
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Liam memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, mendekat membuat jantung Liora berdebar kuat, "Tidak ada yang spesial, tapi kami sudah menikah. Kau paham arti pernikahan bukan! Benar, Karin sudah menjadi milikku seutuhnya bukan pernikahan kontrak atau hal yang berbau perjanjian seperti yang kau pikirkan!" Seringai Liam.
Liora mengepal kuat-kuat menatap Liam yang perlahan menjauh darinya. "Baiklah, kalau memang ini yang kamu inginkan."
"Liam!" wanita itu kembali memanggil Liam yang reflek berbalik, "Jangan salahkan aku jika berita tentang wanita yang tertabrak waktu itu mencuat ke media"
Liam lagi-lagi tersenyum tipis, "Bukan aku yang membunuh wanita itu Liora, Tapi kau!" Liam menunjuk wanita yang berdiri enam meter darinya.
"Tapi kau yang menutupi kasus itu Liam!"
"Aku-" Liam tertawa kecil "Apa sekarang aku tidak salah dengar? Evan yang menutup dan merekayasa seluruh kasus Nyonya Evelyn, Liora. Bahkan dia juga pria yang seharusnya bertanggung jawab atas Zayn" Liam tersenyum remeh, ini benar-benar memuakkan baginya. Setelah sekian lama Liam akhirnya bisa melepaskan dirinya.
Mata Liora membelalak, tidak pernah terpikir sekalipun di otaknya Liam mengetahui hal ini.
"Berhenti mengancam ku! Selama ini aku diam hanya ingin melihat sejauh mana kau mau mengendalikanku"
"Tapi kau saksi mata, jika aku buka mulut masalah itu juga pasti akan menyeretmu"
"Silahkan! Aku bisa lepas dengan kedudukan dan uangku" sahut Liam kembali mendekat kearah Liora. "Tapi kau-" Liam menunjuk Liora di wajah lalu tersenyum remeh "Jadi berhenti mencari cara untuk menjatuhkan ku, aku bukan pria yang sama dengan pria bodoh lima tahun lalu Liora!" Ucap Liam menyelipkan beberapa helai rambut ke telinga wanita itu.
"Seharusnya kau pikirkan dirimu sendiri, karena Karin pasti akan menjebloskanmu kedalam jeruji besi" Liam menatap Liora dengan tatapan jijik, sikapnya sendiri lah yang membuat Liam muak.
Liora mendengus "Ingat Liam, jika kita tidak bisa bersama, maka Karin juga tidak akan bisa!" kemudian ia pergi dari ruangan Liam dengan penuh rasa kekesalan dan kekalahan.
......................
Brakh!
Riana melemparkan sebuah koran ke atas meja kerja Karin, dia menatap marah, sorot matanya menajam, namun tak ada jawaban dari Karin.
"Apa maksudnya ini Karin!"
"Memang benar, kan" Karin mantap sekilas lalu kembali lagi pada komputernya.
"Jason, ayo pergi" Teriak Karin seraya bangkit dan meraih tasnya.
Pria itu lantas membukakan pintu untuk wanita itu dan menunggunya di depan pintu. "Jawab Ibu Karin!"
Karin mendecih memutar malas bola matanya dan tetap melanjutkan langkahnya.
Riana berbalik dan menarik kasar lengan Karin hingga meninggalkan bekas goresan di lengannya, membuat Karin meringis.
Mata Riana memerah, urat lehernya nampak jelas akibat amarah yang tak bisa di bendung lagi.
Plakkk
Karin mendengus senyum memegang pipi kirinya yang terasa panas akibat tamparan Riana.
Wanita itu mendorong pintu untuk kembali tertutup, ia tanpa aba-aba menjambak kasar rambut Karin hingga ia mendongak ke atas. "Berani sekali kau menyeret namaku, dasar anak sialan!"
Karin berusaha untuk tetap tenang, menyadari jika cctv merekam semuanya, jika Riana bisa kenapa dirinya tidak. "mari kita lihat, siapa yang akan terjebak dengan kebiasaan-nya sendiri" gumamnya dalam hati.
"Sekali lagi ku peringatkan. Jika kau berani menyeret namaku seperti ini akan ku pastikan matamu itu tidak bisa lagi melihat Ayahmu!" ancamnya melepaskan tangannya dari rambut Karin kemudian pergi dari sana dengan kekesalan yang mendalam, pasalnya seluruh karyawan membicarakan dirinya.
Karin tersenyum aneh sambil mengusap tangannya yang tergores, dia meregangkan lehernya ke kanan ke kiri kemudian menyeringai.
Jason pergi mengekor di belakang Karin sambil membawa beberapa berkas dan tablet di tangannya.
-
-
-
Jason dengan telaten mengikuti dan mendengarkan seluruh ucapan dan penjelasan yang keluar dari mulut Karin.
"Ah, aku lupa-" Membuat Jason hampir menabrak wanita yang tiba-tiba berbalik itu. "Kirimkan rekaman cctv hari ini, dan rekaman tempo hari yang ku minta" Jason segera mengangguk dan Karin kembali melanjutkan langkahnya.
Mereka berhenti di satu store terakhir yang grafik penjualannya selalu tinggi. Karin berdiri di depan meja etalase memindai seluruh produk yang ada di tempat itu.
"Sedang apa?" Karin hampir saja membanting pria yang dengan lancang merangkul pinggangnya itu. "Kau-" Liam menatap istrinya dengan wajah santai. Oh, tuhan ingin sekali Karin memaki pria di depannya itu.
Sementara Kelvin berdiri tepat di belakang pria itu bak bodyguard.
Liam menyadari ada wajah baru di sekelilingnya, "Dia siapa?"
Karin melirik sekilas ke arah sekretarisnya, "Saya Jason pak, sekertaris nona Karin" ucapnya memperkenalkan diri dengan sopan.
Liam beralih menatap Karin, "Kenapa kau tidak bilang sekretarismu laki-laki?" Karin memutar malas bola matanya, "Apa aku harus mengatakan semuanya?"
"Tentu saja?"
Karin mendengus, ia masih kesal karena ulah Liam kemarin malam yang sengaja menghamburkan se isi kamar hanya untuk membalas dirinya.
"Mau kemana?" tahan Liam saat Karin melangkah pergi. Pria itu menariknya hingga jatuh kedalam pelukannya membuat seluruh atensi pengunjung store tertuju pada mereka. "Kau gila!"
"memang, kau yang membuatku gila akhir-akhir ini" Liam dengan santai mendekatkan wajahnya pada karin, tangan kirinya mendekap tubuh Karin sementara tangan kanannya masih berada di saku celana.
Dengan cepat Karin menjauhkan wajahnya dan melepas tangan Liam dari pinggangnya. "Dasar mes*m" umpat Karin merapikan pakaiannya.
"Ayo Jason, kita pergi. Bisa gila aku lama-lama disini" Karin melangkah pergi, sementara Liam hanya tersenyum tidak jelas sambil bergumam "Kenapa dia sangat menggemaskan".
Tangannya tiba-tiba menunjuk etalase kaca di belakang, "Aku mau itu, Vin tolong ya." pintanya, kemudian segera pergi menyusul Karin meninggalkan Kelvin yang mengurus pembayaran.
......................
Liora melangkah cepat memasuki apartemen miliknya, "Evan!" pria yang sedang asik nonton tv itu lantas menoleh. "Apa?"
"Kau yang menutupi kasus wanita itu!" Evan mengangguk dengan santai sambil memakan sepotong roti di tangannya. "Kau berpikir itu Liam?" pria itu lantas bangkit dan berjalan menghampiri Liora yang masih berada di posisinya.
Evan menghela napasnya, meraih surai pipi Liora sementara satu tangannya menelusup pada sela tangan kanannya, mengalungkan tangan pada pinggangnya. "Liam tidak akan mungkin melakukan itu Liora, dia bahkan membawa wanita itu ke rumah sakit" ucapnya menarik tubuh Liora untuk lebih dekat padanya.
"Tapi- "Sshut! Berhenti mengejarnya, selama ini aku yang selalu membantumu, apa kau tak pernah menyadari itu!" Evan seolah menuntut balasan dari Liora atas kerja kerasnya selama ini. "Aku tidak pernah meminta hal itu darimu! Bukankah kau sendiri yang secara suka rela membantuku?"
Evan menunduk sejenak, lalu kembali menatap Liora dengan tatapan sayang. "Aku menyukaimu, harus berapa kali aku mengatakannya Liora? Aku bahkan rela membiarkan Liam mengurusmu saat kau mengandung Zayn, kau pikir itu mudah!" nada bicaranya mulai sedikit meninggi dan menekan.
"Tapi aku mencintai Liam!" Liora melepaskan kasar tangan Evan darinya dan segera pergi ke kamar, namun Evan jauh lebih kuat untuk menahan lengannya. "Kau keterlaluan Liora! Kau mengkhianatiku." teriak Evan.
"Kau yang mengkhianati ku brengsek! Kau yang memperk*sa ku sampai aku harus mengandung Zayn, syukurlah anak itu tidak selamat" jawab Liora melipat tangannya ke dada menatap Evan dengan tatapan penuh kebencian.
"Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah bisa menggantikan Liam! Ingat itu"
Setelah mengucapkan kalimat tadi, Liora segera masuk kedalam kamar.
Argghhh...
Brakh!
Semua gelas kaca yang ada di atas meja dapur jatuh berhamburan di lantai, Evan jatuh merosot bersandar pada dinding sambil tersenyum bodoh.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...