Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - MORNING TALK


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"Liam !" panggil Karin baru saja.


Kedua maniknya membola karna baru saja menelisik ruangan yang minim dan sangat bersih tersebut, nyaman, dan penuh dengan alat-alat olahraga yang tentunya sangat mahal. "sarapan untuk mu." sambung nya masih tertegun melihat ada ruangan seperti itu di ruang kerja Liam. Mungkin saat Liam membeli unit ini dia meminta rancangannya sendiri untuk direalisasikan di apartemennya.


Liam tidak terpikir untuk membeli rumah ataupun mansion, menurutnya itu terlalu besar untuk ukurannya yang hanya tinggal sendirian sebelum Karin hadir.


Dengan satu tangan yang memegangi handuk kecil lalu di lilitkan pada leher, Liam berjalan mendekati Karin. Wajah nya penuh keringat dan baju nya terlihat lepek, tetapi itu tidak menutupi aura nya pagi ini untuk sekedar memanjakan kedua manik Karin.


"Terima Kasih. Tumben?" jawab nya sambil mencium pipi kanan Karin lalu mengambil satu gelas yang berisi susu coklat yang berada diatas nampan.


"Ya!!," protes Karin karena pipinya basah akibat keringat Liam tadi. "Aku hanya kasian melihatmu kemarin malam sudah seperti gembel jalanan yang hidup sebatang kara, membuatku iba " pedas, kadar bicara Karin tidak bisa di kurangi atau di tambah memang seperti itu dirinya.


"Kalimatmu itu!" sahut Liam yang tanpa aba-aba kembali mendaratkan satu ciuman di pipi kanan Karin, membuat wanita itu melotot.


"Kenapa! tidak boleh?" ucap Liam sambil melap dahi nya menggunakan handuk kecil yang dililitkan pada leher tadi.


"Keringatmu itu akkhhh-," kesal Karin sambil menaruh nampan yang masih dipegang nya dengan kasar keatas meja didekat mereka berdiri. Sangat kesal hingga Karin berniat ingin meremas wajah polos yang berdiri dihadapan nya, Karin perlahan mengangkat paha dan lututnya bersamaan bersiap menendang Liam. "Eoh! Turunkan kakimu Karin" perintahnya yang sadar Karin mengambil ancang-ancang. Membuat Karin mengurungkan niatnya.


"Jorok sekali isshhhh-" sambung Karin sambil melap pipi nya menggunakan telapak tangan.


Liam mengulas senyum bahagia melihat wajah istrinya yang mulai tampak kesal. "Jorok apanya?" Goda Liam. Entah kenapa pikiran ingin mengusili Karin bertamu diwaktu yang tepat. Secepat kilat Liam menutupi wajah Karin menggunakan handuk kecil yang basah karna keringat tersebut, membuat Karin berteriak karna terkejut dan risih bersamaan.


"Nikmatilah sayang..."


"Sialan! Yak!" gusar Karin menyingkirkan handuk kecil yang menutupi wajahnya. Karin masih menahan amarah nya. Pria ini memang memancing amarahnya pagi-pagi buta. "Aku sudah mandi, jangan membuat ku mandi dua kali pagi ini."


"Bukan ide buruk jika yang kedua kali nya dilakukan bersama." sudah bukan hal baru tentang Liam yang selalu saja menggoda Karin hingga membuat wanita itu naik pitam. Jika sebelumnya Liam pernah mematikan lampu kamar mandi hingga membuat Karin hampir menangis karena takut gelap maka hal yang baru saja dia ucapkan bukanlah hal sulit.


Liam memang usil orang nya. Menyebalkan, tapi anehnya Karin masih bertahan sampai detik ini.


Liam kemudian mendekat dan lebih dekat membuat kaki Karin terpaksa berjalan mundur hingga tubuh Karin tersandar pada jendela kaca yang berada dibelakang nya. "Selama ini kita kan belum-" Liam menjeda kalimatnya dan beralih menatap kedua manik Karin yang tengah membulat sempurna, dua jari panjang nya sibuk memainkan helaian rambut Karin, memutar-mutar nya lalu menyelipkan ke belakang telinga.


Oh tuhan- Karin tidak tahan melihat Liam seperti ini, ada apa dengan nya, seingat Karin bahkan tadi malam meski pria ini sekarat karna alkohol dia masih waras. Bahkan tidak berbuat macam-macam. Apa efek dari alkohol itu bekerja setelah korban dalam keadaan normal?


"Belum apa?" jawab nya ketus.


"Belum-" Liam mendekatkan wajah nya ke telinga Karin. "Apa kau benar-benar tidak tahu maksudku?" tanpa izin, kemudian Liam mengecup leher Karin yang membuat nya tersentak bak di sengat listrik.


Sedangkan pelaku hanya tersenyum licik dan menatap Karin penuh tuntutan. Entahlah, ada apa dengan Liam pagi ini. Apakah tidurnya kurang banyak atau perlu tambahan waktu agar perangai nya kembali normal. Karena tidak bisa membedakan antara saking gemas dan kesal maka satu cubitan tepat di perut nya cukup untuk membalas perbuatan yang dilakukan nya pada Karin.


"Kau belum mandi, mandi sana. Cepat!"


"Akhh-" pekik Liam kesakitan, lalu Karin menutup mulut Liam menggunakan tangan nya. Karin terkekeh puas, lucu bukan main melihat Liam terkejut dan berteriak seperti anak kecil. "Diam bodoh, aku bahkan tidak memeperkosamu." Karin menurunkan tangan nya dari mulut Liam.


"Tapi ini sakit-" Liam mencubit pipi kanan Karin, menarik nya seperti gumpalan permen busa. Agak nya mereka saling membalas. Sedangkan satu tangan nya masih memegangi perut karna denyut bekas cubitan Karin yang masih bisa dirasakan nya memanas.


"Akhhh- Kau keterlaluan mencubit nya, sakiittt." kali ini malah Karin yang merengek sambil memegangi pipi nya memanas bekas cubitannya. Liam tidak main-main dengan pembalasan nya.Tapi satu hal yang Liam sadari, Karin ternyata benar-benar punya sisi manja sama seperti yang pernah di ucapkan Nyonya Evelyn.


Merasa bersalah karna membuat Karin kesakitan, Liam menariknya kedalam pelukannya. Mengusap surai panjang nan lembut tersebut, harum khas Karin pun bertebaran. Liam sangat menyukai aroma Violet yang selalu bisa memanjakan penciuman nya. Aroma yang tidak begitu tajam layaknya citrus namun juga begitu soft yang mencerminkan wanita yang feminim tapi memiliki karakter yang kuat. Tak khayal membuat Liam mengecup surai tersebut beberapa kali, entahlah mungkin akhir-akhir ini kebiasaan Liam yang semula hanya mencirikan seorang lelaki yang hobi bermain game, telah berubah menjadi seorang suami yang candu akan istrinya.


"Sekarang lepaskan aku, badan mu bau." Karin tidak tahan dengan keringat yang menempel pada badan nya.


Liam menggelengkan kepalanya, tidak mau mengakhiri pelukan yang telah diberikan nya secara gratis tersebut. "Ini hukuman karna kau


berani menyebutku gembel."


"Tapi-" Karin terjegad karna Liam mengeratkan kukungannya, mau tak mau Karin pun tidak memiliki pilihan lain selain membalas pelukan Liam sebelum pria itu melakukan hal diluar perkiraannya. Kedua tangan nya dengan ragu-ragu meniti punggung gagah tersebut sebelum melilitnya lagi. Di balik tubuh gagah tersebut Liam tersenyum sumringah atas kemenangan nya telah menaklukkan Karin kesekian kalinya. Karin bukan tidak mau ataupun jijik, hanya saja ia telah membersihkan diri pagi sekali. Tidak lucu jika aroma tubuh nya menyatu dengan bau masam dari badan Liam sehabis olahraga.


"Sekarang sudah! Kau membuatku mandi dua kali, kau puas sekarang" ucap Karin berusaha melepaskan pelukan Liam dan membuatnya mundur sehingga ia bisa pergi dari tempat itu.


"Aku ikut, ayo!" Sahut Liam dengan mata yang berbinar membuat Karin dengan cepat menyela, "Tidak ada! Aku mandi sendiri, jangan berpikir dan berniat macam-macam." Karin lantas melenggang pergi meninggalkan Liam yang terdiam sambil menarik senyumnya secara perlahan. Oh tidak, Karin semakin memenuhi pikirannya akhir-akhir ini.


"Karin!" panggilnya berlari kecil menyusul istrinya yang sudah pergi lima belas detik yang lalu.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...