
Tanpa ragu Amanda memberikan nomor ponselnya, dirinya juga ketagihan mengobrol dengan Rafi.
Apakah ini tandanya rasa nyaman sudah hadir di antara mereka? lagi-lagi dari rasa benci menjadi rasa cinta.
Rasa paling benci saat awal bertemu kini berubah menjadi rasa nyaman yang ingin selalu ingin bertemu, Ya begitulah cinta terkadang memang kita sebagai manusia kurang bisa menalar cinta.
Definisi cinta sangat luas bahkan untuk setiap orang memiliki definisi cintanya sendiri-sendiri.
Setelah saling bertukar nomor telepon Rafi dan Amanda pun mengobrol lewat chat secara intens, bahkan di malam hari mereka pun tidur bersama melalui panggilan telepon video call, Ya bisa dibilang tidur bersama secara online.
"Amanda kelihatannya sangat bahagia Mas." Yuke beberapa ini mengamati perubahan Amanda.
Dimitri mengerutkan alisnya apa benar yang dikatakan istrinya.
"Masa sih sayang." tentu Dimitri tak melihat perubahan Amanda.
"Iya Mas benar dia tuh sering senyum-senyum sendiri saat melihat ponselnya." Ucapan Yuke membuat senang Dimitri, dia sudah menduga kalau terjadi sesuatu antara Yuke dan Rafi.
"Kelihatannya terjadi sesuatu antara Amanda dan Rafi sayang."
Yuka sangat bersyukur jika memang terjadi sesuatu antara Amanda dan Rafi, secara otomatis Amanda tidak akan mengganggu Dimitri lagi.
Kini pr-nya hanya mengambil hati Mama mertuanya supaya mau menerima dia sebagai menantu.
Entah mengapa begitu sulit membuat mama Dimitri untuk menerimanya namun Yuke tidak akan menyerah dia percaya suatu saat pasti hati Mama mertuanya akan luluh.
Seperti biasa di kantor Rafi dan Amanda mengobrol kembali, ada saja yang mereka ceritakan hingga kepo sudah menjalar ke hati mereka.
"Ceritakan kisah cinta anda Pak, kan saya sudah menceritakan kisah cinta saya." Amanda nampak kepo dengan kisah cinta Rafi.
Rafi tersenyum, dia sungguh bingung bagaimana menceritakan kisah cintanya.
"Nothing special di kisah cintaku, kita berdua memiliki kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan, dulu aku juga mencintai seorang wanita yang ternyata dia hanya menganggap aku teman padahal hubungan kamu sudah sangat dekat." Rafi mulai menceritakan kisah cinta siapa sangka dari kisah cintaku mereka memiliki kesamaan yang mana mereka hanya dianggap teman oleh orang yang dicintai.
"Ternyata sama ya Pak Rafi," kata Amanda yang membuat rafi tersenyum.
Mereka terus bercerita hingga pekerjaan mereka pun terbengkalai, Dimitri yang sudah menunggu berkas dari Rafi pun nampak kesal.
"Raf berkasnya antar segera ke ruangan aku." Akhirnya Dimitri menghubungi Rafi lewat sambungan telepon.
Rafi yang baru sadar kalau dia belum mengerjakan berkas yang diminta Dimitri nampak panik, dia asik mengobrol dengan Amanda dan lupa akan pekerjaannya.
"Astaga aku lupa, bisa dimarahi habis-habisan nih aku," gumam Rafi yang membuat Amanda tersenyum.
Tak hanya Raffi Amanda juga melalaikan pekerjaannya, ya beginilah kalau orang sudah mulai terjangkit virus cinta membuat semua terlupakan.
Rafi segera mengerjakan berkas yang diminta Dimitri begitu pula dengan Amanda yang mulai mengerjakan pekerjaannya.
Beberapa waktu kemudian Rafi baru datang ke ruangan Dimitri dan ini membuat Dimitri sangat kesal.
"Dari tadi ngapain saja kenapa berkas baru diantar ke ruanganku." Dengan kesal Dimitri menatap Rafi yang berdiri di hadapannya.
Rafi hanya bisa menggaruk kepala, mengobrol dengan Amanda telah melupakan segalanya.
"Kalau ingin pacaran saat jam istirahat jangan saat jam aktif seperti ini," maki Dimitri.
Dimaki atasannya tidak membuat Rafi takut namun malah membuat Rafi tertawa, bagaimana bisa Dimitri tahu kalau dia asyik mengobrol dengan Amanda.
"Wah wah anda hebat sekali pak, bisa menerawang apa yang saya lakukan di ruangan saya." Rafi kini ubah posisinya dari berdiri jadi duduk di hadapan Dimitri.
"Kenapa anda tidak membuka praktek dukun saja pak, jika anda bisa menerawang apa yang dilakukan orang lain tanpa melihat." Ucapan Raffi benar-benar membuat Dimitri kesal.
"Terus aja ngomong akan aku pulangkan Amanda."
Ancaman Dimitri mampu membuat Rafi terdiam seketika, bagaimana nasib dirinya jika Amanda dipulangkan ke negaranya, ibarat kata benih cinta mulai tumbuh meski baru menjadi sebuah kecambah.
"Mangkanya jangan seenaknya sendiri kerja-kerja pacaran pacaran." Dimitri memarahi Rafi.
"Kami tidak pacaran kok, mana mungkin kami pacaran," elak Rafi.
Rafi tertawa dia menjelaskan pada Dimitri kalau mereka tidak pacaran tapi Dimitri tetap tidak percaya karena sudah nampak jelas di mata rafi ada Cinta.
"Mungkin sekarang hanya sebatas mengobrol tapi bisa jadi beberapa waktu kemudian kalian akan pacaran." kali ini Rafi diam dia tidak bisa menjawab ucapan Dimitri.
Jam makan siang telah datang, Rafi dan Amanda pergi makan siang bersama. Siapa sangka di sana juga ada Dimitri, Bryan dan juga Gilang.
Rafi yang pandangannya hanya fokus pada Amanda tidak menyadari keberadaan teman-temannya, tanpa dia sadari teman-temannya melihat dirinya menggoda dan merayu Amanda.
"Astaga dia gercep sekali, aku kalah," kata Gilang dengan pandangan yang tak lepas dari Dimitri dan Amanda.
"Kamu harus gercep juga Gilang," sahut Bryan.
Mereka bertiga bak CCTV yang memantau Rafi dan juga Amanda hingga tak sengaja Rafi melihat mereka.
Rafi yang terciduk para temannya berusaha menutupi wajahnya dengan tangan, dia sangat malu karena terciduk oleh teman-temannya.
"Astaga jadi mereka melihat aku," gumam Rafi.
Selepas makan siang Rafi dan Amanda segera kembali ke kantor dia pura-pura tidak melihat para temannya.
"Brengsek dia pura-pura tak melihat kita padahal aku tahu dia tadi menoleh," umpat Gilang.
"Mungkin dia malu Gilang," sahut Dimitri.
"Iya, nanti kita bully bersama," Bryan menambahkan.
Ketiga orang ini tertawa mereka sangat berniat untuk membully Rafi.
**********
Malam ini Bryan meminta izin pada Raisa untuk keluar sebentar, dan para temannya ingin minum santai sebentar di klub.
"Pulangnya jangan malam ya mas lagian kamu juga kan baru sembuh," pesan Raisa.
"Siap Sayang lagian kan malam ini aku mau minta jatah aku," bisik Bryan.
"Lama sekali menganggur," goda Bryan.
Raisa menatap kesal suaminya, bagaimana bisa lama menganggur baru tadi sore pulang dari kantor Bryan menggempur dirinya.
"Aku wajib mengejar ketinggalan sayang, saat kamu dalam masa nifas aku sudah berpuasa berhari-hari, ditambah lagi saat aku sakit, kamu tahu kan gimana rasanya? duh tersiksa banget." Bryan mengungkapkan isi hatinya dan ini membuat Raisa tersenyum lalu memeluk sang suami.
Mengingat Bryan sakit dahulu membuat Raisa sangat sedih, dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi hingga berapa kali pun Bryan meminta jatah Raisa siap sedia.
"Berapa kali pun kamu memintanya aku akan selalu siap Mas,"