
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Liam mendekap erat bahu Karin yang masih terdiam menatap makan Safira, pandangannya kosong pikirannya berkecamuk , amarahnya memburu namun ia tak bisa melakukan apapun selain mengikhlaskan kepergian sahabatnya. Dibalik kacamata hitam itu cairan bening terus saja mengalir tanpa isakan.
"Sekarang saatnya kita pulang" Liam melirik sekilas jam tangannya, "sudah hampir setengah jam Karin" sambung Liam dengan nada rendah, ia tak ingin membangunkan singa betina yang sedang terdiam itu.
Karin membuang napas panjang, lantas berbalik untuk meninggalkan area pemakaman. Jessy sudah pulang, ia tak sanggup berlama-lama di makan Safira.
Sekarang mereka hanya tersisa berdua.
Liam khawatir, wajah Karin pucat wanita itu menangis hampir sepanjang malam di rumah sakit. Pria itu hanya mengkhawatirkan calon bayi yang ada dalam kandungan Karin, melihat bagaimana Liam sampai mengurung Liora waktu itu tidak heran jika dia mudah khawatir.
-
-
-
Liam menyimpan satu tangannya kedalam saku celana , sedikit menaikkan kacamatanya menatap hiruk pikuk kota dari posisinya. Karin sudah tidur, ia masih belum mengantuk dan memilih untuk duduk sebentar di balkon.
Drrttt...
Liam seketika mengangkat telpon yang berada di atas meja menatap layar ponsel melihat siapa yang menghubunginya.
Liora-
Ia hanya menatap datar
"Ada apa?"
"Aku ingin bicara Liam, sebentar saja"
"Berhentilah menghubungiku! Kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan untukku Liora, hubungan kita sudah berakhir. Aku hanya menyimpan kekecewaan terhadap dirimu"
"Tapi Liam-"
Tut...tut...tut...
"masa lalu ku yang buruk sudah cukup sebagai bom waktu yang entah kapan akan menghancurkan dan aku tidak ingin dipandang lebih brengsek hanya karena menghancurkan kepercayaannya" Liam bicara pada dirinya sendiri berusaha memastikan hal itu tak akan pernah terjadi di masa mendatang, dia ingat mimpinya dan berusaha hidup tenang dengan wanita yang sedang mengandung darah dagingnya.
Liam masuk kedalam apartemen setelah merasakan udara mulai turun drastis, sangat dingin.
Saat pintu di buka, Liam masuk dengan satu buku di tangan kirinya. Karin sedikit mendongak menatap pria itu. Jujur Karin tertegun saat melihat Liam mengenakan kacamata dan memegang buku, membuat aura dewasa yang jarang bahkan hampir tak ia temui dalam diri Liam, detik ini ia sedang menatap hal itu. Tampan dan begitu kharismatik.
Liam lantas mendudukkan dirinya di tepi ranjang menatap Karin yang masih terdiam "Kau bangun? sejak kapan? Mau sesuatu?"
Karin buru-buru sadar sebelum Liam mengejeknya, "Tidak, aku baru saja dari kamar mandi" bohongnya. Karin kembali memimpikan mendiang ibu nya, sangat nyata hingga membuatnya tersadar.
Liam mengangguk, perlahan ia meraih surai hitam Karin membelainya beberapa saat sebelum membawa Karin kedalam pelukannya.
Hangat dan nyaman, Karin merasakan itu. Entah sejak kapan pelukannya menjadi sehangat ini pikir Karin.
"Hm Liam-" Karin mendongak "aku mau ke rumah sakit besok sebelum ke kantor, kau mau ikut?" tawarnya.
"Tentu saja" tatapan mereka sangat dekat, membuat Karin merasakan hembusan napas Liam. "Lebih baik sekarang kita tidur, ini sudah larut malam tidak baik kalau kau tidur terlalu larut" Karin mengulum senyumnya dia merasa aneh saat mendengar Liam perhatian membuatnya ingin meluapkan tawanya tapi ia urungkan dan memilih untuk tersenyum.
"Karin"
"Apa?"
"Kenapa aku merasa aneh"
"Aneh apa?" Karin meremat ujung selimutnya yang menutup perut, menoleh pada pria di sebelahnya.
"Rasanya ada yang kurang" jawab Liam menatap plafon kamar.
Ucapan Liam membuat Karin mengernyitkan dahi "Maksudnya? Bicara yang jelas"
"Rasanya cukup aneh kalimat perhatian keluar dari mulutku"
"Aku yang mendengar juga aneh"
"Memangnya Liam bagimu seperti apa?"
Karin menatap Liam kemudian meluruskan kepalanya menatap plafon kamar "Pria menyebalkan yang sombong dan keras kepala"
Mendengar itu tentunya Liam langsung mengoreksi "Putra tunggal kaya raya, Tampan dan baik hati. Itu yang benar!"
"Hah, dasar tidak sadar diri" cibir Karin memiringkan tubuhnya ke kiri membelakangi Liam. "Memang benar begitu, buktinya banyak gadis yang mengantri ingin menikah denganku tapi kau yang beruntung"
"Semoga Tuhan tidak membuatmu mirip dengan Ayahmu, sayang"gumam Karin mengelus perutnya dengan mata yang tertutup berusaha untuk tidur ketimbang mendengar ocehan Liam.
Jujur, Liam merasa canggung saat memberi Karin perhatian berbeda dengan Liora. Biasanya mereka sering ribut dan adu mulut tapi hubungan mereka berubah setelah perasaan masing-masing terungkap.
Karin tersentak saat Liam tiba-tiba menarik tubuhnya hingga punggungnya terbentur dada suaminya. "Hm, aroma ini" gumam Liam mengendus aroma Karin, memejamkan matanya sementaranya tangannya mengelus lembut perut Karin. Rupanya dia sudah lelah membual sendirian.
......................
Sepanjang langkahnya mengiringi Liam, Kelvin hanya melihat senyum merekah dari bibir atasannya itu. Apa obatnya sudah habis? Atau mungkin Karin memberinya jatah kemarin malam? Kelvin tahu isi otak bosnya itu, jika bukan masalah kepuasan dan menang tender atau menang debat dengan Karin dia tidak akan tersenyum selebar itu.
Ting...
Pintu lift terbuka, mereka sampai di lantai tertinggi gedung Rez Holding. "Sebenarnya kita ada meeting lima menit lagi-" Liam langsung memutar tubuhnya "kenapa tidak bilang dari tadi?" Kelvin hampir saja jantungan dia takut kena semprot oleh pria itu. "Siapa suruh kau datang terlambat, tadi malam kan sudah ku beri tahu" Kelvin membalas bukan dia yang salah tapi Liam yang datang terlambat.
"Ah, benar juga aku lupa memberitahumu tadi malam" sahut Liam kembali melangkah masuk kedalam lift di ikuti sekretarisnya itu. "Apa" jari Kelvin menekan tombol lift.
Sebelum bicara, Liam sempat tersenyum dulu hari ini suasana hatinya sedang baik "Karin hamil, sebentar lagi pewaris Rez Holding akan hadir"
"Kau serius! Karin.. mau mengandung anakmu!" Kelvin bertanya-tanya mereka tahu hubungan Liam dan Karin itu seperti apa.
Seketika ekspresi wajah Liam berubah tapi Kelvin belum sadar, "Memangnya apa alasan dia tidak mau mengandung anakku?"
Kelvin tergelak "dengan begitu, artinya dia membuat dirinya terjebak selamanya dengan pria sepertimu" Tangannya memegang besi pegangan di sebelahnya sambil terus terkekeh. "Ah- Aku kasian dengan Karin" Kelvin menyapu air mata di sudut matanya karena tertawa.
Ting...
Liam kesal, wajar jika Kelvin tertawa dia tahu betul Liam bagaimana. "Besok kau tidak perlu ke kantor, aku akan mencari sekretaris baru" tawa Kelvin berhenti, dia segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar mengikuti langkah Liam menuju ruang meeting.
......................
Karin sibuk menatap ponselnya sementara Jason mengiringi di belakangnya, mereka baru saja keluar setelah rapat dengan dewan direksi.
"Karin" Seru seorang pria yang tengah menunggu di dekat anak tangga.
Tentunya Karin langsung mengalihkan atensinya, ia cukup kaget saat melihat pria itu lalu perlahan menarik senyumnya. Kakinya melangkah menghampiri pria yang mengenakan setelan jas berwarna navy itu.
"Bagaimana kabarmu?" Karin tersenyum seraya meminta Jason untuk meninggalkan mereka berdua. "Karin baik-baik saja, bagaimana dengan kakak?" jawabnya ikut bersandar di pagar pembatas.
"Syukurlah, apa Felix masih mengganggumu?" tanyanya.
Karin menghela napas, "Kadang, tapi akhir-akhir ini aku tidak melihatnya"
Pria itu meneguk kopinya kemudian berjalan menuju tempat sampah yang tak jauh dari posisinya tadi "Itu karena Ayah mengirimnya ke Thailand-"
"Felix?!"
Pria itu mengangguk, "Itu kenapa kau tidak melihatnya akhir-akhir ini"
"Oh iya Karin, kakak dengar kamu sudah menikah? Bagaimana dengan pernikahanmu? Suamimu tidak mengasarimu,kan?" tanyanya.
Karin menggeleng "Kakak tenang saja, mana mungkin Karin biarkan dia mengasari Karin"
"Hm, kakak percaya" jawabnya tersenyum manis sambil mengusap rambut Karin.
"Ternyata kamu sudah dewasa sekarang, semakin cantik"
"Ah, Kak Jackson bisa saja. Tidak ada yang berubah- Karin tetaplah Karin yang kakak kenal" jawabnya terkekeh kecil.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...