Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - BELIEVE CROCODILE SAYINGS?


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Gelap, tenang, sunyi, bahkan tidak ada suara apa pun yang menginterupsi ruangan. Dingin dari dinding bangunan megah itu serta aroma terapi dari Gaharu yang memenuhi ruangan besar tersebut telah berhasil memberi ketenangan untuk Jackson menyendiri dalam kegelapan.


Tangan besar nya memutar-mutar korek api besi dengan gambar kupu-kupu sambil ia buka lalu ia tutup kembali--berulang kali.


Wajahnya tersenyum dalam kegelapan. Sedikit pancaran dari lampu jalanan diluar rumah yang menembus tirai jendela dan menusuk tepat di pancaran kedua mata nya terukir sempurna di wajah Jackson. Senyum manis itu kian menakutkan ketika tangan gagah berurat itu meremas korek api besi yang Jackson mainkan sedari tadi sekuat tenaga dan di detik yang bersamaan Jackson melemparkan nya ke kaca besar yang berada di tengah ruangan.


Prankk


Sebuah kaca yang tidak bersalah pecah menjadi seribu kepingan tepat di depan mata Jackson.


"Lihat saja," Jackson membalikkan fokus nya ke arah Kim. "Aku tidak akan membiarkan keluarga itu bahagia, Kim." sambil satu tangan nya mengepal seolah akan meninju meja kaca yang kini menjadi sandaran tangan nya.


"Tapi tuan, kita belum tahu kapan ada celah."


"Tenang, Kim." Jackson berucap dengan suara tenang dan pelan. "Tidak lama lagi dia yang akan memberitahuku kapan waktu bahagia itu akan tiba."


"Tapi tuan--"


"Kenapa kau selalu tapi tapi tapi, sialan!" tiba-tiba saja Jackson membentak. Rahang nya mengeras detik itu juga. Kim payah sekali.


"Bagaimana jika wanita itu menyadari semuanya tentang Tuan?"


 "Bukankah itu tugasmu untuk membalikkan keadaan seperti yang aku inginkan, Kim?"


Kim menunduk cepat sambil mengangguk samar. "Baik tuan." jawabnya tegas tanpa ada ragu sedikitpun.


Lantas Jackson berjalan mendekati Kim, menyeret ponsel nya yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Dua jemari panjang itu memenuhi layar ponsel mengacak dan mencari sesuatu. Hingga akhirnya Kim di hadapkan dengan sebuah foto yang sangat jelas dalam ingatan nya.


"Bukankah foto ini sudah sangat membantu untuk membuat pria itu melepaskannya secara suka rela?"


Seketika Kim tersenyum bangga. Kerja keras nya mendapatkan moment yang ada di dalam foto itu ternyata berguna juga pada akhirnya.


Kim mengangguk lagi beberapa kali, senyum bahagia sarat kelicikan itu melengkung sempurna di kedua garis bibirnya


"Rencana yang sempurna, tuan." ucapnya manis meyakinkan.


......................


Merasa pagi di akhir pekan akhirnya tiba juga. hari ini ia harus banyak istirahat, menghilangkan penat di otak dan di badan nya. Mungkin Liam akan menghabiskan waktu bersama sang istri yang berusaha menjaga dirinya di tengah kehamilan trimester pertama.


Liam tersenyum simpul memperhatikan Karin yang kini sibuk dengan lembaran berkas yang sedang ia periksa. Dari tadi Liam sudah memberikan solusi untuk tidak mengerjakan tugas itu keseluruhan dan tolong perhatikan suaminya yang minta di perhatikan.


Berharap mendapat jawaban yang manis, Liam malah mendapat ultimatum dari bibir cerewet itu seperti, "Melihat Riana duduk di kursi direktur membuatku tidak bisa tenang, setidaknya aku harus memikirkan cara merebut kembali milik keluargaku"



Dengan posisi tidur menyamping menghadap ke arah Karin sambil satu tangannya ia gunakan sebagai penyangga, Liam berusaha menikmati setiap keindahan dari paras cantik sang istri. Dia bisa menyimpan beban nya sendirian dan tetap berusaha terlihat tenang padahal di dalam hati dan pikiran kian berserabut memikirkan rumitnya hubungan mereka, terlebih masalah keluarganya yang pelik.


Sedangkan Liam? dia yang membuat masalah ini terjadi, tapi malah dia juga yang tidak tahan menahan semua nya.


Satu tangan Liam terulur mengusap rambut Karin yang terurai begitu saja. Menyelipkan ke belakang telinga lalu Liam usap pipi mulus nan lembut itu penuh sayang.


Jauh dalam lubuk hatinya, Liam merasa berdosa besar kalau istrinya ini akan tersakiti oleh nya. Jujur saja, waktu bukanlah permainan yang baik. Yang mana kalau seseorang ingin memutar ulang kembali atau menghapus sebagian skenario yang tidak ia inginkan, maka tidak akan bisa.


Sambil mengusap-usap kepala Karin dengan lembut, Liam jadi teringat masa dimana pertama kali ia di ingatkan soal pernikahannya dengan Karin, kala itu ia hanya berpikir jika itu satu-satunya cara untuk dirinya menembus rasa bersalah yang kian muncul dalam pikirannya.


Hubungan masa lalunya dengan Liora. Bahkan beberapa kali Liam merusak diri dan selalu saja Karin menerima dan memberinya kesempatan.


Bahkan buktinya sampai saat ini, sudah masuk enam bulan usia pernikahan mereka, Karin masih menjadi istri nya. Istri yang cerewet, keras kepala, dan bisa mengamuk sampai Liam sedikit takut kalau dia sudah benar-benar di batas kesabaran. Tapi sebenarnya Karin itu sempurna.


Jujur, Liam merasa tenang bahwa wanita yang ia nikahi adalah Karin.


"Kau kenapa?" Karin menyentuh pipi Liam lembut. Mengusap setetes buliran yang tergantung belum sempat terjatuhkan. "Kenapa menangis?"


Liam tersenyum sambil menggeleng tipis. "Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja."


"Tapi kau menangis?!"


"Tidak Karin. Tidak seperti itu."


"Lalu kenapa menangis?" Karin menyingkirkan berkasnya ke sudut kasur lalu mengganti arah duduknya selaras dengan Liam. "Apa terjadi sesuatu di kantor? Kau kalah tender?"


Liam tertawa pelan. Ia usap mata nya yang masih berair itu sebelum mencubit pipi Karin pelan. "Sedikit informasi saja untuk istriku, aku--" Liam menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk. "Liam Oliver Ramirez. Big Bos yang tidak pernah meleset soal tender."


Mendengar itu Karin langsung menyilaukan kedua maniknya. "Heleh...alasan."


"Aku sudah jujur. Apa kau tidak percaya pada suamimu?" balas Liam mendramatisir.


Karin dengan cepat mendecih. "percaya ucapan buaya sepertimu?!" lalu menggeleng pelan kemudian ia kembali meraih laptop dan berkasnya.


"Tapi akhir-akhir ini aku sudah berusaha membuktikan nya bukan" sela Liam dan Karin hanya memutar malas maniknya.


Di satu sisi Liam bersyukur akan bayi yang hadir dalam rahim Karin, membuat langkahnya terasa lebih mudah mengingat Karin yang jauh lebih menginginkan perhatian darinya akhir-akhir ini.


Liam mencegat tangan Karin kala wanita itu ingin meraih ponselnya yang ada di ujung kasur "Kau mau aku membantumu perihal perusahaan?!" reflek Karin menoleh kesamping. "Maksudmu"


"Yaa. Aku bisa saja menggunakan nama samaran untuk membeli saham MK Group dalam jumlah besar" jawab Liam memberi tawaran namun dibalik itu semua, ia menyimpan sesuatu yang bahkan tidak dicurigai siapapun, terkecuali Jayden yang mengetahui lebih banyak.


Karin jadi tersadar, ucapan Nick waktu itu tidak salah. Karin tidak tahu se kaya apa suaminya. Rez.co Boeing, Rez.Cons, Otomotif, Industri baja, Properti , maskapai. Mereka semua anakan perusahaan dari Rez Holding Company.


"Tapi-" Liam menjeda kalimatnya "Tapi apa?" sambung Karin, pria itu lantas tersenyum kemudian menarik menarik leher Karin turun ke tubuhnya lalu berbisik "30% dari kepemilikan atas namaku" seketika Karin bangun.


"Aku bisa mengumpulkan setidaknya 51% untukmu dengan melobi beberapa pemegang saham besar dari MK Group" perjelasnya.


"Dengan kepemilikan saham total 51% cukup untukmu mengambil alih hak manajemen" sambungnya.


Karin akui, untuk masalah ini ia sedang bicara dengan Liam si pebisnis, bukan lagi Liam suaminya. "Oke, deal" wanita itu mengulurkan tangannya yang tentunya di sambut hangat oleh Liam.


Tapi selang beberapa detik kemudian Karin menarik tangannya dan bergegas pergi ke kamar mandi.


Liam memejamkan matanya sejenak, kemudian turun dari ranjang.


Dengan telaten pria itu mengusap punggung Karin penuh sayang lalu memberinya tisu.


Tanpa aba-aba Liam mengangkat tubuh Karin untuk di baringkan di ranjang bermaksud membiarkan istrinya istirahat di tengah rasa mual yang muncul beberapa hari terakhir.


......................


Hallo gengs, sory ya misalkan alurnya ngalur ngidul🤣


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...