
Raisa menemui papanya, meski sedih namun papa Raisa berusaha tersenyum saat Raisa datang.
"Pa." Raisa ikut duduk di samping papanya.
"Maafkan Raisa pa, tak seharusnya Raisa menghalangi kebahagiaan papa." Raisa merasa bersalah pada papanya karena telah melarang sang papa jatuh cinta pada mama Yuke.
Papa Raisa kaget dengan ucapan anaknya, dia tidak menyangka kalau Raisa mengijinkan rasa cintanya pada Mama Yuke.
"Papa ajak kencan gih mama Yuke, kalau sudah cocok buruan lamar biar papa cepat nikah." Tak ingin papanya sendirian Raisa memintanya untuk segera menikah.
Cukup sudah kesendirian papanya, memang benar sedari dulu papa Raisa bertahan dengan kesendiriannya demi dirinya jadi kini dia tidak boleh egois, papanya juga berhak bahagia.
Tak ingin membuang kesempatan, Raisa mendandani papanya, meskipun sudah tua namun papa Raisa masih gagah apalagi uang yang berbicara, usia lima puluh lima seperti usia empat puluh tahun.
"Papa belum menghubungi mama Yuke sayang," kata papa Raisa.
"Udah nggak sudah dihubungi langsung saja datang ke rumahnya," sahut Raisa dengan tangan yang fokus memakaikan dasi papanya.
*********
"Good luck pa." Raisa berteriak sembari melambaikan tangan, dia berharap papanya dan mama Yuke cocok sehingga mereka bisa segera menikah.
Di rumah Yuke ada Dimitri dan Rafi, mereka ingin membahas acara pernikahan yang akan digelar di tempat ibadah terdekat.
Dimitri meminta untuk digelar di rumahnya namun mama Yuke menolak karena sebuah alasan adat yang tidak memperkenankan menikah di rumah calon mempelai pria.
"Tante nggak sekalian menikah?" Semua mata kini tertuju ke Rafi, bisa-bisanya bertanya hal seperti itu saat lagi serius.
Dimitri menginjak kaki Rafi tentu hal ini membuat Rafi meringis kesakitan.
Mama Yuke tersipu malu, dia sebenarnya juga ingin menikah karena sudah lama menjanda namun entah papa Raisa mau dengannya atau tidak.
"Menikah barengan saja tante menghemat biaya." Lagi-lagi ucapan Rafi membuat Dimitri menggelengkan kepala.
"Pengennya begitu Rafi namun calonnya nggak ada," sahut mama Yuke.
Saat bersamaan datanglah papa Raisa, mama Yuke dan papa Raisa saling tatap.
"Calonnya sudah ada tinggal menikah saja." Ucapan papa Raisa membuat semuanya nampak senang.
Yuke memeluk mamanya kini saatnya mama Yuke untuk mencari kebahagian setelah papanya meninggal.
Yuke berdiri lalu mempersilahkan papa Raisa untuk duduk dekat mamanya sedangkan dirinya duduk di samping Dimitri dengan menggeser Rafi.
"Maaf sebelumnya siapa nama kamu?" tanya papa yang membuat semua tertawa.
Dimana-mana nama itu yang ditanyakan pertama bukannya sudah jatuh cinta baru tanya nama.
"Nama saya Arumi mas, panggil saja dek Arum," jawab mama Yuke.
"Cie cie dek Arum, kenapa nggak sekalian ayang Arum tante biar so sweet dikit," sahut Rafi.
Sungguh Rafi sangat menyebalkan sekali, Dimitri juga heran kenapa Rafi jadi seperti ini.
"Woy Rafi diam." Dimitri memintanya untuk diam.
Rafi hanya terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Papa Raisa tertawa mendengar godaan Rafi, meski lama mengenal Rafi dalam dunia bisnis namun papa Raisa baru tau kalau modelan Rafi seperti ini.
"Lantas bagaimana dirimu Rafi, apa sudah memiliki pasangan?" tanya papa Raisa.
"Saya masih pak Anton," jawab Rafi.
"What! hari gini masih jomblo? kok kalah sama yang tua." Ejekan papa Raisa membuat semua tertawa.
Dimitri yang tertawanya sangat keras, Rafi kini terdiam, sungguh ucapan papa Raisa mengenai mentalnya.
Tak ingin diganggu dan mengganggu, Papa Raisa dan Mama Yuke pamit makan malam diluar sekalian jalan-jalan.
Selepas kepergian papa Raisa dan Mama Yuke tinggallah Dimitri, Yuke dan Rafi. Dimitri dan Yuke nampak mengobrol dari hati ke hati sedangkan Rafi bingung mau ngapain.
"Raf, daripada kamu ganggu mending kamu pulang sana." Dimitri meminta Rafi pulang dan ini membuat Rafi kesal.
"Tadi maksa aku untuk ikut sekarang disuruh pulang, ini namanya habis manis sepah dibuang." Rafi mengambil kontak mobil lalu pergi keluar.
Tinggallah Dimitri dan Yuke, awalnya mereka mengobrol enak namun lama kelamaan ciuman tidak bisa terhindarkan, mereka yang berhari-hari digelang dan dirantai rindu ingin menumpahkan semua malam ini.
"Aku sangat merindukan kamu sayang," bisik Dimitri.
"Saya juga pak," bales Yuke.
Keduanya hanyut dalam perasaan rindu, hingga tanpa sadar mereka lagi-lagi melakukan hubungan terlarang.
Nikmat memang nikmat namun bagaimana dengan larangan agama? entahlah yang mereka tau mereka hanya melerai rasa rindu.
Hari berganti hari, persiapan pernikahan telah usai, besok akan menjadi momen penting dalam sejarah Dimitri dan Yuke, karena sebuah paksaan mendatangkan cinta yang dalam di hati mereka.
Tak hanya Yuke dan Dimitri, papa Raisa dan Mama Yuke juga akan mengukir sejarah, dimana cinta mereka bersatu disaat usia mereka telah senja.
Cinta memang datang pada siapa saja, tidak memandang umur, status maupun yang lainnya.
"Pa, bagaimana rasanya menikah lagi?" tanya Raisa.
"Papa bahagia tapi juga sedih." Jawaban papanya membuat Raisa bingung.
Raisa menatap papanya dengan tatapan bingung, kenapa kok ada sedihnya? bukankah seharusnya papanya bahagia?
"Kenapa sedih pa?" tanya Raisa.
"Karena papa tidak setia sama mama kamu," jawab papanya.
Raisa memeluk papanya dengan erat, papanya sudah sangat setia pada mamanya hingga rela hidup sendiri tanpa menikah lagi.
"Siapa bilang pa, papa itu pria hebat mampu hidup sendiri setelah mama pergi, itu wujud rasa setia dan Cinta yang sangat besar pada mama." Raisa melepas pelukannya lalu menatap papanya.
"Terima kasih sayang," sahut papa Raisa.
Di sisi lain Yuke juga berbicara dengan mamanya, dia sangat bahagia karena atas terjalinnya pernikahan mereka kini Yuke memiliki Saudara seperti Raisa.
"Mama sangat bahagia karena bisa mendapatkan suami seperti papa Raisa." Kebahagiaan terpancar di wajah mama Yuke.
Memang benar kalau semua itu indah pada waktunya, awalnya yang tidak indah bahkan membuat hati kesal digantikan yang lebih baik.
Prosesi pernikahan akan segera dilaksanankan, Dimitri siap untuk mengucapkan janji suci pernikahan di sebuah tempat ibadah, dia nampak tampan dengan setelan jas warna putih dan kopiah yang senada.
Yuke juga nampak cantik dengan balutan kebaya warna putih, memang pernikahan mereka dilaksanankan secara sederhana mengingat Yuke tengah hamil.
Pertama Yuke dan Dimitri terlebih dahulu baru mama Yuke dan papa Raisa menyusul.
"Pak saya kok grogi." Yuke meremas kedua tangannya untuk menghilangkan grogi yang melanda dirinya.
"Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil pak." Dimitri mencubit pipi Yuke.
Setelah semua siap, prosesi pernikahan akan segera dilaksanakan, pak penghulu menjabat tangan Dimitri dan Ijab-Qabul dia ucapkan dengan lantang.
Sah
Sah
Sah
Air mata Yuke mengalir dengan deras, kini untuk kedua kalinya dia menjadi orang istri.
"Aku bahagia mas." Yuke menatap Dimitri dengan tatapan bahagia.