Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - CUT RATION


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Kelvin berlari masuk dengan napas yang terengah "Apa? Apalagi?" tanya Liam yang beberapa saat lalu baru saja melihat sekretarisnya itu keluar dari ruangannya.


Pria itu tanpa bicara meletakkan benda tipis itu ke atas meja tepat di depan mata Liam. "Kau mau memberiku saran apa lagi? Apa ini gaya baru" tanya Liam tersenyum mengejek, tatapannya masih tertuju pada Kelvin yang ekspresi wajahnya saja tak bisa di gambarkan.


"Buang jauh-jauh pikiran kotormu itu dan lihat ini" Kelvin menunjuk tegas kearah tablet yang tadi ia letakkan.


Kelvin beberapa kali menarik dan membuang napas panjang, nafasnya belum normal setelah berlari dari lantai 29.


"Kenapa? Apa yang salah dengan ini?" Oh tuhan, Kelvin jujur ingin sekali memukul kepala bosnya itu "Karin berkelahi. Istrimu berkelahi. Kau bilang apa yang salah?"


"Ah, benar- "Kau baru sadar sekarang?!" Potong Kelvin sedikit kesal "Memangnya kenapa kalau mereka berkelahi? Itu wajar kan." lanjut Liam membuat mulut Kelvin ternganga.


Kelvin segera menutup lagi mulutnya "Kau tidak lihat komentar di bawah? Mereka sedang mengatai istrimu bodoh!" Kalimat itu akhirnya Kelvin lepaskan.


"Sudahlah Vin, biarkan saja- Lagi pula aku senang melihat Karin yang ku kenal sudah kembali" Kelvin menggeleng pelan dia tak paham dengan pria di depannya itu.


Liam meraih ponselnya kemudian menelpon Juan


"Tumben?"


"Hari ini ke apartemenku."


"Sepenting apa?"


"Sepenting Karin akan meminjamkan hiro-nya padamu"


"Nanti malam aku datang"


"Good. oh iya"


"Apa lagi?"


"Tolong hapuskan komentar jahat dalam vidio Karin"


"Y"


Tut...Tut...Tut...


"Dasar anak anjing" lalu ia letakkan kembali ponselnya dan beralih pada Kelvin yang menatapnya datar.


"Apa?" tanya Liam dengan gerakan mulut tanpa suara. Kelvin tak menjawab lalu setelahnya ia berikan jari tengah pada bosnya itu. Mungkin jika di bahasakan seperti ini 'Sialan, sudah lari-lari ternyata ekspresi si buaya satu ini biasa saja.' Pikirnya Liam akan marah atau memberikan reaksi lainnya seperti marah, atau apapun itu.


Liam reflek berdiri dari kursinya"Anak ini-" ia menunjuk Kelvin yang sedang membelakanginya berjalan keluar ruangan "Jangan sampai ku potong gajihmu bapak Kelvin" ucapnya lantang terdengar jelas di telinga Kelvin hingga pria itu berhenti saat akan menarik gagang pintu, kemudian ia berbalik pada Liam.


"Lebih baik di potong gaji daripada di potong jatah. Huhu, delapan bulan- kawal sampai impoten." ejek Kelvin yang dengan cepat menarik pintu dan keluar dari sana menyisakan teriakan kekesalan Liam akan sekertarisnya itu.


......................


"Astaga, Liam! Sedari tadi aku memanggilmu, tapi kau sama sekali tidak menyaut dan malah berdiam diri di sini."


Liam terkesiap mendengar ocehan Karin yang tiba-tiba menyapa indera pendengarannya. Fokusnya yang semula memandang keluar jendela kini mulai teralihkan- ia berbalik, dan melihat istrinya yang sudah mulai berjalan ke arah dirinya.


"Ada apa, Sayang?" suaranya terdengar begitu lembut, bersamaan dengan lengannya yang sudah melingkar sempurna memeluk pinggang wanita bersurai hitam itu.


Karin mengerutkan dahinya jujur dia hampir tersipu karena panggilan sayang dari Liam yang begitu sopan masuk kedalam telinganya.


Tapi tiba-tiba pria itu teringat sesuatu hingga membuatnya tersenyum "Bagaimana? Kau menang?" seolah memahami kemana arah pembicaraan suaminya Karin membuang wajah ke sudut lain tapi Liam yang tengah duduk di stoolbar menarik tubuhnya semakin dekat lalu ia meyelipkan beberapa helai rambut Karin kebelakang daun telinga.


"Kau sudah melihatnya?" tanyanga agak ragu.


Lagi-lagi Liam tersenyum sembari mengarahkan lengan Karin untuk mengalung di lehernya "Tentu saja, istriku terlihat keren- sebelum mengayunkan pedangmu lihat dulu siapa lawanmu" ulangnya membuat Karin Reflek menutup mulut Liam dengan tangannya.


"Kau malu? Tidak perlu sayang, aku menyukai kalimatmu" ucapnya mengembalikan tangan Karin ke lehernya sementara tatapan mereka saling terkunci.


Jarak mereka semakin dekat, Liam sedikit memiringkan kepalanya sementara tangannya tanpa permisi menelusup masuk kebalik baju Karin hingga membuatnya bergidik "Bagaimana jika Ayahnya ini ingin berkunjung" bisiknya kemudian tersenyum dengan maksud yang penuh tuntutan.


Hampir saja bibir mereka bersentuhan bel apartemen berbunyi, di sana Karin tak henti-hentinya mendengar sumpah serapah dari mulut suaminya.


Pria itu lupa jika sebelumnya ia meminta Juan untuk datang.


"Kita lanjutkan saja, biarkan saja mereka" lanjut Liam yang dengan cepat menyambar bibir istrinya.


Tapi Karin perlahan mendorong dada Liam "Bukakan pintunya, kasian mereka sudah datang" alasan Karin untuk bisa lepas dari terkaman suaminya itu.


"Biarkan saja, nanti juga mereka pergi" rengek Liam tapi Karin tetap memintanya membukakan pintu hingga akhirnya pria itu mengalah dan segera turun dari kursi untuk membukakan pintu.


"Kenapa kau harus datang tepat waktu. Kau menghancurkan segalanya" Juan dan Jayden yang mendengar ucapan Liam hanya bisa mengerutkan kening, bingung.


"Kau sehat!" tanya Jayden memeriksa dahi Liam dengan punggung tangannya.


"Bagaimana" Juan menambahkan.


"Memang sedikit panas, ku tebak dia gagal sementara pedangnya berdiri. Kita datang di waktu yang tepat Juan. " jawab Jayden lalu keduanya tergelak melangkah masuk meninggalkan Liam yang masih kesal di depan pintu.


"Karin" tegur Juan yang sedang menjatuhkan pantatnya pada permukaan sofa yang sangat lembut itu.


Karin yang berada di dapur reflek menjawab "apa?"


"Kau serius meminjamkan hiro-mu?" Tangan Karin yang sedang memotong buah apel terhenti "Kapan aku bilang begitu?!"


"Liam yang bilang"


Karin mendelik tajam "Tidak. Aku tidak pernah bilang begitu- Liam bohong" jawab Karin menjelaskan.


Juan langsung mendengus lalu berbalik menatap Liam yang masih berdiri di posisinya, lebih tepatnya sekarang pria itu berdiri tak jauh di belakang sofa.


Liam melirik istrinya dengan tatapan sedikit kesal, terlebih sebelumnya Karin menolaknya.


Liam tidak akan kasar dia tahu apa yang harus dia lakukan saat berhubungan semasa kehamilan, bahkan pria itu sudah bertanya pada dokter.


Delapan bulan itu bukan waktu yang singkat, Liam bisa mati berdiri kalau benar seperti itu.


"Tidak biasanya kau memanggil kami?" tanya Jayden ikut duduk menyamping untuk bersitatap dengan Liam.


"Kita bicara diruanganku saja"


Dugaan Karin seratus persen benar, prianya itu sedang merajuk.


Ting...


Satu pesan masuk membuat Karin langsung teralihkan.


From : Jason


💬"Mereka akan memindahkannya besok malam melalui rute laut untuk di kirim ke cina, kemudian akan dipindahkan ke Belgia satu hari setelahnya."


-


-


Cklek.


Tak berselang lama pintu ruangan Liam terbuka membuat Karin segera menghampiri mereka tepat di depan pintu.


Ia bentangkan kedua tangannya seolah-olah ia sedang mengahalau mereka bertiga.


"Aku membutuhkan bantuan kalian bertiga"


Kening ketiganya langsung berkerut "Bantuan apa?"


......................


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...