
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Sekarang di ruang tengah ini, tepatnya Karin duduk di sofa, ditemani beberapa potong buah dan segelas teh hijau yang ia suguhkan sembari menyelesaikan pekerjaannya dan menunggu Liam pulang.
Jangan katakan bahwa Karin tidak mencoba menghubunginya?!
Jika ponselnya bisa berbicara, dia sendiri yang akan mewakili perasaan Karin yang sepertinya sedang cemas saat ini.
Sepengetahuan Karin, ini pertama kali nya Liam pulang sangat larut malam, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Padahal prinsip pria itu jika ada hari esok kenapa harus sekarang, begitulah yang karin tangkap selama menjadi istrinya. Bahkan jika itu sekalipun sangat penting, dia tidak akan menghabiskan waktunya lebih dari dua belas jam di kantor. Pulang dan mengganggu istrinya atau bermain game dirumah akan lebih baik untuk nya, daripada berlama-lama di kantor.Terkadang Karin memang suka pulang terlambat dari kantor.
Ting...
Karin spontan bangkit dari sofa, dan berlari kecil untuk membuka kan pintu. Lekukan dikedua sudut bibirnya yang senang menyambut Liam pulang berubah datar ketika mendapatkan pria itu sedang di bopong oleh dua orang yang sangat dia kenali, Jayden dan Kelvin. "Malam Karin---!"
"Bawa dia masuk." ucapnya cepat. Tanpa pikir lagi, mereka membawa Liam masuk, mengikuti sesuai arahannya. Sesekali Karin juga melihat kebelakang, melihat bagaimana dua orang itu susah payah membawa Liam ke kamar.
"Disini.. " Karin menepuk-nepuk kasur, memberi perintah agar mereka meletakkan Liam di sana.
Karin masih bisa melihat wajah Liam yang setengah sadar itu sedang tersenyum tanpa alasan, seluruh tubuhnya dikelilingi bau alkohol yang menyengat. Tatapan dari kedua mata nya sayu-sayu, sampai bahkan dengan keadaan seperti itu, dia masih bisa mengenali Karin. Liam yang baru saja dibaringkan dengan cepat menarik tangannya yang hendak beranjak. Wanita itu sedikit terjengit karna gerakan nya sangat tiba-tiba sekali. "Kau sudah kembali." ucap nya dengan bentuk berantakan. Sungguh! Karin tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Liam tidak pernah seperti ini setahunya selama mereka menikah.
Karin mengangguk dan kembali duduk di sisi ranjang, sambil mengulas senyum tangannya pun terulur memutari wajahnya, sedikit menyibakkan rambut yang tadi menutupi mata nya kebelakang. "Dia juga sudah kembali," lanjut Liam lagi. Karin juga melihat Liam tertawa sebentar setelah menggenggam kedua tangannya bersamaan dengan tangan nya dalam satu bulatan hangat. "Aku tidak tahu harus apa, semuanya tiba-tiba kembali, Karin." setelah itu Liam kembali terbaring dengan kedua mata nya yang sudah mengatup rapat. Kondisinya benar-benar kacau. Bahkan Karin tidak sempat bertanya kembali, siapa yang ia bicarakan karna tubuh nya begitu lemah.
Karin mengalihkan fokusnya kepada dua pria yang masih berdiri disamping ranjang. "Apa yang terjadi? tidak biasanya Liam seperti ini" tanyanya pada Jayden. "Apa sedang banyak masalah di kantor?" tanyanya pada Kelvin, namun pria itu menggeleng.
"Lalu dia siapa yang ia katakan barusan?" Karin kemudian berdiri, tegak sejajar menatap kedua pria yang masih terdiam itu. "Siapa yang telah kembali? apa ada orang lain yang ditunggu Liam hari ini?"
Mereka hanya menggeleng. Masih tidak menjawab pertanyaan Karin. Ia sangat yakin mereka mengetahui alasan kenapa Liam seperti ini. Maka dari raut cemas mereka yang terlihat mengetahui sesuatu.
Jayden dan Kelvin mendadak tidak berani menatap bahkan menjawab pertanyaan Karin yang seolah mengintimidasi mereka dan tatapan tajam Karin yang seakan mencekik keduanya.
"Pulang lah. Terimakasih sebelumnya" ucap nya letih tidak bersemangat lagi. Karin juga tidak menatap keduanya, fokusnya hanya melirik Liam yang terbaring tidak sadar.
"Karin,"
"Hmmm" jawab Karin seadanya.
Kalimat itu bahkan terdengar seperti memohon daripada meyakinkan. Karin sontak menatapnya nanar. "Kenapa kalian begitu percaya hanya aku yang bisa melakukannya?" jawabnya memastikan.
"Aku percaya kau bisa, aku akan membantu mu untuk itu, asalkan kau selalu mampu mendengarkan setiap penjelasan sebelum mengambil kesimpulan."Ucap Jayden sebelum pergi dari kamar.
Mereka bisa pergi sendiri, tanpa Karin harus mengantar keduanya sampai ke depan pintu.
Karin beralih melepas sepatu yang masih melekat di kaki Liam, kemudian melepas dasi dan jas-nya menyisakan kemeja putih yang satu kancingnya terbuka entah sejak kapan.
Wanita itu menghela napas panjang lalu ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Liam. Karin akui semenjak dirinya di culik malam itu Liam terlihat semakin memikul banyak beban di pundaknya.
......................
Jayden mendengus "Hah! Kenapa kau selalu meninggalkan hal yang tidak penting" kesalnya sebelum menenggak habis segelas Whisky yang di angsurkan salah satu wanita penghibur di sebelahnya.
"Siapa yang berpikir dia tiba-tiba muncul- "Itu kenapa aku selalu bilang jangan pernah melibatkan perasaan saat bermain"pungkas Jayden cepat memotong pembelaan Liam.
"Sebelumnya kau juga seperti itu, lihat saja Liora sekarang. Dan tiba-tiba Joy menghubungimu lagi? Sebelumnya kau sudah berhasil meyakinkan Karin tapi bagaimana jika yang kedua ini tidak berhasil?" bahas Jayden meraih batang rokok dari asbak yang ada diatas meja.
Juan menatap Liam menyelidik kemudian tiba-tiba bertanya, "Aku jadi bertanya-tanya, kau sungguh menyukai Karin?" Liam menghela napas, dia mengangkat bahunya samar "Sepertinya"
"Pilihan yang bagus" Kali ini Jayden ikut bicara, ia meletakkan gelasnya lalu melempar pandangan pada Liam. "Jika kau bisa meyakinkan perasaan Karin, langkahmu untuk- "Jangan dilanjutkan!" potong Liam menenggak habis minumannya, membuat Jayden menghentikan ucapannya menyadari ada dua wanita asing yang berada di dekat mereka. Lebih tepatnya dua wanita itu duduk di sisi kanan dan kiri Jayden sementara kedua tangan pria itu melingkari masing-masing pinggang mereka, tak heran Karin memberi peringatan pada Jayden untuk tidak menargetkan sahabatnya.
"Kalau begitu singkirkan saja Joy, kirim dia ke negara lain dan bungkam mulutnya dengan uang" usul Kelvin membuat Jayden merasa itu ide yang tidak buruk.
Liam punya masa lalu yang mungkin tidak akan di terima oleh wanita seperti Karin. Jika di pikir-pikir lagi wanita normal mana yang mau menerima masa lalu kekasihnya yang kelam seperti itu, terlebih hal itu berhubungan dengan hal yang sensitif yang tak bisa di terima oleh sebagian wanita. Pria yang dulunya suka menghabiskan uang-nya untuk membayar para wanita yang memuaskan dirinya. Entah berapa wanita yang sudah dia pakai di masa lalu untuk sekedar menghilangkan depresinya. Setelah Liora, Liam kembali mencoba membuka hatinya pada Joy sekedar menghilangkan perasaannya pada Liora, namun hasilnya NOL. Hingga akhirnya Liam memilih berhenti menggagahi para wanita bayaran selama beberapa tahun sebelum akhirnya kembali mencoba saat malam perayaan waktu itu.
Namun takdir mempertemukannya dengan Karin, wanita gila dari garis keturunan berada dan terpandang yang kendati awalnya ingin di jebak namun malah berakhir di ranjang yang sama dengannya.
Liam pemain lama yang berhenti karen gejolak perasaan yang membekukan hasratnya pada wanita lain selain wanita yang dia sukai. Jadi saat Jayden menyebutnya seorang maniak, itu tidak sepenuhnya salah.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...