
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Karin usap dahinya sambil mendengus "Ini sakit Liam" ucapnya tak terima.
"Iya deh maaf" sahutnya mengusap lembut dahi Karin.
Drrttt...
Liam segera merogoh ponsel yang berada disaku celananya dan menjawab telpon.
"Ada apa Vin?"
"........................."
"Baiklah, tunggu sebentar akan segera ku-cek" Pria itu perlahan melangkah pergi meninggalkan Karin yang masih diposisinya membuat wanita itu secara reflek menoleh kebelakang dimana Liam terlihat sedang membuka pintu ruangannya.
"Kenapa aku merasa pria itu sedang mengabaikanku" bibir yang tadinya masih terangkat senyum kini telah berubah datar.
Karin pergi ke kamarnya sementara Liam langsung pergi tanpa memberitahu Karin, ia terlihat sedang buru-buru padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.13 malam.
-
-
Kelvin sudah menunggu didepan loby gedung sementara Liam baru saja turun dari mobil "Dimana dia?"
Tanpa menjawab Kelvin langsung mengarahkan Liam menuju lift basement.
"Bagaimana kondisinya"
"Kurasa kau harus melihatnya sendiri"
......................
Kepulangan Liam disambut dengan beberapa barang belanjaan yang berserakan di atas meja kamar, membuatnya bertanya-tanya siapa yang melakukan hal ini, sebab ia pikir tidak mungkin Karin yang melakukannya di pagi-pagi buta seperti ini.
"Sayang, kau tadi pergi berbelanja?" dia bertanya saat tidak sengaja melihat Karin yang saat ini baru saja selesai dari kamar mandi.
Wanita itu menoleh ke arah sumber suara. “Kau sudah pulang? Aku pikir kau tidak akan pulang."
"Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku tadi malam" Liam mengambil duduk tepat di samping Karin, jaraknya sangat dekat, bisa dibilang itu adalah posisi intim sebab pria itu yang tiba-tiba saja mencuri kecupan di pipi kiri wanita itu.
Karin segera menghindar meskipun Liam benar-benar sudah melakukannya.
"Hey, ada apa Sayang?" dan tentu saja Liam langsung bertanya ketika wanita itu dengan terang-terangan menunjukkan penolakan untuk dirinya.
"Aku hanya sedang tidak ingin dicium."
Liam mengernyit bingung. Ini tidak seperti Karin. Selama ini wanita itu selalu menempel ke arah dirinya, dan dia akan sangat suka jika pipinya sedang dicium. "Kau masih marah padaku karena hal tadi malam?"
Karin tak menggubris, ia pergi ke meja rias untuk memakai berapa produk treatment kecantikan.
Pria itu lantas bangkit, ia memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu ketimbang berdebat dengan Karin di pagi-pagi buta.
......................
Karin mendorong troli belanjaannya, tidak ada yang bisa ia lakukan saat berada di dalam rumah ketika Liam sedang tertidur pulas. Maka dari itu ia memutuskan untuk pergi berbelanja karena ia ingin menghilangkan rasa bosannya.
Memikirkan Liam tidak akan ada habisnya. Apalagi ketika mengingat kembali bagaimana Pria itu pergi tanpa memberitahunya terlebih Liam seolah acuh padanya. Karin merasa bahwa semuanya berjalan dengan sangat hambar, rasanya seperti masakan yang kekurangan bumbu.
Karin merasa bahwa ada yang kurang dari dalam diri Liam. Pria itu bersikap tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang hilang dan Karin pun juga sama. Namun sejauh ini, Karin tidak akan seperti itu jika Liam tidak memulainya. Dari awal, pria itu yang sudah memulai semuanya. Dia tidak menjelaskan kenapa tadi malam dia pergi dan bahkan baru saja pulang.
Padahal selama ini, pria itu yang sudah berjanji untuk bisa sama-sama saling terbuka. Namun sepertinya, Liam benar-benar tidak bisa menepati janji yang sudah ia buat sendiri.
Karin tahu bahwa selama ini dirinya tidak bisa memberikan kepercayaan lebih terhadap pria itu, namun ketika mengingat kembali apa yang sudah pria itu lakukan untuk dirinya, mengingat kembali bagaimana pria itu yang mengajak dirinya untuk memulai semuanya dari awal kembali, itu cukup membuat Karin ingin mengerahkan semua hidupnya untuk Liam. Satu-satunya pria yang mampu dan bisa membuat dirinya memberikan semua kepercayaannya hanya dalam sekali anggukan.
Namun kekonyolan itu sudah tidak berlaku lagi untuk saat ini, sebab Liam yang sudah sepakat untuk membangun keluarga kecil yang bahagia bersama dengan dirinya. Tangan kanan Karin tergerak untuk mengusap perutnya, bayi yang ada di dalam sana masih berusia tiga bulan. Ia sangat tidak sabar menyambut kedatangan bayinya yang akan menyapa dunia meskipun harus menunggu enam bulan lagi untuk keluar.
-
-
"Felix kemarin datang kesini?"
Liam bertanya sambil menatap ke arah Karin yang saat ini sedang duduk di atas ranjang, sambil membaca buku dengan posisi kedua kaki yang ia luruskan dan punggungnya yang ia sandarkan ke arah belakang.
Setelah pulang dari supermarket, Karin merasa dirinya lelah dan memilih untuk istirahat sejenak sebelum melakukan kegiatan lain.
"Karin!"
"Mau apa lagi dia datang?" Liam terus menuntut jawaban dari istrinya itu
"Katanya dia merindukanmu." Karin menjawab tanpa melihat ke arah Liam.
"Hanya itu saja?"
"Kalau aku bilang bahwa dia juga merindukanku, kau marah tidak?"
Liam ternganga dibuatnya setelah mendengar hal itu. “Dia bilang apa? merindukanmu?" ia bertanya dengan ekspresi yang mulai kesal.
Pria itu barusan saja kembali dari dapur dan bahkan ia juga baru saja bangun tidur.
"Eoh."
Liam mendengar bagaimana Karin yang menjawab dengan sangat santai, seolah-olah itu bukanlah sebuah masalah. Tetapi berbeda dengan Liam yang akan menjadikannya sebuah masalah. Bagaimanapun juga, Karin adalah istrinya dan Felix mantan kekasih Karin.
Namun di sini, hal yang lebih mengganggu pikiran Liam adalah, Karin yang sedari tadi hanya berbicara tanpa menatap ataupun melihat ke arah dirinya, dan juga sikap wanita itu yang seolah-olah seperti mengabaikannya.
"Kenapa Felix tiba-tiba datang?"
"Sudah pasti dia berpikir kau tidak ada di rumah."
"Kau akan terus begitu?"
"Terus begitu bagaimana?"
"Kau tidak melihatku saat sedang berbicara."
"Kau tidak lihat aku sedang membaca?"
Baiklah, Liam mengerti. Ia sangat mengerti itu karena ia tidak buta. Namun, bukankah setidaknya Karin harus melihat dirinya sekilas saja saat sedang berbicara? Liam sangat tidak suka dengan sikap Karin yang seperti ini.
"Kau tidak akan membantuku memakaikan dasi?"
"Pakai saja sendiri. Kau punya dua tangan, 'kan?"
Baiklah, itu cukup keterlaluan. Karin tidak biasanya berucap seperti itu, dan bersikap dingin seperti ini. Liam menghela napas cukup sabar, mendekat ke arah wanitanya, kemudian duduk di pinggiran kasur sementara kedua irisnya memperhatikan wajah wanita itu yang masih terus fokus menatap ke arah buku yang sedang dibacanya.
"Karin, kau masih marah padaku?"
Liam bertanya dengan nada suara rendah, sebab ia yakin bahwa ada yang salah dengan diri wanita itu.
Yang ditanya tidak langsung menjawab. Fokusnya teralihkan dan dalam tiga detik kemudian, ia meletakkan bukunya. Kini, kedua matanya bertemu dengan kedua mata milik Liam. Pria itu menatap dirinya seperti sedang menunggu jawaban yang akan ia berikan. Suasana mendadak berubah menjadi hening, hanya terdengar suara deru pendingin ruangan yang saat ini sedang menyala sebab udara di luar sana terasa begitu panas.
"Tadi malam kau kemana?" Karin langsung pada pointnya.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...