Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - KARIN'S LAUGHTER?


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Liam diam dan berselang beberapa detik ia akhirnya bicara setelah helaan nafas "Tadi malam aku hanya pergi untuk menemui Adam, kondisinya sedang tidak baik akhir-akhir ini"


"Kalau begitu kenapa tidak bilang, kau bisakan bicara sebentar padaku, atau mungkin mengirim pesan? Jika saja begitu aku tidak akan berpikir macam-macam Liam"


Liam akui dia memang salah dan merutuki dirinya yang tak sempat memberi kabar "Iyaa, aku memang salah- seharusnya aku bilang begitu" Ia raih kedua tangan Karin "Sekarang berhenti marah padaku" pintanya.


Karin membuang wajah kesamping, wanita itu sedang berpikir. "Baiklah. Kali ini aku maafkan, lain kali bicara denganku"


Liam mendeham pelan


"Overthingking itu tidak nyaman Liam" sambung wanita itu.


"Iya, aku paham" Liam tersenyum seraya menarik tubuh Karin untuk ia peluk.


Sebenarnya Karin tidak tidur tadi malam setelah menyadari Liam pergi karena itu ia memilih menyibukkan dirinya dengan membongkar beberapa belanjaannya sembari menunggu Liam pulang, namun nyatanya Liam baru pulang keesokan harinya.


......................


Jalan raya terlihat sangat sepi, banyak toko yang sudah tutup dari beberapa jam yang lalu. Jika melihat ada toko yang masih buka di jam seperti ini, maka sudah dipastikan bahwa toko itu adalah toko yang buka dalam waktu dua puluh empat jam.


Nichole menoleh ke arah kanan, lebih tepatnya ia melihat sekilas ke arah Riana yang barusan saja menenggak habis minuman yang ada di dalam kaleng bir tersebut.


Nichole membuang napas pelan, tidak mengerti dengan kondisi saat ini. "Berapa lama lagi kita harus seperti ini Nichole?" Riana mengelap bibirnya sambil membungkuk menumpu tangan pada lututnya sambil sesekali membuang napas jengah.


"Anak buah Pak Joseph pasti akan terus mengejar kita, bersabarlah dulu sampai kita mendapatkan uangnya"


Arrgghhh...


Lagi dan lagi, entah sudah erangan Riana yang keberapa yang pria itu dengar.


"Aku tidak kuat lagi" Tubuh wanita itu merosot jatuh terduduk ke jalanan.


"Kejar mereka"


Beberapa pria yang memakai setelan jas hitam berlari mengejar Nichole dan Riana hingga membuat Nichole menarik wanita itu untuk segera lari tapi yang Nichole dapati Riana terlihat diam saja, dan seolah ia telah menyerah serta pasrah jika di bunuh sekalipun.


"Sialan. Aku pasti akan mendapatkanmu! Jika bukan di dunia nyata aku akan mengejarmu sampai ke neraka" teriaknya sebelum para pria itu menangkapnya.


Nichole yang tengah bersembunyi hanya bisa mengumpat kesal, sementara dalam pikirannya yakin Riana pasti akan di habisi.


-


-


Seorang pria berbisik pada atasannya memberikan informasi penting.


"Kami sepakat akan memberikanmu waktu satu bulan, jika uangnya belum berhasil kau dapatkan maka saat itu juga aku akan benar-benar menghabisimu!" ucap Tuan Joseph yang setelahnya langsung pergi bersama beberapa ajudannya.


Riana mendecih "Cih. Mereka pikir semua uang itu adalah milik mereka? Hah. dasar para bajingan sialan."


......................


Dokter mengatakan kandungan Karin baik dan meminta calon Ayah dan Ibu itu untuk selalu menjaga kondisi dan keharmonisan keduanya.


"Karin, tunggu di loby depan aku ingin ke toilet sebentar"


Karin mengerti, dan ia hanya mengangguk.


Selagi menunggu Liam gadis itu duduk di kursi loby bersama pasien dan pengunjung lain.


"Adam!" panggilnya sontak membuat pria itu langsung menoleh kesumber suara. Ah, mungkin dia sudah sembuh itu yang sedang Karin pikirkan saat melihat sahabat suaminya itu berkeliaran di rumah sakit dan terlihat baik-baik saja.


"Karin! Sedang apa? Kenapa sendirian, Liam mana?"


"Pertanyaanmu sudah selesai?"


Pria itu terkekeh pelan, dia tahu terlalu banyak bertanya "Sudah selesai"


"Liam ke toilet, dan aku sedang menunggunya. Barusan saja kami dari dokter kandungan" jawabnya kemudian tersenyum ramah membuat Adam mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oh iya Dam-"


"Apa?"


Mendengar pertanyaan Karin membuat Adam bingung sedikit ternganga tapi segera ia sudahi "Sakit?" Karin mengangguk.


Namun Adam sadar ini ada kaitannya dengan Liam membuat pria itu segera merubah ekspresi wajahnya dan tertawa garing sebelum Karin menyadari hal itu "Hahaha, pasti Liam yang bilang, 'kan"


Dengan wajah polosnya Karin menjawab "Hmm, beberapa hari yang lalu dia pergi tanpa memberitahuku, tapi dia sudah menjelaskan kalau kau sedang sakit"


Reflek Adam menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal "Iya, beberapa hari yang lalu aku sempat drop, karena terlalu banyak jadwal operasi" melihat Karin mengangguk membuat Adam sedikit lega, artinya gadis didepannya itu percaya dengan ucapannya.


"Aku pergi dulu Karin, masih banyak pekerjaan" ucapnya lagi dan dalam hitungan detik pria itu berlari kecil meninggalkan Karin.


Baru saja ia ingin kembali duduk atensinya berhasil menangkap presensi seseorang yang sangat ia kenal. "Riana?!"


Seolah ada tarikan, kakinya dengan begitu ringan mengikuti kemana ibu tirinya itu pergi. Sementara Liam yang baru saja selesai dari toilet langsung dihadapkan pada sorot mata Adam yang menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam.


"Adam!" Jujur Liam kaget hingga pria itu mengusap dadanya.


"Sedang apa kau disini?"


"Aku dokter di rumah sakit ini bodoh, kau yang kenapa"


"Kenapa apanya?" Liam dengan acuh melewati Adam untuk mencuci tangan di wastafel.


Tentunya ia langsung di buntuti oleh Adam "Kau pakai namaku untuk membohongi Karin lagi?" Tangan Liam berhasil berhenti sejenak kemudian ia melanjutkan mencuci tangannya.


"Ah, rupanya dia mengkonfirmasi padamu" ditariknya beberapa helai tisu untuk mengelap tangannya lalu ia alihkan atensinya pada lelaki yang sedang bersandar di dinding itu.


"Kau melakukan hal bodoh apalagi sampai pakai namaku?"


"Aku menemui Liora"


"Apa! Kau gila Liam!"


"Aku sangat waras"


"Kau tidak pulang semalaman hanya untuk menemui Liora? Untuk apa? Apa kau merindukan desah*n wanita itu?" kali ini Adam sedikit tersulut.


Liam memutar malas matanya, "Dengar Dam, memang sulit mencari lawan ranjang seperti Liora, tapi wanita itu tidak akan pernah bisa menyingkirkan Karin dari posisinya di hatiku"


"Cih, kau mau aku percaya ucapanmu?"


"Tidak percaya juga tidak masalah"


Hah, Adam hampir habis kesabaran menghadapi pria satu ini "Kau merencanakan hal gila apa lagi? Jika hubunganmu dengan Karin kembali bermasalah, aku tidak mau membantumu lagi sekalipun kau bersujud di kakiku"


"Iya, iya, terserahmu saja. Pergi sana- bukankah kau sibuk?!"


Astaga, tapi Adam benar-benar penasaran tujuan Liam. "Katakan bodoh, jangan membuatku tidak bisa bekerja karena penasaran"


"Kau mau tau?" Liam tersenyum aneh sambil menyipitkan matanya melirik Adam lalu ia tarik lengan Adam hingga sedikit mendekat padanya kemudian ia berbisik.


"Kenapa kau selalu tidak sabaran" ejek Liam melangkah pergi dari toilet, beruntungnya saat mereka tadi bicara tak ada pengunjung yang masuk.


Adam diam saja setelah mendengar sesuatu dari mulut Liam "jadi kau melakukannya- "Kita bicara lagi nanti, aku merindukan istriku" potong Liam segera pergi meninggalkan Adam karena menyadari ia cukup lama berada di toilet dan itu semua gara-gara pria berjas putih tadi.


Disisi lain, Karin berhenti tepat di belakang Riana.


Tentu saja ibu tirinya itu sadar Karin mengikutinya sampai di depan ruang dokter kandungan namun bukan dokter yang memeriksa Karin.


"Apa sandiwaramu belum selesai?" kaki Riana berhenti, ia berdiri memunggungi Karin dan tak berselang lama wanita itu akhirnya berbalik.


"Karin"


Karin tatap wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu ia tertawa. "Bukankah seharusnya kau pergi ke psikolog? Kau terlihat seperti orang depresi. Apa ini karena kau belum mengikhlaskan kepergian Ayahku" Karin kembali tertawa seolah hal itu lucu padahal tidak sama sekali, ia hanya menertawakan kondisi Riana yang ditekan karena dana takt*s itu hilang dan belum mengetahui siapa dalang di balik itu.


Karin menyaksikan semuanya, seluruh cctv yang ada di rumah mendiang orang tuanya telah di retas oleh Juan. Terlebih Karin meminta Jason memasang penyadap di kantor selain di rumah.


Karin berhenti tertawa, ekspresinya berubah serius dan Riana masih belum buka suara.


Ketukan hells Karin perlahan mendekati Riana-


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...