Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - HONEYMOON KATANYA


"Kau pikir, aku pria seperti apa yang tidak akan menikah? Dengar ya, aku ini masih waras. Bukan sepertimu yang cita-citanya hanya ingin meniduri semua kupu-kupu malam"


"Memang mulia cita-citamu, tapi perlu di pikirkan lagi" Timpal Adam menepuk pundak Jayden.


"Nanti saja ku ceritakan, aku harus pergi sekarang" ucap Liam menarik lengan Karin untuk mengiringinya.


"Mereka berdua ikut?" tanya Karin penasaran, ia berpikir Adam dan Kelvin hanya mengantar mereka.


"Kenapa? Kau takut bulan madu kita terganggu Sayang?" Seringai Liam melirik Karin.


"Bukan, Bukan itu maksudku. Ah, sudahlah tidak ada habisnya bicara denganmu" Kesalnya dan memilih untuk duduk di kursinya.


"Tenang saja, aku pasti akan mencari tempat paling aman untuk kita berdua" Kata Liam nimbrung duduk di kursi Karin. "Duduk di kursi mu sendiri, bod*oh." Liam terkekeh lalu duduk di kursinya sendiri dan lebih tepatnya kursi mereka bersebelahan.


......................


Seusai pernikahan, Morgan menyidak pria yang mau menipunya.


"Atas dasar apa kau berani memanfaatkan situasi putriku!" Tanya Morgan mengintimidasi.


Pria yang bersimpuh di hadapannya itu nampak melirik Riana yang berdiri di belakang Morgan, dengan cepat wanita itu menggeleng, 'kau harus diam dan tutup mulut' mungkin seperti itu kalimat yang harus di ucapkannya pada pria itu.


"Kebetulan saya mendengar Bapak mencari seseorang, dan malam itu saya juga di sana jadi saya dengan sengaja mengarang dan memanfaatkan situasi nona Karin" jawabnya menunduk tanpa berani menatap Morgan.


"Sudah, jangan biarkan ini berlarut-larut. Karin sekarang sudah mendapatkan tanggung jawab dari orang yang seharusnya" Ujar Riana lembut, merayu suaminya untuk tidak mempermasalahkan masalah ini lagi.


"Saya janji tidak akan mengancam citra nona Karin tentang masalah ini" kata Regard yakin, membuat Morgan berpikir lagi.


"Kali ini saya maafkan, tapi jika ada berita buruk yang muncul bersiap untuk mendekam dibalik jeruji besi. Kau paham!" Tekan Morgan mengepalkan tangannya.


Kali ini Riana kembali selamat, dengan situasi yang masih bisa dia kendalikan.


"Cari informasi tentang pria ini" Perintahnya pada Regard memberikan sebuah foto padanya saat Morgan benar-benar hilang dari pandangannya.


......................


Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka berempat masuk kedalam mobil yang sudah di sediakan Kelvin jauh sebelum mereka berangkat.


"Bisa kita berhenti di toko pakaian dulu? Ini terlalu risih untuk ku pakai" Pinta Karin tapi langsung di jawab oleh Liam, "Nanti saja, di rumah ada pakaian wanita, lagi pula kau terlihat cantik memakai itu." Karin hanya bisa memanyunkan bibirnya dan berusaha untuk tidur saja lagi.


Untuk sampai ke kediaman keluarga Ramirez, mereka harus kembali menempuh perjalanan selama dua jam. Selama itu Karin hanya menatap jalanan kota sebelum rasa kantuk akhirnya kembali mendominasi.


Irlandia adalah sebuah pulau di Eropa lepas pesisir barat benua Eropa. Di baratnya Samudra Atlantik, sesuai darah keturunannya, Liam berasal dari Britania, pulau Irlandia adalah cakupan dari pulau Britania raya yang termasuk pulau terbesar ke sembilan dunia.


Kedua orang tuanya menetap di sana karena Liam berhasil berdiri sendiri tanpa bantuan Ayahnya lagi, dan kini mereka berdua ingin menikmati masa tua mereka dengan tenang.


Nuansa nyaman dan asri otomatis menyambut mereka, deretan bunga dari berbagai negara berjajar rapi di rute masuk menuju rumah yang terletak sekitar 350 meter dari gerbang utama.


Liam sengaja tidak memberitahu orang tuanya karena ingin memberi mereka kejutan setelah hampir lima bulan tidak pulang.


Halaman rumah terlihat sepi, hanya ada tukang kebun dan asisten rumah tangga yang di bayar untuk bantu-bantu.


Karin turun bersamaan dengan Liam dan Adam, sementara Kelvin memarkirkan mobil di garasi.



Matanya menilai desain rumah yang terlihat nyaman dengan polesan cat berwarna putih yang rimbun di kelilingi bunga dan pohon rindang.


"Paman, Ibu dan Ayah dimana?" Teriak Liam pada pengurus kebun yang berada tidak jauh dari posisi mereka.


Pria itu lantas meletakkan gunting tanaman dan berlari kecil menghampiri Liam dan yang lain.


"Nyonya ada di rumah, tapi Tuan sedang pergi sebentar keluar, mungkin sebentar lagi kembali" Jawab Paman Robert, seraya membukakan pintu untuk Liam dan yang lain.


Karin masuk kedalam rumah berjalan beriringan dengan Liam, sampai mereka di depan ruang tamu lalu melanjutkan langkah sampai keruang keluarga yang berada di dekat halaman belakang.


"Liam, Ibu sangat merindukanmu nak" ucapnya menepuk punggung Liam dengan lembut. Wanita itu belum menyadari kehadiran Karin.


"Liam!" Seru Ayahnya dari belakang bersiap memeluk putranya juga dengan bangga. "Ayah"Gumamnya menyambut pelukan Tuan Zyan yang berjalan ke arahnya.


Setelah acara saling bertukar kerinduan itu, barulah Nyonya Catherine sadar dengan wanita yang mengenakan gaun pengantin itu.


"Nak, apa kamu istri Adam?" tanyanya lembut seraya mengajak Karin untuk duduk.


"Dia menantu Ibu" sahut Liam dengan gampangnya.


"Kamu ini suka sekali bercanda, biarkan dia menjawab" balas sang Ibu.


"Lagi pula, mana mungkin wanita sepertinya mau denganmu" Sambung Catherine meremehkan anaknya sendiri. Tapi itu hanya sebatas candaan yang di lontarkan.


Karin tersenyum paksa, ia sedikit bingung. "Liam benar tante, kami baru saja menikah" Jawabnya sungkan.


Saat itu juga ekspresi Catherine dan Tuan Zyan berubah drastis, dari cengar cengir menjadi kaget bukan main.


"Yak! Dasar anak nakal, kau melakukan kebodohan apa lagi sampai membuat dia terjebak denganmu?" Nyonya Catherine terlihat mengintimidasi menatap tajam putranya.


"Benar, Dam?" tanya Tuan Zyan dan mendapat jawaban iya dari Adam melalui anggukan pelan.


"Maafkan dia, kadang suka bertindak bodoh. Kamu tidak di paksa,kan? Apa dia mengancam mu?Atau dia melakukan hal diluar batas?"


"Ibu!" Teriak Liam kesal.


"Diam, kamu Liam!" Sentak Tuan Zyan dengan nada berat.


"Aku melec*hkannya, jadi aku harus bertanggung jawab bukan?!" Dengan begitu mudahnya kalimat itu keluar dari mulut Liam, seolah tak ada rasa takut atau beban sedikitpun. Bahkan ia jujur dengan gamblangnya.


"Benar begitu?" Tanya Nyonya Catherine memastikan. Karin ingin menggeleng karena itu tidak benar, tapi Adam memberinya gesture agar tidak mengatakan yang sebenarnya.


Mau tak mau Karin mengangguk pelan dan itu mampu membuat amarah Tuan Zyan mencapai puncak, pria itu menjewer telinga putranya lalu menarik tangannya untuk masuk kedalam kamar. Disini Karin cukup camas takut Liam terluka karena menutupi kesalahan yang mana sebenarnya ia juga ikut andil di dalamnya.


Ibu Liam terlihat mengatakan maaf berkali-kali pada Karin membuatnya sedikit tidak nyaman.


"Tidak apa-apa tante, Liam juga sudah bertanggung jawab dan Ayah Karin juga sudah mengetahui hal ini" jawabnya ramah berusaha menenangkan Nyonya Catherine.


"Anak itu suka sekali bikin malu" Sang Ibu hanya bisa mendengus kesal atas kesalahan putranya dan merasa tidak enak pada Karin.


Liam hanya tidak ingin menutupinya, toh jika ia mengarang cerita pasti kedua orang tuanya itu akan memakai logika, jadi lebih baik ia jujur di awal dari pada bingung nantinya.


Liam berdiri di kamar dengan kedua tangan terangkat ke atas, dan celana yang di naikkan selutut. Rotan kayu tipis memanjang sekitar setengah meter itu menyentuh kulit nya, memerah? Tentu saja. "Bagaimana bisa kamu melakukan itu Liam! Ayah selalu mengajarkanmu untuk menghargai wanita. Ibu mu juga wanita, dan Ayah tidak mau suatu saat karma berbalik padamu sendiri"


Plak!


Entah sudah pukulan ke berapa? Namun yang jelas kakinya sudah memar dengan darah yang keluar dari setiap luka pukulan. Tenang, Liam sudah terbiasa, jadi ini semacam olahraga kecil saja untuknya.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...