
"Gak papa sayang, kita seharusnya bersyukur memiliki papa yang nggak tabu dengan urusan beginian," sahut Bryan.
Raisa semakin pusing ingin rasanya dia pingsan di tempat melihat Bryan yang seperti ini.
Raisa kembali ke tempat duduknya dan mereka semua melanjutkan makan kembali.
Setelah makanan habis, mereka melanjutkan mengobrol di ruang keluarga.
"Oh ya pa, begini kami ingin meminta uang bulanan lagi mengingat kebutuhan rumah tangga yang nggak sedikit," kata Bryan.
"Baiklah nanti papa kasih pada Raisa supaya dia yang mengatur perekonomian rumah tangga," sahut papa Bryan yang membuat Bryan nampak tidak terima.
Raisa nampak senang, biarlah Bryan akting layaknya artis papan selancar yang penting uang dari papanya mengalir ke rekeningnya.
Bryan nampak frustasi karena papanya lebih memilih Raisa daripada dirinya.
"Lalu bagaimana dengan Bryan pa?" tanya Bryan.
"Ya kalian bisa membaginya berdua," jawab papa Bryan.
Raisa menatap Bryan dengan tatapan mengejek, dia kali ini bisa menjadi ratu sedangkan Bryan akan menjadi kacungnya.
Selepas kepergian kedua orang tuanya, Bryan dan Raisa lagi-lagi ribut, tidak ada yang mau membereskan kekacauan di dapur dan juga piring-piring kotor yang ada di meja makan.
"Ini kan tugas istri Raisa, woy," teriak Bryan namun Raisa yang enggan mendengarkan langsung saja menutup pintu kamarnya.
"Salah sendiri kenapa tidak mau menggunakan jasa art, kan aku sudah bilang kalau kita butuh art tapi kamu ngeyel," sahut Raisa dari dalam kamarnya.
Bryan terus saja menggedor pintu namun Raisa tidak mau membukanya sehingga dia kesal dan pergi meninggalkan Raisa sendiri di rumah.
Bar adalah tujuan Bryan, dia ingin meluapkan rasa kesalnya dengan sedikit minum lalu datanglah Gilang yang kebetulan juga berada di bar yang sama.
"Kamu kenapa bro, aku perhatikan agak kacau," kata Gilang.
Bryan tertawa sembari menatap Gilang, kehidupannya kini jauh berbeda, dulu saat di Amerika dia sangat bahagia, menikmati hidup seperti apa yang dia mau tapi kini hidupnya jauh dari ekspektasinya.
"Gimana nggak kacau, aku terjebak dalam sebuah pernikahan yang nggak aku inginkan," sahut Bryan yang membuat Gilang kaget karena ternyata Gilang sudah menikah.
"What! kamu sudah menikah? sama siapa? cantik nggak?" Gilang memberondong Bryan dengan banyak pertanyaan.
Mendengar pertanyaan Gilang membuat Bryan frustasi sehingga dia meminta pelayan untuk menambah minuman di gelasnya.
"Satu lagi mas," titah Bryan.
Bryan segera meneguk minuman yang diberikan pelayan sampai habis sembari menyesap lemon yang ada di dalamnya.
"Umpama aku menikah dengan kekasihku pasti aku bahagia Gilang namun sayang aku menikah dengan kekasih orang," jawab Gilang dengan sedih.
Gilang terlihat kaget, bagaimana bisa Bryan menikah dengan kekasih orang?
"Kok bisa sih bro," tukas Gilang.
"Kami dinikahkan paksa oleh warga dan parahnya papa aku dan papanya setuju-setuju saja malah meminta para warga untuk menikahkan kami," ucap Bryan.
Entah mengapa Gilang malah ingin ngakak mendengar ucapan Bryan, bagaiamana bisa warga yang memaksa dirinya menikah?
"Memangnya apa yang kamu lakukan Bryan sehingga warga ingin menikahkan kalian?" tanya Gilang dengan menahan tawa.
Bryan yang kesal hanya melirik Gilang, bisa-bisanya teman lagi sedih malah ditertawakan.
"Dah deh nggak usah gitu, teman lagi susah bisa-bisanya malah tertawa," gerutu Bryan.
Gilang dan Bryan asik minum sampai lupa waktu hingga tengah malam Bryan belum juga kembali.
Raisa yang takut sendiri menunggu Bryan di depan rumah.
Berkali-kali dirinya menghubungi Bryan namun ponsel Bryan tidak aktif, ingin sekali pulang ke rumah papanya namun sudah malam pasti tidak ada taksi online yang beroperasi.
"Masa iya aku minta jemput papa," kata Raisa.
Udara malam yang dingin akhirnya membuat Raisa memutuskan untuk masuk meski dirinya sangat ketakutan.
Dirinya menunggu di sofa sambil menonton video untuk mengurangi rasa takutnya dan tanpa sengaja dia malah tertidur di sofa dengan pintu terbuka.
Tepat pukul dua malah Bryan baru pulang dia kaget mendapati pintu yang terbuka dirinya segera masuk untuk memastikan semua baik-baik saja.
Saat di ruang tamu, dia melihat Raisa yang tidur di sofa, Bryan yang masih kesal dengan Raisa langsung ke dalam namun dia kembali lagi karena kasian meninggalkan Raisa yang tidur di sofa.
Dengan sedikit mabuk dia mengangkat tubuh Raisa untuk dibawa ke kamarnya namun Bryan malah salah membawa Raisa di kamarnya dan mereka akhirnya tidur bersama.
Aaaaaaaaaaaa
Teriak Raisa saat dia bangun dari tidurnya, dia sangat kaget mendapati Bryan satu ranjang dengan dirinya.
Raisa segera mengecek tubuhnya dan dia lega karena pakaiannya masih lengkap.
"Untung masih lengkap," kata Raisa dengan lega.
Melihat Bryan di sampingnya membuat Raisa kesal lalu dia menarik rambut Bryan dengan kuat.
Aaaauuuwww," pekik Bryan yang terbangun akibat ulah Raisa.
"Ada apa sih," gerutunya sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Siapa yang suruh tidur seranjang sama aku!" sahut Raisa.
"Tau gini aku biarkan saja dirimu tidur di ruang tamu, sudah dipindah nggak tau terima kasih sama sekali," maki Bryan.
Lagi-lagi mereka debat yang nggak penting, Bryan yang kesal memutuskan keluar untuk ambil minum namun di dapur dia sangat kesal karena melihat kekacauan kemarin yang belum dibereskan.
"OMG Raisa!" teriaknya lalu pergi ke kamar Raisa.
Bryan langsung saja menyeret Raisa ke dapur dia meminta Raisa untuk memberesi kekacauan yang ada.
"Ogah, kamu kan yang bersikeras untuk tidak mau mengambil jasa art," kata Raisa yang enggan untuk membersihkan dapur.
"Jadi kamu nggak mau? ya sudah aku akan laporkan ini semua pada papa biar jatah bulanan kamu tidak cair," ancam Bryan.
Raisa menatap Bryan dengan kesal, dia yang tidak memiliki pilihan menuruti apa kata Bryan untuk membersihkan dapur.
"Baik tapi kita baru tugas, aku yang membersihkan ini semua sedangkan kamu yang mengelap meja dan kompor dan juga menyapu lantai." Negosiasi pun akhirnya terjalin meski Raisa dan Bryan sama-sama enggan bersih-bersih.
"Ok deal," kata Bryan yang akhirnya setuju.
Bryan meminta Raisa untuk mencuci peralatan dapur dulu sedangkan dirinya akan bersiap jadi setelah mandi dia bisa mengelap dan menyapu lalu berangkat ke kampus.
Melihat tumpukan piring kotor, wajan, panci sendok dan lain-lain membuat Raisa jijik apalagi bau ikan yang kemarin dimasaknya semakin membuat Raisa ingin muntah.
"Gini amat sih," kata Raisa.
Huek
Raisa ingin muntah saat mendekati peralatan dapur yang kotor sehingga dia memutuskan untuk membuang semua.
"Aku buang saja, kan nanti tinggal minta uang papa untuk beli lagi," ucap Raisa.
Dia pergi mengambil kantung plastik dan memasukkan peralatan yang kotor di dalamnya.
"Raisa, Raisa kamu jenius sekali sih, inilah mengatasi masalah tanpa harus lelah," kata Raisa