
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Aku akan melakukan perjalanan bisnis beberapa hari kedepan, bagaimana jika kau pulang kerumah Ayah dulu?" Ucap Liam menarik kursi ikut duduk di hadapan Karin.
Kening Karin berkerut "Tidak mau. Kau lupa bagaimana hubunganku dengan Wanita itu?" Astaga, benar. Liam melupakan hal itu dan hampir mengirim istrinya ke rumah penjahat.
"Kalau begitu aku minta Zea saja menemanimu, aku tidak tenang jika kau sendirian disini saat aku pergi"
Karin menyela "Tidak perlu, Zea punya pekerjaannya aku tidak mau merepotkan" tapi Liam kembali menjawab "Tapi aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri, kau tahu kan musuh suamimu ini banyak"
Karin menghela napas, "Yasudah, kalau begitu aku minta Jessy saja"
"Baiklah, kalau begitu aku packing dulu"
"Kau pergi besok?" dia pikir Liam akan pergi beberapa hari lagi "Hmm, aku pergi besok" suasana hati Karin tiba-tiba berubah, rasanya sedikit kesal dan sedih bahkan dia melupakan hal sebelumnya yang berada di pikirannya.
"Liam" Karin menahan pergelangan tangan pria itu saat ia beranjak dari kursi meja makan. "Ada apa sayang?" jawab Liam sekaligus menggoda istrinya.
Bola mata Karin memutar malas mendengar panggilan sayang dari Liam.
"Katakan apa saja yang masih kau sembunyikan dariku?" dia langsung berterus terang. "Tidak ada. Kan sudah aku jelaskan sebelumnya mengenai Liora" Kali ini Liam masih mengelak apapun itu masa lalunya tidak akan pernah dan tidak akan mungkin dia ungkit pada istrinya.
Karin diam, dia tidak ingin lagi mendengar jawaban Liam dan membiarkannya pergi.
Tangannya meraih gelas lalu di tuangkannya air kedalam sana untuk menghilangkan rasa haus yang mencekik lehernya entah sejak kapan "Dia berbohong padaku" Karin bergumam seraya kembali meneguk air-nya.
......................
Hiruk pikuk pengunjung bandara sedikit membuat Karin harus membesarkan suaranya "Aku bisa mempercayaimu,kan?!" ucapnya pada Kelvin yang berdiri di sebelahnya, sementara Liam sedang bicara dengan seseorang di telpon.
Kelvin mengangguk, "Kau bisa percaya padaku" jawanya yakin menenangkan Karin.
Karin sebenarnya malas ikut ke bandara, tapi sopir yang biasa mengantarnya harus mengantarkan Liam terlebih dahulu ke bandara.
Liam menoleh sambil memberikan beberapa gestur pada Kelvin mengisyaratkan beberapa pertanyaan yang sudah jelas Kelvin pahami kecuali Karin.
Setelah menutup telpon, Liam kembali menghampiri keduanya. "Ayo Vin" ajaknya kemudian beralih pada Karin, di tatapnya Karin dengan begitu lekat kemudian tanpa aba-aba memeluknya membuat Karin sedikit kaget. Benar, memang mereka sudah saling mengutarakan perasaan masing-masing tapi hal itu tidak menjamin perasaan canggung di antara keduanya hilang.
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan berusaha untuk cepat pulang" ucap Liam mengecup sekilas kening istrinya.
Karin hanya bisa mengulum senyum kemudian melambaikan tangannya saat pria itu perlahan melangkah pergi darinya.
Baru saja Karin masuk kedalam mobil, para wartawan terlihat mulai memadati area bandara, sejujurnya Karin tidak perduli tapi sosok wanita yang baru saja turun dari mobil berhasil mengalihkan atensinya.
Lirikan mata Karin mengikuti langkah wanita itu dan sang manajer yang tengah menenteng tas mahal dari salah satu brand kenamaan.
"Joy!" nama itu reflek keluar dari mulut Karin, dia kenal siapa itu Joy dan siapa Joy yang di maksud Hana waktu itu, wanita yang sebelumnya pernah mengaku sebagai rekan kerja Liam.
Dia tiba-tiba cemas dan gelisah?
Sudah pasti.
Karna mereka akan seharian bersama. Menghabiskan waktu berdua layaknya sepasang--
"Arghh...****!" umpat Karin selagi meremas rambutnya. Berusaha menghapus hayalan-hayalan yang belum tentu terjadi. Ini benar-benar membuat Karin setengah gila jika terus saja memikirkan kenyataan.
Memeriksa informasi tentang kemana Joy pergi membuat Karin semakin berpikir yang tidak-tidak
Berusaha tenang dan tetap dengan pikiran normalnya, Karin kemudian mengais benda tipis yang ada di sebelah kursinya
Setelah mengirim pesan peringatan untuk suaminya itu, Karin meminta sopir untuk mengantarkannya ke suatu tempat.
Karin tidak ingin rasa sakit akibat perselingkuhan dulu kembali menggerogoti hatinya.
......................
Liam duduk dengan mata tertutup, tenang sambil mendengarkan musik sama hal nya dengan Kelvin yang sudah tertidur pulas.
Tuk...Tuk...
Tuk...Tuk...
"Aish," sambil mendengus kesal, Liam langsung membuka matanya menatap wanita yang kini tengah bersandar di sisi kursinya.
Betapa terkejutnya ia saat melihat Joy tengah menatapnya datar "Sedang apa kau disini? Kau mengikuti ku Joy?" tembak Liam tanpa membiarkan wanita itu menjelaskan dulu.
"Senekat ini?!"
Joy memutar malas bola matanya, kemudian dengan cepat duduk dalam pangkuan Liam membuat kakinya tanpa sengaja menyenggol Kelvin, yang alhasil terbangun dan kaget melihat posisi bosnya yang tengah memangku wanita cantik plus *** itu.
"Bos!" tegur Kelvin menelan kasar salivanya.
"Turun Joy, kau ini selebriti jangan membuat skandal" tegur Liam. "Kenapa? Kau takut istrimu mengetahui hal ini?!" tangannya dengan cepat mengalung pada leher Liam.
"Tenang saja Liam, mereka tidak akan peduli bahkan jika kita bercumbu sekalipun mereka tidak akan ambil pusing" jawab Joy enteng.
"Jangan memancingku Joy"
Joy terkekeh kecil, "Ternyata kau memang masih sama seperti Liam yang ku kenal. Mudah tergoda" bisik Joy membuat bulu kuduk Liam berdiri merasakan sensasi suhu dingin sejenak.
Kelvin sudah bersiap untuk meraih ponselnya, akhir-akhir ini dia lebih takut pada Karin ketimbang bos-nya sendiri.
Namun kali ini Liam hanya membuat ekspresi datar membuat Joy sendiri yang secara tak langsung bangkit dari pangkuan Liam.
"Tenang saja Liam, ini yang terakhir. Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Karin" kata Joy yang dengan cepat mengecup bibir Liam yang tentunya membuat pria itu melebarkan matanya.
Joy beranjak dari hadapannya, tapi entah kenapa tangan Liam reflek menahannya bahkan Joy sempat mengerutkan keningnya. "Antingmu, nanti istriku berpikir macam-macam" Sialan, Joy hampir saja berpikir jika Liam memang masih menyimpan perasaan untuknya.
Setelah memberikan aksesoris itu pada Joy, Liam kembali menyandarkan tubuhnya dan memasang kembali handphonenya untuk mendengarkan musik.
Bahkan Kelvin hampir tidak percaya apa yang baru saja dia saksikan, Liam bisa menahan diri? Demi apapun Kelvin semakin penasaran bagaimana Karin bisa menjinakkan pria semacam Liam.
......................
Sudah beberapa hari terakhir Karin masih tidak melihat sosok Ayahnya "Apa Ayah belum kembali?" tanyanya pada Jason yang baru saja masuk untuk memberikan beberapa berkas.
"Sepertinya jadwal penerbangannya hari ini" jawab pria itu yang langsung mendapatkan anggukan dari Karin.
"Oh iya, kau sudah mendapatkan informasi tentang langkah Riana selanjutnya?"
Jason menggeleng, "Setelah pemecatan Nichole, cukup sulit untukku melacak mereka" lagi-lagi Karin mengangguk "Kalau begitu sewa beberapa orang untuk mengawasi mereka"
"Oke" Jason pergi dari ruangan Karin.
Karin memijat kepalanya yang terasa pusing akibat pekerjaan yang menumpuk, terlebih dia sedang mengandung. Sebenarnya bisa saja Karin tidak ke kantor, tapi mengingat bagaimana langkah Riana yang sangat bertekad ingin menguasai perusahaannya membuat Karin harus pasang badan, jika bukan Ayahnya setidaknya dia harus melakukannya untuk melindungi perusahaan agar tidak jatuh ke tangan orang seperti Riana.
-
-
-
Karin meneguk segelas air putih, suasana sunyi benar-benar dia rasakan. Jessy akan datang sebentar lagi, Karin memeluk kedua kakinya menatap lurus ke layar televisi yang memantul dengan pencahayaan yang seadanya, dia sengaja tidak menyalakan lampu.
Benar-benar sunyi, biasanya ada Liam yang selalu saja membual atau bahkan mengganggunya, sampai pada pikiran Karin yang akhirnya kembali teringat tentang pembicaraannya dengan Hana tadi siang.
"Semuanya masa lalu, aku menceritakan ini bukan untuk membuat hubungan kalian saling menjauh-"
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...