
Raisa pulang dengan kekesalan tingkat dewa, bagiamana tidak suami sahnya telah diklaim milik orang lain.
Tak berselang lama Bryan datang, dengan senyum yang mengembang dia mendekati istrinya yang duduk di sofa ruang tengah.
"Sayang kenapa nggak nunggu aku?" tanya Bryan.
"Ngapain nunggu kamu," sahut Raisa.
Bryan menghela nafas kemudian dia duduk di seberang sang istri.
"Sampai kapan kamu mau marah terus?" tanya Bryan.
"Ya terserah aku," jawab Raisa.
"Sayang please dong, aku kangen sama kamu apalagi nanti malam Jum'at Lo sayang" bujuk Bryan.
Raisa menatap Bryan dengan tatapan tak biasa, ada apa dengan malam Jumat? memangnya Bryan mau mengadakan Pengajian?
"Kenapa memangnya dengan malam jumat?" tanya Raisa.
"Waktunya kita bercocok tanam," jawab Bryan.
Raisa menggelengkan kepala, bagaimana bisa Bryan meminta dirinya untuk bercocok tanam padahal kini dalam mode merajuk.
Bryan yang tidak ingin rudalnya libur berusaha membujuk Raisa hingga Raisa akhirnya menyetujui keinginan Bryan.
"Yes, makasih sayang." Bryan mencium kening Raisa.
"Aku melakukan ini karena kewajiban aku, habis cocok tanam aku kembali dalam mode merajuk," kata Raisa.
"Beres sayang, merajuk terus nggak papa kok asal jatah aku selalu kamu prioritaskan," sahut Bryan dengan terkekeh.
Waktu berlalu dengan cepat, Raisa sedari tadi Googling di internet persiapan malam Jumat, bagi wanita yang bersuami memang penting untuk mempersiapkan diri sebelum perang dengan suami, selain menambah gairah juga bisa meningkatkan rasa cinta pada sang istri.
"Memakai lingerie?" gumam Raisa.
"Mana punya aku lingerie," Raisa bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tak hanya memakai lingerie, persiapan yang lain adalah penggunaan lilin aromaterapi supaya perang lebih syahdu.
"Aku harus ke mall," kata Raisa.
Raisa pamit pada Bryan untuk keluar sebentar, dia juga ijin untuk membawa mobil Bryan.
"Aku antar ya." Bryan khawatir kalau Raisa menyetir mobil sendiri.
"Nggak usah, aku bentar kok mas," sahut Raisa.
"Kamu nggak lari dari malam Jumat kita kan?" timpal Bryan dengan penuh penekanan.
Raisa tertawa, justru dia pergi karena ingin menyiapkan malam Jumat mereka.
"Nggak kok mas, janji nggak sampe tiga jam aku sudah kembali," kata Raisa.
Bryan mengijinkan istrinya untuk keluar meski dalam hatinya was was.
Raisa pergi ke rumah Lala, dia ingin mengajak Lala ke mall untuk belanja lingerie serta keperluan lainnya.
"Tumben ngajakin aku ke mall," kata Lala.
"Aku minta bantuan kamu untuk memilihkan baju untuk aku," sahut Raisa.
"Aku belikan sekalian ya Sa," timpal Raisa.
"Kamu mau beli lingerie juga?" tanya Raisa dengan tertawa.
Lala memukul bahu Raisa jadi baju yang dimaksud adalah lingerie.
"Sialan kamu Sa, aku kita baju keluar," umpat Lala.
"Mbak Lingerie paling hot dong," kata Lala.
Pelayan nampak heran untuk apa para bocil beli lingerie? pilihnya juga yang paling hot.
"Tunggu sebentar ya dek," sahut pelayan.
Beberapa waktu kemudian pelayan keluar dengan aneka lingerie super hot yang mana semua bisa dilihat dengan mata telanjang.
"Daripada kamu pake lingerie ini mending nggak usah pake baju deh Sa, kak Bryan pasti suka kamu yang nggak pakai apa-apa," saran Lala.
Raisa manggut-manggut tapi meskipun begitu dia tetap ingin membeli lingerie.
"Tapi lebih dramatis kalau pake lingerie La, nanti ada momen disaat dia membuka lingerie ini," sahut Raisa.
"Kamu membuat aku jadi pengen nikah Sa," ucap Lala.
Setelah memilih lingerie keduanya mencari lilin aromaterapi agar cocok tanam mereka lebih greget.
"Lingerie sudah, lilin sudah, kurang apa lagi ya," kata Raisa.
"Aneka bunga Sa," sahut Lala.
"Betul, kita ke toko bunga yuk,"
Selesai berbelanja, Raisa bergegas pulang dia tidak ingin malam Jumat bersama Bryan telat.
Sesampainya di rumah Raisa meminta Bryan untuk menunggu diluar, dia menata kamarnya sedemikian rupa, bunga di tabur di tempat tidur, lilin lilin sudah dinyalakan dan yang terakhir saatnya dia mandi dan memakai lingerie.
Seusai mandi Raisa memanggil Bryan yang telah menunggu diluar, dia sengaja mematikan lampu agar gelap tinggal remang-remang dari cahaya lilin.
Raisa nampak memakai lingerie miliknya dan ini membuat Bryan langsung bereaksi.
"Sayang, penampilan kamu membuat aku memanas," kata Bryan.
Bola mata Bryan berputar melihat sekelilingnya, Raisa telah menyiapkan malam Jumat yang spesial untuknya.
"Aku nggak nyangka loh sayang kamu menyiapkan ini semua untuk aku," bisik Bryan sambil memeluk Raisa dari belakang
Bryan menyentuh Raisa, tangannya juga mulai bergerilya kemana-mana sehingga membuat Raisa sedikit mende-sah.
"Oh," ucapnya dengan menggigit bibir bagian bawahnya.
Saat bersamaan Raisa merasakan ada sesuatu yang keluar dari hutan terlarang miliknya.
"Mas bentar." Raisa melerai pelukan mereka.
"Ada apa sayang?" tanya Bryan.
Tanpa menjawab pertanyaan Bryan, Raisa berlari ke kamar mandi, dia mengecek apa yang dia takutkan terjadi apa tidak.
Dan benar saja saat membuka celana da-lam miliknya ada bercak darah disana.
"OMG, sia-sia semua apa yang aku siapkan," kata Raisa dengan kesal.
Beberapa waktu kemudian, Raisa keluar dengan wajah cemberut. Dia menyalakan lampu kamarnya dan mematikan satu persatu lilin aromaterapi nya.
"Kenapa dimatikan sayang?" tanya Bryan.
"Nggak guna karena kita nggak bisa melakukan ritual malam Jumat saat ini," jawab Raisa dengan wajah ditekuk.
Mendengar jawaban Raisa membuat Bryan shock bagiamana tidak malam yang dia nantikan kenapa harus dicancel?
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku lagi dapet mas," jawab Raisa dengan mewek.