Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - AMAZED


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Karin terlihat sedang memotong beberapa buah di dapur, sementara Liam sedang asik bermain game di ruang tamu . "Kau tidak ke kantor hari ini? Akhir-akhir ini kan kau gila kerja."


"Apa perdulimu?" Sarkas Liam dan Karin hanya menghela nafas. Wanita itu melepas kaos tangan elastisnya lalu kembali merapikan rambutnya.


Hari ini Liam libur, dia sengaja tidak memberitahu Karin.


"Bisa kau cucikan piring sebentar, aku ingin bersih-bersih!" kata Karin lalu melangkah menaiki anak tangga membuat Liam berdecak kesal.


"Cih! Memangnya dia siapa sampai berani memerintah pimpinan Rez Holding? Kalau bukan karena cantik, aku tidak akan melakukan ini." Liam kembali menatap layar televisi yang sudah dia ganti ke saluran biasa sambil mencuci piring dan bergumam tidak jelas.


Pria itu kesal karena Karin meminta untuk kembali tidur terpisah. Kalau begitu kan dia tidak bisa mengenal Karin lebih jauh "Apa seharusnya aku tidak membiarkan Ayah dan Ibu cepat pulang" Semakin Liam penasaran semakin dia ingin mengenal Karin lebih jauh.


Kali ini Liam ingin mewujudkan mimpinya, kesempatan yang sekarang tidak akan dia sia-siakan.


-


-


-



Karin duduk di sofa kamar sambil memeriksa rekaman cctv, dua sudut bibirnya terangkat naik. "Kau mau mengalahkanku nenek lampir? Oh, tentu tidak akan bisa" gumamnya pelan sambil menyeringai.


Hanya perlu satu ketikan dari Karin, maka vidio itu akan sampai pada Ayahnya, tapi Karin tidak ingin membuang kesempatan emas ini. Dia ingin mempermainkan wanita itu sebelum Ayahnya melihat sendiri kelakuan istri keduanya.


To : +12345678910


💬"Hapus videoku atau ku kirim video ini pada Ayahku!"


Kalau kata Karin 'Ingat, kalian diluar sana jangan pernah tunduk dengan yang namanya ibu tiri! Yang baik bak bidadari itu cuma di sinetron berbeda dengan realita yang 99,9% jahat atau manipulatif dan 0,001% persentase baik, kalau mereka jahat kenapa kita harus diam! Shuttt, cukup tokoh utama sinetron yang mau di perlakukan semena-mena, kalian jangan. Ayo Be Smart'


💬"Silahkan. Aku juga akan memperlihatkan pada Ayahmu saat kau menjambak ku!"


💬"Kau yakin? Tapi aku cukup mengenal bagaimana pandangan Ayahku. Jika dia melihat ini, pertama citramu akan buruk dimata nya. Kau yakin bisa mengatasi itu?"


Nama Riana sudah cukup tercoreng akibat konferensi pers hari itu. Karin sudah mulai bergerak, dia tidak ingin melihat parasit itu semakin menjadi-jadi.


"Karin!"


"Iyaa?" sahut Karin dari dalam.


"Buka pintunya aku mau masuk!"


"Sebentar" kakinya mulai melangkah perlahan menuju pintu.


Sebelum membukakan pintu, dia mengintip menjulurkan sedikit kepalanya keluar "Mau apa?" Karin menyipitkan matanya menyelidik.


Tanpa menjawab pertanyaan Karin, Liam mendorong pintunya hingga reflek Karin mundur kebelakang. "Lama sekali" kesalnya mendengus.


"Karena kau tidak mau, aku pergi dengan yang lain saja" Liam melangkah masuk menuju closet room meninggalkan Karin yang terdiam di posisinya.


"Siapa?" tanyanya segera mengikuti langkah Liam. "tiga curut kesayanganmu itu!" sambung Karin hingga tanpa sadar kepalanya menabrak punggung Liam saat pria itu tiba-tiba berhenti.


Liam berbalik ke arah sumber suara mendapati Karin sedang mengusap dahinya akibat terbentur tubuhnya. "Kenapa? Kau berubah pikiran?" tanyanya seraya menyandarkan bokongnya pada sisi meja, kedua tangannya ia lipat ke dada satu kaki ia tekuk dengan ujung jari jempol sebagai tumpuan.


"Biasanya Jayden akan menyewa beberapa wanita penghibur untuk menemani, kau yakin akan baik-baik saja? Tidak cemburu?!" Liam tersenyum miring.


"Gak cemburu tuh, pergi saja sana!" sahut Karin mendengus segera kembali ke sofa yang tadi dia duduki.


Liam hanya menatap punggung Karin yang perlahan menghilang dari balik dinding.


Selang beberapa menit, aroma kuat parfum Liam menyeruak menusuk hidung Karin yang reflek mendelik tajam saat pria itu keluar sambil memasang jam tangannya.


Karin bicara sendiri "kamu tidak lihat Karin, kamu tidak lihat dan tidak peduli" kepalanya menggeleng pelan menguatkan dirinya sendiri untuk tidak melirik Liam.


Pria itu terlihat mengenakan kemeja hitam dengan satu kancing yang dibiarkan terbuka, tangannya mengenakan jam tangan mewah dari Audimers Piguet dan beberapa aksesoris cincin di jari jempol dan telunjuknya, terkecuali cincin pernikahan yang masih melekat di jari manisnya.



Namun tak berselang lama Liam kembali dengan buket bunga di tangannya, "Untukmu"ucapnya gamblang, cepat meletakkan bunga itu di atas meja membuat Karin melongo tak habis pikir.


"Untukku?" Karin menunjuk dirinya sendiri dengan wajah penuh pertanyaan. Ada apa dengan Liam? Kenapa tiba-tiba memberinya sebuket bunga mawar putih? Terlebih ini jelas terlihat di tujukan oleh lelaki terhadap kekasihnya.



Liam memutar malas bola matanya, "Tidak mau? Yasudah" tangannya segera mengambil buket itu tapi dihentikan oleh Karin, "Tidak baik menjilat ludah sendiri! Ini milikku" ucap Karin menepuk tangan Liam menghentikannya, menahan gejolak dalam hatinya, percayalah wanita itu sedang salah tingkah sekarang terlihat dari pipinya yang perlahan memerah.


Liam tidak menjawab dia berbalik sambil mengulum bibir menahan senyum, sudah berapa lama dia tidak memberikan bunga pada wanita selain Liora, terlebih ini berbeda. Memberi bunga untuk spesies langka seperti Karin membuat jantungnya berdebar kencang.


"Liam!"


Kontan Liam berbalik menatap Karin yang masih menunduk mencium wangi bunga di tangannya.


"Apa?"


"Aku ikut" Tanpa menunggu jawaban Liam, Karin berlari masuk ke closet room.


......................


Karin dengan erat menggenggam lengan Liam saat melewati deretan para penari striptis yang melenggak lenggokkan tubuhnya pada tiang. Jayden menatap Liam dan Karin secara bergantian, pria itu tidak berpikir jika Karin ikut dengan Liam.


Jayden menaikkan sekilas kedua alisnya saat menatap Liam dari ujung kaki sampai ujung rambut sambil tersenyum aneh, tak heran jika para pengunjung wanita tak mengalihkan pandangan mereka sama sekali saat sahabatnya itu melintas.


"Kau ikut Karin?!" tanyanya basa-basi.


"Tidak!" ketus Karin yang entah sejak kapan suasana hatinya berubah, "menurutmu saja aku ikut atau tidak?"


"Owh, Santai ... " Jayden mengangkat sekali lagi alis kirinya seolah bertanya pada Liam.


Namun pria itu hanya mengangkat bahunya, kemudian beralih menatap lengan karin yang masih tertaut dengannya. "Yasudah kita masuk saja" ucap Jayden seraya menyalakan rokoknya.


Dari dalam terdengar suara ribut-ribut dari adu mulut Zea dan Juan sementara Adam hanya bisa memasang muka malasnya sambil menutup telinga.


"Kalian belum juga berbaikan?" tanya Liam berhasil menengahi debat keduanya.


"Bagaimana aku bisa damai, dia tidur dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku!" balas Zea sambil mendesah kesal.


"Sayang, sudah aku bilang itu diluar keinginanku. Tanya saja padanya, seharusnya wanita itu tidur dengannya" jelas Juan yang masih setia menggenggam kedua tangan Zea. Yang dimaksud Juan itu Liam.


"Kenapa aku? Kau yang menarik Peach" sanggah Liam.


"Tu Kan, kamu bohong lagi!" kesal Zea yang segera menarik tangannya dari Juan. Ah, Sial. Jika bukan karena Ibu nya Juan tidak mau menjalin hubungan sejauh ini dengan Zea, wanita yang dua tahun lebih tua darinya itu.


"Sudahlah Zea, buat saja perjanjian jika Juan melakukannya lagi dia harus menyerahkan setengah saham J.IT padamu"


"Kau Gila!" sarkas Juan yang langsung mendelik tajam pada Jayden kala pria itu sedang asik menghisap tembakaunya.


"Ide bagus" sahut Zea menarik seringainya kemudian beralih menatap Juan. "Sebentar lagi kita akan menikah, aku akan menambahkan klausul itu di perjanjian pra nikah."


Juan mendengus kesal "Dasar Bantet!" Tapi Jayden malah menampakkan ekspresi tidak pedulinya.


"Kalian bisa berhenti tidak, kupingku rasanya ingin pecah" sela Adam.


"Ah iya, dia siapa?" Zea mempertanyakan kehadiran Karin tanpa menghiraukan kekesalan Adam.


"Karin" Tanpa di kenalkan Liam, wanita itu sudah lebih dulu mengulurkan tangannya pada Zea. "Zea" balasnya menjabat tangan Karin.


"Kau Jaksa yang membongkar kasus pencucian dana terbesar itu, kan?" Karin memastikan, dia tak menyangka akan bertemu dengan Zea di tempat ini.


Zea melirik Liam, "My wife" balasnya tanpa suara membuat wanita itu mengangguk pelan. "Benar, aku yang membongkar kasusnya"


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...