Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - FUTURE SIZE


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Perlahan pintu kamar terbuka. Karin muncul dengan pakaian yang cukup membuat semua orang yang berada di ruangan tamu menoleh dan terdiam. Bajunya berwarna hitam crop top dibalut dengan jaket kulit hitam senada, dan celana jeans ketat membentuk kaki jenjangnya. Belum lagi perut rata dan sedikit berotot Karin yang terlihat. Seksi sekali.


Liam berusaha mengalihkan pandangannya. Dia yakin seratus, tidak bahkan seribu persen jika dia terus melihat Karin, dapat dipastikan dia akan langsung menerkam wanita itu sekarang juga.


"Hei. Liam. Kau tidak salah ingin melepaskan wanita seperti ini?Bahkan tidak cemburu juga?"


Liam mengerutkan keningnya mendengar bisikan Jayden tepat pada telinganya.


"Karin tidak memiliki dada Rata. Matamu perlu diperiksa."


Jayden memang rada breng*sek, saat melihat Karin tatapannya hanya tertuju pada tiga titik. Leher, Dada dan Perut.


Dasar Bantet!


"Kalian kenapa?" Karin mengernyitkan dahinya, bingung.


Karin menyadarkan pikiran mereka. Jujur saja mereka pria normal, jika melihat wanita seperti Karin berdiri didepan mereka, siapapun akan terpana melihatnya. Bahkan Juan yang tengah asik bermain game tidak sadar kalah dan membuka matanya selebar mungkin.


Jayden yang penasarannya melebihi Liam langsung bertanya, "Mau kemana Karin?"


"Pergi sebentar"


"Kemana?" kali ini Liam yang bertanya.


"Ke Rumah Felix, kenapa? Kau mau ikut" Karin melirik wajah Liam dari ekor matanya sambil memasang sarung tangan.


"Tidak boleh!"


"Urusannya denganmu?!" jawab Karin terlewat santai, perlu di ingat jika hubungan mereka berdua tidak seperti suami istri pada umumnya.


Jayden dan Juan kembali berbisik, kali ini pilihan Jayden langsung pada Karin dia tidak mau kalah lagi dari Juan.


"Aku ikut" cepat Liam meraih kunci mobil di atas meja yang berada tepat di samping anak tangga.


Karin memutar malas bola matanya, tidak ada persetujuan atau penolakan darinya.


"Karin, boleh ku pinjam hiro mu?" Juan bersuara sebelum Karin pergi.


"Tidak boleh, nanti kau kalah" Jawaban Karin membuat Juan langsung cemberut.


Jayden tergelak sambil menepuk pundak Juan, "Percuma punya perusahaan IT kalau game saja kau masih kalah dari Karin"


"Dengar ya bantet, aku itu bermain jujur kalau aku mau perusahaan game-nya bisa ku beli sekalian" ucap Juan mengangkat dagu sombong.


"Aku ini lebih tua darimu, jangan memanggilku begitu! tinggi kita cuma berbeda 10 senti!" Jayden mendengus kesal.


Mereka masih belum sadar jika Liam dan Karin sudah pergi, pertengkaran anak itik dan kelinci itu masih saja berlanjut.


-


-


-


"Kita naik motor?"


"Tidak suka jangan ikut" jawab Karin memasang helm nya.


Liam memasukkan kunci mobilnya kedalam saku celana "Siapa bilang" ia meraih helm yang ada di depan Karin lalu memasangnya.


"Biar aku yang bonceng" Karin mundur ke jok belakang selagi Liam naik.


"Kau bisa pakai motor,kan?" Karin tiba-tiba ragu. Liam memutar malas bola matanya kemudian melirik Karin dari balik bahu "Aku punya SIM untuk motor" Karin menganggukkan kepala.


Liam hanya mengenakan kemeja putih yang dua kancing atasnya terbuka membuat aura cool nya terpancar saat berhenti di lampu merah.


Saat lampu jalan berubah hijau, Liam kembali memutar gas, sebenarnya dia bingung mau kemana wanita di belakangnya itu.


"Kita mau kemana? Tidak mungkin ke rumah Felix, kan?!" teriak Liam takut Karin tidak mendengar.


"Ikuti saja navigasi di depan" jawab Karin sedikit memajukan tubuhnya ke depan sementara kedua tangannya berpegang di pundak Liam.


Liam baru sadar jika layar kecil di depan yang memuat navigasi sudah di atur oleh Karin.


Tapi tiba-tiba Liam melambatkan laju motornya, kemudian menarik lembut tangan Karin untuk mengalungkan tangan di pinggangnya dari pada berpegangan pada bahunya.


Dibelakang Karin terdiam, sementara kecepatan perlahan mulai naik dan saat Liam semakin memacu kecepatan lebih kencang tangannya reflek mengerat, memeluk pinggang Liam.


-


-


-


Sekarang Karin dan Liam sudah berada di depan unit apartment Lea. Karin mulai menekan bel dan mengetuk pintu. Sebenarnya tujuan Karin bukan ke sini hanya saja sekalian lewat dia memilih mampir dan sedikit khawatir dengan sekretarisnya itu.


Mereka cukup dekat dalam sebulan terakhir, kadang Karin mengajaknya mengobrol untuk menghilangkan penatnya, hingga terkadang Lea bercerita sedikit tentang dirinya.


"Kau yakin ada orang di dalam?" Liam bertanya pasalnya sudah beberapa kali memencet bel tidak ada respon, Lea mungkin benar-benar pulang untuk menemui orang tuanya, Karin berpikir demikian.


Sementara Liam dia memperhatikan unit di sekitarnya yang terlihat banyak yang kosong, sepertinya hanya satu sampai dua unit saja yang berpenghuni.


"Kita pergi saja" kata Karin berbalik menatap Liam. Dia tidak menjawab dan mengangguk saja.


Baru satu langkah, aroma tidak sedap tiba-tiba tercium dari dalam membuat Karin dan Liam saling menatap sebentar lalu beralih pada pintu.


"Apa yang kau lakukan, jangan menyentuh apapun. Nanti kita di tuduh perampok." Liam berkata sembari menepis tangan Karin yang berniat membuka pintu apartment Lea. Tapi Karin penasaran aroma apa yang tadi mereka cium, seperti aroma busuk.


"Aku hanya penasaran. Mungkin saja terjadi sesuatu padanya." Balas Karin tidak mau kalah.


Liam berkacak pinggang, "kenapa rasa penasaranmu itu selalu lebih besar dibanding dengan ukuran otakmu." ia teringat saat Karin sangat penasaran dengan ruang kerjanya.


Disaat seperti ini mereka masih bisa adu mulut.


Liam dalam masalah besar. Dia telah membangkitkan emosi wanita itu yang sudah sejak tadi telah ditahannya. Karin menyibak rambutnya kemudian mendengus kesal melihat Liam yang tersenyum miring meremehkannya.


"Setidaknya otakku lebih besar dibanding dengan ukuran masa depanmu yang selalu kau banggakan. Huh. Bahkan sosis lebih besar darinya."


Strike. Satu sama. Karin berhasil meningkatkan emosi Liam dengan perkataannya. Pria itu mengepalkan tangannya kalau saja Karin bukan istrinya, dapat dipastikan wanita itu sudah hancur ditangannya.


"Setidaknya aku masih bisa membuatmu mendesa*hkan namaku Karin Zylen Morgan. Apa kita perlu melakukannya disini, seberapa kuat kau akan bisa menahannya."


Liam menarik Karin dengan melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu. Untung saja tidak ada orang di lorong itu.


"Lepaskan aku." Karin berusaha melepaskan diri dari pelukan Liam, tapi itu percuma pria itu tidak akan menurutinya.


"Lepas, atau aku akan menendang masa depanmu sekarang juga."


Oke. Kali ini Karin berhasil. Sungguh, Liam sangat takut jika menyangkut tendangan itu. Sumpah demi kelangsungan hidup simpanse di Madagascar itu sangat menyakitkan.


Karin adalah gadis yang keras kepala. Dia tidak akan pernah bisa menahan rasa penasarannya, oleh karenanya, wanita dengan rambut terurai itu mulai membuka pintu yang terkunci dengan memasukkan password yang sebelumnya tidak sengaja dia lihat di meja Lea.


Karin membelalakkan matanya, kakinya bergetar tangannya digunakan untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...