Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - QUESTION


Karin perlahan mengeluarkannya dari paper bag, ia berpikir bagus juga selera pria itu. Dengan cepat Karin menggantinya dan menyusul Liam keluar.


Karin duduk dengan tenang di sebelah Liam, saat semua orang sedang asik menonton Liam vs Kelvin.


"Bagaimana? Pas bukan?" bisiknya di telinga Karin, untuk menjawab Karin hanya mengangguk pelan seraya mengambil kue di atas meja.


"Sudah ku bilang, kan aku tahu ukurannya" Jawab Liam, santai, melirik Karin yang duduk di sebelah.


Uhuk ... uhuk ... Mata Karin membelalak kaget dan reflek memukul lengan Liam tapi tidak terlalu kuat. "Pelan-pelan sayang, roti nya tidak akan lari" ujarnya memberikan segelas air menggunakan tangan kanan sementara tangan kiri sibuk memegang Play Station Stick 4.


Karin hanya bisa mendengus dan menahan emosinya untuk tidak mengumpati Liam sekarang. Adam dan Kelvin hanya bisa saling lirik sementara Tuan Zyan dan Nyonya Catherine tersenyum.


"Kurang ajar" Umpat Karin kesal mencubit pinggang Liam yang tentunya langsung mengaduh sakit. "Rasakan itu" Bisik Karin tersenyum dan dengan cepat ia pergi ketempat lain.


"......"


"Karin dimana?" tanya Catherine yang baru sadar wanita itu sudah tidak ada di tempat.


Tapi tanpa peduli Liam yang masih asik bermain hanya menggendikkan bahunya. "Susul Karin, Liam. dia bisa saja tersesat" tegur sang Ayah yang sudah bisa di pastikan pantat Liam terangkat dari sofa untuk segera pergi menyusul Karin.


Liam sudah berjalan cukup jauh dari kawasan rumah orang tuanya, tapi masih tidak mendapati keberadaan Karin. "Aish, kemana lagi wanita itu" gumamnya mengeluh kesal.


Ia mencoba melihat ke sisir pantai yang berada di belakang rumahnya dan mendapati seorang wanita dan pria yang sedang bercumbu di sana. Melihat itu Liam tidak diam secara dia tidak suka miliknya di miliki orang lain.


"Bukan rupanya" Liam hanya bisa tertawa bodoh, takut wanita itu adalah Karin. Ia dengan cepat berbalik saat sepasang kekasih itu menatap kearahnya.


"Sedang apa?" Liam langsung berbalik dan mendapati apa yang dia cari sedang berdiri di belakangnya tanpa alas kaki.


"Kau darimana saja?" tanya Liam.


"Kau mencari ku? Untuk apa?"


"Untuk apa kau bilang? Kalau kau hilang di culik bagaimana aku bisa menjelaskan pada orang tuaku dan orang tuamu" Jawab Liam ingin sekali menyentil dahi Karin. "Jahat sekali kau berharap aku di culik" sahut Karin mendecakkan lidahnya seraya melangkah pergi menuju tepi pantai, sementara Liam bungkam.


"Apa bagusnya cuma melihat air?" tanya Liam ikut duduk di atas potongan dahan pohon yang Karin duduki. "Sebagian orang menganggapnya biasa saja, tapi ada sebagian lagi yang menganggapnya menyenangkan dan bisa memberikan kesan menenangkan dari suara desiran ombak laut yang menyapu pasir pantai" Jawab Karin menatap lurus ketengah laut.


Liam menoleh untuk menatap wajah Karin yang terlihat senyum menikmati angin pantai dan suara ombak ditambah air laut yang bersih dan berwarna kebiru-biruan. Baru kali ini dia merasa damai saat melihat seseorang tersenyum seperti itu, biasanya Liam membenci wanita yang tersenyum karena dia mengetahui itu hanyalah senyum kepalsuan.


"Oh iya, aku sudah memikirkannya dari kemarin malam" Karin menoleh pada Liam hingga mereka bersitatap, "Kenapa kau tiba-tiba melakukan hal itu? Kita bahkan tidak saling kenal untuk menjalin sebuah hubungan, apalagi pernikahan?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Karin membuat Liam langsung memalingkan wajahnya kedepan.


"Kalau begitu kenapa kau menerima saat aku menyuruhmu memasangkan cincin padaku?" Liam malah bertanya sebaliknya.


"Semuanya terjadi secara spontan, membuatku secara tak sadar melakukan semuanya"


"Sama sepertimu, aku juga bingung. Seharusnya aku pergi ke bandara saat itu, tapi aku malah pergi ketempat pernikahanmu seolah ada sesuatu yang menarik ku untuk datang" Jelas Liam sesuai pada apa yang dia rasakan. Benar atau tidaknya hanya pria itu yang mengetahuinya.


"Aku bahkan tidak tahu identitasmu. Aku berpikir jika kau adalah suruhan wanita itu dan menjebak ku agar Ayah marah padaku. Terlebih saat itu aku gugup dan tidak bisa berpikir jernih, jadi aku tidak bisa mengingatmu dengan jelas" Liam terlihat mengangguk pelan dan masih memperhatikan lamat-lamat wajah Karin.


"Maksudmu suruhan, aku pria bayaran yang di minta meniduri mu? Lalu melaporkan hal tak pantas itu pada Ayahmu?" Perjelas Liam dan di angguki oleh Karin.


"Aku putri dan cucu satu-satunya keluarga Morgan, tidak ada lagi pewaris selain diriku. Tapi parasit menjijikan dari kalangan rendah sepertinya menginginkan posisiku. Sesuai dari tempat asalnya, mereka ingin menjatuhkan ku dengan cara rendahan seperti itu. Cih, lucu bukan." Benar, Karin sadar dan berhasil membaca semua situasi yang menimpa dirinya. Orang yang paling ingin menduduki kursi pimpinan MK adalah Riana, yang bahkan sanggup berpura-pura hamil anak laki-laki hanya untuk mendapat pengakuan dari Ayahnya.


"Aku sudah menceritakan semuanya, sekarang giliranmu?" Sambung Karin.


Liam menghela napasnya, "Malam itu seharusnya aku bersama orang lain, bukannya dirimu-" Karin Kaget, dia takut jika ternyata pria ini menunggu kekasihnya. "Apa aku merusak hubunganmu dengan kekasihmu?" Sela Karin tiba-tiba merasa bersalah, tapi Liam malah tertawa.


"Aku. Punya kekasih? Tidak mungkin" jawab Liam yang seketika itu juga air mukanya berubah datar seolah menyembunyikan sesuatu yang sudah seharusnya dia buang jauh-jauh.


"Jayden menyewa pengh*bur malam itu sebagai hadiah karena aku di angkat menjadi presiden direktur untuk Rez Holding Company, bahkan mereka sengaja menambahkan obat perangs*ng agar aku bisa bersenang-senang dengan baik malam itu. Tapi siapa yang menyangka jika kau yang masuk ke kamarku" Kali ini dia tidak menutupi apapun, persis seperti kejadian malam itu.


"Kau? Presdir Rez Holding Company?" Liam mengangguk, "memangnya kenapa? Kau tidak percaya?" Sahut Liam melihat wajah Karin yang tidak ber ekspetasi apapun.


"Kau bercanda?" ucap Karin tak percaya sambil tergelak, bagaimana bisa pria seperti Liam menjadi pemimpin tertinggi di Rez Holding, perusahaan yang menduduki peringkat dua di negaranya untuk produsen mobil dan pesawat terbesar, terlebih Rez Holding juga menempati posisi satu untuk pengembangan property.


"Jangan mengada-ngada, jujur saja padaku. Aku tidak akan menghakimi mu karena statusmu" Kata Karin meyakinkan. Tapi Liam hanya terkekeh.


"Menurutmu Rez di ambil dari mana kalau bukan dari keluarga Rami-rez" Jawab Liam mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Sekarang cari siapa pemilik Rez Holding?" suruhnya dan Karin yang dari awal masih tidak percaya langsung merebut ponsel Liam dan mengetikkan kata kunci yang tadi, hingga keluar foto Tuan Zyan dan Nyonya Catherine sebagai Founder dari Rez Holding.


Karin tersenyum canggung, sebenarnya tidak masalah baginya jika Liam pria biasa saja karena dia juga tidak tertarik untuk melanjutkan hubungannya lebih dalam.


"Sekarang kau percaya?" tanya Liam memastikan. "Iya, aku percaya" sahut Karin menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Suasana tiba-tiba jadi canggung, Karin bingung harus memulai dari mana. "Kau mau naik sepeda?" tawar Liam bangkit dari duduknya.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...