Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - UH DISGUSTING SMELL


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Karin terlihat tengah asik bicara sambil mencoba beberapa pakaian bersama Nyonya Catherine.


Memerlukan waktu lama untuk Liora mendapatkan restu dari orang tua Liam, tapi dengan mudahnya di dapatkan oleh Karin.


Tangannya mengepal kuat, menatap dari luar pembatas kaca store.


Liora melangkah masuk kedalam store pakaian bermerek itu berniat menghampiri Karin setelah melihat nyonya Catherine pergi "Tidak baik bersenang-senang setelah merebut kekasih orang lain." tangan dan matanya fokus me milah-milah beberapa pakaian sebagai alasan.


Karin hanya diam, lantas tersenyum tipis. "permisi!" seru Karin membuat salah satu pegawai berjala kearahnya. "Ada yang bisa saya bantu Nona?"


"Mba, saya mau lihat yang lain. Beberapa pakaian disini sudah terkontaminasi" jawabnya melirik Liora sekilas dengan ekor matanya. Sementara pegawai itu bingung maksud Karin.


Tangan Liora terhenti, merasa maksud Karin adalah dirinya.


"Apa maksudmu!" Kali ini Liora langsung menarik tangan Karin untuk menghadap kearahnya dan langsung di tepis oleh Karin.


"Kenapa?" dagunya terangkat menyombong menantang Liora dengan ekspresi datarnya seraya melipat tangan ke dada.


Liora tersenyum, satu wanita licik satu wanita yang tak bisa di prediksi. Selang beberapa detik kemudian Liora kembali melemparkan senyum, tapi kali ini senyum remeh. Oh, tidak masalah Karin tidak peduli itu.


"Selamat karena sudah menjadi mainan baru Liam!"


"Selamat juga untukmu, karena Liam sudah membuang mu ke tempat sampah. Uh disgusting smell" ucapnya ber-aksen Amerika.


Tangan Liora semakin mengepal.


"Ah, satu lagi! Sepertinya disini kau yang mainan. Hubunganku dan Liam sah secara hukum bukan seperti dirimu" Karin tersenyum miring, kali ini dia sukses membuat amarah Liora semakin memuncak. "Kau- "Kenapa? Kau mau marah? Seharusnya disini aku yang marah" Karin meluruskan tangannya ke samping lalu menunjuk Liora di wajah "Berhenti mengganggu rumah tanggaku dengan Liam!"


"Karin, Nak. Kesini sebentar-" Panggil Nyonya Catherine yang sedang berada di dalam ruangan VIP. "Iya, Bu" sahut Karin tersenyum remeh mendorong pelan bahu Liora dengan dua jarinya untuk lewat meninggalkan Liora dengan langkah yang begitu angkuh.


Liora mendengus kesal melihat kepergian Karin "Jal*ng sialan!"


"Kita lihat, bagaimana rasa percaya dirimu itu hancur saat melihat Liam kembali padaku" gumamnya pelan penuh percaya diri, kemudian melangkah pergi dari store.


Karin mencoba beberapa pakaian yang di pilihkan ibu mertuanya, menurutnya pilihan dari Nyonya Catherine tidak buruk dan lebih condong ke desain yang elegan.


Membutuhkan waktu hampir empat jam sampai mereka berdua puas, terlihat Nyonya Catherine lebih santai dan masih bisa mengimbangi selera anak muda seperti Karin.


Sementara Liam hanya menutup telinganya mendengar nada notifikasi pemberitahuan pengeluaran dari kartu yang dia berikan pada Karin.


'Yuk Karin kita tukeran tempat yuk, kamu yang nulis cerita author yang jadi istri Liam, definisi anak tunggal kaya raya, cape banget ama hidup😭'


......................


Liam berkacak pinggang menatap Karin yang tengah duduk di ujung ranjang sambil memegang kalung mendiang ibunya.


Ia segera mengeringkan rambutnya dan mengganti pakaian.


Karin menatap lekat kalung ibunya, entah kenapa ia merasa ada sesuatu di dalam liontin kecil itu. Tangannya mulai penasaran dan berusaha untuk membukanya.


"Sedang apa?"


"Kau bisa membuka ini?" Karin lantas memberikan kalung Ibunya pada Liam. Pria itu mulai melihat celah pada bagian sisi batu permata berwana ungu itu.


Liam perlahan mendudukkan dirinya tepat di sebelah Karin yang fokus memperhatikannya, sementara Liam sesekali melirik wanita di sebelahnya itu.


Tak membutuhkan waktu banyak untuk Liam berhasil melepas batu permata itu dan sesuai dugaan Karin, memang ada sesuatu di dalamnya.


Sebuah chip berukuran sangat kecil sekitar dua nanometer. Keduanya kontan saling menatap satu sama lain.


Liam melangkah keluar dari kamar di ikuti Karin yang mengekor di belakangnya. Sekarang ia bebas masuk keruang kerja milik Liam.


Saat keduanya masuk keruang kerja, Nyonya Catherine dan Tuan Zyan nampak duduk santai di sofa ruang tamu sambil menonton televisi, masalah perusahaan berhasil di redam sekarang pria itu bisa tenang.


Berselang dua menit Liam menemukan sebuah catatan keuangan MK Group yang di muat dalam sebuah worksheet dokumen. Dan yang lebih membuat Karin kaget adalah sebuah note yang ditinggalkan ibunya untuk memberi keterangan. 'Catatan korupsi dan penggelapan dana Riana per tanggal : 10 Mei 2017 - 23 September 2018'


Kontan Karin langsung menarik Liam dari kursinya untuk bangun berganti dengannya. Tangannya perlahan memutar scroll mouse.


Bukan hanya Karin, tapi Liam juga tak menyangka Nyonya Evelyn memiliki dokumen rahasia milik Riana yang mungkin saja itu bisa membahayakan dirinya.


Karin terus menelusuri setiap folder dan dokumen yang tercakup di dalam satu file zip yang di beri nama 'FK' . Satu hal lagi yang membuat Karin membeku, sebuah foto yang menjelaskan perselingkuhan Ayahnya dengan Riana.


"Jadi selama ini Ibu mengetahui semuanya" nada Karin terdengar sangat kecil tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya tak menyangka, membuat Liam bingung harus berbuat apa. Wanita itu pasti sedang syok.


Dugaannya selama ini tidak pernah salah, hanya Karin tak habis pikir. Sedari awal dia hanya berpikir Riana menjadi istri kedua Ayahnya karena menginginkan hartanya, namun nyatanya hal gila itu sudah dimulai sejak Ibunya masih hidup. Wanita licik itu memang mengincar kedudukan Ibu sejak awal.


Cairan bening tanpa sadar keluar dari pelupuk matanya, Karin sudah tak sanggup menahan semuanya. Penderitaan Ibunya bisa ia rasakan saat melihat semua foto menjijikan dari perselingkuhan Ayahnya dan Riana.


Liam yang kala itu sedang duduk di meja perlahan menarik kursi Karin, menyeka air mata wanita itu dengan ibu jarinya. "Tenangkan dirimu" suara Liam terdengar begitu lembut kemudian mengarahkan Karin untuk menumpukan kepala di pahanya sementara tangannya mengusap lembut rambut Karin.


Karin berpikir, mungkin seburuk-buruknya pria seperti Liam tidak akan melakukan hal yang lebih buruk dari Ayahnya. Selingkuh dibelakang ibunya yang tengah berjuang untuk sembuh dari penyakitnya.


Sebenarnya Liam tipe pria yang bodoh jika sudah terjebak dalam sebuah hubungan, tapi hal itu di imbangi dengan sikapnya saat berada di perusahaan. Dia kompeten dan menjanjikan, hanya saja kadang Liam tak bisa mengontrol dirinya sendiri jika sudah menyangkut masalah perasaan. Contoh saja hubungannya dengan Liora. Jika bukan karena kebenaran di balik identitas Karin, Liam masih mengharapkan Liora kembali padanya diluar kebenaran tentang Zayn baru-baru ini.


Suasana hening, hanya isakan kecil dari Karin yang terdengar sayup-sayup sampai suara ketukan pintu mengalihkan fokus keduanya.


"Liam, Karin. Ayo makan malam" seru sang Ibu dari balik pintu.


"Iya Bu" sahut Liam perlahan menguatkan Karin untuk tetap tenang dan tidak terlalu banyak berpikir. "Hapus air matamu, nanti Ibu pikir aku yang melakukannya"


"Iyaa" sahut Karin sesenggukan.


Liam perlahan merangkul pinggang ramping istrinya keluar dari ruang kerja setelah wanita itu berhenti menangis, tapi mereka yakin Ibu Liam pasti sadar jika Karin baru saja menangis.


Karin melepas rangkulan tangan Liam, membuat pria itu kembali menariknya "Setidaknya kita harus menunjukkan jika hubungan kita baik-baik saja dan orang tuaku bisa cepat pulang" bisiknya membuat Karin memutar malas bola matanya.


"Loh, Karin. Kamu kenapa nak? Liam yang melakukannya?" tangan Nyonya Catherine sudah siap memukulkan spatula jika benar putranya yang membuat menantunya menangis.


Ekspresi Liam berubah masam, selalu saja dia yang salah. Karin menggeleng tapi tetap saja pukulan itu mendarat di kepalanya. "Akh! Ibu sakit" keluhnya sambil mengusap kepalanya.


"Dia, kan? Kamu jujur saja Karin pasti anak ini lagi, kan? Dia melakukan apa sampai kamu menangis seperti itu?"


Karin menahan senyumnya saat melihat pria di sebelahnya di pukul oleh Ibunya sendiri.


"Bukan, Bu."


Tuan Zyan berdecak remeh sambil menggeleng pelan mengambil beberapa lauk makanan yang tersedia.


"Ha! Ayah sama saja" gumamnya kesal.


"Bukan Bu, tadi kami hanya menonton drama makanya Karin menangis, mungkin karena perasaan Karin sedang berubah-rubah saat ini" bohongnya.


"Jadi bukan Liam?" Karin menggeleng sambil tersenyum.


"Ha! Ibu menghakimi putra ibu sendiri tanpa bukti" menatap kesal Ayah dan Ibunya secara bergantian.


Nyonya Catherine langsung duduk di kursi, tanpa menjawab keluhan putranya itu.


"Jangan tertawa" ucap Liam melirik Karin.


"Tidak, aku tidak tertawa" Karin menggeleng sambil mengulum bibirnya menahan tawa.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...