Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - DEFINITELY DESERVES


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"Kondisinya tidak prima, tapi dengan keberuntungan dia akan bisa sadar. Namun, jika tidak ada perubahan dalam beberapa hari kedepan, kami tidak bisa mengabaikan kemungkinan dia akan mati otak" Bagai di hujami ribuan jarum hati sang Ibu tertohok semakin kuat ia menangis dengan air mata yang tak henti-hentinya keluar.


"Apa itu mati otak? Apa seperti memasuki kondisi vegetatif?" tanya Ayah Safira.


"Beberapa orang berkondisi vegetatif secara ajaib kembali sadar namun dengan pasien mati otak, tidak adanya aktifitas otak. Jadi secara medis itu artinya pasien sudah meninggal" Tangis Ibu Safira semakin pecah, ia meraung merasakan jantungnya yang seperti diremas dengan begitu kuat.


"Tidak mungkin, dia baik-baik saja sampai kemarin. Bagaimana ini bisa terjadi?" gumam Ayah Safira pelan.


Karin ikut buka suara, "Maksudnya tidak ada harapan?"


Adam menatap Karin kemudian "Tidak ada yang bisa menjamin apapun, namun kami akan melakukan yang terbaik untuk membantu pasien"


Karin dan Jessy serasa di sambar petir di siang bolong, jawaban Adam tidak membuat hati mereka tenang.


Karin mengepal kuat tangannya, ia lantas bangkit membuat Liam reflek ikut berdiri. "Kemana?" tahannya saat Karin ingin melangkah pergi.


"Aku tidak akan membiarkan pria itu lolos" jawab Karin menepis tangan Liam dan segera pergi dari ruangan itu. Amarah Karin memuncak matanya memerah, Mark sudah benar-benar keterlaluan. Selama ini ia dan Jessy diam bukan tanpa alasan tapi Karena Safira yang memintanya, jika bukan karena itu Jessy mungkin sudah meminta anak buah Ayahnya untuk menghabisi Mark. Namun karena keduanya menghormati permintaan Safira mereka memilih diam dan tetap memperhatikan kondisi Safira yang mendapatkan kekerasan dari pria itu.


Tapi kali ini Karin tak bisa diam lagi.


Ia melangkah cepat masuk kedalam taksi yang ia berhentikan di depan loby rumah sakit, "Stop! Ikut denganku" tarik Liam membawanya masuk kedalam mobil.


"Tenangkan dirimu! Kau tahu harus kemana?" Liam mencengkeram kedua bahu Karin membuat wanita itu terdiam, Liam tahu pikiran Karin sedang kacau.


 "Kita tunggu kabar dari Juan, baru setelah itu bergerak. Adam juga sudah membuat laporan atas kekerasan yang terjadi pada Safira" jelasnya perlahan tangannya turun menggenggam tangan Karin sementara satu tangannya lagi mulai memutar bulatan setir.


Mobil Liam terlihat meninggalkan kawasan rumah sakit, pria itu hanya ingin membawa pulang Karin dan membuatnya tenang.


"APA!"


Reflek Liam menjauhkan sedikit telinganya saat mendengar suara Zea yang memekikkan telinganya "Huh, santai Ze"


"Apa? Kenapa?"


"Kau sudah mendapatkan paket dariku? Aku ingin mempermudah langkahmu menangkap Riana"


"Paket?! Oh, sebentar" Zea melirik sebuah amplop besar di atas meja yang baru saja dia lihat. "Ini-"


"Alasan kenapa Menteri Hukum sampai turun tangan, putar haluan mu dan serang dulu Menteri Hukum baru setelah itu Riana"


Zea tersenyum, Pria sombong satu ini ternyata ada gunanya juga. "Oke, biar aku jatuhkan dulu pion Riana"


"Good"


"Thanks. Sudah dulu ya, Im bussy"


Tut... Tut... tut...


Liam hanya bisa mendengus, kemudian beralih menatap Karin yang sedang duduk di sebelah Juan.


"Bagaimana?" Liam duduk tepat di tengah-tengah keduanya setelah menggeser Juan yang tadi duduk sangat dekat dengan istrinya.


"Sialan, minggir. Kenapa duduk di tengah sih?!" maki Karin.


"Hmm, mulutmu itu sayang!" tegur Liam, tapi wanita itu hanya memutar malas bola matanya.


Liam menoleh "Aishhh- wajahmu itu Juan" kesalnya yang kaget karena tatapan Juan yang mengerutkan dua alisnya menatap Liam saat pria itu memanggil Karin dengan sebutan sayang.


"Sudah, fokus saja sana" ucap Liam mendorong pelan wajah Juan untuk kembali menghadap komputernya.


"Cie- Sayang" Juan terkekeh sementara tangannya sibuk melacak lokasi Mark.


Karin mendelik, "Fokus saja Juan. Jika sampai tidak dapat kau yang ku habisi" suara datar Karin sukses menginterupsi Juan yang sekarang susah menelan salivanya.


"Hm, mampos! Istriku dilawan" bangga Liam berbisik di telinga Juan.


"Hah! Kalian berdua sama saja" kesal Juan dengan ekspresi cemberutnya.


"Dapat"


Sontak Liam dan Karin langsung menoleh padanya.


"Aku sudah mengirimkannya ke gps mobil Liam, kalian bisa pergi sekarang" Tanpa suara dan tanpa aba-aba mereka berdua pergi bahkan Juan tidak mendengar adanya ucapan terimakasih.


Karin meraih ponselnya mengirimkan sesuatu pada Jessy. "Aku ingin mendapatkannya sebelum polisi" Liam hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus pada setirnya.


......................


"Mau kemana kau brengsek!" Karin sudah lebih dulu mencegat sebelum pria itu berniat kabur. "Kau-"


"Kenapa!"


Mark membuang wajah sambil mendengus senyum remeh kemudian menatap tajam Karin "Sekarang kau sudah tidak bisa lolos lagi!" peringat Karin sementara Liam berdiri di belakangnya mengawasi. Pria itu seolah ingin memuaskan rasa penasarannya ingin melihat seberapa gila istrinya.


"Kau berdua, aku sendiri. Bukankah kau curang Karin?!" pria itu tersenyum miring.


Liam mendecak tawa, "Kau pria atau bukan?" ekspresi nya langsung berubah beringas.


"Okee- Kemari, aku akan menghajar mu habis-habisan. Berani sekali kau melukai Safira!"


"Itu kesalahannya sendiri. Dia selingkuh dariku!" Teriak Mark membuat Karin semakin mengepal kuat, ia maju satu langkah ke depan. "Akan ku pastikan kau membusuk di penjara dan menghancurkan perusahaan kecilmu itu!" Karin menyilangkan kedua tangannya berekspresi remeh.


Mata Mark memerah. "Kau bilang apa? Perusahaan kecil?!" kali ini Mark yang melangkah maju.


"Dasar bodoh! Kau berurusan dengan orang yang salah Mark!" dalam hitungan detik Mark melangkah cepat dan langsung menjambak rambut membuat Liam reflek ingin mencengkeram lengan Mark, tapi pria itu sudah mengaduh lebih dulu sebelum Liam menyentuhnya.


AAARRGHHHH....


Karin tidak peduli.


Rasanya sangat sakit, kepalanya terasa berputar nadinya terasa ingin pecah. Karin menendang senjatanya dengan seluruh tenaga bahkan gadis itu berniat menendang kepala Mark tapi di tahan oleh Liam.


"Aku tidak ingin milikku menyentuh darah kotor sialan ini!" ucap Liam kemudian-


Bughhh...


Liam memegang kerah pakaian Mark dan menonjok wajahnya dengan kepalan penuh, urat lengannya menonjol tanda amarahnya berada di puncak hingga pukulan ke-sepuluh pria itu masih belum berhenti dan terus melakukan aksinya.


Ternyata Karin dan Liam di pertemukan bukan tanpa alasan. Mereka berdua sama gilanya!


Karin menghentikan "Cukup Liam!" membuat Liam sontak berhenti dan bangun.


"Kau masih beruntung aku tidak membunuhmu Mark! Jika sampai terjadi sesuatu pada Safira, akan ku potong dan ku gantungkan di leher ******** mu itu. Kau paham!" reflek Liam langsung menurunkan tangannya menutup masa depannya dan dengan susah payah menelan salivanya.


Liam menarik lengan Karin "Ayo pergi, sepertinya polisi datang" ucap Liam.


Mark benar-benar babak belur wajahnya bersimbah darah, bibirnya pecah.


Karin sadar mungkin caranya curang tapi untuk pria seperti Mark itu pantas. Bayi yang waktu itu di kandung Safira adalah darah dagingnya sendiri tapi dengan rahasia itu pula ia mengancam sahabatnya, bahkan kerjanya hanya bisa menghabiskan uang Safira dan bermain dengan para jal*ng di club.


Selama tiga tahun Safira bertahan dengan brengsek seperti Mark.


Hal itu mungkin akan membuat trauma tersendiri bagi Safira jika dia kembali memulai hubungan. Dan itu pun jika Safira berhasil keluar dari masa kritisnya yang bahkan Adam sebut tidak ada harapan kecuali keajaiban yang lebih Karin anggap seperti takhayul.


Keduanya kembali kerumah sakit, tapi Karin menyadari jika tangan Liam terluka membuatnya meraih tangan pria itu dan mengambil tisu untuk membersihkan.


Liam terus menatap Karin selagi wanita itu membersihkan luka di tangannya, "Karin"


"Hm" jawab Karin seadanya.


"Jangan bertingkah berani di depan penjahat seperti tadi, kau membuatku takut. Tidak semua penjahat bisa kau baca pergerakannya. Adrenalin mereka terpacu saat lawannya berani melawa" Ucapan Liam tulus. Dia diam bukan berarti tidak khawatir.


Sebelumnya dia sengaja ingin melihat sejauh mana Karin bisa bertahan tanpa dirinya. Namun di sisi lain Liam menghargai jika Karin tidak semudah itu untuk di kalahkan. Kecuali dia di curangi sama seperti malam di mansion terkutuk itu.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...