Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - FOR AGREEMENT?


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"menurutmu hanya sebatas itu? Zea memilih diam dan membiarkan Riana bebas di depan matanya?"


FLASHBACK.


"Riana pasti akan melakukan apapun untuk keluar Ze, jadi biarkan saja"


"Kau gila, mana mungkin kubiarkan sekalipun dia mengancamku!"


"Dia pasti akan lolos. Lebih baik loloskan dia untuk pancingan yang lebih besar"


Zea sempat terdiam sesaat sambil menatap punggung Karin.


"Kau punya tujuan lain?"


"Tujuanku hanya satu Ze, menjatuhkan Riana kedalam palung mariana"


"Lenyapkan saja, ku pikir kau mampu membayar orang untuk melakukan itu"


Karin tersenyum miring "aku hanya ingin melihat wanita itu memohon di kakiku dengan permintaan maaf yang keluar dari mulutnya itu"


"jadi apa rencanamu? Buktinya terlalu kuat, mustahil Riana bisa keluar"


"Kau masih belum tahu dimana uang itu berada,kan?" Zea mengangguk. "Jika skenario ini berjalan seperti apa yang ku perkirakan Riana pasti akan meminta bantuan untuk lolos, jika begitu biarkan saja- kita hanya perlu memancingnya untuk memindahkan uangnya"


"Apa yang akan kau lakukan jika dia memindahkan uangnya?"


"Uangnya akan menjadi milikku, dan dia yang akan disalahkan"


"Jika begitu dia mungkin bisa mati sebelum memohon di kakimu" balas Zea


"Jika sudah begitu, aku harus apa." Karin tersenyum aneh.


"Tapi kau tahu ini punya resiko besarkan? Jika ketahuan kau pasti akan diincar" nasehat Zea.


"Aku sudah sejauh ini Ze, apapun yang akan terjadi kedepannya akan tetap ku hadapi"


"Lagi pula para p*litisi sialan itu tidak akan bisa membunuhku, mereka pasti akan memilih menyelamatkan uangnya"


-


-


Juan jadi berpikir lagi, ucapan Karin itu tidak salah.


"Tapi satu hal yang tidak bisa aku prediksi-" Liam sontak menatap istrinya "Kecelakaan Tuan Morgan" Jawaban Liam benar, hal itu benar-benar diluar perkiraan Karin.


Riana hanya menginginkan harta Ayahnya dan berpikir wanita itu tak mungkin melenyapkan Ayahnya jika menginginkan hartanya.


"Mereka berhasil memindahkan uangnya, sekarang truk akan segera ke lokasi tujuan" ucap Jason yang baru saja mendapatkan telpon dari si sopir.


Sementara Juan, Jayden dan Liam segera menelpon bawahan mereka masing-masing memerintahkan para orang suruhan mereka untuk mundur selagi dua gangster A dan B masih berkelahi.


Tiga gangster lainnya hanyalah orang bayaran yang di gunakan untuk memancing para gangster lain untuk memperebutkan truk yang sebenarnya kosong.


Karin itu cerdas, hanya saja dia lebih memperlihatkan sisi bar-bar dan cerobohnya.


"Jason, segera cari keberadaan direktur Bank- Dia bisa saja buka mulut jika tidak di urus"


"Okee"


Beberapa hari sebelumnya, sebelum Karin meminta bantuan dari tiga pria itu ia telah menghasut direktur Bank untuk bersekutu dengannya dan memindahkan uangnya lalu mengirim truk yang kosong, uang yang ingin Karin miliki ada di dalam truk yang di kirim selang beberapa menit setelah truk kosong itu pergi.


"Jadi kamu tidak akan menyerah?"seru Liam melirik sekilas istrinya seraya menenggak habis air minumnya.


"Kenapa? Kamu pikir aku akan kalah dari Riana?"


"Seorang Karin Zylene Morgan?" sambungnya menyombong pada sang suami.


"Sudah kubilang aku sudah menyiapkan semuanya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat" ujarnya lagi kembali bicara.


Liam jadi gemas sendiri saat melihat ekspresi wajah Karin yang terlihat menyombong di hadapannya "Iyaa Iyaa, aku mengerti- istriku memang yang terbaik" Liam sedikit menjepit gemas hidung Karin dengan sela jari tengah dan telunjuk.


Kalian tahu bagaimana ekspresi Juan dan Jayden yang saat ini sedang menatap sepasang kekasih itu?


"Hah. Dasar bucin!" dengus Jayden yang tak tahan lagi langsung melempar bantal sofa yang berada disampingnya pada Liam.


"Tidak kena" ejek Liam membuat Jayden hampir naik pitam.


-


-


......................


Ditempat lain, Riana sedang mencerna ucapan Nichole yang baru saja berbisik padanya


Tiba-tiba beberapa orang dari masing-masing bawahan para petinggi yang ada diruangan itu masuk.


"Apa!"


"Apa yang terjadi Riana?" ucap salah seorang yang ada diruangan itu, ia juga mendapatkan informasi dari sekertarisnya.


"Apa yang akan kau lakukan Riana! Jika besok tidak ada kabar tentang uang kami, kau akan tahu akibatnya!" ujar Tuan Joseph bangkit dari duduknya dengan amarah yang membara "Ayo Pak kita pergi dari sini" sabungnya melempar celemek putih itu ke arah Riana.


"Tunggu dulu pak" tahan wanita itu segera bangkit dari duduknya "Pak Joseph" teriaknya saat rombongan pria itu keluar tanpa mendengarkan dirinya.


Brak!


Riana menyapu habis semua benda yang ada di atas meja hingga pecah dan berserakan di lantai.


"Sialan! Cepat cari tahu siapa dalang dibalik ini semua!" teriaknya mengepal kuat, matanya memerah sementara urat lehernya menonjol keluar.


......................


Karin duduk sambil tertawa puas, ekspresi wajah Riana benar-benar membuatnya tergelak nyaring.


Ia lantas menyapu sudut matanya yang berair "Permainan dimulai, tikus sialan"


Karin duduk dengan kaki menyilang tubuhnya agak serong dengan siku yang bertumpu pada punggung kursi "Jason, berikan jatah mereka" sontak pria itu segera melakukan perintah yang baru saja Karin berikan.


"Kalian ingat perjanjiannya bukan, sekarang kalian bisa kembali ke negara kalian dengan aman" ucapnya pada dua pria yang tengah berdiri di depannya dengan masing-masing menenteng tas travel berisi uang sebagai imbalan yang Karin berikan.


"Nona tenang saja, kami tidak akan kembali lagi ke negara ini- dan terimakasih atas bantuan karena telah mengurus visa kami" ucap salah satunya.


Karin hanya berdeham sambil mengangguk, kemudian Jason pergi mengantarkan keduanya menuju bandara.


Jayden berjalan beberapa langkah menuju tumpukan uang yang hampir sebahunya itu "Mau kau apakan uang sebanyak ini Karin?" tanyanya seraya menyalakan rokoknya.


"atau kau akan menggunakannya untuk membuat kesepakatan dengan Riana?" sambungnya seraya menghembuskan asap rokok dari bibirnya.


Karin terlihat berpikir "Tidak buruk" jawabnya.


Jayden paham mengapa Joy berkata demikian.


Drrttt...


Liam dengan cepat meraih ponselnya yang berada di saku celana "Kelvin" gumamnya beralih menatap yang lain kemudian segera menekan tombol hijau dan loudspeaker.


"Beritanya sudah menyebar, sekarang Riana mulai bergerak untuk menyelidiki siapa pencuri uangnya"


"Baguslah, kirim informan palsu kita untuk mengecoh penyelidikan mereka"


"Baiklah"


Setelah menutup telpon Liam langsung mendapati senyum manis sang istri membuatnya tiba-tiba salah tingkah sendiri dan bertingkah seperti kucing imut yang sedang malu-malu.


"Kenapa kamu sangat menggemaskan" ucap Liam menangkup kedua pipi Karin gemas kemudian mengecup bibirnya sekilas.


"Ayo pulang" ajaknya tiba-tiba seraya mengangkat cepat kedua alisnya seolah memberi kode pada Karin, tapi wanita itu pura-pura tak paham.


"Apa?" tanyanya menggoda Liam.


"Karin, Zea ingin bertemu hari ini, katanya mau bertanya tentang pernikahan"


"nanti ku pinjamkan hiro-ku Juan" lekas Karin bangkit dari kursinya meninggalkan Liam yang hanya bisa mendengus kesal.


"Terlalu sering tidak baik untuk ibu hamil, ingat itu direktur Liam" nasehat Jayden yang sedari tadi menahan senyum sambil menepuk-nepuk pundak Liam menggiringnya keluar dari tempat itu.


"Aish" Liam dengan cepat menyingkirkan tangan Jayden dari bahunya, namun lelaki yang lebih pendek dari Liam itu dengan cepat kembali merangkul bahu sahabatnya itu.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...