
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Apa maksudmu? Jangan bertele-tele." Liam masih berkutat pada berkas-berkas yang menumpuk. Pria itu tetap bekerja walaupun jam kerja telah usai.
"Kau harus melihat ini." Kelvin memberikan ponsel miliknya.
Liam menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap Kelvin menyelidiki.
"Apa? Jangan bilang video p*rno?" Tebak Liam, mengangkat salah satu alisnya.
"Ha! Kau pikir aku ini apa? Mesum?" Kesal Kelvin.
"Memang begitu kan kenyataannya?" Liam meyakinkan.
"Ah sudahlah kalau begitu aku tidak jadi memberitahumu." merajuk, pria itu hendak meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku.
"Hey! Kemarikan! Begitu saja marah." Liam berusaha merebut ponselnya, namun dengan gerak cepat Kelvin berhasil menghindar.
"Tapi kau harus berjanji. Setelah melihat ini kau tak akan melakukan hal bodoh. Deal?" Tawar Kelvin.
"Berhentilah berbicara omong kosong. Sini kemarikan!" Liam mengulurkan tangannya meminta.
Perlahan Kelvin memberikan ponselnya dengan ragu.
Ponsel sudah ada di genggaman Liam. Pria itu membuka layar kunci. Lalu ia melihat sebuah berita yang tak seharusnya ia lihat.
Iris Liam membulat, mendadak amarah perlahan kian memuncak. Ia mengeratkan genggamannya pada ponsel itu. Ia sangat geram. Kemudian tanpa aba-aba,
'Ctar!'
Liam membanting ponsel itu kasar, membuatnya hancur hingga berkeping-keping.
Kontan Kelvin membuka mulutnya melihat aksi Liam yang tiba-tiba. Ia tak pernah berpikiran kalau Liam akan membanting ponsel itu hingga membuat ponselnya almarhum.
"Hah.. Ponselku." lirih Kelvin menatap ponselnya yang hancur tak berdaya di lantai. Ekspresi Kelvin saat ini seperti ingin menangis. Bagaimana tidak? Ia baru saja membeli ponsel itu beberapa hari yang lalu, dan sayangnya lagi, ponsel itu limited edition.
"Aish! Kenapa kau membantingnya?!" Protes Kelvin sembari mengambil kepingan-kepingan yang pecah.
Tak ada jawaban. Liam hanya menatap lurus ke depan dengan napas yang menggebu. Sorot matanya tajam dan sangat menakutkan. Sudah pasti pria itu sangat marah.
"Berhenti! Kau mau kemana? Kau sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang bodoh!" Teriak Kelvin, Ia mengejar Liam dan meraih tangan pria itu sebelum Liam benar-benar melangkah keluar.
"arghhh!"
Teriak Liam seolah meluapkan segala amarahnya. Wajahnya merah padam. Ia mengacak rambutnya frustasi.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Awalnya cuma berita tentang kalian di pesta launching. Aku tidak tahu beritanya akan mengada-ngada seperti ini" jelas Kelvin.
"Kalau begitu hubungi media dan singkirkan berita konyol itu"
Kelvin terdiam, "Terlambat, saat aku melihat beritanya sebuah siaran sudah mengudara membahas berita ini"
"Bagaimana dengan Karin?"
"Kemungkinan besar dia sudah melihat beritanya, selisih waktunya hampir satu jam sebelum aku mengetahui beritanya"
"Kalau begitu hubungi media yang bekerjasama dengan kita" perintah Liam. "Mereka sudah melakukannya tapi ada beberapa media besar yang bukan kolega kita, mereka tetap meluncurkan beritanya di dukung beberapa perusahaan saingan"
Liam menggebrak mejanya, "Cari tahu siapa dalang dibalik berita omong kosong ini!"
"Juan sedang melacak IP Address dari pengirim cerita mungkin sebentar lagi ada kabar darinya"
Dan-
Ting~
Nada pesan masuk terdengar dari ponsel Liam, cepat ia meraih ponselnya.
💬"Mereka mengacaukan lokasi, sulit untukku menentukan titik akuratnya. Untuk sementara aku akan membantu untuk meretas seluruh blog berita yang menyebarkan omong kosong itu"
💬"Segera kabari aku"
Liam menutup ponselnya dan pergi bersama Kelvin ke suatu tempat.
-
-
-
Liam bergerak cepat menghampiri Karin yang terlihat baru keluar dari gedung perusahaan, lalu menariknya bersembunyi di balik jasnya.
Plak!
Sebuah telur busuk dilemparkan tepat mengenai jas mahal milik Liam. Beberapa wanita yang mengenakan masker lengkap dengan topi berniat melemparkan telor itu pada Karin.
"DASAR PELAKOR TIDAK TAHU DIRI!"
Karin terdiam, tangannya mengepal kuat dia masih bersembunyi di balik jas Liam mendongak menatap suaminya.
Sementara itu Kelvin dengan cepat menghampiri para pelaku bersama tim keamanan MK Group.
Mereka kejar-kejaran sebelum akhirnya para wanita itu berhasil di lumpuhkan oleh petugas keamanan dan Kelvin tentunya langsung mengirim mereka ke kepolisian guna di mintai keterangan, dan harus bersiap mendapatkan gugatan yang di tuntut kepada mereka.
"Kau baik-baik saja?" Liam perlahan melepas jas nya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Karin yang terlihat masih kaget.
Seluruh karyawan MK Group tak berani buka suara, walau mereka juga mengetahui berita yang beredar.
Tangannya perlahan menepuk punggung Karin menenangkannya, "Bagaimana Vin?"
"Saham perusahaan kita juga ikut terdampak, tapi MK Group lebih parah padahal berita ini baru saja di sebarkan" jawab Kelvin memeriksa grafik saham perusahaan lalu memperlihatkannya pada Liam.
"Jika terus seperti ini, kita akan mengalami kerugian besar" sahut Liam mendesah gusar melihat grafik sahamnya turun secara perlahan.
Drrttt......
"Apa Dam?"
"Ayahmu menghubungiku, berita tentang perusahaan sudah sampai ke telinganya."
"F*ck."
"Bagaimana dengan Karin?"
Liam melirik Karin sekilas dari ekor matanya, "Dia cukup baik"
"Tenangkan saja dulu dia, aku yang akan menjemput paman dan bibi di bandara"
"Oke"
End Call-
"Argghhhh. Sialan, siapa yang membuat berita konyol ini" teriaknya membuat Karin sedikit terkejut. Dia terus diam sedari tadi karena sedang memikirkan sesuatu.
"Karin disebut pelakor, lalu aku selingkuh dengannya dan membiarkan anakku mati? Tck. Omong kosong macam apa ini"
Kelvin membalik setengah badannya menghadap Liam, "Bagaimana jika dalang ini semua Liora?"
"Ti-" Kalimat Liam terhenti, dia sadar ada Karin di sebelahnya "Tidak menutup kemungkinan" koreksinya dengan cepat.
Kelvin yang sadar kalimat apa yang ingin di katakan Liam ikut melirik Karin yang sedari tadi terdiam. "Aku akan meminta Juan memeriksanya" Lalu ia kembali ke posisinya.
-
-
-
Liam dengan berani menggenggam tangan Karin saat mereka di dalam lift, hanya tersisa dia dan Karin sedangkan Kelvin pergi menemui Juan.
"Semuanya akan baik-baik saja, tenanglah"
Karin mengangguk.
Keluar dari lift, mereka segera menuju unit apartemen Liam.
"Lebih baik kau istirahat, aku akan membereskan apartment sebelum Ibu dan Ayah datang" ucap Liam mengantar Karin ke dalam kamar.
Liam duduk sejenak di sofa memikirkan ucapan Kelvin, apa mungkin Liora lagi yang melakukannya? Jika itu benar, Liam benar-benar akan murka. Ini bukan perihal Karin saja tapi jabatannya juga di pertaruhkan jika masalah ini tidak di selesaikan dengan baik.
......................
Tuan Morgan terlihat sedang menghubungi Karin, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Mungkin Karin masih syok, biarkan dia tenang dulu" ujar Riana.
Morgan beralih dan berusaha menghubungi Liam tapi masih berada dalam nada tunggu "Masalah ini harus di selesaikan, jika tidak posisinya akan terancam" jawab Morgan sukses membuat Riana tersenyum tipis, menikmati situasi ini karena hal itu yang dia inginkan.
"Bagaimana kondisi Karin?"
"Karin sedang istirahat Yah"
"Baiklah, tolong jaga dia. Ayah akan segera menangani masalah ini"
"Ayah tenang saja, Liam juga sedang mencari infomasi pelaku penyebar fitnah itu"
"Baiklah, jika ada informasi lain telpon Ayah"
End Call-
Riana langsung menyambar saat Morgan selesai menelpon Liam "Apa kata Liam? Kondisi Karin bagaimana? Dia baik-baik saja, kan?"
"Hm, Karin pasti syok dan takut" lanjutnya terdengar lebay dan memuakkan jika di dengar oleh Karin.
Morgan mengelus lembut pundak Riana "Mereka juga sedang berusaha mencari informasi pelaku, Karin akan baik-baik saja" jawabnya diangguki oleh Riana.
......................
Liam menyambut kedatangan orang tuanya dan mempersilahkan mereka masuk. "Ada apa dengan pekerjaanmu Liam? Ayah mempercayakan perusahaan bukan untuk melihat ini? Dan berita konyol apa itu?" suara sang Ayah terdengar santai namun sangat mengintimidasi Liam.
Tuan Zyan menatap nyalang putranya yang masih terdiam, "Anak? Anak apa yang mereka maksud. Kamu punya anak diluar nikah? Ayah harap jawabanmu tidak mengecewakan"
Liam terus di serang Ayahnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi membuatnya semakin sesak.
"Kamu tahukan perusahaan sebesar Rez Holding sangat rentan dengan berita-berita seperti ini. Mereka pasti akan selalu mencari celah untuk menggeser kita dengan berita sekecil apapun jika tidak diselesaikan secepat mungkin" Sambung Tuan Zyan.
"Om tenang saja, kami sedang berusaha melacak pelaku dan memutar balikkan keadaan" sahut Juan sambil memegang laptopnya, masuk bersama Jayden.
......................
Kalian suka gak sih guys ceritanya?
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...