Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - THE MOST CONTRIBUTING


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Karin mengangguk setuju. Tangannya bergerak mengusap rambut Liam, membelai surai pria itu ketika sedari tadi pria itu tak henti-hentinya menciumi perutnya.


Sebenarnya itu membuat Karin merasa sedikit geli, namun anehnya ia masih menyukainya.


"Apakah dia bisa merasakannya?" tanyanya penasaran.


"Tentu saja. Lagipula aku adalah ayahnya"


Jawaban Liam terdengar seolah-olah seperti hanya dirinya saja yang menjadi orang tua. "Aku juga ibunya, dia pasti lebih bisa merasakanku." ucap Karin tidak mau kalah dengan Liam. "Dan dia kemana-mana juga denganku, mandi pun dia masih bersamaku."


"Ya.. itu memang benar. Tapi aku adalah ayahnya, aku yang telah membuatnya." Liam berujar dengan sangat percaya diri. Selama ini ia telah bekerja keras untuk membuat benih itu tumbuh di dalam rahim Karin.


"Aku ibunya, aku yang mengandungnya." Karin masih tidak mau kalah dengan Liam.


"Tetap saja jika aku tidak membuatnya, mana bisa kau mengandungnya. Semua ini adalah buah hasil dari kerja kerasku, Karin. Kau tidak tahu betapa susahnya aku dulu. Astaga, tolong jangan lupakan momen itu, Sayang."


Karin berdecih ketika mendengar Liam yang barusan saja merasa dirinya yang paling berkontribusi. Apa-apaan pria itu, hah?!


"Susah tapi nikmat, 'kan?!"


"Hey! Kau belajar kata itu dari mana?!" Liam kali ini dibuat terkejut, sangat terkejut sekali karena ucapan wanita itu yang terdengar sangat vulgar. Ia bahkan sampai mengubah posisi wajahnya jadi menghadap penuh ke arah wanita itu, menatapnya dengan pandangan yang sedang menunggu jawaban dengan tidak sabaran.


"Tentu saja dari kau sendiri!"


"Kapan?! Kapan aku mengajarimu kata seperti itu, hah?!" nada suara Liam sekarang terdengar seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya sendiri.


Karin menghela napas, kemudian ia terbangun dari posisinya. “Kau nikmat sekali Sayang, sungguh. Aku benar-benar merasa-aghh- sepertinya aku akan segera-" ia menirukan bagaimana nada suara Liam hingga pria itu langsung membungkam mulut istrinya itu dengan tangannya.


"Kau selalu mengatakan seperti itu saat melakukannya dengan diriku, Liam. Astaga, tolong jangan lupakan fakta itu, Sayang." Karin membalikkan keadaan.


Liam mengerjap tidak percaya. Semua kalimat yang keluar dari mulut Karin benar-benar membuatnya mendadak melongo seperti orang yang barusan saja kehilangan akal sehatnya. Liam mendadak tolol dan itu semua karena ucapan-ucapan Karin yang terdengar sangat nakal. Ya Tuhan, Karin benar-benar sudah kehilangan kepolosannya dan itu semua adalah ulah dari dirinya sendiri.


"Semoga anakku nanti tidak akan nakal seperti ibunya."


Liam tiba-tiba berujar seperti itu, membuat kedua mata Karin membola saat itu juga setelah mendengar ucapan dari pria itu. Nakal? Hei! Apa maksudnya?


"Semoga anakku nanti tidak akan brengsek seperti ayahnya." balas Karin yang secara tidak langsung mengatai pria itu.


"Brengsek? Apa katamu? Aku brengsek?" Liam kali ini menunjuk dirinya sendiri.


Karin segera mengangguk. "Ya, Liam Oliver Ramirez benar-benar sangat brengsek!"


Dan pada akhirnya, mereka berdua tidak bisa berhenti dan terus saling mengatai.


......................


Sesuai dengan tawaran Karin waktu itu Riana kini berjalan menuju kearah mejanya.


"Dia datang rupanya" Karin hanya tersenyum tipis sembari melipat kedua tangannya sementara Jason duduk di meja lain.


Satu hal yang membuat Karin heran saat ini, wanita itu tak datang sendiri melainkan dengan mantan kekasih suaminya.


Karin berusaha tenang, kalian mungkin tahu seberapa muak Karin jika harus berhadapan bahkan bertatap muka langsung dengan Liora.


Ia perlahan menyeruput teh miliknya yang telah disuguhkan sebelumnya oleh pelayan, hari ini pengunjung ditempat itu terlihat tak sebanyak biasanya "Kita langsung saja. Tapi-" Karin menjeda kalimatnya hanya untuk melirik tajam wanita yang duduk di sebelah Riana kemudian ia melanjutkan "Kenapa kau membawanya? Bukankah ini kesepakatan kita berdua?" kali ini Karin masih tenang, ia tahu kartu As ada di datangannya.


Tentunya Riana langsung menoleh sekilas pada Liora "Tidak masalah bukan. Dia hanya ikut menemaniku" jawabnya yang terdengar sebagai alasan. Karin paham betul Riana tidak akan semudah itu mengalah terutama masalah uang.


Tangan Karin reflek meraih amplop tersebut akan tetapi langsung ditahan oleh Riana "Katakan dimana uangku?"


"Aku perlu memeriksanya sebelum memberitahu" ia tarik kuat amplop itu hingga terlepas dari tangan Riana.


Karin angkat tangannya sebagai sebuah tanda pada Jason jika pria itu harus datang padanya, setelah pria itu datang Karin serahkan amplop tersebut untuk di periksa kembali keasliannya.


"Sebelum dokumen itu selesai di cek, biar kutanya satu hal-" tatapannya jelas menatap Liora namun pertanyaan itu ia ajukan pada ibu tirinya "Bagaimana rasanya kembali bersama?"


"Mm-maksudmu?" perjelas Riana yang tiba-tiba saja bersikap aneh, oke. Saat ini ia berhasil mengkonfirmasi suatu hal.


Karin terkekeh pelan ditengah suasana yang jelas sekali tidak ada candaan. "Kau pikir aku tidak tahu? Bahwa Liora itu putri kandungmu?"


Riana dan Liora terdiam kemudian saling menatap sejenak.


Karin lagi-lagi masih terkekeh- hal yang ia dengar dari Juan dan Zea itu sebenarnya benar-benar lucu bagi Karin sampai Jason datang dan menginformasikan jika berkas tersebut sah dan asli.


Baru saja ia akan meraihnya Riana sudah lebih dulu merebutnya dari tangan Karin "Katakan dimana uangku atau-" lagi dan lagi kalimatnya dijeda memberi Liora perintah untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya "Kau ingin melihat nama baik suamimu tercoreng?"


"Kau mengancamku sekarang?" Karin bertanya dengan tenang tapi Riana hanya tersenyum.


Karin mengangguk pelan, ia berusaha untuk tidak terpancing "Menurutmu jika rumor ini menyebar mana yang paling terkena dampaknya?" tanya Liora sementara Karin ia langsung bisa mendapatkan jawabannya, ia lantas tersenyum aneh "Jadi, apa maumu?"


Karin tidak mungkin membiarkan rumor. Tidak- sebenarnya itu bukanlah rumor melainkan fakta, kedudukan Liam akan di pertanyakan jika hal ini menyebar.


"Apa ini? mereka mengancamku dengan membawa-bawa Liam?" gumamnya.


"Katakan dimana uangku- dan kau bisa melenyapkan semua bukti ini" foto Liam dengan masalalunya, jujur Karin tak sanggup melihat hal itu tapi ia tak punya pilihan lain. "Oke- tapi apa jaminan jika hanya ini satu-satunya bukti?" Niat awalnya untuk memeras Riana kini tak sejalan dengan perkiraannya.


"Bagaimana jika kalian sedang menipuku sekarang?" sambungnya menatap Riana dan Liora secara bergantian.


"Kali ini aku tidak berbohong" jawab Riana yakin.


"kau mau aku percaya itu?"


"Itu artinya kesepakatan kita batal" Riana bangkit dari duduknya namun segera Karin cegat "Baiklah- Jika kalian menipuku lagi kali ini, aku tidak akan tinggal diam." Riana mengangguk ia melirik Liora kemudian menarik sedikit ujung bibirnya, wanita itu sedang tersenyum sekarang. Tapi Karin tak sebodoh itu sampai tak menyadari hal tersebut.


Ia kemudian meraih seluruh foto yang ada di atas meja beserta USB yang Liora berikan sebelumnya, lalu ia raih tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


Sebuah kunci yang di bungkus kedalam zip plastik itu ia lemparkan ke atas meja "Sekarang kita impas" ucap Karin kemudian ia bersiap pergi.


"Tunggu Karin" Liora menyusulnya dan membisikkan sesuatu ketelinga wanita itu.


Sampai kapan Karin harus memaklumi sifat Liam? Karin kemudian memposisikan dirinya untuk saling berhadapan dengan Liora, ia hela napasnya sebelum kembali bicara "Kau pikir aku akan percaya omong kosongmu?"


Liora tersenyum lalu melipat kedua tangannya dengan sombong "Menurutmu aku sedang berbohong?" wanita itu kemudian memperlihatkan sesuatu dari dalam ponselnya hingga memperlihatkan sesuatu yang seharusnya tidak Karin lihat.


Disini Karin benar-benar terdiam, apa janji yang selama ini Liam buat itu semua adalah omong kosong yang selalu ia lontarkan untuk menipu mangsanya?


"Kita pergi sekarang" ucap Jason menarik tangan Karin sementara Liora tersenyum penuh kemenangan. "Jika aku tidak bisa kembali pada Liam, maka tidak akan ada juga wanita yang bisa bersamanya."


Wanita itu kemudian teralihkan saat Riana memanggilnya "Liora- Ayo"


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...