Married With A Stranger

Married With A Stranger
Lahiran


Dari pembukaan 5 Raisa tidak mengalami pembukaan lagi sehingga membuat bidan dan dokter heran, para dokter pun melakukan pemeriksaan ulang terhadap Raisa.


Kali ini tangan dokter sendiri yang masuk ke dalam bagian terlarang Raisa untuk memastikan, melihat dokter memasukkan jarinya ke dalam area miliknya Brian nampak marah, dia seakan tidak rela jika dokter melihat daerah kekuasaannya.


"Apa-apaan ini dok," gumam Bryan dengan terus menatap Dokter yang berkali-kali mengecek daerah kekuasaannya.


Dokter memberitahukan pada Bryan kalau pembukaan Raisa stuck di pembukaan lima.


Tak ingin ada hal buruk baik dengan ibu maupun anaknya, Dokter meminta perawat untuk segera membawa Raisa ke ruang prakteknya, dia akan melihat perkembangan bayi dengan alat USG.


Setelah di USG ternyata bayi Raisa nampak miring melintasi Rahim atau istilah medisnya adalah Oblique. Dalam keadaan yang seperti ini sangat beresiko untuk melahirkan secara normal karena kepala bayi tidak pas di tempat jalan lahir sehingga mau nggak mau dokter harus mengambil tindakan operasi sesar.


"Kami harus segera melakukan operasi sesar Pak," Dokter melaporkan.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok," ucap Bryan.


Bryan menggenggam erat tangan Raisa dia tahu kalau saat ini Raisa pasti sangat takut dan juga sedih.


"Aku nggak akan menjadi ibu yang sempurna mas," kata Raisa dengan menangis.


Bryan nampak sedih melihat istrinya menangis.


"Meskipun operasi caesar tapi kamu tetap menjadi Ibu yang sempurna sayang." Brian menghibur Raisa.


Raisa ingin sekali melahirkan secara normal dia percaya kalau wanita itu akan menjadi wanita sempurna setelah melahirkan secara normal.


Raisa mengangguk keselamatan bayinya kini menjadi prioritas utama daripada hanya sekedar predikat wanita hebat.


Dokter meminta para suster untuk menyiapkan ruang operasi dan menyiapkan segala sesuatunya.


Setelah menandatangani surat izin operasi Bryan menghubungi para papa, rencananya dia ingin memberikan surprise kepada para papa saat bayinya sudah keluar namun saat ini doa para papa yang dia butuhkan supaya Raisa lancar menjalani operasinya.


"Tak berselang lama para Papa datang ke rumah sakit, tak hanya para papa, Yuke serta Dimitri turut hadir, kemudian disusul Gilang dan Raffi.


"Kalian datang semua," kata Bryan saat melihat papa dan para sahabatnya.


"Iya Bryan." Dimitri menyahut.


Gilang mendekat mencoba menguatkan atasan dan juga temannya namun sebelum mengatakan sesuatu Raffi sudah nerocos duluan.


"Tenang pak, operasi caesar itu tidak menyeramkan pasti istri anda akan selamat jadi jangan bersedih," hibur Rafi.


Gilang menatap Raffi dengan tatapan kesal, baru saja ingin mencari muka di depan Bryan, Rafi sudah menggagalkannya.


Mereka semua berdoa berharap operasi sesar yang dijalani Raisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apapun.


Satu jam telah berlalu namun lampu operasi masih saja menyala yang artinya operasi masih berlangsung.


Sepuluh menit kemudian sister keluar dengan membawa bayi mungil yang menangis di gendongannya


Dia memperlihatkan bayi kecil itu kepada Bryan dan semua orang di depan ruang operasi.


"Imi anak aku pa," Brian mengelus pipi anaknya, mata Bryan berkaca, dia sungguh bahagia.


Tak hanya Bryan Papa Raisa dan papa Brayan juga menangis melihat cucunya.


"Akhirnya kita punya cucu kata Papa Raisa" dengan memeluk Papa Bryan.


"Terima kasih Anton anakmu telah memberikan cucu padaku." Papa Bryan memeluk erat papa Raisa.


"Tentunya dengan benih Bryan," sahut Bryan.


Semua turut bahagia atas lahirnya anak Bryan yang pertama, termasuk Raffi dan juga Gilang.


Bukannya memeluk Gilang mereka berdua justru malah memeluk perawat yang membawa bayi Bryan.


Dipeluk dua pria tampan membuat perawat tersebut tidak protes sama sekali, dia malah senang, kapan lagi dipukul pria tampan.


"Woi jangan mencari kesempatan dalam kesempitan," teriak Dimitri.


Rafi dan Gilang terkekeh mendengar teriakan Dimitri kemudian melepas pelukannya.


Takut anak Brian kedinginan suster pun membawanya ke ruang inkubator untuk dihangatkan.


Beberapa waktu kemudian, keluarlah Raisa yang didorong oleh beberapa perawat.


"Ibu Raisa diletakkan di kelas mana Pak? tanya perawat.


"Ruang VVIP mbak," jawab Papa Raisa.


Bagi Sultan seperti mereka ruang VVIP adalah pilihan pertama karena tempat yang nyaman mempengaruhi bisa mempercepat proses penyembuhan.


Brian dan semuanya mengekor suster yang membawa Raisa ke ruang VVIP


Setelah meletakkan Raisa para suster memutuskan untuk pergi dan tak selang beberapa lama dokter datang untuk memeriksa keadaan Raisa.


"Sakitnya jangan dimanja ya Bu gunakan untuk miring ke kanan dan ke kiri, nanti kalau sudah bisa bisa dilanjut dengan bangun dan jalan ke kamar mandi," jelas dokter


Raisa mengangguk, dia masih belum merasakan bagian bawah tubuhnya mungkin pengaruh obat bius masih ada.


Selepas kepergian dokter Bryan terus menggenggam erat dengan Raisa, dia sangat bersyukur karena Raisa telah melahirkan anak yang sangat tampan untuknya.


Tak hanya Brian para papa pun juga sangat berterima kasih pada Raisa karena telah memberikan mereka cucu. Diimitri, yuke, Gilang dan Raffi mereka juga berterima kasih pada Raisa karena telah memberi mereka keponakan.


"Apa boleh saya menyumbang nama?" tanya Rafi.


Bryan menatap Raffi dengan tatapan elangnya, sungguh kesal sekali pada Raffi yang ingin menyumbang nama untuk anaknya.


"Enak saja memangnya waktu pembuatan kamu ikut menyumbang sehingga kini kamu ingin menyumbangkan nama untuk anakku," maki Brian.


Raffi tertawa mendengar makian Bryan.


"Seandainya anda memberitahu saya pasti saya akan turut menyumbang Pak." Ucapan Rafi semakin membuat Brian kesal padanya.


Sungguh ada-ada saja tingkah Rafi saat seperti ini bisa-bisanya dia malah ngelawak.


Bryan mengajak semua temannya untuk keluar karena Raisa ingin istirahat dan untuk para papa mereka lebih memilih di dalam menemani Raisa.


"Aku jadi nggak sabar ingin memiliki anak. Dimitri mengelus perut Yuke


"Iya Mas aku juga, kapan ya dia lahir," sahut Yuke dengan tersenyum.


Bryan dan Dimitri membuat Rafi dan Gilang iri, mereka juga ingin segera memiliki pasangan agar bisa secepatnya memiliki anak.


"Jodoh kami di mana ya, kenapa nggak datang-datang," kata Gilang dengan raut wajah sedih.


Brian dan Dimitri tertawa mendengar ucapan gilang, memang untuk pria yang sibuk dengan pekerjaannya akan sulit memiliki pasangan karena waktunya hanya mereka habiskan untuk kerja kerja dan kerja.


"Sesekali kasihlah kami cuti pak biar kami bisa mencari cewek," kata Rafi.


"Mana boleh cuti, tugas kalian itu banyak di kantor," sahut Dimitri


Raffi dan Gilang terlihat melemas kalau kerja terus bagaimana mereka bisa memiliki pasangan?


"Kalian para atasan sangat kejam, kalian telah merenggut waktu asisten kalian, apa kalian tidak sadar kalau para asisten juga memerlukan seorang pasangan?" Raffi mengeluarkan unek-uneknya.


Bryan dan Gilang semakin kesal, sungguh asisten mereka mengesalkan sekali.


"Baiklah kalian beleh cuti tapi gaji kalian juga akan kami potong," goda Bryan yang lagi-lagi membuat Rafi dan Gilang melemas.


"Kenapa sih nasib asisten gini amat nggak di dunia novel nggak di dunia nyata semua sama ditindas para atasan," Gilang dan Raffi melemas.