Married With A Stranger

Married With A Stranger
Sadar


"Andaikan waktu itu kamu menurut apa kataku, mungkin semua ini nggak akan terjadi." Dimitri tetap bersikeras menyalakan juga atas meninggalnya sang buah hati.


Yuke yang merasa sakit hati pun pergi meninggalkan Dimitri, dia tidak tahu kenapa Dimitri bersikap seperti itu, dia mengira kalau Dimitri akan menguatkannya disaat seperti ini namun yang terjadi malah sebaliknya.


Karena tidak tahan dengan sikap Dimitri, Yuke memutuskan untuk pergi ke rumah mamanya, dia ingin menenangkan diri disana. Siapa tau disana Yuke bisa lebih tenang.


Kebetulan Bryan dan Raisa juga ada di sana, mereka berdua tengah mengunjungi papa mereka.


"Yuke kamu kenapa?" tanya Raisa yang heran melihat Yuke dengan wajah sembab.


Yuke mencoba tersenyum meski untuk tersenyum dia butuh perjuangan karena melawan apa yang dia rasakan saat ini.


"Baby Rayyan mana? kok nggak diajak? kalian ini sudah punya bayi kemana-mana masih berdua, kalau bayi kalian menangis bagaimana?" Yuke memberondong Raisa dengan banyak pertanyaan.


Semua pandang kemudian mengalihkan pandangan mereka semua ke Yuke, meski Yuke tersenyum namun nampak jelas kalau matanya berkaca.


"Kalau kamu ingin menangis, menangislah." Bryan nampak iba dengan temannya.


Tangis Yuke pecah, dia sungguh sedih karena telah kehilangan anaknya dan kini Dimitri menyalahkannya.


"Aku sangat sedih karena kehilangan anakku, aku sangat butuh Dimitri untuk menguatkan aku namun dia malah menyalahkan aku atas semua ini, harus aku akui aku memang salah tapi bukankah ini semua itu sudah takdir Tuhan? siapa yang menginginkan kematian." Yugo mengeluarkan semua isi hatinya, semua kesedihannya dan semua uneg-unegnya.


Mendengar ini semua tentu membuat Mama Yuke juga bersedih, memang selama dirawat di rumah sakit Dimitri tidak datang sama sekali padahal yang sakit adalah istrinya.


"Kenapa dia bisa bersikap seperti itu?" Mama nampak marah dengan sikap Dimitri.


Papa mencoba menenangkan mama Yuke, dan mengatakan kalau semua butuh waktu.


"Lebih baik juga di sini dulu beberapa hari, mungkin Dimitri perlu waktu untuk sendiri, siapa tahu dengan begitu dia tidak akan menyalakan Yuke lagi." Raisa dan Bryan setuju dengan ucapan papa, mungkin ini berat untuk Dimitri mengingat dulu penderitaannya saat Yuke tengah hamil muda.


*********


Dimitri masih saja sedih atas meninggalnya sang buah hati.


Rafi dan Amanda yang melihatnya sangat sedih, tak seharusnya Dimitri bersedih seperti itu, toh mereka masih bisa mempunyai anak lagi.


"Kalau anda tetap seperti ini, anda tak hanya kehilangan anak tapi juga istri anda." Rafi ikut duduk di samping Dimitri yang kemudian disusul oleh Amanda.


"Aku sangat mendambakan kelahiran anak ini," sahut Dimitri.


"Anda pikir saya tidak? ingat dulu siapa yang selalu memenuhi ngidam anda." Rafi mengingatkan Dimitri saat dirinya ngidam dulu.


Memori Dimitri berkelana ke waktu itu, dia masih ingat betapa tersiksanya saat itu.


Dimitri menggeleng dengan mata berkaca, tentu dia tidak ingin hal itu terjadi lagi.


"Tidak," ucapnya lirih.


"Kalau tidak ingin kehilangan mengapa bersikap seperti ini?" maki Rafi.


Rafi sangat senang, kapan lagi bisa memarahi Dimitri, dia juga masih kesal karena mobil kesayangannya diambil oleh Dimitri.


selama ini dirinya selalu dimaki oleh di Dimitri, ini gantian dirinya yang memaki Dimitri.


jenitri beranjak dari tempat duduknya, dia ingin pergi menyusul juga yang dua hari ini berada di rumah mertuanya.


"Mau kemana?" tanya Rafi.


"Ke rumah mertuaku," jawab Dimitri.


"Ikut," sahut Rafi.


Amanda mencubit Rafi dengan keras, bagaimana bisa kekasihnya malah ingin ikut Dimitri yang ingin menyelesaikan masalahnya.


"Kamu ini mas ada-ada aja." Amanda sangat kesal dengan Rafi karena ingin mengekor Dimitri.


Rafi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sungguh dia ingin melihat momen di mana Dimitri minta maaf pada Yuke.


"Kita berdua maksudnya." tukas Rafi.


Amanda hanya bisa menggelengkan kepala, ingin sekali menabok kekasihnya.


"Udah kita berduaan di sini saja," sahut Amanda.


Rafi tersenyum menyeringai, benar juga apa yang dikatakan Amanda, kapan lagi bisa berduaan seperti ini.


"Ya udah ayo sayang." Rafi duduk di samping Amanda.


Tangannya mulai naik, dari paha pundak lalu ke bibir Amanda.


Melihat bibir seksi Amanda membuat Rafi menelan saliva, dia sudah tak sabar untuk melahap bibir kekasihnya tersebut.


Ciuman panas Rafi layangkan ke bibir Amanda, kini baik Rafi maupun amanda, sama-sama terbuai akan hasutan orang ketiga yaitu setan, tanpa mereka sadari kalau mereka masih berada di ruang tengah yang mana para art Dimitri bisa melihat mereka.


"Mas kita pindah yuk," bisik Amanda setelah pautan mereka terurai.