
Setelah Bryan kembali dia nampak senang karena dapur sudah bersih tinggal mengelap meja dan menyapu lantai yang tidak begitu kotor.
"Gini kan enak sedap dipandang mata," katanya.
Setelah Raisa siap mereka pun berangkat ke kampus bersama.
"Hay Raisa, sebaiknya kamu tinggalkan cowok yang kemarin bersama kamu itu." Bryan memberikan sarannya pada Raisa.
Mendengar ucapan Bryan membuat Raisa kesal, apa hak Bryan meminta Raisa untuk meninggalkan Devan.
"Apa urusan kamu meminta aku meninggalkan Devan, pernikahan kita hanya pura-pura jadi nggak usah ngatur-ngatur aku ya," sahut Raisa.
"Bukan ngatur Raisa tapi awas saja kalau kamu menggunakan jatah bulanan kita untuk memelihara pria itu," timpal Bryan yang membuat Raisa kaget. Darimana Bryan tau kalau dirinya sering memberi uang pada Devan? bahkan Raisa juga sering membelikan barang-barang branded untuk Devan.
Bryan melirik Raisa dia sungguh heran kenapa ada wanita sebodoh Raisa yang mau saja dimanfaatkan oleh Devan.
Keduanya saling diam, Raisa melemparkan tatapannya keluar jendela sedangkan Bryan fokus ke depan.
Tak terasa mobil Bryan telah sampai di gerbang kampus, Raisa menengok ke sekelilingnya dan setalah di rasa aman Raisa turun.
Bryan segera menancapkan gas dan meninggalkan Raisa yang harus berjalan cukup jauh.
Setibanya di depan kampus Raisa melihat Devan yang baru saja keluar dari mobil.
"Devan," panggil Raisa.
Devan menoleh lalu menengok ke sekelilingnya dia nampak heran pasalnya Raisa jalan kaki.
"Kamu jalan kaki?" tanya Devan.
"Iya," jawab Raisa.
"Mana mobil kamu?" tanya Devan kembali.
"Aku tidak diijinkan papa bawa mobil," jawab Raisa.
"Oh," sahut Devan.
Devan dan Raisa masuk ke dalam bersama, Devan yang belum sarapan mengajak Raisa untuk sarapan, pucuk dicinta ulam pun tiba ya begitulah yang ada dipikiran Raisa karena dia juga belum sarapan.
Devan dan Raisa sama-sama berharap, Devan berharap Raisa yang mentraktirnya sedangkan Raisa berharap kalau Devan yang mentraktirnya juga.
"Kamu mau makan apa?" tanya Devan.
"Nasi goreng seafood saja," jawab Raisa.
"Minumnya jus stroberi," imbunya.
Setelah makan Raisa langsung bergegas pergi karena Lala dan Rea menelpon kalau jam kuliah akan segera di mulai.
"Devan aku pergi dulu ya, jam akan segera dimulai," kata Raisa lalu ngibrit segitu saja.
Devan nampak kesal pasalnya lagi-lagi dia yang harus keluar uang.
"Makin kesini Raisa tidak bisa aku andalkan lagi jadi aku harus cari cewek lain yang bisa aku manfaatkan," batin Devan.
Raisa yang terburu-buru tak sengaja menabrak Bryan dengan seorang perempuan.
"Kalau jalan pakai mata," kata Bryan.
"Dimana-mana jalan itu pakai kaki," sahut Raisa dengan ketus.
Yuke wanita yang bersama Bryan menatap punggung Raisa yang sudah menjauh dia nampak heran biasanya para wanita di kampus nampak bahagia jika berbicara dengan Bryan namun Raisa malah ketus.
"Dia ketus sekali padahal dia yang menabrak kita," kata Yuke.
"Biarin saja," sahut Bryan.
Yuke adalah primadona di kampus, dia sangat cantik dan idaman banyak mahasiswa, banyak yang ingin menjadikan Yuke kekasih namun Yuke tidak mau hingga dia bertemu dengan Bryan yang diidolakan para mahasiswi.
Meskipun cantik Bryan hanya menganggap Yuke teman karena mereka satu fakultas yang sama tapi tidak dengan Yuke yang menginginkan Bryan untuk jadi kekasihnya.
"Pagi pak." Untung dirinya dan Dosen bersamaan masuk ke dalam kelas sehingga dia tidak disuruh keluar.
"Darimana saja sih Sa, untung nggak telat," kata Rea.
"Habis sarapan sama Devan," sahut Raisa.
"Sekarang sebutkan perang yang terjadi di tanah air," kata Dosen.
Tidak ada satupun yang menjawab dan ini membuat Dosen menggelengkan kepala.
"Astaga kalian pikir orang tua kalian menyekolahkan kalian menggunakan daun sehingga kalian tidak belajar dengan sungguh-sungguh." Dengan memijat pelipisnya dosen beranjak dari tempat duduk lalu menumpukan pantatnya di ujung meja sembari menatap mahasiswanya.
Semua mahasiswa terdiam, ya beginilah keadaan mahasiswa di kelasnya.
"La, coba sebutkan perang yang pernah terjadi," tanya Dosen.
Lala yang tidak tau hanya diam hingga dia mengingat suatu acara tv yang mengisahkan tentang perang.
"Perang Bharatayuda pak," jawab Lala yang sontak membuat semaunya tertawa.
Dosen semakin memijat pelipisnya karena semakin terasa pening. Bharatayuda adalah perang yang terjadi di dunia pewayangan bukan perang yang pernah terjadi di tanah air.
"Lala kamu tau Bharatayuda itu darimana?" tanya Dosen.
"Dari serial tv yang sering ditonton ibu saya pak," jawab Lala yang membuat semua menahan tawa.
Dosen semakin pusing, anak jaman sekarang sungguh wao sekali hingga perang yang pernah terjadi tidak ada yang tau.
"Raisa," tunjuk Dosen.
"Perang Diponegoro," balas Raisa.
"Bagus, terus apa lagi?" tanya Dosen.
"Gerilya, Bandung lautan api, penyerbuan Batavia, perang Padri dan lain-lain pak," jawab Raisa.
Dosen mengangkat dua jempolnya tidak percaya kalau Raisa bisa menyebutkan dengan benar.
"Huh, selamat, untung aku cepat-cepat googling," bisik Raisa.
Di kampus nilai akademik Raisa tidak begitu menonjol, cuma papa Raisa dikenal karena merupakan donatur tetap di kampus.
Setalah mata kuliah pertama selesai, Raisa, lala dan juga Rea berjalan ke taman untuk duduk di bangku taman namun ternyata di sana ada Bryan, Gilang dan juga Yuke.
"Lihatlah duo ganteng dan si cantik ngobrol bareng," kata Rea.
"Jangan bilang burik lagi Sa, atau aku kepret kamu," sahut Lala.
"Kalian belum tau saja," gerutu Raisa sambil menatap Bryan yang dirangkul oleh Yuke.
Lala dan Rea yang mendengar gerutuan Raisa nampak bingung, tau apa?
"Tau apa Sa?" tanya Lala.
"Tau aslinya Bryan," jawab Raisa dengan tidak sadar.
"Memangnya kamu kenal sama Kak Bryan?" tanya Rea.
Raisa meringis, untung Raisa segera sadar kalau tidak, bisa bahaya Rea dan Lala tau siapa Bryan.
Tanpa terasa jam pulang telah usai, Raisa menunggu Bryan ditempat biasa namun lama menunggu Bryan tak kunjung keluar hingga Raisa sangat kesal.
"Pulang dulu aja," gerutunya.
Beberapa saat kemudian Bryan keluar karena tidak menjumpai Raisa Bryan pun melajukan mobilnya kembali dan pulang.
Di tengah jalan Bryan membeli makanan dan juga minuman untuk keperluan aktingnya, sama seperti konten kreator yang selalu mem video aktivitasnya Bryan juga sama demi bisa laporan pada papanya.
Sesampainya di rumah Bryan mencari piring namun dia tidak menemukan piring sama sekali, sendok juga tidak ada, gelas dan lain-lain juga tidak ada.
"Raisa!" teriak Bryan sambil berjalan menuju kamar Raisa.
Raisa yang mendengarnya lalu keluar.
"Ada apa?" tanya Raisa.
"Mana piring dan peralatan dapur yang lainnya, bukanlah kamu yang tadi pagi mencucinya?" tanya Bryan.
Raisa menggaruk kepalnya yang tidak gatal.
"Aku membuangnya,"