
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Liam sengaja membiarkan rencana Kelvin terhadap Joy berjalan, perlu di ingat jika Liam dan Karin menikah karena insiden bukan karena perasaan suka dan tentunya ada banyak hal yang masing-masing mereka sembunyikan yang mungkin nantinya akan terbongkar satu-persatu.
Dan kita tidak tahu kedepannya bagaimana reaksi Karin saat mengetahui suaminya itu mantan pemain yang sering menggagahi wanita penghibur.
"Bagaimana kabar ibu tiri Karin? Dia masih di interogasi?" Liam dapat berita itu dari obrolan group yang berasal dari Juan.
"Dia bebas" sahut Kelvin fokus menatap tablet di tangannya tanpa menatap Liam.
"Bagaimana bisa? Tidak mungkin Zea melepaskan mangsanya begitu saja?" ucap Liam kaget, ini benar-benar hal yang tidak biasa untuk mereka. Zea yang selalu berhasil dalam kasusnya kali ini mangsanya berhasil lolos?
Kelvin mengangguk menatap Liam, "Sepertinya Riana punya koneksi ke kementerian hukum"
Tangannya berhenti menyibak kertas "Menteri hukum sampai turun tangan?" perjelas Liam memastikan sementara Kelvin hanya mengangkat sekilas kedua alisnya menjawab pertanyaan ulang Liam.
"Aku tidak tahu pastinya, tapi Zea sedang mencari akarnya. Mungkin dia yang lebih marah sekarang karena mangsanya berhasil lolos"
"Menurutmu jaksa gila itu akan berhasil?"
"Kita lihat saja nanti, kau kan tahu bagaimana Zea kalau sudah menggila" jawab Kelvin.
Liam mengangguk pelan, dia paham maksud Kelvin.
"Oh nya iya, sebentar lagi ada meeting- "Kenapa tiba-tiba!" potong Liam, dia tidak suka jika mendadak dan harus mempelajari berkas dalam waktu singkat, "tapi ini dengan pihak Ven-aramco" sambung Kelvin.
"Ven-aramco Dubai? Perusahan minyak bumi terbesar dunia?" Kelvin mengangguk, sementara Liam menghentikan tangannya yang sedang mendatangi berkas.
"Proyeknya terbengkalai" jawab Kelvin.
"Bukankah pemenang tender untuk lelang proyek itu, SCA Groupo?" Liam hanya tak habis pikir, pasalnya SCA Groupo memiliki daya saing yang tinggi sama dengan Rez Holding di negaranya, Spanyol. Tapi bagaimana bisa sampai terbengkalai.
Sebelumnya Rez Holding memang tidak berpartisipasi dalam lelang karena sedang menangani beberapa proyek besar. "Sudah berapa lama?"
Kelvin kembali pada tabletnya, "sekitar sebelas bulan, padahal proyeknya bernilai 199,3 Triliun. Terakhir penyaluran konstruksi terpaksa dihentikan padahal mereka baru ingin memulai, tapi karena ada kesalahpahaman ketika Deal to Deal dari pihak lapangan membuat masyarakat yang tinggal di sekitar daerah itu menggugat perjanjian lama yang mereka nilai tidak sesuai dengan kesepakatan"Jelas Kelvin.
"Kirimkan saja berkasnya, dalam lima belas menit ke depan kita berangkat" Kelvin paham, dia segera kembali ke meja kerjanya mempersiapkan berkas yang di perlukan.
Ini kesempatan lain untuknya membawa Rez Holding semakin dikenal oleh dunia, sebenarnya ada beberapa pertanyaan di benak Liam kenapa SCA Groupo memilih berhenti, padahal ini hanya masalah dengan penduduk sekitar yang sepertinya dengan mudah mereka atasi. Nanti saja dia bertanya lebih lanjut pada sekretarisnya itu.
......................
"Tapi tetap saja, bagaimana bisa dia menghubungi menteri hukum hanya untuk meloloskan diri!" Zea kesal sekali, ini kali pertama mangsanya lolos begitu saja.
"Kalian sudah mengantongi bukti, percayalah dia tidak akan bertahan lama" Jawab rekan Zea menepuk pelan pundaknya membuat Juan yang tengah bersandar di dinding dengan tangan yang bersedekap mendelik tajam.
"Keparat! Dia merusak tropiku" Umpat Zea tak tertahan.
"Tapi aku yakin kali ini kau bisa melakukannya juga, mungkin saja semesta ingin menguji kemampuanmu" ucapnya mengangkat bahu "Kan, kita tidak tahu masa depan? Sejauh ini kau selalu bisa di andalkan, jadi percaya pada dirimu sendiri" Juan semakin kesal saat pria itu membelai surai Zea.
"Bereskan kekesalanmu, dan istirahatlah. Lanjutkan besok" Pria itu lantas beranjak setelah memberi nasehat pada juniornya.
Juan melangkah masuk lalu dengan bibir nyinyirnya "Aku yakin kali ini kau bisa melakukannya juga" intonasinya terdengar sangat menyebalkan saat melewati kuping Zea.
"Kau- Sejak kapan kau disini? Kau mendengar semuanya?" Zea kaget tiba-tiba pria itu ada diruangannya yang kini tengah berdiri menyandarkan bokongnya di sisi meja.
"Sejak-" Juan menggantung ucapannya kemudian maju satu langkah ke depan dengan dagu yang terangkat angkuh "Aku percaya padamu, kau pasti bisa melakukannya lagi, mungkin ini ujian dari semesta" demi apapun Zea ingin memukul mulut Juan yang meng olok-oloknya itu.
Wanita itu dengan cepat melepas sepatunya dan dalam hitungan detik sepatu itu melayang di depan Juan "Eitsss! Melesat" Juan menghindar kemudian menjulurkan lidahnya semakin mengejek Zea.
Ia memijat pangkal hidungnya dengan satu tangan lainnya yang bertengger di pinggang. "Om my God, Mom! Bagaimana bisa kau mau menikahkan anakmu dengan siluman kelinci bodoh ini"
"Kalau begitu kita batalkan saja. Hah! Dasar bocah" kesal Zea membungkuk di depan Juan mengambil sepatunya, kemudian ia bangkit hanya untuk menatap Juan sebentar.
Bagaimana bisa aku menyukai bocah tengil satu ini? Zea, hatimu pasti sudah tidak berfungsi dengan benar. Batin Zea
"Kau bilang apa? Batal! Tidak bisa. Aku tidak mau mendengar ocehan ibuku hanya karena masalah ini" bantah Juan, membuat Zea yang notabennya adalah wanita cerdas dan mampu menilai dengan baik kali ini kesusahan menentukan sifat asli tunangannya itu.
"Kau- "Apa!" Juan kembali maju selangkah kedepan, semakin mengikis jarak mereka. "Menyingkirlah, aku mau pulang" Zea malas berdebat, tenaganya sudah habis berdebat dengan pamannya setelah mengetahui Riana di lepaskan begitu saja.
Juan dengan santai minggir kesamping mempersilahkan Zea pergi sementara maniknya masih memperhatikan wanita itu melangkah keluar dari ruangannya.
"Kau pulang sendiri?" tiba-tiba senior yang tadi bicara dengannya juga keluar dari ruangannya yang berada tak jauh dari ruangan Zea.
Zea mengangguk pelan, "Kalau begitu aku akan mengantarmu" tawarnya seraya memakai jas-nya. "Tidak perlu! Zea pulang denganku" tanpa aba-aba Juan menarik lengan Zea dan membawanya pulang tanpa persetujuan wanita itu.
Lucas hanya bisa dibuat menghela napas saat melihat Zea ditarik oleh Juan yang perlahan menghilang dari jarak pandangnya.
-
Zea melepas tangan Juan "Tidak perlu mengantarku, aku bisa pulang dengan mobilku sendiri" tapi Juan tetap ngeyel dan mendorong Zea masuk kedalam mobil kesayangannya.
Zea memutar tubuhnya sembilan puluh derajat ke samping kiri menatap pria songong di sebelahnya, "Sebenarnya mau mu apa Juan!" Akhirnya Zea buka suara.
Cup~
"Tidak ada" jawabnya enteng.
Wanita itu terdiam, tubuhnya menegang bahkan ini bukan pertama kali tapi kenapa Zea selalu kaget saat Juan tiba-tiba menciumnya.
"Kita pulang sekarang"Jawab Juan mengelus lembut bibir Zea dengan ibu jarinya sementara satu tangannya lagi mulai memutar bulatan setir, menginjak gas meninggalkan kawasan gedung kejaksaan pusat.
Juan melirik Zea sekilas, "Aku tidak mau lagi melihatmu bicara dengan Lucas!"
"Apa urusannya denganmu? Dia seniorku, lagi pula kenapa aku harus menuruti ucapanmu" balas Zea tak kalah garang dari Juan yang bicara datar seolah ingin menunjukkan sisi dingin sekaligus beringasnya.
"Aku tunanganmu, kau harus menurutiku!" Juan tetap keras kepala. "Cih, tunangan? Kau bahkan tidur dengan wanita lain- "Aku kan sudah minta maaf, kenapa selalu membahasnya!" sanggah Juan mulai kesal.
"Kalau begitu aku akan melakukan hal yang sama, lalu meminta maaf padamu. Apa kau akan memaafkanku?"
"Tidak akan ku biarkan!"
"Dasar bocah egois" cibir Zea, mereka selalu saja ribut. Tentunya itu selalu dimulai oleh Juan ataupun Zea sendiri.
"Berhenti menyebutku bocah! Umurku 24 tahun Zea" Kekesalan Juan sudah tidak tertahan, Zea selalu saja menyebutnya bocah. "Tetap saja aku lebih tua darimu." Jawabnya tanpa menatap Juan.
Tiba-tiba Juan banting setir dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan "Yak! Kau gila." teriak Zea kaget.
"Jangan memancingku Zea! Kita hanya berbeda dua tahun, sekali saja aku menjebol aku bisa memastikan kau akan hamil! Kau masih berpikir aku bocah, Hah!" kini Juan sudah memposisikan dirinya menghadap Zea sambil menyeringai. "Tatap mataku Zea!"
"Tidak mau. Cepat nyalakan mobilnya aku mau pulang, aku lelah! Jangan menambah beban pikiranku." Ketus Zea.
"Dan-" Wanita itu menggantung ucapannya kemudian menatap Juan sambil menunjuk wajahnya "Kurang-kurangi bergaul dengan Liam dan Jayden. Otakmu jadi kotor karena pengaruh mereka" Lalu Zea kembali ke posisinya menatap keluar jendela, sementara Juan mendengus seraya menyalakan kembali mobilnya dan mengantar Zea pulang dengan selamat.
......................
Zea Alexandria
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...