Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - DECEPTION


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"Sekarang jelaskan siapa yang akan bertanggung jawab atas kekacauan ini?!"


Karin menendang bantal yang tengah Liam duduki. Bukannya marah, pria itu malah terlihat tidak memperdulikan dan malah asik dengan laptop yang ada di pangkuannya.


"Liam! Kau dengar tidak?!"


Liam menatap sekilas. "Aku mendengarnya. Tidak usah berteriak seperti itu, kau membuat telingaku sakit."


Karin terdiam. Dia menatap Liam yang masih asik bermain game di laptopnya dengan duduk di lantai setelah mengacaukan kamar bak kapal pecah.


Terkadang Karin bingung, Liam punya sisi dewasa, lembut, perhatian, kadang sangat menyebalkan dan bringas. Sebenarnya Liam yang asli itu bagaimana?


"Kau membalas karena aku menertawakan mu waktu itu?" Liam jadi ingat saat dipukul ibunya waktu itu, "Siapa yang akan membereskan ini?" Nada suaranya turun.


Karin menghembuskan napas lelah. Jujur saja, semua emosinya selalu tertahan pada Liam. Pria itu selalu menjadikan kehamilan Karin sebagai alasannya. Dia akan mengatakan kebenaran jika Karin sebenarnya tidak hamil.


"Tidak ada."


Jawaban singkat dari Liam membuat Karin mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa pria ini terlihat santai dan biasa saja, sementara kekacauan yang terjadi adalah karena ulahnya.


Menyebalkan!


"Liam. Aku tidak dalam kondisi bercanda sekarang!" Tekan Karin.


"Aku juga. Apa kau pikir aku bercanda, sayang..." balas Liam sembari mengedipkan sebelah matanya.


Karin kesal, "siluman buaya sialan!"


"Hei, mulut sayang. Jangan mengumpat seperti itu nanti bayi bohonganmu itu dengar."


Mendengar jawaban Liam membuat Karin mendengus kesal.


"Sial! Pria ini benar-benar gila!"


Gumam Karin mengepal kuat, menurutnya suaminya itu mempunyai kelainan.


Kelainan jiwa, misalnya?


"Tenang Karin, kamu harus kuat mengatasi pria gangguan jiwa ini" gumamnya membuat Liam sontak mendongakkan kepalanya. "Kau bilang apa tadi?"


Karin melipat tangannya ke dada menatap Liam angkuh, "Gangguan jiwa" cepat Liam bangun dan menatap Karin namun ekspresi wajah Karin seolah menantang dirinya.


Liam tiba-tiba tersenyum, "Bereskan kamar ini sayang, nanti malam kita mau tidur dimana kalau berantakan seperti ini. Sudah tugasmu sebagai istri untuk melakukannya!" Pria itu tersenyum lebar saat melangkah pergi dari kamar meninggalkan Karin yang sedang menahan amarahnya.


"Sial. Yak! Aku istrimu bukan pembantu"Karin mendengus, dan dengan cepat dia membereskan kekacauan yang dibuat Liam walaupun sambil mengeluarkan sumpah serapah.


Setelah selesai Karin memijat pelipis nya, seharian dia lelah dengan urusan kantor, lalu di rumah harus di hadapkan lagi pada lelaki semacam Liam. Yang kadar menyebabkan nya jauh melebihi kadar anak remaja.


......................



Liam duduk teramat santai sambil memainkan ponselnya sementara kakinya dia letakkan di atas meja, telinganya mendengarkan alunan musik dari piringan hitam yang berputar.


💬"Pulang jam berapa?"


Pesan terbaca


💬"Ayo dinner"


Pesan terbaca


Pria itu menunggu balasan dari istrinya, namun selama beberapa menit kemudian tetap tidak ada balasan.


💬"Karin!"


💬"Kau mengabaikan pesan dariku?"


from: Wife


💬"BERISIK!"


💬"Tidak ada"


💬"Berhenti menggangguku, atau ku blokir akun mu"


💬"coba saja😏"


@karinzylenemorgan_ membatasi akun anda, silahkan cek kembali atau hubungi layanan pelanggan di @layanan.pelanggan.co.id


"Sial, dia benar-benar melakukannya" dan sialnya lagi, rasa penasaran Liam semakin besar, semakin lama bersama Karin malah semakin menarik perhatiannya.


"LIAM!"


Pria itu tersentak, lantas menurunkan kakinya untuk berdiri.


Kelvin terlihat mengatur napasnya setelah berlari masuk keruang Liam, tapi tetap saja wanita itu berhasil masuk.


"Liora!" Liam beringsut dari meja kerjanya menghampiri Liora sambil memberikan gesture pada Kelvin jika dia bisa kembali ke meja kerjanya.


Liam duduk di sofa "Apa?"


"Kamu tidak bisa seperti ini Liam! Aku tahu kamu masih memiliki perasaan padaku kan. Jujur saja" Liora mengambil tempat di seberang Liam.


"Dia hanya pelampiasan untuk membuatku cemburu kan?!" sambungnya yakin.


"Siapa? Maksudmu Karin?!" Liora mengangguk, lalu Liam menatapnya begitu lekat. Liam merindukan Liora yang dulu.


Liora yang bisa mengisi kekosongan kedua orang tuanya dengan caranya merawat Liam. Pria itu mengakui dia mengenal Liora karena insiden yang hampir mirip dengan Karin, bedanya Liora memang sengaja di jual oleh Ayah tirinya kepada pria hidung belang yang menghibur diri di club. Itu cerita yang Liam ketahui.


Untuk pertama kalinya Liam lah pria yang harus dia puaskan. Tapi siapa yang menyangka Liam malah menaruh perhatian lebih padanya dan malah membebaskan dirinya dari pekerjaan hina itu.


Semua Liam berikan, dia benar-benar mencintai Liora, kehidupan wanita itu di jamin oleh Liam bahkan di berikan tempat tinggal. Tapi balasan Liora terhadap apa yang telah di berikan Liam adalah sebuah pengkhianatan. Dia selingkuh dengan Felix yang notabennya mantan kekasihnya dan teman Liam.


"Jawab Liam!"


Liam menatap Liora dari ujung kepala sampai ujung kaki, menilai apa saja yang berubah dari mantan kekasihnya itu.


"Kau banyak berubah Liora. Bahkan bekas luka di paha mu sudah menghilang" Liora perlahan menarik senyumnya, ternyata Liam masih sama. Pria yang masih bisa di bujuk untuk kembali padanya dan perasaannya masih sama.


Wanita itu perlahan bergerak menghampiri Liam dan duduk tepat di sebelah kirinya. "Aku merindukanmu Liam" ucapnya mengelus lembut lengan Liam membuat pria itu hampir tersulut beruntung dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Ingat Liam, jika Karin melihat pemandangan ini surat cerai akan segera berada di meja kerjamu.


Liam perlahan melepas tautan Liora darinya dengan pandangan mereka yang salin terkunci satu sama lain. Liam akui jika Karin tidak berkeliaran di pikirannya dia pasti sudah melahap Liora detik ini juga. Ia lantas bangun dan berjalan menuju jendela besar di sebelah kiri sofa.


"Berhenti menggangguku Liora! Aku tidak ingin membuat masalah lagi, cerita gila yang kau karang waktu itu sudah membuatku hampir hilang kesabaran- "Bahkan sampai detik ini kau masih memaafkanku! Jangan membohongi perasaanmu sendiri Liam" potong Liora mendekap memeluk Liam dari belakang.


Liam menghela napasnya, lalu melepas kasar tangan Liora hingga wanita itu sedikit merengek kesakitan.


"Ceraikan Karin!"


Liam sontak berbalik mengeluarkan tangan yang sedari tadi ia masukkan kedalam saku celana. "Aku tidak akan pernah melepaskan Karin! Selama lima tahun aku memberimu waktu Liora, tapi kau tidak pernah kembali dan tiba-tiba kau ingin aku bercerai? Jangan bicara dengan kalimat yang tidak masuk akal Liora" nada bicara Liam terdengar rendah, namun ia merasakan ada penekanan di setiap intonasi Liam.


"Sekarang aku sudah kembali Liam, kita bisa bersama lagi kan?" Seolah tak punya rasa malu sedikitpun, Liora masih sanggup mengatakan hal itu pada Liam. Pria yang dia khianati lima tahun yang lalu.


Sudut bibir Liam bergerak naik, "Kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama Liora! Lebih baik kau pergi dari sini dan pergi dari kehidupanku dengan Karin."


"Tidak akan," Liora tersenyum aneh melipat tangannya ke dada melangkah mendekati Liam. "Kamu pikir Karin menyukaimu? Kamu salah Liam! Dia bahkan masih menyimpan ribuan foto kebersamaannya dengan Felix di tempat yang bahkan tidak bisa kamu jangkau. Karin, wanita sosiopat itu jauh lebih berbahaya dariku!" Kening Liam berkerut.


"Jangan bicara sembarangan Liora"


"Selama kamu mengenalku, apa aku pernah bicara tanpa bukti!" Liam memutar malas bola matanya, "Jangan bicara padaku seolah kau wanita suci"


Liora berdecak remeh, "Kenapa tidak kamu pastikan sendiri? Menurutmu kenapa Felix lebih memilih diriku dibanding Karin yang waktu itu jauh lebih menang atas segalanya dari pada diriku?"


"Itu karena Karin memiliki sisi lain dalam dirinya, mungkin lebih tepat kita sebut sebagai kepribadian lain dari dalam dirinya"


Liam tersenyum, "Kau sudah puas mengarang? Hubunganku dengan Karin tidak selemah yang kau pikirkan Liora!" telak membuat Liora menghentikan omong kosongnya. Tentunya Liam mengetahui alasan dibalik hancurnya hubungan Karin dan Felix.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...