
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Karin dengan cepat menginjak pedal gas hingga ia hampir kehilangan kendali membuat Liam kaget sekaligus khawatir.
Karin kembali melajukan mobilnya ke titik awal dimana Liam sudah menunggu, "Apa kata Adam?" Karin khawatir bukan main pasalnya ia mengetahui tentang Safira, dia takut apa yang ia dan Jessy khawatirkan selama ini terjadi.
"Adam cuma bilang kita harus cepat"
Karin meraih tas yang ada di tangan Liam, "Ayo" ajaknya dan langsung masuk kedalam mobil diikuti Liam setelah pria itu sempat pamit pada Nick.
......................
Safira terbaring di banker rumah sakit dengan luka parah dikepalanya, Nonrebreathing oxygen face mask yang membantu pernapasan-nya serta beberapa alat yang terpasang di tubuhnya.
Adam kembali setelah menelpon Karin.
Pria itu berdiri di antara dua dokter fellow yang berada di bawah pengawasannya sebagai kepala departemen bedah Saraf.
Adam punya keistimewaan sendiri, mulut Liam yang menyebutnya sebagai dokter terhebat di negara itu bukan tanpa alasan.
Adam adalah kepala departemen bedah saraf di umurnya yang memasuki 26 tahun, ia mengambil pendidikan di bidang neurologi dan Neurosurgeon secara berdekatan, bahkan pria itu memiliki gelar untuk sub spesialis Toksinologi dan sedang menempuh pendidikan untuk sub spesialis Torakoplastik.
Jika di amati secara nalar itu tidak mungkin, bahkan mustahil. Tapi Adam berbeda, sejak kecil pria itu sudah menonjolkan kecerdasannya yang kadang di sebut para guru-nya sebagai gen Einstein. Dengan tiga gelar sub spesialis di umurnya yang baru saja menginjak kepala tiga.
"Tekanan darahnya sedikit naik, tapi tanda vitalnya stabil" jawab dokter yang berada di sebelah kanannya.
"Lakukan Brain CT" perintahnya pada dua dokter itu.
"Baik, dok!" jawab keduanya kemudian melangkah pergi untuk mengambil tindakan.
-
-
Adam berdiri diruangan khusus staf dan dokter memantau proses CT Scan.
Kedua dokter tadi masuk menyusul Adam. "Ada edema otak karena memar otak." ucap dokter wanita yang berdiri di sebelah Adam.
"Jika edema otak memburuk dan menyebabkan tekanan interakranial meningkat cepat, dia mungkin mati otak karena disfungsi otak" jawab dokter pria yang berdiri di sebelah rekannya.
"Aku setuju" jawab dokter wanita tadi.
"Lalu penanganannya?" Adam melakukan penanganan sekaligus memberikan pertanyaan untuk menilai kedua dokter itu.
Dokter wanita itu menjawab pertanyaan Adam, "untuk mengurangi tekanan, kita harus melakukan kraniektomi ekstensif. Dan kita harus menurunkan tekanan interakranial dulu."
"Mari segera lanjutkan operasinya" Adam kembali menatap layar komputer yang menampilkan hasil CT Scan milik Safira.
"Baik dok" jawab keduanya.
Ruang Operasi 4 - Operasi sedang berlangsung
Waktu anestesi : 1 Jam 46 menit"
Karin, Liam, Jessy, Rey dan kedua orang tua Safira sedang menunggu di depan ruang operasi, mereka menunggu dengan cemas. "Bagaimana ini Rin!" gumam Jessy pelan memegang erat tangan Karin.
Wanita itu juga tak tahu harus apa, hasil akhir ada pada Adam yang sedang mengawasi jalannya operasi yang dilakukan dua dokter kepercayaannya.
Karin tiba-tiba teringat sesuatu "Bagaimana dengan Mark?" Jessy jadi ikut teringat, mereka berdua melupakan hal itu.
"Rey, kau tahu bagaimana kakakmu bisa sampai seperti ini?" Rey lantas menoleh dia memutar kembali ingatannya lalu perlahan menggeleng "Saat Rey datang, kak Safira sudah terluka. saat itu juga rey menelpon ambulance dan membawanya" jawab Rey yang juga tidak mengerti bagaimana kakaknya bisa terluka separah itu.
"Bagaimana? Di angkat?" Karin beralih pada Jessy yang sedang menelpon Mark menggunakan ponsel Safira.
Jessy lagi-lagi hanya bisa menggeleng, telponnya sama sekali tidak di angkat. Bukannya tidak di angkat lebih tepatnya tidak aktif.
Karin mengepal kuat tangannya, "Keparat! Jika aku berhasil menangkapnya tidak akan ku beri ampun dia" Perasaannya campur aduk, sahabatnya sedang berjuang antara hidup dan mati. "Liam" ia lantas menoleh pada suaminya itu.
Liam yang seolah paham langsung mengangguk, ia meraih ponselnya untuk meminta Juan melacak keberadaan kekasih Safira.
Tuduhan Jessy dan Karin sejak awal sudah mengarah pada Mark, pria yang selama ini mengancam Safira dengan informasi yang tidak seharusnya dijadikan sebagai bahan ancaman.
Safira pernah melakukan aborsi anak hasil dari hubungannya dengan Mark, popularitasnya yang waktu itu sedang naik membuatnya hilang akal dan melakukan hal bodoh itu. Sementara Karin dan Jessy kala itu sedang menempuh pendidikan di luar negeri membuat keduanya tidak mengetahui hal jelasnya sebelum Safira sendiri yang waktu itu bercerita.
Sebagai seorang model dan aktris pendatang baru yang mulai naik daun saat itu membuat Safira mengambil keputusan sulit. Di satu sisi ada karirnya, dan di sisi lain ada keluarganya. Jika hal itu tercium media, tidak ada kesempatan lagi untuknya kembali sementara keluarganya bertahan dari uang itu.
Safira bukan berasal dari keluarga berada seperti Jessy dan Karin, dia wanita biasa yang lahir dari keluarga sederhana dan mengharuskan dirinya menjadi tulang punggung keluarga saat umurnya menginjak dua puluh tahun, mudah bagi Safira untuk meminta bantuan dari dua sahabatnya itu- tapi dia mengerti posisinya dan sudah sangat bersyukur Jessy membantunya masuk ke dunia modeling dan memiliki dua wanita hebat di sisinya.
Ayah Safira mengidap kanker paru- paru sementara ibunya hanya buruh cuci restoran sebelum derajat mereka di angkat oleh Safira yang berhasil sukses di dunia modeling dan mulai memasuki dunia per-film an baru-baru ini. Masuk ke dunia per-film an di negaranya sangatlah susah, hanya aktris-aktris dan aktor senior dan pilihan yang bisa bersaing di dunia itu.
Bagaimana Safira bisa berteman dengan Karin dan Jessy? Jawabannya, Safira masuk ke SMA yang sama melalui jalur prestasi. Jika jalur mandiri orang tuanya tak akan sanggup membiayai pendidikan Safira yang bahkan seragam saja waktu itu ia dapat dari Karin.
Yang membuat Karin menyukai Safira adalah, dia tulus untuk berteman bukan teman yang berniat menjadi parasit dan memanfaatkan dirinya. Terlebih wanita itu juga loyal dan tak segan membantu jika dia memang bisa melakukannya.
Satu jam dua puluh menit berlalu, Adam keluar dari ruang operasi bersama dua dokter yang tadi melakukan tindakan bedah pada Safira.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Ibu Safira yang sedari awal tak berhenti menangis mengkhawatirkan putrinya.
Adam menggaruk dahinya yang tidak gatal. "Mari ikut, kita bicara di ruangan saya" jawab Adam melangkah pergi di ikuti semua orang.
Mereka duduk di sofa panjang ruangan itu, Adam perlahan mulai menyibak kertas hasil pemeriksaan.
Ia menghela napas, "Safira menderita edema otak parah, operasinya sukses tapi kami harus mengamati lebih lama untuk melihat apakah dia akan sadar-"
"Tapi dia tidak akan mati karena itu, bukan?" jawab Ayah Safira.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...