Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - WE CONTINUE


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


................


"Minggir!"


"Tidak akan."


"Aku bilang minggir!"


"Kau tidak dengar, aku bilang tidak akan."


Sudah lebih dari lima menit Karin dan Liam mempertahankan posisi mereka. Liam yang tengah menempel erat pada sudut pintu tidak ingin mengalah, dan Karin sedang berusaha menyingkirkannya untuk masuk kedalam kamarnya sendiri.


"Kau menyebalkan."


"Kau baru tahu itu."


"Aku membencimu."


"Aku anggap itu sebagai ungkapan kau merindukanku. Bukankah kita sudah tidak bertemu selama 29 jam?"


Karin kembali membuang muka ketika menghadapi sisi keras kepala dan tidak mau mengalah milik Liam.


Mereka masih berada di depan pintu kamar Karin dan sampai detik ini mereka masih berada di ambang pintu, belum masuk.


"Kau tunggu saja di bawah. Harus berapa kali aku mengata- eumph!"


Belum selesai Karin melanjutkan kalimatnya, Liam langsung membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya. Karin memberontak. Dia ingin melepaskan ciuman itu, tapi Liam menahan tengkuknya agar ciuman itu tidak terlepas. Semakin Karin memberontak, semakin kuat pula Liam menahannya, bahkan pintu kamar mereka biarkan terbuka.


Ciuman itu lambat laun semakin panas, entah apa yang mendorong Karin untuk membalas ciuman itu sekarang. Karin yang awalnya memberontak, sekarang sudah mengikuti ciuman Liam. Dia kalah dengan nalurinya sendiri.


Liam melingkarkan tangannya pada pinggang wanita itu, menuntun Karin melangkah maju mengikuti langkahnya tanpa melepas ciuman mereka sampai ke rajang. Karin menggerakkan kepalanya mengikuti ciuman yang Liam berikan, menggigit, mel*mat bahkan sambil meraup bibir masing-masing, mengabaikan fakta bahwa mereka tadinya sedang beradu mulut. Walau sekarang mereka sedang 'beradu mulut' dalam arti yang berbeda tentunya.


Penampilan mereka begitu berantakan. Liam melepaskan ciumannya ketika merasakan Karin membutuhkan oksigen lebih.


Dia menatap Karin dan tersenyum ketika wanita itu membuka matanya.


"Brengsek!"


Kata pertama yang dikeluarkan Karin dari mulutnya.


Liam mendengus senyum. "Harus kau akui.... kau menyukai ciuman si brengsek ini kan." Lanjutnya sembari menyelipkan anak rambut Karin kebelakang telinga "dan ternyata rasa bibir ini masih sama, manis dan membuat ketagihan." Liam menyapu lembut bibir Karin yang sedikit bengkak, lalu dengan cepat Karin turun dari pangkuan Liam, sial situasi macam apa ini. Membawa Liam kerumahnya adalah sebuah kesalahan besar untuk Karin.


"Kalian disini?" suara itu membuat Karin langsung menoleh dan Liam memiringkan kepalanya ke samping kanan untuk melihat siapa yang berdiri di depan pintu, akibat terhalang Karin.


"Ayah" seru Liam dengan santai langsung bangun dari duduknya meninggalkan Karin yang langsung mengalihkan wajahnya ingat pria brengsek itu meninggalkan bekas di lehernya.


Karin beruntung Ayahnya tidak datang saat adegan panas mereka tadi. Saking kesalnya Karin pada Liam dia sampai menendang sisi ranjang yang untungnya masih empuk.


Wanita itu perlahan duduk di tepi ranjang, sambil memikirkan ucapan Adam sebelumnya. Karin akui Liam memang agak gila, jadi tidak heran jika dia punya gangguan mental.


Cerita Adam masih memenuhi isi kepala Karin, membuatnya melamun sampai panggilan Liam terdengar.


"Pendek, ayo makan malam" hardiknya sambil tersenyum-senyum mengejek.


Karin mendengus "Tidak selera."


"Seleranya apa? Kau mau aku melanjutkannya?" Liam mengulum bibirnya menahan tawa.


Karin langsung mendelik tajam, sementara Liam tersenyum dengan begitu manis sambil bersedekap menyandarkan kepala pada sisi garis pintu.


"Kau serius" ujarnya lagi perlahan masuk kedalam kamar membuat Karin melotot dan langsung berdiri, "Ayo, Ayo makan malam" katanya mendorong tubuh Liam untuk keluar lebih dulu.


Ayah dan Ibu tirinya sudah ada di meja makan, membuat Karin mendengus saat melihat Riana.


Liam dengan begitu perhatian menarikkan kursi untuk Karin di sebelahnya membuat Karin memutar malas bola matanya lalu duduk.


"Ini sudah hampir larut malam, kalian menginap saja" ucap Morgan yang sedang mengambil beberapa lauk untuknya.


Saat melihat menu makanan, matanya tertuju pada satu hidangan kesukaan yang biasa di buat ibunya. "Bibi Anna yang masak ini?" tanyanya tersenyum pada wanita yang berdiri di dekat meja dapur.


"Bukan Non"Jawab Bibi Anna melirik Riana.


Senyum Karin luntur, ia meletakkan sendok dan menggeser piringnya lalu melipat tangan di atas meja menatap Riana, semetara Liam yang sedari tadi sudah kelaparan hanya fokus pada makanannya tak memperhatikan Karin, "Itu makanan kesukaanmu Karin, Ayo di makan ini sama enaknya dengan masakan ibumu" kata Morgan.


Karin tersenyum kemudian kembali menatap Riana, dia memainkan lidahnya pada dinding pipi tatapan remeh itu terus Karin lemparkan padanya.


"Dulu Ibuku, lalu suaminya, selanjutnya style, sekarang makanan? Kenapa tidak sekalian saja ubah wajahmu agar terlihat seperti Ibuku?!" Liam dan Morgan langsung mengentikan tangannya yang sibuk menyuap makanan.


"Menjijikan!" Karin mengulas senyum remeh sebelum ia berdiri dan kurang dari tiga detik mangkok berukuran cukup besar itu jatuh ke lantai.


Brakh!


Karin menatap Riana, lalu beralih pada kerang hijau yang sudah berhamburan di lantai. "Kau merusak selera makanku!" ucapnya kemudian pergi untuk kembali ke kamarnya.


"KARIN!" teriak Morgan, tapi wanita itu tetap melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


"Biar Liam yang bicara Yah" Liam segera bangkit dan pergi mengikuti Karin meninggalkan setengah makanannya di piring.


Emosi Riana memuncak, "Anak ini benar-benar kurang ajar" gumamnya pelan menatap masakannya yang berhamburan di lantai.


Karin duduk di depan meja rias, menatap dirinya di cermin dua sudut bibirnya terangkat menandakan dia sedang tersenyum, lebih tepatnya tersenyum puas.


"Aku tidak akan membiarkan wanita licik sepertimu menguasai milikku!" Perlahan Karin melepas turtleneck yang dia kenakan untuk menutupi ulah Liam.


Kenop pintu di tarik ke bawah memperlihatkan Liam masuk sambil membawa piring berisi roti, "Kau belum makan apa-apa, setidaknya isi perutmu sebelum perutmu sakit"


Karin mendecih, "sejak kapan kau perhatian seperti ini! Aku memberimu kesempatan karena kalung ibuku"


"Jawabannya sudah jelas, bukan aku yang menabrak ibumu jadi berhenti marah padaku"


"Dia kekasihmu jadi Kau ataupun Liora sama saja bagiku"


Liam tersenyum miring, "Jangan membuatku bersikap kasar Karin!" tangannya memegang kedua pundak Karin sedikit mencengkeram membuat Karin sedikit menggerakkan bahunya.


"Ini rumahku Liam, jangan berani macam-macam!"


"Kenapa tidak, mau sekalipun kau berteriak tidak akan ada yang perduli" Tangannya perlahan mengangkat tubuh Karin dan melemparnya keranjang.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku" gumamnya menyeringai. Pria itu bak orang gila yang terlihat terobsesi pada istrinya itu.


"Jangan macam-macam Liam, atau aku akan teriak!" Tubuhnya tersudut di punggung ranjang kemudian Liam menarik kasar kakinya sampai telentang.


"Ayah to- eumph!" Liam sudah lebih dulu membungkam mulutnya lalu kemudian melepasnya dan menatap Karin yang berhenti berontak dengan begitu intens. "Kita lanjutkan, aku benar-benar merindukanmu Karin, sepertinya kehadiranmu sudah menarik ku lepas dari belenggu Liora" ucapnya seraya menyelipkan beberapa helai rambut Karin ke telinga.


Mendengar itu Karin terdiam, dia tiba-tiba saja cegukan, kali ini dia yakin Liam tidak bercanda. Dia serius.


Liam tersenyum membuatnya dengan cepat menyambar bibir Karin.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...