Married With A Stranger

Married With A Stranger
Berbohong Karena Taruhan


"Kenapa sih Mas, kalau nggak ada apa-apa nggak mungkin wajah kamu cemberut seperti itu," Amanda tak percaya.


Rafi menghela nafas, tidak mungkin dia mengatakan perihal taruhannya dan dia juga tidak mungkin mengatakan kalau dia ada rasa dengan Amanda.


Raffi mencoba tersenyum meyakinkan Amanda kalau memang tidak ada apa-apa.


"Aku nggak papa kok, hanya saja tadi aku belum sempat sarapan," kata Rafii berbohong.


"Yakin hanya nggak sarapan?" Amanda menyakinkan dengan penuh penekanan.


"Iya yakin, aku belum sarapan padahal aku lapar banget." Lagi-lagi Raffi berbohong pada Amanda.


Tak ingin Raffi sakit Amanda meminta izin kepada Dimitri langsung agar mengizinkan mereka berdua sarapan.


Aku ingin mengajak Raffi sarapan Dimitri, Amanda datang ke ruangan Dimitri.


"Bukankah kamu tadi di rumah sudah sarapan." Dimitri heran karena Amanda ingin sarapan lagi.


Memang aku sudah sarapan tapi Rafi belum sarapan di ruangannya dia nampak cemberut, aku takut kalau dia sakit."


Dimitri nampak tersenyum dia sudah tahu bukan itu alasan kenapa Rafi cemberut, Rafi cemberut karena memang dia lagi.dilema antara perasaannya atau mobil kesayangannya.


Meskipun begitu Dimitri tetap mengizinkan Amanda untuk pergi sarapan dengan rafi.


Aku beri waktu 60 menit untuk pergi sarapan, ingat hanya 60 menit awas aja kalau lebih dari 60 menit, aku nikahkan kalian," ancam Dimitri yang membuat Amanda menatap Dimitri dengan tatapan yang tak biasa.


Apa Dimitri tau perihal perasannya pada Rafi? perasaan, rasa nyaman baru muncul bagaimana Dimitri bisa tau? Amanda bertanya-tanya.


Amanda masa bodoh, dia segera keluar dan kembali ke ruangannya lalu mengajak Rafi untuk sarapan.


"Kita hanya memiliki waktu 60 menit Rafi, ayo pergi sarapan," Amanda menarik tangan Rafi.


Sebenarnya Rafi tidak benar-benar lapar mengingat tadi dirinya sudah makan banyak di rumah, namun karena menutupi masalah yang sebenarnya dia berbohong pada Amanda.


"Matilah aku, bisa meletus nih perut aku," batin Rafi.


Dengan berbagai alasan Rafi mencoba mengajak Amanda untuk kembali namun Amanda menolak karena dia takut kalau Rafi sampai kenapa-kenapa.


"Udah nggak usah tutorial sakit mag, kalau kamu sakit aku juga sedih Raf," kata Amanda.


"Memangnya kamu sedih kalau aku sakit," sahut Rafi.


"Amanda menghentikan langkahnya lalu menatap Rafi dengan tatapan tak biasa.


"Menurut kamu bagaimana? aku sedih apa nggak?" tanya Amanda.


Rafi menggaruk kepala yang tidak gatal, kenapa Amanda malah bertanya padanya?


"Aku tidak tau, bisa saja sedih bisa saja nggak," jawab Rafi.


Takut menghabiskan waktu, Amanda segera menarik Rafi ke luar kantor, dia pergi ke tempat makan samping kantor. cuma itu pilihan tempat makan yang terdekat dengan kantor mengingat semua masih tutup.


Amanda memesankan makanan kesukaan Rafi, karena tadi Rafi bilang sangat lapar Amanda pun memesankan porsi jumbo.


"Amanda aku bukan kuli kenapa porsinya banyak sekali," Rafi protes pada Amanda.


"Biar kamu kenyang dan nggak sakit," sahut Amanda.


Tak berselang lama makanan kesukaan Raffi sudah datang, melihat posisi jumbo membuat Rafi ingin muntah.


Rafi nampak bingung bagaimana menghabiskan nasi sebanyak ini sedangkan perutnya sudah sangat kenyang.


"Aku sudah kenyang," kata Rafi yang baru bilang terus terang pada Amanda.


"Katanya tadi lapar." Amanda sungguh bingung mana yang benar lapar atau kenyang?


"Kalau nggak lapar kenapa tadi bilang lapar?" tanya Amanda dengan sedikit kesal.


Raffi menghela nafas, akankah dia menceritakan semua pada Amanda tentang taruhannya dengan Dimitri? ya mau nggak mau kelihatannya memang harus terus terang.


"Sebenarnya aku pusing memikirkan mobil kesayangan aku, beberapa waktu yang lalu aku dan Pak Dimitri memutuskan untuk taruhan....."


"Taruhan?" Amanda menyela cerita Rafi.


"Iya taruhan, kata Raffi kemudian.


"Aku dan Pak Dimitri taruhan mobil, aku kira aku akan menang sehingga bisa memiliki mobil Pak Dimitri yang limited edition itu namun siapa sangka aku malah kalah taruhan." Raffi mengungkapkan semua pada Amanda.


"Memangnya kamu dan Dimitri taruhan apa?" pertanyaan Amanda membuat Rafi bingung apakah dia berterus terang akan perasaannya?


"Sebenarnya kami taruhan tentang perasaan, dia dari awal yakin kalau aku akan jatuh cinta padamu, sehingga dia mengajak aku taruhan, aku yang saat itu tidak memiliki perasaan apapun padamu tentu menerima taruhan itu dengan yakin menang, tapi kenyataannya aku kalah."


Amanda nampak tersenyum dia sangat senang sekali ternyata Raffi juga memiliki perasaan yang sama.


"Biarkan saja mobilmu diambil Dimitri nanti aku akan membelikan kamu mobil yang baru," sontak Rafi langsung menatap Amanda dengan mata yang terbuka lebar.


Raffi tak menyangka kalau Amanda akan membelikannya dia mobil.


"Jangan Amanda di mana-mana pria itu yang membeli hadiah kepada wanita bukan sebaliknya" Raffi menolak.


"Tidak apa-apa, emangnya ada undang-undang wanita tidak boleh memberi barang kepada seorang pria, enggak kan?"


"Ya memang enggak Amanda tapi kan kodrat seorang pria bukan diberi tapi memberi, kalau kamu ingin memberi aku hadiah tunggu sampai besok kalau sudah menjadi istri aku itupun dari uang aku bukan uang kamu." Ucapan Raffi benar-benar membuat Amanda meleleh, inilah seorang pria sejati tidak akan mau menerima pemberian seorang wanita.


Amanda mengangguk dia tidak akan memaksa Rafi.


Rafi memberikan makanannya pada seorang pemulung yang memungut sampah di depan depot, setelah itu dia mengajak Amanda kembali l.


"Ayo kita balik," ajak Rafi.


**********


Tak sampai 60 menit mereka sudah kembali, namun sejak kembali ke kantor, Amanda nampak bingung dengan Rafi, dia memiliki perasaan terhadapnya begitu sebaliknya dia yang memiliki perasaan terhadap Rafi, tapi kenapa Raffi tidak menembaknya? kenapa dia diam saja?


"Sebenarnya dia suka nggak sih sama aku," batin Amanda sembari menatap Rafi yang sibuk dengan pekerjaannya.


Rafi sedikit tersenyum melihat Amanda yang menatapnya, tapi dia pura-pura tidak tahu supaya Amanda selalu menatapnya.


"Wanita ini menggemaskan sekali," batin Rafi yang sudah tidak kuat ingin menatap Amanda balik.


Sudah di batasnya Rafi beranjak lalu mendekat ke meja Amanda.


"Lihatlah sepuasnya aku sudah mendekat," kata Raffi yang membuat Amanda tersipu malu, dia kira Raffi tidak mengetahuinya.


"Ih kenapa nggak bilang kalau sudah tahu aku kan jadi malu," protes Amanda.


"Kalau aku bilang kamu nggak akan menyudahi menatap aku," sahut Rafi dengan terkekeh.


"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pak," ungkap Amanda.


"Jangan panggil aku pak, panggil saja mas, kalau ada meeting baru gunakan panggilan formal," Raffi merasa tidak suka saat Amanda memanggilnya Pak.


"Baik mas," sahut Amanda.


Rafi meminta Amanda untuk bicara, bisanya


"Kita kan saling suka, memiliki perasaan yang sama, lantas kenapa kamu tidak menembak aku Mas?"


Rafi tertawa mendengar pertanyaan Amanda, Apa acara tembak menembak itu diperlukan untuk menjalin sebuah hubungan?