalu malu untuk membuka mata dalam keadaan seperti itu. Ingat, mereka mempunyai tingkat keegoisan yang sama.
Karin berusaha melonggarkan pelukannya dalam keadaan masih pura-pura tertidur, begitu juga dengan Liam. Mereka berbalik secara bersamaan.
Ini harus terlihat normal dan biasa saja.
Satu.
Mereka meregangkan tubuhnya.
Dua.
Mereka bangun secara bersamaan. Liam dapat melirik Karin dari sudut matanya.
Tiga.
Mereka kembali merebahkan tubuhnya secara bersamaan pula.
Mereka masih mempertahankan kecanggungan yang terjadi antara keduanya. Hingga getaran ponsel Karin menyelamatkannya.
"Halo? Iya, aku akan keluar."
Liam menatap Karin yang sedang berdiri menghadapnya, alisnya terangkat seakan bertanya ada apa.
"Adam didepan. Aku akan kedepan!"
"Eoh? Iya, aku juga akan bersiap untuk ke kantor."
Karin segera pergi meninggalkan kamar dengan gelagapan, sementara Liam masuk kedalam kamar mandi. Percayalah mereka salah tingkah.
-
-
-
"Ada apa Dam? Kau datang pagi-pagi sekali?" tanya Liam heran sambil memasang jam tangannya.
Adam mendengus, Liam baru saja keluar membuatnya menunggu hampir satu jam. "Kenapa lama sekali" kesalnya.
Disaat dua pria itu sedang bicara, Karin terlihat menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapi, bersiap pergi ke kantor.
"Kita bicara di ruangan mu saja" kata Adam menarik Liam untuk masuk.
"Kau jangan kaget."
"Apa?" tanyanya lagi saat mereka sudah diruang kerja Liam.
Adam menghela napasnya, sebenarnya sedikit gugup tapi Adam berusaha menenangkan dirinya, "Liora kembali, aku takut dia akan mencari mu dan menemui Karin" kata Adam dalam satu tarikan napas.
Liam terdiam, tungkai kakinya serasa tak mampu menahan beban tubuhnya yang perlahan merosot jatuh terduduk di sofa single. "Menurutmu untuk apa dia datang?" ucap Liam menatap lurus kelantai, dia tidak bisa berpikir banyak saat ini.
Brak!
Pintu di buka dengan paksa memperlihatkan Juan dan Jayden yang datang dengan penampilan acak-acakan, sepertinya mereka tidak pulang dan langsung menemui Liam pagi-pagi sekali.
"Karin mana?"
"Sepertinya dia sudah pergi" jawab Jayden atas pertanyaan Liam.
"Kalian membahas Liora?" Adam mengangguk dan Juan segera ikut duduk di susul Jayden.
"Jika Liora menemui Karin dan mengungkapkan semuanya, pernikahanmu akan hancur dan janjimu tidak bisa di tepati" Kalimat itu keluar dari mulut Adam, entah apa yang sebenarnya mereka berempat sembunyikan.
"Apa mungkin dia kehabisan uangnya?"
"Liora bukan wanita yang gila uang"
"Diam Liam, selama ini kau masih tidak sadar" sela Jayden mendengus kasar saat mendengar pembelaan Liam.
"Jayden benar. Liora sudah memanfaatkan mu selama ini, dia bahkan tidak segan memeras uangmu menggunakan kelemahan yang kau buat sendiri"
"Apa aku harus berterus terang pada Karin? Dia bahkan beberapa kali meminta cerai dariku"
Jayden terlihat mematikan pemantiknya saat rokoknya sudah menyala, "Jangan. Karin wanita modern, dia pasti akan pergi jika mengetahui semuanya. Kecuali jika kau mau itu yang terjadi" asap putih menguar dari bibirnya, memberikan saran pada Liam.
"Liora adalah masa lalu yang tidak bisa kau lenyapkan begitu saja, lambat laun Karin pasti akan menyadari hal ini." tambah Adam menatap Liam dengan serius.
"Pertama buang dulu barang-barang Liora tempat ini" usul Jayden yang sedari awal sudah muak melihat benda milik Liora masih terpanjang di ruangan Liam.
"Kak Liam masih menyukai Liora?" suara Juan mengalihkan perhatian mereka.
"Jika kau menjawab iya, aku akan membunuhmu detik ini juga. Kapan kau akan sadar! Aku lebih mendukungmu dengan Karin ketimbang pelac*ur menjijikan itu" timpal Jayden. Kesalahan apa yang sebenarnya dilakukan Liora sampai Jayden se benci itu padanya.
"Apa aku ceraikan saja Karin? Dan bertanggung jawab pada Liora"
Buuughhh!.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...