
Di cafe nampak Bryan Dimitri dan Gilang membully Rafi, dia dibully habis-habisan oleh ketiga temannya.
Rafi nampak mati foto dia nampak tak berkutik dibully oleh ketiga temannya.
"Bully lah sepuas kalian, senang kan lihat aku seperti ini." Kekesalan Rafi sudah berada di puncak.
Bryan, Dimitri dan Gilang sangat puas karena melihat Rafi kesal, inilah akibatnya karena Rafi selalu mengesalkan.
"Kamu ingat nggak pernah taruhan sama aku Rafi." Dimitri mengingatkan akan taruhan yang pernah mereka buat dulu.
Saat itu Rafi menyanggupi taruhan bersama Dimitri, kalau dirinya jatuh cinta dengan Amanda maka mobil sport miliknya akan diambil oleh Dimitri dan apabila dia tidak mencintai Amanda maka mobil sport Dimitri akan diambil oleh Rafi.
Raut wajah Rafi sudah memucat, mobil sport miliknya adalah mobil kesayangannya, dia harus bekerja keras untuk mendapatkan mobil itu.
Haruskah dia merelakan cintanya yang baru saja semi daripada mobilnya diambil oleh Dimitri?
Bryan menyenggol bahu Dimitri, dia nampak tak tega melihat wajah Rafi yang langsung memucat.
"Lihatlah Dimitri wajahnya sangat pucat." Bryan berbisik pada Dimitri.
Dimitri nampak tersenyum, memang dia ingin memberi pelajaran kepada Rafi, sebenarnya mana tega dia mengambil mobil Rafi, dia tahu perjuangan Rafi untuk membeli mobil tersebut.
"Kita kerjai dia," Dimitri berbisik balik.
"Mampus," sahut Gilang.
Rafi sungguh bingung dia tak tahu apa yang harus dia lakukan.
Arrggggg
Rafi mengusap rambutnya dengan kasar, sehingga membuat teman-temannya tertawa.
"Aku harap kamu sportif Rafi." ucapan Dimitri semakin membuat Rafi frustasi.
"Iya pak, saya juga tidak mencintai Amanda." Raffi mengelak rasa cintanya terhadap Amanda.
Bryan, Dimitri dan Gilang saling tatap, dia tahu kalau Rafi mengelak agar mobilnya tidak diambil oleh Dimitri.
"Awas aja kamu Rafi kalau ketahuan ngedate dengan Amanda." ancaman Brian membuat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dia berpikir keras, dirinya sungguh-sungguh bingung.
"Kalau aku jadi kamu lebih baik aku menyerahkan mobil kamu ke Pak Dimitri, karena mobil bisa dicari tapi kalau wanita sekali kamu melepaskannya dia akan pergi dan tak akan kembali." Rafi membenarkan ucapan Gilang dia kini semakin galau.
"Ingat pilihlah dengan bijak, so tentukan pilihanmu sekarang," sabung Gilang yang membuat Bryan dan Dimitri tertawa.
"Kalian kenapa sih tega sekali padaku." Rafi mengiba berharap teman-temannya mengasihinya.
Tak ingin semakin terdesak tapi memutuskan pulang terlebih dahulu.
"Aku pulang terlebih dahulu ya, ada urusan di rumah." Keliahatannya kabur dari teman-temannya adalah pilihan bijak untuk saat ini.
"Kamu mau nangis guling-guling di rumah kan Raf?" Ucapan Gilang membuat roti langsung pergi begitu saja.
Selepas kepergian Rafi, Bryan dan Dimitri juga ikut pamit tinggallah Gilang sendiri di klub.
*************
"Ah mas." Desa-han Raisa membuat Bryan menggila dia melajukan pinggulnya namun saat akan mencapai puncak kenikmatan, baby Rayyan menangis.
"Ahhhh, sayang jangan menangis dulu dong, mama dan papa sedang ada tugas negara yang sangat penting," kata Bryan.
Ucapan Bryan tentu tidak berpengaruh terhadap baby Rayyan, mana tau dia kalau papanya sedang ada tugas negara.
"Mas baby Rayyan menangis." Raisa nampak tak tenang melihat anaknya menangis.
"Panggil baby sitter nya dong sayang," sahut Bryan.
Merasa kasian dengan anaknya, Bryan akhrinya turun dan merelakan kenikmatan yang akan dia gapai.
"Aku kasih asi dulu nanti kita lanjut lagi mas," kata Raisa lalu dia memberikan anaknya asi sambil tiduran.
Bryan yang tidak tahan nekat masuk masuk area sensitif istrinya meski lewat belakang.
Agak susah karena jalannya terlalu jauh namun bagaimana lagi, baby Rayyan juga tidak mau mengalah sedikit saja.
Karena sodokan Bryan membuat baby Rayyan minum asi dengan tak tenang hingga pucuk dada Raisa terlepas.
Baby Rayyan menangis kembali dan ini membuat Raisa bingung, bayinya tidak mau tenang sedangkan papanya tidak mau sabar.
Mendengar bayinya menangis lagi membuat Bryan mencabut miliknya, dia menciumi baby Rayyan sehingga membuat anaknya semakin menangis.
"Dasar egois, padahal kalau papa udah keluar kan mama milik kamu sayang." Raisa tersenyum melihat kelakuan Gilang, sama anaknya nggak mau mengalah.
Tak ingin anaknya menangis lebih kencang lagi, Bryan memberikannya pada sang istri, dia memutuskan untuk membersihkan diri lalu ke ruang kerjanya karena ada yang harus di kerjakan malam ini.
"Aku ke ruang kerja dulu ya sayang, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." Bryan mengecup kening sang istri tak lupa dia juga mengecup pipi anaknya.
"Iya mas, nanti aku menyusul," sahut Raisa.
Seusai menyusui baby Rayyan, Raisa memberikannya pada baby sitter nya, dia ingin pergi ke ruang kerja suaminya untuk menemaninya bekerja.
"Baby Rayyan udah tenang?" tanya Bryan.
"Sudah mas, kini tidur dikamarnya bersama baby sitter," jawab Raisa.
Bryan segera menyelesaikan pekerjaannya, dia ingin melanjutkan hasrat yang sempat terjeda karena baby Rayyan.
"Oh ya mas besok, kita disuruh ke rumah papa karena mama ingin mengadakan syukuran untuk Diandra," kata Raisa.
"Siap sayang," sahut Bryan.
Raisa berpindah tempat, yang tadinya duduk di depan Bryan kini pindah ke atas pangkuan sang suami.
"Aku sebenarnya kasian sama Diandra, harus dirawat neneknya bukan mamanya." Ucapan Raisa membuat Bryan mengerutkan alisnya.
"Kenapa tidak tinggal bersama Dimitri?" tanya Bryan.
"Bagaimana mau tinggal disana, sedangkan mama Dimitri membenci Yuke," jawab Raisa.
Bryan manggut-manggut akan jawaban Raisa, memang sebuah perpisahan yang dilakukan orang tua membuat para anak menjadi korban.
"Kasian ya mas." Raisa menunjukan rasa empatinya.
"Memang ya sayang terkadang anak menjadi korban," sahut Bryan.
"Nggak semua mas, tergantung situasi dan alasan kenapa bercerai, terkadang ada kasus dimana malah perceraian itu yang terbaik untuk anaknya," pungkas Raisa.
Setelah selesai Bryan segera menggiring Raisa ke kamar, dia tak sabar lagi untuk mengunjungi area favoritnya.
Keesokannya Bryan sudah bersiap untuk ke kantor, Raisa mengantar suaminya sampai ke depan rumah.
"Hati-hati ya mas." Raisa melambaikan tangannya, Bryan juga membalas lambaian tangan istrinya.
Dengan suasana hati yang senang, Bryan melajukan mobilnya ke kantor, setibanya di kantor dia menyapa anak buahnya, sehingga anak buahnya juga turut bahagia melihat Bryan.
Berbeda dengan Bryan, Rafi berangkat ke kantor dengan perasaan sedih, dia sungguh dilema dia sangat sayang pada mobilnya namun dia juga sangat sayang kenapa Amanda Ibarat kata bunga baru mekar jadi harum-harumnya.
Amanda yang melihat Rafi nampak bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat Rafi bermuram durja.
"Kamu kenapa Pak?" tanya Amanda.
Rafi tersenyum lalu menggeleng, tentu dia tidak akan menceritakan perihal taruhannya.