Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - ANCAMAN!


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"Liora!" ucap keduanya bersamaan.


Tentunya Karin langsung menatap wanita yang berdiri di depan mereka, sejak tadi beberapa orang memperhatikan ketiganya sebelum kedatangan Liora.


"Kamu sudah banyak berubah Liam, aku merindukanmu" ujarnya langsung memeluk Liam di depan mata Karin membuatnya seketika diam dan tak bisa mengucapkan apapun seolah mulutnya terkunci.


Liam yang sadar situasi langsung melepas pelukan Liora dan mundur satu langkah sejajar dengan posisi Karin.


Wanita itu bingung sekaligus kaget Liora memeluk Liam begitu saja, membuat dadanya tiba-tiba sesak dan bergejolak tak nyaman, dia tahu siapa itu Liora tapi tidak tahu bagaimana rupanya.


"Apa keperluanmu ke sini?" Karin buka suara.


Liora tersenyum, terlihat tulus namun bisa juga palsu. "Kau sendiri? Aku datang untuk menemui Liam"


"Ah, apa kau sekretarisnya?" sambung Liora yang memang tidak tahu menahu siapa wanita yang berdiri di sebelah Liam.


"Dia- "Benar, aku sekretarisnya." Karin memotong dan menatap Liora dengan tatapan menilai dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Liam menatap sisi wajah Karin yang masih tertuju dengan Liora.


Lagi-lagi Liora tersenyum lalu beralih menatap Liam, "Apa Kelvin sudah berhenti? Ternyata waktu berlalu begitu cepat" katanya sambil bersedekap.


Sama hal nya dengan Karin, wanita itu juga menatap Karin dengan tatapan menilai. Menurutnya pakaian Karin terlalu berlebihan hanya untuk ukuran seorang sekertaris, pakaian dan tas nya dari Brand yang mahal.



Disini Karin masih berusaha tenang di tengah rasa ketidaknyamanan nya atas kehadiran Liora. Dalam otaknya berpikir ada hubungan sejenis apa sebenarnya dia dengan Liam, suaminya.


"Bisa kita bicara Liam?" pintanya.


Liam terdiam lalu melirik Karin, jujur dari dalam lubuk hatinya perasaan untuk Liora itu masih ada walaupun pernah di khianati, dan Liam juga penasaran akan satu hal.


"Kalian bisa pergi, aku akan menunggu di lobby" bohongnya dengan nada yang terkesan datar. "Jangan pergi" kata hatinya berlawanan berusaha menyihir Liam untuk tidak pergi, tapi sepertinya tidak berhasil.


Liora menarik lengan Liam dan mengajaknya untuk bicara di tempat yang tidak jauh dari gedung MK Group. Pria itu hanya menatap Karin sesaat sebelum Liora membawanya semakin jauh.


Keadaan mungkin akan berbeda jika Jayden ada bersama mereka, mungkin Liora sudah di usir sedari awal hanya saja di sini Liam berada di tengah persimpangan yang membuatnya bimbang.


Karin menghela napas panjang, tanpa di sadari tangan kanannya mengepal dari tadi. Ia melangkahkan tungkai kakinya masuk kedalam meninggalkan Felix yang terlihat sedang berpikir sesuatu sebelum akhirnya menyadari Karin sudah pergi.


Satu bulan tinggal bersama Liam, membuat hati Karin sedikit bergejolak dia memang tidak mudah membuka hati apalagi pada pria menyebalkan seperti Liam. Namun Karin menyadari jika ada sisi lain dalam diri Liam yang membuat hatinya terenyuh.


-


-


-


Karin masih memikirkan Liora dan membuatnya melupakan pekerjaannya saat ini, hingga masuk seorang wanita membawa beberapa berkas.


"Ini beberapa sketsa produk untuk peluncuran bulan ini" ucap Lea memberikan pada Karin yang nyatanya masih melamun.


"Manajer Karin?" panggil Lea saat menyadari Karin sibuk dengan lamunannya.


"Ah, iya. Aku akan memeriksanya kau bisa pergi" katanya langsung mengalihkan atensinya pada Lea lalu pada berkas.


......................


"Selama ini kau membohongiku?"


Liora mengernyitkan dahinya, bingung. "Apa maksudmu?"


Bola mata Liora bergerak cepat seolah menangkap maksud dari kalimat Liam. "A-Apa maksudmu Liam, Zayn putra kita."


Pria itu sejenak memejamkan irisnya, dan menghembuskan napas panjang.


Sedari tadi saat bicara, ia justru hanya menunduk dan menatap ke sisi lain, bukan menatap langsung mata Liora. Bagaimana tidak, melihat wajah Liora hanya membuat hatinya merasakan sakit.


"Jujur saja padaku Liora." Liam perlahan mengangkat kepalanya.


"Ha? Apa? Ada apa denganmu Liam? Bagaimana bisa kamu menyimpulkan hal seperti itu." Liora menjawab sambil tertawa bodoh.


"Berhentilah berpura-pura bodoh." Pria itu berdiri dari tempat duduknya menatap Liora serius.


Ia sudah mulai tak bisa membendung emosinya lagi.


"Apa maksudmu? Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Zayn itu putramu." Wanita itu pun turut berdiri, ia memegang tangan Liam.


Liora meminta penjelasan, mengapa tiba-tiba Liam menjadi seperti ini? Menanyakan masalah Zayn.


"Ku bilang berhenti berpura-pura bodoh!!" Sentak Liam "Andai saja kau jujur padaku lebih awal saat aku bertanya padamu ... Aku mungkin masih bisa mengampuni mu." Lanjutnya.


Liora terkejut saat Liam tiba-tiba menyentaknya dan menyatakan hal yang tak bisa ia mengerti. Wanita itu sungguh tak menyangka, sebab Liam tak pernah sekalipun marah pada dirinya, ini benar-benar pertama kalinya, bahkan dulu Liam selalu memperhatikan nada bicaranya sebelum berbicara padanya.


"Kau bermain di belakangku. Kau mengkhianati ku. Apa ini masuk akal? Jayden mengatakan padaku, dan buktinya sudah jelas" Liam mengambil ponselnya dan memperlihatkan dokumen yang waktu itu ia lihat.


Rasa cinta dan kepercayaan yang sudah lama ia bangun hancur begitu saja dan menjalar ke ulu hati, rasanya telah hancur, hatinya sakit. Butuh waktu bertahun-tahun untuk Liam melupakan Liora, bahkan dengan mengingat pengkhianatan yang di lakukan Liora masih belum bisa melepaskan Liam dari belenggu wanita itu. Namun saat mengetahui masalah putra yang begitu ia sayangi bahkan sampai harus mengurung Liora di Apartemen untuk menjaga keselamatan keduanya, hanya cerita dan kebenaran palsu yang Liora karang untuk mengendalikan Liam.


"Liam, Aku hanya."


"Kau tak bisa mengelak lagi, aku sudah mengetahui semuanya, jadi selama ini apa yang di ucapkan Jayden benar. Gara-gara kau aku hampir tidak mempercayai sahabat ku sendiri!"


"Itu tak seperti yang kau dengar Liam, Jayden dari awal memang tidak menyukaiku dan dia sengaja mengatakan itu untuk menghasutmu" Wanita itu menggelengkan kepalanya menatap Liam seperti memohon.


Pria itu lantas tertawa kecil seperti orang bodoh, sebenarnya dia berharap Zayn memang putra kandungnya tapi ekspresi Liora menjawab semua pertanyaan Liam.


"Ternyata benar, selama ini kau hanya mempermainkan dan memerasku?" Pria itu memastikan.


Liora masih berusaha menjelaskan.


"Sedang mabuk? Orang asing? Tapi kau bertemu dengannya disaat aku tak bersamamu, kau itu bermain di belakangku. Salah paham? Cih, Lucu sekali."


"Bahkan yang lebih tidak masuk akal, pria itu temanku. Bagaimana kau bisa melakukan itu Liora? Kau benar-benar keterlaluan! Apa jangan-jangan Zayn anak pria itu?!" lanjut Liam.


"A-Aku"


"Sudahlah, mulai sekarang kau jangan menghubungi ku lagi!" Tegasnya tanpa memberikan wanita itu kesempatan.


Ia berusaha menahan tangan Liam, namun dengan cepat pria itu menepisnya.


"Semuanya sudah sangat jelas, tak ada yang perlu di jelaskan lagi. Selama lima tahun aku berusaha mempercayaimu melawan kebenaran dari Jayden dan yang lain, tapi ternyata semuanya terjawab hari ini." Ucap Liam kemudian pergi meninggalkan Liora yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Jika kau pergi, aku akan mengatakan kebenaran lima tahun yang lalu!" Langkah Liam terhenti, Liora menyusul dan berdiri tepat di belakang Liam.


"Jangan bersikap seperti ini Liam, aku benar-benar merindukanmu" Liora perlahan menelusupkan tangannya pada sela-sela lengan Liam, memeluknya dari belakang.


"Kau yakin bisa mengatasi masalah itu? Karirmu bisa hancur jika kebenaran itu tersebar." bisik Liora menyandarkan kepalanya di punggung lebar Liam.


"Kau mengancam ku!"


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...