Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - MORE HORRIBLE REPLY


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Kedua matanya tak berhenti untuk memandang setiap gerak tubuh yang Karin lakukan di depan kaca sambil beberapa kali mengganti bajunya, membuat Liam diam-diam terkikik sendiri dari balik pintu luar kamar mereka. Sedari tadi sebenarnya Liam sudah pulang. Ia hanya tidak sengaja melihat celah pintu kamar yang sedikit terbuka, kemudian menampakkan Karin yang bolak-balik sedikit memutar tubuhnya ke arah kanan kiri- guna untuk melihat tubuhnya yang semakin hari semakin terlihat berisi. Sungguh, Liam sangat menikmati pemandangan Karin dengan tingkah laku manisnya itu.


"Kenapa dengan bajunya?"


Pada akhirnya Liam sudah tidak bisa menahan dirinya lagi untuk bersembunyi dibalik pintu luar. Ia masuk begitu saja dan membuat Karin langsung menoleh.


Pria itu mengejutkannya.


"Sedikit tidak muat dan terasa sesak. Padahal ini baru saja dibeli," keluh Karin sambil memperlihatkan resleting baju belakangnya yang tidak bisa tertutup.


Liam melihatnya sekilas dan ternyata itu memang benar. Padahal ia rasa tubuh Karin tidak memiliki perubahan yang begitu besar. Hanya sedikit lebih berisi saja. Tetapi kenapa baju yang dikenakan wanitanya itu bisa tidak pas ya?


"Bukankah ini yang aku belikan?" tanya Liam ketika melihat model bajunya.


"Ah, benar. Tidak hanya ini saja, Liam. Kau membelikanku banyak baju meski aku tidak memintanya sama sekali."


Liam hanya terkekeh pelan. Ia rasa istrinya itu berbicara terlalu jujur. “Aku dulu salah memilih baju ini, Sayang. Ini sedikit kekecilan untukmu. Pantas saja sekarang sudah tidak pas meski kau hanya sedikit berisi"


"Apakah barusan saja kau bilang bahwa tubuhku ini gendut?"


"Tidak, Sayang. Aku hanya bilang bahwa kau sedikit berisi."


Karin mendengus. Liam hanya tidak sadar saja bahwa apa yang diucapkannya barusan saja itu adalah sama seperti mengatakan bahwa Karin gendut. Pria memang benar-benar tidak mengerti soal itu.


"Itu sama saja, Liam!" Karin berujar sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Liam. Ia kembali mencari baju yang sekiranya pas untuk ia pakai dan tidak terasa sesak ataupun membuat tubuhnya terlihat gendut.


"Apa aku salah berbicara seperti itu?" gumamnya lirih namun masih bisa didengar oleh Karin. “Aku rasa tidak. Ah, Sayang. Lagipula bukankah tidak masalah jika kau gendut? Itu akan semakin membuatmu terlihat lebih seksi dan aku akan semakin tergoda danganmu "


Karin berbalik dan melihat Liam yang sudah berjalan menjauh sambil melepas jas kerjanya, kemudian beralih melepas dasinya. Melemparkannya begitu saja di atas ranjang-membuat Karin menggeram sedikit kesal dengan kebiasaan buruk suaminya itu.


"Liam!"


Yang dipanggil sedikit berjingkat. Suara Karin yang begitu lantang membuat Liam terkejut bukan main. Kali ini apalagi? Apakah yang diucapkannya salah lagi?


"Ada apa? Kau membuatku terkejut, Karin."


"Singkirkan jas dan dasimu. Kau tahu itu kotor, dan aku tidak suka." protes Karin to the point.


Liam melongo dibuatnya. Astaga, kehamilan Karin benar-benar membuat wanita itu sangat sensitif. Dengan berat hati Liam mulai mengambil jas sekaligus dasinya, kemudian membuangnya di atas keranjang pakaian kotor.


Dan ketika matanya tidak sengaja melirik beberapa helai pakaian yang berserakan di atas lantai membuat Liam langsung menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


Itu semua adalah baju istrinya.


Hey! Lihatlah. Karin bahkan lebih parah dari Liam.


"Singkirkan baju-bajumu yang tergeletak di atas lantai, Sayang. Kau tahu itu tidak adil." protes Liam menirukan nada bicara Karin.


"Nanti saja. Aku masih sedang mencari baju yang sekiranya pas untuk diriku, dan tidak terlihat gendut."


Bibir Liam kembali dibuat melongo saat Karin kembali berbalik dan membelakangi dirinya. Punggung wanita itu terekspos jelas dan memperlihatkan tanda lahirnya karena resleting baju yang digunakannya masih belum tertutup.


"Berhenti, Karin." kata Liam saat sudah berada tepat di belakang tubuh Karin. Dia menghentikan aktivitas istrinya dan membuat istrinya itu berbalik untuk menghadap ke arah dirinya. Perlahan-lahan dia melepaskan baju yang digunakan oleh istrinya itu kemudian membuangnya secara asal.


Karin itu seksi, serius.


"Apa yang kau lakukan, Liam?"


Tidak menjawab pertanyaan dari Karin, Liam malah membuka kancing kemeja kerjanya satu persatu, kemudian melepaskan dari tubuhnya. Selanjutnya yang terjadi adalah, pria itu memakaikan kemeja kerjanya pada tubuh wanita itu dan membiarkan tubuh bagian atasnya sendiri yang terbuka tanpa pakaian.


"Kau memakai ini saja," Liam mulai mengancingkan satu persatu kemeja miliknya di tubuh Karin. “Kau terlihat cocok meski sedikit kebesaran. Tapi, bukankah ini sudah tidak membuat tubuhmu terlihat gendut lagi, hm?"


Karin mulai memperhatikan tubuhnya di depan kaca ketika Liam sudah menyelesaikan semuanya. Yang dikatakan pria itu benar. Tubuhnya sudah tidak terlihat gendut lagi. Tapi...


"Tidak mau, Liam. Ini bau."


Astaga. Penolakan dari Karin membuat Liam kembali dibuat melongo tidak percaya. Tadinya bibir pria itu tertutup. Kemudian terbuka, kemudian tertutup lagi. "Kau tidak menyukai bauku?"


Karin terdiam. Kemudian beberapa detik selanjutnya mencium kemeja yang digunakannya itu, sampai pada akhirnya Liam kembali bersuara. "Kalau begitu kita ganti saja dengan kemeja yang lain, yang masih baru. Bagaimana?" tawarnya.


Karin cepat-cepat menggeleng. "Tidak. Aku tidak mau."


"Astaga, Sayang. Lalu kau maunya apa?" Akhir-akhir ini Liam lebih sering di buat lelah oleh tingkah dan perubahan emosi istrinya yang suka sekali berubah.


"Aku menyukai ini." ungkap Karin mencium kemeja yang ia pakai. Baunya sangat enak, itu adalah bau Liam.


"Bukankah katamu itu bau? Kau tidak menyukainya."


"Kata siapa?"


"Kau tadi bilang seperti itu. Lagipula kau tidak menyukai bauku."


"Aku tidak bilang bahwa aku tidak menyukai baumu.”


"Tapi kau tadi tidak menjawab."


"Tapi bukan berarti aku tidak menyukainya," jawab Karin. Ia mendekatkan dirinya ke arah Liam dan tiba-tiba memeluk tubuh pria itu yang terbuka. Mencium dadanya, kemudian menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya.


Sementara Liam sendiri terkikik pelan dengan tingkah manis yang diberikan oleh Karin. Ia selalu dibuat jatuh cinta lagi dan lagi pada wanita ini, kemudian ia memeluknya menyalurkan sebuah rasa nyaman dan tenang untuk ibu hamil satu ini.


Tiba-tiba Liam langsung menggelengkan kepalanya sendiri, menyadarkan, saat melihat sosok Liora dalam diri Karin.


"Sadar Liam sadar" pria itu ingin menampar pipinya sendiri saat ingatan semacam itu terbesit dalam pikirannya.


Dulu Liam benar-benar menjaga Liora dengan sangat baik, memperhatikan bahkan mereka saling menyayangi layaknya mereka adalah sepasang suami istri yang menantikan kehadiran buah hati mereka.


Liam melepas pelukannya dan ditatapnya wajah sang istri, dia tangkup kedua pipi Karin dengan tangan besarnya sementara ibu jarinya perlahan mengusap lembut bibir Karin. "Jagan pernah berubah, tetaplah seperti ini, tetaplah bermanja padaku. Selelah apapun diriku, aku tidak akan membiarkanmu merasakan kesepian" Kalimat Liam terlalu dalam membuat hati Karin lagi-lagi terenyuh yakin akan ucapan prianya.


Kini Karin sedikit mengambil kesimpulan jika malam yang pernah mereka habiskan sebelumnya bukanlah sebuah kesalahan, melainkan takdir yang di pilih Tuhan untuk mempersatukan mereka.


Sampai detik ini, takdir telah menyatukan mereka, kini saatnya untuk Karin bangkit. Merebut apa yang menjadi miliknya dengan balasan yang sesuai dengan seluruh rasa sakitnya.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...