Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - NOT FIRST ANYMORE


Karin melepas dress nya dan menggantinya dengan kemeja putih yang ada di dalam lemari.


Ia perlahan menyisir rambutnya yang terasa kusut lalu mengikatnya agar lebih leluasa bergerak.


Pintu kamar nampak terbuka memperlihatkan sesosok pria yang ia lihat melalui pantulan cermin.


Liam tanpa bicara langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap.


"Berapa lama kita disini?" tanya Karin.


"3 hari. Kenapa?" sahut Liam memposisikan dirinya miring ke kiri untuk memperhatikan Karin.


"Hanya bertanya" sahut Karin memutar kursinya dan kini mereka saling berhadapan. Tapi Liam yang saat itu hanya rebahan dengan kepala yang ia tumpukan pada tangan kirinya, menatap Karin dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kau dapat kemeja dari mana?" reflek Karin menunjuk ke arah lemari yang ada di belakangnya.


"Aku tidur dimana?" tanyanya bingung karena tidak ada space lagi di sana terlebih cuma ada sofa single. Liam menepuk tempat kosong di sebelahnya, "memangnya kau mau tidur di mana lagi? hanya ini kamar yang bisa kau pakai"


"Satu kamar denganmu?" Liam mengangguk.


"Tidak dulu, terimakasih." Sahut Karin memutar malas bola matanya. "Kau yakin?" Liam menaikkan satu alisnya sebentar, "Lantainya dingin loh?! Kau yakin masih tidak mau tidur di sini?" ujarnya tersenyum aneh.


Karin berdiri, ia terlihat tampak ragu dan berjalan menuju pintu tapi Liam sudah lebih dulu menarik tangannya hingga jatuh dalam pangkuannya. Entah sejak kapan pria itu mengubah posisinya menjadi duduk.


Matanya menatap Karin intens, "Kau mau kemana?" Liam mengangkat tangan kanannya dan menyelipkan sehelai rambut Karin ke telinga. Wanita itu sempat tertegun dan bergegas bangun tapi Liam mengunci pergerakannya.


"Ka-Kau mau apa?" Seorang Karin akhirnya bisa gugup juga, ekor matanya melirik Liam . "Bukankah ini malam pertama pernikahan kita?" jawabnya menagih sesuatu dari Karin sambil tersenyum miring.


Karin menggigit bibirnya dan susah payah menelan salivanya, "Bu-Bukankah kita sudah melakukannya"


Liam tergelak, meletakkan tangannya ke belakang untuk bertumpu. Sementara Karin ikut tertawa bodoh dan segera berdiri, ia dengan cepat pergi keluar kamar untuk menyelamatkan diri.


Pria itu masih tersenyum, dia lupa sudah pernah melakukannya dan jawaban Karin benar. Tapi Liam baru menyadari sesuatu dan segera berlari keluar sebelum Karin menjauh.


"Yak!" Langkah Karin tentunya terhenti, ia baru saja menuruni setengah anak tangga, tapi Liam malah menariknya kembali ke kamar.


"Apa lagi?" tanya Karin yang mulai kesal.


"Kau mau keluar seperti ini?" tanyanya.


"Memangnya apa yang salah?"


Liam menghembuskan napas panjang, lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari. "Pakai ini" ujarnya memberikan sebuah rok selutut yang menurutnya jauh lebih pantas daripada hanya celana pendek yang tadi Karin pakai.


Mata Karin membesar, "Bagaimana?" ia menutup mulutnya tak menyangka. "Buang jauh-jauh pikiranmu itu, ini milik ibuku" Liam mengibas angin di atas kepala Karin. Mungkin maksudnya menghilangkan pikiran kotor Karin.


Karin mengangguk pelan sambil tersenyum, ia sudah terlanjur berpikir jauh, Lalu dengan cepat ia memakai rok yang tadi di berikan Liam padanya. Bersamaan dengan itu, Liam dengan santai melepas kancing kemejanya di hadapan Karin.


"Ya!" Tegur Karin kaget.


"Kenapa?"


"Jangan lepas disini"


"Memangnya kenapa? Ini kamarku, lagi pula kau istriku jadi tidak ada yang perlu ditutupi kan?" Jawab Liam melepas kemejanya tepat di hadapan Karin.


Liam menumpukan kedua tangannya di masing-masing sisi sofa, lalu kakinya menghimpit kaki Karin mengunci pergerakannya. "Sialan, kenapa aku harus terjebak dengan pria gila ini? Mungkin lebih baik jika aku menikahi Regard" gumamnya dalam hati. Karin tidak sanggup jika harus gugup seperti ini terus-menerus.


Kepala Liam miring ke kanan dan semakin mendekatkan wajahnya pada Karin. Jantungnya sudah berdetak sangat cepat dari tadi, bahkan napasnya menjadi tidak teratur, ia sesekali menelan salivanya dan tiba-tiba teringat kegilaannya dengan Liam malam itu. Di Sky Hotel.


"Cukup Liam" tahan Karin dengan tangannya yang menyentuh dada Liam, ia berdeham. Liam hanya menarik tipis senyumnya lalu kembali ke posisi berdiri. "Pergilah ke dapur, ini sudah jam makan malam" ucap Liam dengan nada berat. Lalu ia melepas celananya sebelum masuk ke kamar mandi.


Karin memalingkan wajahnya dan otomatis berdiri, keluar dari kamar.


................


Karin sudah lebih dulu duduk di kursi meja makan, semetara pelayan menyiapkan makanan. Karin mencoba menghubungi Ayahnya tapi tidak di jawab.


Alasan Tuan Morgan menikahkan anaknya seperti itu, karena takut hal yang tidak-tidak menimpa Karin dan media mengetahui itu. Dia tidak ingin citra perusahaan hancur dan anaknya di pandang sebelah mata karena tidak di didik dengan benar. Jika pria yang tidur bersama Karin malam itu menikahinya, setidaknya orang lain tidak akan mampu mencari celah kesalahan Karin.


"Apa Ayah masih marah padaku?" ucap Karin pelan sambil memijat pelipisnya.


"Kamu baik-baik saja nak?" tanya Ibu Liam yang baru saja datang bersama yang lain kecuali Liam.


"Tidak tante, Karin baik-baik saja" jawabnya sopan, sejenis formalitas. "Panggil saja Ibu, kamu istri Liam" Karin jadi sedikit bersyukur dia tidak di tolak di keluarga Liam, setidaknya dia hanya perlu mengatasi pria gila itu.


"Dimana Adam?" tanyanya pada Kelvin yang duduk di sebelah kirinya. "Adam sudah pergi dari tadi, dia sekalian ikut karena ada pertemuan dengan rekannya disini" Jawab Kelvin, sementara Karin hanya mengangguk.


................


Paginya, Karin terbangun dengan perasaan terguncang, Liam yang masih terlelap ada di sebelahnya. Merujuk pada pakaian Liam yang berganti sejak tadi malam, bisa dipastikan mereka tidur di ranjang yang sama semalaman.


Tidak ada adegan saling pandang atau Karin diam-diam menyentuh wajah Liam, melainkan dia turun dari ranjang sepelan mungkin dan bergegas ke kamar mandi.


Karin bersyukur, karena setelah selesai mandi Liam sudah tidak ada di tempat tidur. Dia bergegas memakai pakaian, memeriksa kesekeliling kamar sekali lagi untuk memastikan pria itu benar-benar tidak ada di kamar, mengintip ke balkon dan benar-benar tidak ada.


Lagi-lagi Karin hanya bisa mengenakan pakaian yang ada di dalam lemari Liam, waktu itu mereka pergi dengan terburu-buru tanpa Karin sempat mengemas pakaiannya. Sekalipun dia berniat membeli, pria itu menghentikannya.


Kenop pintu ditarik kebawah dari luar, menandakan ada yang datang hingga membuat Karin dengan cepat mengancing kemejanya.


"Ada apa?" sontak Karin berbalik dengan tangan yang menyilang kebelakang.


"Ini" ujarnya meletakkan paper bag hitam di atas ranjang. Tentunya Karin langsung bergeser dan mengintip kedalam. Sebuah pakaian wanita sepertinya?


"Pakaialah, aku yang minta Adam membelikannya untukmu" Lalu pria itu berlalu begitu saja meninggalkan Karin.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...