
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Cklek.
Pintu kamar di buka, memperlihatkan Karin yang duduk di lantai bersandarkan ujung ranjang dengan rambut yang berantakan dan air mata yang mengering, membuat hati Liam semakin di tusuk begitu dalam.
Perlahan pria itu membawa Karin dalam pelukannya, dia bahkan tidak tahu apakah istrinya itu sudah makan malam atau belum.
"Maafkan aku Karin" lirihnya pelan, perlahan mengangkat tubuh Karin untuk di baringkan di atas ranjang.
Liam mengacak rambut frustasi, masa dimana seharusnya mereka melewati hal yang membahagiakan malah berbanding terbalik dengan realita kebenaran yang di hadapi Karin.
Pria itu sadar tidak seharusnya ia bersikap seperti itu terhadap Karin, wanita yang sedang mengandung darah dagingnya.
-
-
-
Liam bangun kala cahaya matahari menembus sela-sela tirai, ia tak sadar tertidur setelah kemarin malam merutuki kesalahannya berharap esok hari semuanya akan selesai.
Perlahan Karin bangun setelah merasakan hembusan nafas Liam yang membuatnya segera bangun dan membuka mata lebar-lebar.
Karin reflek mendorong tubuh Liam menjauh sementara ia bergegas bangkit, "Tunggu Karin" tahan Liam namun Karin menepis tangan suaminya hingga terlepas.
"Kau keterlaluan Liam" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Karin sebelum ia meraih ponselnya yang jatuh kelantai.
"Ada apa pak? Tidak biasanya bapak menelpon pagi-pagi sekali" Karin dengan jelas menyuruh Liam diam dengan meletakkan telunjuknya di bibir. "Maaf karena saya menggangu nona, tapi Tuan- "Ada apa? Katakan saja"
"........................"
Brakh!
Ponselnya jatuh tanpa sadar membuat benda tipis itu menghantam lantai dengan keras, pertahanan Karin runtuh tubuhnya merosot jatuh kebawah, terduduk dengan pandangan kosong berusaha mencerna berita yang baru saja dia dengar.
"Karin" Liam dengan cepat turun dan berusaha membangunkannya tapi penolakan Karin begitu jelas dengan tangannya yang lagi-lagi menepis tangan Liam "Jangan menyentuhku!" begitu banyak rasa kecewa dan kebencian yang terbaca dari mata Karin membuat Liam tak bisa berbuat apa-apa, ia tak pernah melihat Karin semarah dan sebenci ini padanya.
Sebelumnya persoalan mereka hampir mirip, hanya saja Liam beruntung bisa menggunakan kalung almarhum ibu Karin, tapi kali ini tidak ada yang bisa dia jadikan bahan kesepakatan.
Karin tidak bicara apapun, ia berusaha bangkit dengan meniti pada sisi nakas perlahan bangun.
Satu hal yang Liam sadari, Karin seperti orang linglung yang tidak tahu arah.
"Karin"
Karin tak menjawab, wanita itu hanya masuk sebentar keruang ganti untuk mengambil tasnya serta kunci mobil.
"Mau kemana?" Liam masih belum menyerah, dia khawatir dan penasaran apa yang sebelumnya Karin dengar dari telpon.
Hingga beberapa saat Liam akhirnya pergi mengikuti Karin yang terlihat hampir jatuh dari tangga beruntung ia bisa berpegang pada sisi pembatas. Jika dilihat lagi, penampilan Karin benar-benar kacau.
Liam tidak tahan lagi, ia segera meraih kunci mobil dari tangan Karin "Biar aku yang menyetir" kali ini Karin tak menjawab, ia sudah tak punya tenaga untuk menjawab ataupun berdebat dengan suaminya.
-
-
-
Dengan langkah tertatih Karin menghampiri banker Ayahnya yang baru saja akan di pindahkan.
"Ayah" lirihnya pelan dengan tangis yang perlahan pecah, namun kali ini suara tangis Karin benar-benar tak terdengar. Terlalu menyakitkan hingga suaranya bahkan tak terdengar.
Liam hanya bisa diam diposisinya rasa bersalahnya terhadap Karin semakin membesar memenuhi dadanya hingga terasa sesak.
Kakinya perlahan melangkah mendekati istrinya, beberapa kali bahkan puluhan kali pukulan yang Liam terima tidak akan dia hiraukan selama dirinya bisa mendekap Karin.
Air matanya terus mengalir sementara tatapannya sudah kosong sebelum akhirnya dia hilang kesadaran, wajahnya memucat pikirannya berkecamuk, dadanya sesak rasa sakit berhasil menghancurkan pertahanan terakhir yang Karin miliki.
......................
Berita tentang kecelakaan Tuan Morgan sudah tersebar dan di beritakan ke seluruh media berita.
Karin mendengus senyum, sebenarnya jujur ia sudah tak mampu melawan siapapun untuk saat ini. "Mengingat bagaimana kau melakukan ini, membuktikan betapa besarnya kasih sayangmu untuk putramu. Moralitas, hati nurani bahkan kesadaran tidak punya tempat di hatimu. Cintamu untuk Ayahku hanya sekedar omong kosong dan dusta yang kau katakan untuk hidup mewah, hanya itu yang kau butuhkan. Kau mengajariku pelajaran yang sangat penting Riana!" nada bicara Karin terdengar tak berdaya namun ada beribu-ribu tekanan yang dia siratkan.
"Kau pikir, kau berhak mengatakan hal itu padaku! Jangan pernah mengambil kesimpulan sebelum kau membawa bukti padaku"
"Orang yang meminta hal itu hanya orang yang bersalah, karena tanpa bukti orang sepertimu pasti akan bebas berkeliaran, bahkan setelah membunuh orang lain sekalipun"
"Jaga bicaramu Karin, anggap saja aku seperti yang kau pikirkan tapi aku tidak serendah itu sampai berpikir untuk menghabisi nyawa Ayahmu"
"Sebanyak apapun sanggahan yang kau lontarkan, aku tidak akan pernah percaya padamu"
"Silahkan Karin, tapi ingat- Segera kemasi seluruh barang-barangmu dari rumah ini, dan serahkan surat pengunduran dirimu selambat-lambatnya besok siang. Kau paham!" Karin melihat jika wanita itu tersenyum hanya saja dia samarkan melalui air mata palsu yang mengalir.
Karin duduk diam di kursi menatap foto mendiang Ayahnya sebelum acara pemakaman dilangsungkan.
Bahkan Liam tak sanggup melihat kondisi Karin yang semakin pucat bahkan matanya masih mengeluarkan air mata dimana matanya masih terlihat sembab.
Belum 24 jam Tuan Morgan di nyatakan meninggal karena kecelakaan yang di alaminya, Pengacara datang menemui Karin untuk memberitahunya jika seluruh aset mendiang bahkan saham milik Tuan Morgan di serahkan kepada Riana, tanpa memberi Karin sepeserpun.
Hal ini yang membuat Karin tidak bisa melepaskan kecurigaannya pada Riana.
"Anda yakin ini wasiat terakhir Tuan Morgan?" tanya Liam penasaran, dia yakin ini bukan surat wasiat yang asli.
"Sebelum kecelakaan Tuan Morgan sendiri yang menelpon saya untuk mengganti isi wasiatnya"
"Sudah pak, saya percaya bapak bisa kembal" sela Karin "Tapi- "Jangan ikut campur!"
"Sekalipun kau mengusirku dari sini, aku tidak akan pergi Karin. Aku tidak peduli mau sebenci apa dirimu padaku, yang jelas aku tidak akan meninggalkanmu" ucap Liam kemudian melangkah pergi untuk menyambut tamu yang berdatangan.
Karin memijat pelipisnya tanpa membiarkan air mata berhenti mengalir dari pelupuk matanya, dia gagal menyelamatkan Ayahnya dari wanita seperti Riana.
"Kamu pasti bisa melewatinya Karin" ucap seseorang seraya menepuk lembut pundak Karin membuat wanita itu reflek mendongak.
"Kak Jackson" lirihnya, pria itu mengangguk pelan. "Kemari-" tangannya perlahan membawa Karin kedalam pelukannya.
Liam yang sedari tadi bisa melihat Karin dari posisinya meremas kuat tisu yang ada di tangannya, marah, rasa tidak terima dan tidak suka berkecamuk sekaligus dalam hati dan pikirannya.
"Berhenti menangis, bayimu juga akan ikut sedih jika kamu terus seperti ini" lanjut Jackson melepas pelukannya beralih mengusap air mata Karin menggunakan ibu jarinya.
Karin hanya mengangguk, sementara air mata yang terus keluar tanpa bisa ia kendalikan.
"Kalau begitu menangislah, keluarkan semuanya" lagi-lagi Jackson memeluk Karin erat membuat Liam semakin menahan emosinya terlebih ia tidak mengenal Jackson.
Pria itu melonggarkan dasinya kemudian melangkah pergi menuju tangga darurat sekedar menenangkan dirinya.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...