Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - PROOF IS NOT BULLSHIT


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"Terimakasih banyak untuk bantuanmu selama ini Jason, maaf karena kau tidak bisa bertahan lama disini" ujar Karin yang tengah membereskan barang-barangnya.


Jason menghela napas, dia benar-benar tak menyangka kepergian Tuan Morgan yang terlalu cepat hingga membuatnya iba sendiri terhadap kondisi Karin yang berubah drastis.


"Hubungi aku jika membutuhkan bantuan"


Karin tersenyum dan tak beberapa lama datang beberapa staf menghampiri mereka "Ibu tenang saja, kami akan selalu mendukung Bu Karin" ujar salah satu pegawai wanita menggenggam erat tangan Karin sebelum wanita itu pamit.


Langkah Karin yang melewati loby gedung berhasil mendapatkan atensi para pegawai yang tak bisa menyampaikan dukungannya terhadap Karin.


Sebelum masuk kedalam mobil, wanita itu menoleh sekilas, "Ini belum akhir Riana, akan ku persilahkan kau menikmati sejenak kemenangan tak seberapa ini" lantas ia masuk kedalam mobil tanpa menyambut uluran tangan Liam yang ingin membantunya masuk kedalam mobil.


-


-


-


Keesokan harinya. Suasana Apartemen benar-benar sunyi, tak ada pembicaraan dari keduanya yang memilih untuk saling bungkam.


"Jangan keluar, tetap dirumah. Aku akan berangkat ke kantor." ucap Liam datar, nada bicaranya jauh lebih dingin dari biasanya namun Karin sama sekali tak menghiraukannya dan memilih untuk menatap diam layar televisi yang menyala.


Di satu sisi Liam ingin marah, namun di sisi lain ia sadar semua masalah dimulai karena dirinya sendiri.


Satu-satunya solusi untuk Liam adalah membiarkan Karin untuk tenang sesaat, terlebih wanita itu baru saja kehilangan orang terkasihnya membuat Karin benar-benar tersisa seorang diri di dunia yang kejam ini.


Sedari tadi ia hanya mengaduk-aduk bubur yang di siapkan Liam tanpa ada rasa ingin menelan walau sedikit saja, Karin tak berselera.


......................


Riana duduk di kursi direktur dengan rasa penuh kemenangan, seminggu semenjak kepergian Tuan Morgan semuanya benar-benar berubah 180 derajat.


"Seharusnya kita menyingkirkan pria tua itu dari awal, dan aku tidak perlu berpura-pura lembut di depan anak nakal itu"


"Dia memang berhasil membuatku malu di depan dewan direksi waktu itu, tapi kali ini tidak akan pernah ku biarkan dia menginjak-nginjak harga diriku lagi!" lanjutnya menatap lurus ke depan sambil menyeringai.


Nichole kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Riana membuat wanita itu perlahan tersenyum "Baguslah, tujuanku untuk memisahkan mereka akan lebih mudah"


"Hubungi Liora untuk segera mengambil kembali tempatnya yang direbut Karin" lanjutnya memberikan perintah pada Nichole yang pastinya mengikuti seluruh perintah Riana.


"Ah, kejaksaan pasti sedang berusaha mengendus dana taktis milikku, segera pindahkan mereka ke bank luar negri" ujarnya lagi sebelum Nichole benar-benar menghilang di balik pintu.


Riana memutar kursi menatap lukisan yang berada di belakangnya kemudian tersenyum setelah mengingat sesuatu.


......................


Entah mengapa, rasanya Karin ingin berteriak, menampar Liora, memaki Joy, menyingkirkan kebiasaan Liam dan memeluknya erat disaat seperti ini. Gadis itu benar-benar membutuhkan seseorang di sisinya saat ini, namun sayang dia tak bisa berdamai dengan ego-nya.


Karin memeluk kakinya, menangis. Buliran air mata itu tak lagi bisa ia bendung saat kenop pintu ditarik ke bawah.


"Kau tahu Liam sebanyak apa prasangkaku saat ini?!" Mendengar itu, Liam yang semula memilih ingin keluar kamar saat tangannya sudah meraih kenop pintu lantas berbalik. Menatap Karin yang sudah tersandar di ujung ranjang sedang meremas surai panjang nya. Gadis itu menangis sambil memukul-mukul dada. Hal itu membuat Liam sontak melangkah cepat dan mengambil tangan Karin lalu ia cengkram.


"Apa aku akan seperti itu juga? katakan! Apa sekarang giliranku untuk menjadi jal*ngmu!"


"Tidak Karin. Apa yang kau katakan? Aku sudah benar-benar berhenti, ku mohon jangan seperti ini." Liam berusaha meraih tubuh Karin mendekat. Namun gadis itu menghindar. tubuhnya tetap mundur tidak menemukan arah. Liam meremas rambutnya kebelakang sedikit kuat. Kepalanya yang tidak pusing ikut sakit memikirkan kondisi Karin.


"Kau memintaku untuk percaya padamu, tapi setiap gerak-gerikmu menjadi tanda tanya untukku. Kau menyembunyikan sesuatu, kau tidak jujur padaku, Liam!"


"Karin cukup!" bentak Liam serius.


Liam akan menggendongnya.


Hendak menolak dengan berontak pun, tapi apa yang Karin pikirkan tidak bisa sejalan dengan apa yang ingin ia lakukan. Alhasil gadis itu hanya diam, dan pasrah saat Liam berhasil menyalipkan tangannya di balik punggung dan membawanya kedalam gendongan. Karin di gendong ala bridal dan di bawa entah kemana. Wajah itu ia pasrahkan ke dada bidang itu sambil memejam lagi, benar-benar lelah akan segala hal.


Tidak ada kalimat yang terucap sejak Liam membawa Karin pergi dari kamar. Suasana hening. Liam mulai menyalakan mesin mobil dan fokus menyetir sementara Karin diam dengan pemikirannya sendiri. Dadanya sesak, kepalanya berserabut. Bawaan nya ingin menangis terus, tapi Karin sudah lelah.


Sampai dimana mobil gagah itu berhenti di tempat yang sangat asing bagi Karin.


Kening Karin terangkat, bingung menatap rumah megah itu.


Sementara Liam keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata atau meminta Karin ikut turun bersamanya, tangan nya terangkat mengeluarkan ponsel dari saku jaket. Menatap angka jam yang menunjukkan hampir pukul 12 malam. Benar, mereka tidak akan kembali ke apartemen. Pasti akan menginap disini.


"Kemarilah" Karin sempat terdiam sebelum kakinya perlahan berjalan menuju Liam.


Liam dengan cepat meraih tangan Karin tanpa izin dari sang empu "Aku ingat jika kau menyukai laut, sekarang duduk dan tenangkan dirimu. Aku sadar kesalahanku fatal Karin, tapi aku serius dengan apa yang telah aku pilih, aku memilihmu karena aku benar-benar menginginkanmu untuk berada di sisiku selamanya" ia perlahan ikut duduk di bangku panjang tepat di sebelah Karin hanya berjarak sepuluh senti. "please, believe and help me change myself"


"Kau tahu trauma terbesarku Liam" ucap Karin tanpa menatap lawan bicaranya. "Perselingkuhan. Ayahku selingkuh, kemudian Felix dan sekarang masa lalumu- semua hal itu membuat hatiku rasanya berhenti bekerja dan lebih mementingkan logika dari pada perasaan" jika dilihat kembali, Karin tengah menggunakan hatinya dengan memberikan bujukan pada Jessy untuk percaya jika ia akan baik-baik saja dengan kembali pada Liam waktu itu.


"Aku janji"


"Yang ku perlukan bukti, bukan sekedar omong kosong janjimu Liam" setelah mengatakan hal itu, Karin lantas bangkit meninggalkan bibir pantai di susul Liam yang segera membawanya menuju mansion pribadi milik keluarganya.


Sepanjang jalan memasuki rumah sampai Karin duduk di sofa, mulut nya masih terkunci rapat tidak mengeluarkan sepatah kata lagi setelah ucapannya di pantai tadi.


Mendadak kepala nya semakin pusing.


Di tatapnya Liam yang kini berjalan mendekati sambil membawa dua gelas jus dingin, lalu ia taruh di atas meja kecil itu sebelum mendaratkan tubuh di samping Karin.


Liam tersenyum. "Sekarang sudah ada maid yang mengurus rumah ini, dan kita bisa berkunjung lagi nanti." beritahu Liam. Padahal Karin tidak bertanya. Dan anehnya, Liam seolah ingin menjelaskan.


Karin hanya mengangguk pelan.


Karin tau situasi saat ini memang membuat sedikit canggung. Tapi Karin tidak sampai menebak kalau Liam se-berusaha ini membuatnya bersuara. Lagi-- ia menggeleng, tanpa bersuara.


Cukup Liam yang mengetahui sefrustasi apa dirinya saat rumah tangganya terancam berakhir akibat ulahnya sendiri.


Di sandarkannya kepala yang sudah berat akan rumitnya kehidupan itu ke punggung sofa. Menghela nafas lagi, Karin beralih menatap langit-langit rumah megah itu dan sesekali menutup matanya sebab lelah.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...