
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Karin duduk melamun di balkon sendirian, rasanya sunyi. Liam berangkat kerja dan dia tidak tahu harus melakukan apa, Safira dan Jessy sedang bekerja, ingin keluar pun kartu kreditnya di bekukan, bahkan Liam menguncinya di apartemen sendirian. Kejam sekali bukan. Liam melakukan itu bukan tanpa alasan.
Untuk mengusir kebosanan nya Karin membuka televisi, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ruang kerja Liam? Ruangan yang tidak pernah dia jamah sama sekali selama tinggal di tempat itu, ini kesempatan untuk memberi makan jiwa keponya.
Baru sampai di depan pintu, pesan teks masuk membuat perhatian Karin teralihkan.
"Jangan masuk keruangan ku, aku tahu kau ada di depan pintu sekarang, putar balik dan kembali ke sofa" Hampir saja ponsel Karin jatuh, kaget Liam mengetahuinya. Artinya selama ini dia di awasi.
Dengan perasaan kesal Karin mencari CCTV dan mengacungkan kedua jari tengah nya "F*CK YOU" Umpat Karin, segera ia kembali ke sofa ruang tamu.
"Jadi selama ini dia mengawasi ku? Posesif sekali, Cih." Jika seperti ini terus, Karin akan selalu terserang darah tinggi akibat ulah Liam.
💬"Kau mengawasi ku selama ini?"
💬"Di Seluruh sudut ruangan ada cctv, kebetulan saja aku melihatmu hari ini"
💬"Pembohong"
💬"Terserah"
💬"Sialan!"
💬"Anak kecil tidak boleh mengumpat☺"
💬"I DON'T CARE!!!"
Liam tertawa puas, miring ke kanan dan ke kiri berusaha meredam tawa nya. Melihat ekspresi kesal Karin dari layar monitor memang menyenangkan.
Melihat Liam tertawa sendiri membuat Jayden dan yang lain heran. "Penyakitnya kambuh" Ucap Adam selaku dokter pribadi.
"Kita rayakan di apartemenku saja" Katanya meraih jas hitam yang ada di sofa.
......................
Riana terlihat pergi dari kediaman mewah milik Tuan Morgan, bersama seorang pria yang katanya sekretaris.
"Bagaimana dengan Regard?"
"Kami sudah mengurusnya, dan masalah identitas. Dia Liam Oliver Ramirez presiden direktur untuk Rez Holding Company, mustahil untukmu melawannya sekarang. Kecuali" Pria itu menunda kalimatnya, dan beralih berbisik pada Riana.
Senyum tipis tertarik dari ujung bibir Riana, ia paham dengan ucapan pria di sebelahnya. "Itu artinya, kita bisa menyingkirkan sekaligus. Karin dari Liam dan Morgan"
"Cepat atau lambat, kita harus segera menemui pengacara Morgan dan mengambil salinan asli wasiat yang dia simpan" Lanjutnya di angguki paham oleh pria tadi seolah mengerti perintah berikutnya.
"Anak kurang ajar itu, seharusnya ku biarkan saja dia menjadi aib Morgan untuk menyerang kelemahannya." Sesal Riana setelah mengetahui siapa pria yang waktu itu merebut tempat Regard di altar.
......................
Liam berdiri di depan pintu, sempat terdiam heran menatap kotak yang tersusun di depan unitnya. "Kau yakin ini lantai yang benar?" tanyanya pada Kelvin.
Adam meraih satu kotak dan melihat siapa nama penerima di paket tersebut. 'Karin Zylene Morgan' sontak Adam langsung menunjukkan nya pada Liam, membuat pria itu menghembuskan napas panjang.
"Wanita gila itu berulah lagi" gumamnya bersiap menempelkan kartu akses untuk masuk. Tapi tiba-tiba seorang petugas keamanan nampak berjalan ke arah mereka sambil membawa kotak yang sama.
"Siapa yang memesan pak? Hari ini banyak sekali paket untuk unit Bapak, tidak biasanya." Katanya seraya memberikan paketnya pada Liam. "Ah, saya pak. Menumpuk karena terlambat di ekspedisi" Jawab Liam tersenyum paksa.
Petugas tadi hanya mengangguk dan tersenyum ramah sebelum hilang di ujung lorong.
Dengan cepat Liam menempelkan kartu akses dan masuk bersama yang lain. Baru saja mereka masuk dan lampu otomatis menyala setelah memindai adanya gerakan, kaget saat Karin berdiri di hadapan mereka dengan dress putih dan rambut terurai, membuat Jayden dan Liam hampir teriak kaget.
"Jantungku Juan" adunya pada Juan sambil mengusap dada, sementara Liam tidak berkutik karena jantungnya masih berdetak dua kali lebih cepat.
"Kalian kenapa?" tanya Karin yang sedari tadi berdiri di sana sambil bersedekap dan menatap mereka dengan wajah heran.
"Aish, awas-awas" Bukannya menjawab, Karin malah tersenyum lebar saat melihat barang yang dia beli tadi siang sudah datang.
"Kau!" Karin menunjuk Juan dan memintanya untuk mendekat. "Apa?" sahut Juan terlihat takut pada Karin. "Bawakan sisanya kedalam" instruksi nya berlalu meninggalkan Liam, Jayden, Adam dan Kelvin untuk masuk.
Setelah semua barang yang dia pesan ada di hadapannya, Karin bersiap untuk membukanya. Tapi sebelum itu ia sempat melirik Liam yang duduk di sebelahnya. "Kalian mau main game lagi?" tanyanya fokus membuka kotak-kotak itu dengan pisau dapur.
"Kau beli apa lagi?" tanya Liam tak habis pikir. "Siapa yang bayar? Kartu kreditmu kan di bekukan?" tanyanya lagi.
Karin menyuruh Liam untuk diam, karena dia masih fokus membuka paketnya.
"Tadi aku lihat ponselmu di laci, jadi ku pakai" sahut Karin enteng, terlewat santai. Dengan cepat Liam memeriksa mutasi rekeningnya, karena yang di pakai Karin adalah ponsel yang biasa dia pakai untuk pembayaran e-money, dan sialnya lagi sengaja tidak di kasih password.
Kelvin yang melihat angka 18.509 Dollar keluar dari rekening langsung menutup mulutnya dan menatap Juan. Kali ini Kelvin bisa melihat uang Liam di gunakan untuk seharusnya.
Sejauh ini yang mereka lihat, Karin hanya membuka paket yang isinya hampir serupa, semuanya produk kecantikan dari 19 kotak yang tadi Liam lihat, salah satunya produk kecantikan berupa Magnetic Mask dari brand Vine Vera yang di banderol dengan kisaran harga 3.000 dollar. Bagi Karin nominal itu tidak masalah untuknya, apalagi bagi Liam.
Karin mencoba salah satu lipstik yang selama ini dia incar, dan hasil sesuai ekspetasinya. Senyum lebar tertarik dari bibirnya saat beberapa kali mengecapkan bibir untuk meratakan lipstik nya.
"Ya ampun, ternyata aku tidak salah. Ini benar-benar cantik" gumamnya sendiri sambil melihat bibir indahnya di kaca, dia lupa jika dia tidak sendirian lagi.
Liam yang sedari tadi memperhatikan istrinya, sadar Jayden dan yang lain ikut memperhatikan membuatnya pasang badan dan menghalangi pandangan mereka untuk menatap Karin.
Karin berdiri, "Tadi aku membuat sandwich, kalau kalian lapar silahkan ambil di atas meja makan" Katanya sambil terus menatap bibirnya dari cermin, dan melangkah pergi dari ruang tamu untuk masuk ke kamar.
Jayden hanya bisa menggeleng pelan melihat Karin, begitu juga dengan yang lain.
"Kalian tunggu disini, aku ganti pakaian dulu" Lekas Liam menyusul Karin.
"Kalau tidak bisa satu sampai dua kecupan jangan keluar dari kamar" teriak Jayden.
Liam tahu jika Karin akan mengunci pintu, jadi dia sudah antisipasi dengan selalu membawa duplikat card akses untuknya sendiri.
Karin duduk di meja rias sambil menata produk kecantikan yang baru saja dia beli dengan senyum manis.
Padahal tadi siang, Karin sempat berpikir bagaimana jika dia benar-benar menikah dengan Regard dan kartunya di bekukan seperti sekarang.
"Kau puas menghabiskan uangku?" Karin kaget saat melihat Liam sudah berada di belakangnya lalu menumpukan kedua tangannya di ujung meja rias, membungkuk hingga dagunya sejajar dengan alis Karin.
"Uang suami adalah uang istri. Lagi pula siapa yang menyuruhmu mengunciku di apartemen seharian" Jawab Karin tetap di posisinya.
"Sekarang kau sudah mengakui kalau kau istriku?"
Karin terdiam dan menatap kearah lain, tak mampu menatap Liam dari pantulan cermin.
Melihat air muka Karin membuat Liam tersenyum, dan segera pergi keruang ganti sebelum para pria diluar itu mengamuk karena ia terlalu lama.
Selesai mengganti bajunya, Liam melihat Karin sedang berdiri di dekat ranjang merapikan selimut. "Kau sudah makan malam?"
"Belum"
"Jayden dan yang lain sudah pesan makanan, nanti keluar dan ikut makan malam"
"Iya" Sahut Karin dan tanpa aba-aba Liam menarik pipinya lalu ******* lembut bibir Karin yang tadi di agung-agungkannya setelah memakai lipstik.
"Bibirmu terlalu menggoda, lain kali jangan pakai itu di depan teman-temanku. Kau paham" seolah terhipnotis, Karin hanya mengangguk pelan sambil menyentuh bibirnya disaat Liam menghilang dari balik pintu.
Baru saja Liam muncul, Jayden seolah mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar langsung berkomentar, "Bersihkan dulu lipstik Karin dari bibirmu" Lalu seluruh perhatian langsung tertuju pada Liam.
"Kep*rat kau" Umpat Liam tak tertahan, lalu mereka tergelak bersama.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...