
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Tuan Morgan hanya diam tanpa berani menatap putrinya. "Ayah melakukan ini saat Ibu berjuang untuk sembuh!" Karin masih menahan air matanya.
"Why Dad?"
"Bagaimana Ayah bisa mengkhianati Ibu seperti ini? Terlebih wanita itu rekan Ibu sendiri?!"
"Jawab Karin Yah!"
"Maafkan Ayah Karin, waktu itu Ayah melakukan kesalahan." Morgan tidak berfikir Karin akan mengetahui masalah yang dia simpan selama hampir tujuh tahun terakhir.
Karin mendengus senyum tanpa memberikan tanggapan, ia cepat bangkit dari duduknya. Awalnya dia berpikir mungkin ada kesalahpahaman, realitanya Morgan mengiyakan seluruh pertanyaannya tanpa sanggahan ataupun koreksi.
"Karin benci Ayah!"
Karin pergi tanpa menoleh kebelakang, air mata yang sedari tadi dia tahan nyatanya tak mampu bertahan lebih lama, Karin jongkok di dalam lift menelungkupkan wajahnya sambil memeluk kedua lututnya.
Karin pergi ke rooftop gedung berusaha menenangkan pikirannya. Nyatanya sedari tadi ponsel Karin terus berdering tapi sengaja ia diamkan.
"Karin"
Langkah kaki perlahan mendekat ke arahnya, seorang pria yang tengah melepas jas-nya kemudian menyampirkan ke bahu Karin. "Kenapa? Liam menyakitimu?" Karin lantas menoleh dan langsung melepas jas Felix dari bahunya.
"Pakai saja, jangan dilepas cuaca sedang dingin" tahan Felix berhasil membujuk Karin untuk mempertahankan jas-nya.
"Kau sering sekali ke sini" tanya Karin sinis.
Felix menghela nafasnya, "Perusahaan kita bekerja sama, bagaimana aku tidak sering ke sini" Karin menghela napasnya, dia lupa masalah itu.
"Karin" sekali lagi Felix manggilnya membuat Karin reflek menoleh, "Apa!" ketusnya.
"Kita tidak bisa bersama lagi, setidaknya ayo berteman"
Karin menyipitkan matanya, "Tidak ada yang namanya pertemanan antara mantan kekasih"
"Tapi- "Bersikap saja seperti biasanya" potong Karin ingin melangkah pergi tapi di tahan oleh Felix. Pria itu tanpa aba-aba memeluk Karin erat hingga wanita itu berontak "Apa yang kau lakukan! Kau gila." tangannya masih berusaha mendorong tubuh Felix menjauh darinya.
"Sebentar saja Karin, aku sangat merindukan pelukanmu" ucap Felix sebelum mengaduh kesakitan karena Karin menendang senjatanya, hal yang di yakini Liam sebagai keahlian istrinya.
"Jangan melewati batas Felix." Karin lantas pergi meninggalkan Felix kesakitan di rooftop.
Arrghhh
......................
Zea dengan beberapa petugas kejaksaan terlihat memasuki gedung tinggi milik MK Group. Karin yang kala itu baru keluar dari lift menarik senyumnya saat Zea menatap ke arahnya.
"Bagaimana kabarmu Karin?" tanyanya masuk kedalam lift di ikuti Karin yang kini kembali masuk kedalam lift.
"Aku tidak menyangka gerakanmu secepat ini"
Zea tersenyum, "aku tidak suka membuang waktu, ini mangsa besar untukku, thank untuk bukti yang kau berikan"
"Tentu, dengan senang hati" jawab Karin yang sebelumnya gundah karena Ayahnya, kini suasana hatinya berubah drastis.
Ting...
Zea beserta Karin dan yang lain keluar dengan dagu yang terangkat. "Stop! Jangan ada yang berani menyentuh apapun. Semua berkas kami sita" ucapnya lantang pada para karyawan yang berada di divisi keuangan, berada di bawah yurisdiksi Riana.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka memperlihatkan Riana yang sedang asik bicara dengan seseorang di telpon tanpa menyadari kedatangan Zea dan Karin.
"Direktur Riana. Anda kami tahan atas dugaan korupsi dan pencucian dana, apapun yang anda lakukan dapat digunakan untuk melawan anda di pengadilan, dan tentu saja anda berhak menerima bantuan dari penasehat hukum" Zea melirik bawahannya yang cepat bergerak menarik Riana untuk ikut dengan mereka.
Karin tersenyum, "Bye bye" gumamnya pelan tanpa suara.
Riana berontak, dia tidak terima atas tuduhan yang di berikan padanya. "Kalian tidak tahu siapa aku! Lepas! Akan ku pastikan kalian kehilangan pekerjaan kalian! Yak! Lepas."
"Oh, jadi kau jaksa yang bertugas. Berani sekali kau! Kita lihat siapa yang akan menang"
"Tentu, kita lihat siapa yang akan menang?!" Sahut Zea yang berjalan di depan sementara Riana di seret keluar dari ruangannya.
"Ada apa ini? Karin?" tanya sang Ayah melirik Karin.
Karin mengangkat bahunya, "I don't know and I don't care! Cari tahu saja sendiri" jawab Karin dengan tatapan remehnya pada Riana lantas pergi begitu saja dari sana.
"Bawa dia" perintah Zea mengangkat tanda pengenalnya pada Morgan dan Nichole "Kami dari kejaksaan. Direktur Riana akan kami tahan untuk dimintai keterangan, dan kalian di persilahkan mengirimkan penasehat hukum" jelas Zea berlalu pergi mengikuti bawahannya yang sudah pergi lebih dulu.
-
-
-
Sudah hampir satu jam wanita itu berada di ruang interogasi tapi masih saja tidak mau buka mulut. Sampai akhirnya Zea sendiri yang turun tangan.
Zea mendelik dengan tatapan tajam lantas mendudukkan dirinya di kursi seraya membuka laptop dan beberapa berkas pemeriksaan.
"Jangan mempersulit, jawab saja dengan jujur agar aku bisa mengurangi hukumanmu" disini Zea sudah tak pandang umur lagi, apa itu sopan santun baginya saat berada di ruang interogasi.
Tidak ada jawaban dari Riana.
Brakh!
Zea menggebrak meja kayu itu dengan kuat hingga membuat Riana kaget. "Ku bilang jawab, jangan diam!"
"Aku tidak akan bicara sebelum pengacaraku datang!"
Cklek.
Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria berpakaian rapi sambil menenteng tas berwarna hitam di tangannya.
"Saya pengacara Nyonya Riana" ujarnya menyerahkan kartu nama pada Zea.
"Silahkan duduk, jangan membuang waktuku" jawab Zea dengan nada yang sangat ketus.
"Ku perhatikan dari tadi kau sangat tidak sopan padaku! Aku ini lebih tua darimu" ucap Riana yang sudah berani buka suara.
"Dengar ya, ini ruang interogasi. Tidak ada yang namanya sopan santun disini!"
"Siapa tadi namamu! Zea?!" sahut Riana lantas tertawa pelan
Brak!
Zea sekali lagi menggebrak meja, "Jangan memancing emosiku, kita selesaikan ini dengan cepat. Semua bukti sudah kami kantongi, sekarang giliranmu untuk mengaku!"
"Kalaupun aku mengaku, belum tentu kau jaksa-nya. Karena aku pasti akan membuatmu di mutasi ke kota kecil" Riana tersenyum angkuh sambil menyilangkan kedua tangan dan kakinya bersandar di punggung kursi.
"Sebelum menangkap ku, kau pasti sudah memeriksa latar belakangku kan!" lanjutnya. Selamat, Ibu tiri Karin itu sukses menaikkan emosi Zea.
"Kenapa? Kau ingin menggunakan koneksimu untuk lolos dari sini dan memberiku pelajaran?" Zea lantas menutup laptop dan berkasnya, kemudian melipat rapi tangannya ke atas meja menatap Riana.
"Baguslah kalau kau sadar diri"
Zea mulai menyatukan kedua tangannya memohon "Oh tidak, maafkan aku Nyonya seharusnya aku tidak menahan mu, aku bodoh karena meremehkanmu, huhu. Tck, itu yang kau mau?!" Zea mengusap air mata palsu yang berada di sudut matanya.
"Kau ingin menyuap kepala jaksa? Sayangnya kepala jaksa di sini pamanku. Ah- atau kau ingin mengajukan banding ke mahkamah agung? Bagaimana ya, Hm. tapi ketua mahkamah agung adalah Ayahku. Atau mungkin... kau ingin menyuap hakim yang bertanggung jawab? Sayang sekali hakimnya adalah Ibuku! Jadi kau mau menjatuhkanku dari sisi mana? Melaporkan sikapku ke tim komisi kejaksaan?" Zea membuat ekspresi takut yang di buat-buat, "Tapi pimpinan mereka adalah kakakku" Bom... Zea tertawa saat melihat ekspresi Riana yang mati kutu.
"kita lanjutkan pertanyaan-" ucapnya datar kembali membuka laptop dan berkasnya.
Jadi ini alasan Jayden dan Liam menyuruh Juan tetap mengendalikan Zea, jaksa gila yang punya kekuasaan dan koneksi dimana-mana. Apapun yang dia targetkan, tidak akan pernah lepas atupun lolos dari tangannya apalagi melarikan diri.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...