
Mendengar jawaban Bryan membuat dunia Rea runtuh, dia mendapatkan dua kejutan sekaligus yang pertama Bryan telah menikah dan yang paling mengejutkan adalah sahabatnya sendiri yang jadi istrinya.
"Apa!" teriak Rea.
"Sudah Rea, shock nya di keep dulu, sekarang panggilan Raisa," sahut Gilang.
Rea yang masih shock hanya menggeleng, dia tidak tau dimana Raisa.
"Apa maksud kamu dengan menggeleng? mana istri aku," tanya Bryan.
"Aku tuh sedih kak Bryan, kenapa sih harus Raisa kenapa nggak aku." Rea semakin ngawur.
Bryan dan Gilang memijat pelipisnya, merasa sungguh tidak sabar dengan drama Rea.
"Rea mana Raisa?" tanya Gilang.
"Aku nggak tau kak," jawab Rea.
Bryan semakin bingung, kalau di rumah Rea dan Lala nggak ada dimana Raisa berada?
Tanpa berkata apa-apa Bryan dan Gilang pergi dari rumah Rea, Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah berharap kalau Raisa ada di rumah.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Bryan.
"Mending kita tanya papa Raisa, siapa tau papa Raisa mengetahui dimana Raisa berada." Gilang menyarankan.
Bryan nampak tidak setuju kalau papa Raisa tau Raisa hilang karena pasti papa Raisa akan bilang pada papanya.
Gilang tak tau harus bagaimana lagi, hanya itu jalan satu-satunya, kalau Bryan tidak mau dia juga tidak bisa memaksa.
"Terserah bro," kata Gilang.
Lama berpikir akhirnya Bryan setuju daripada Raisa tidak ditemukan.
"Ya sudah ayo," ajak Bryan.
Gilang menemani Bryan ke rumah orang tua Raisa, sebenarnya hal ini adalah yang diimpikan Gilang pergi ke rumah wanita yang disukainya.
"Pa," panggil Bryan saat tiba di rumah Raisa.
"Iya Bryan, ada apa?" tanya papa Raisa.
Bryan mencoba menenangkan diri, meski takut dia mencoba untuk tenang.
"Begini pa, Bryan mau memberi tahu sesuatu tapi papa jangan marah ya," ucap Bryan.
"Iya Bryan bilang aja," pinta papa Raisa.
"Tapi papa jangan marah ya," sahut Bryan.
"Iya Bryan, bicaralah," pinta papa Raisa lagi.
"Benar pa, ini bukan salah Bryan, semua terjadi begitu saja," kata Bryan yang membuat papa Raisa kehilangan kesabaran.
Bola mata papa Raisa tertuju ke Bryan dengan tatapan membunuh, kesal sekali dengan Bryan yang menurutnya bertele-tele.
"Kamu mau papa pecat jadi mantu? daritadi ngomong muter mulu seperti kincir angin," ucap papa dengan tatapan mautnya.
Bryan terkekeh dengan ucapan papa mertuanya, lagi dalam-dalamnya cinta mereka masa iya mau dipecat.
"Pecat saja om, nanti saya yang akan maju," bisik Gilang yang sontak membuat Bryan menatap Gilang dengan tatapan mautnya.
Gilang menaikan jari telunjuk dan jari tengahnya pada Bryan sambil terkekeh.
"Mau ngomong apa nggak?" tanya papa Raisa dengan kesal.
"Iya pa, begini Raisa hilang," jawab Bryan.
Papa Raisa tentu kaget mendengar jawaban Bryan bagaimana bisa Raisa menghilang, siapa yang menculiknya?
"Tadi kami pergi ke mall pa, Raisa pamit ke toilet dan sampai sekarang belum juga kembali, Bryan sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu," jelas Bryan.
Seperti apa yang ditakutkan Bryan, papa Raisa menghubungi papanya, dia meminta papa Bryan untuk turut membantu mencari Raisa.
Sambil menunggu papa Bryan, papa Raisa meminta anak buahnya untuk mencari Raisa di mall, bila perlu meminta CCTV pada manager mall.
Beberapa waktu kemudian, papa Bryan datang dia sangat mencemaskan Raisa mantu semata wayangnya.
"Kok bisa sih Anton, bagaiamana bisa mantu aku hilang?" tanya papa Bryan.
"Coba tanya sama mantu aku," jawab Papa Raisa.
Papa Bryan menatap Bryan dengan tatapan elang yang siap menukik dan memangsa.
"Katakan Bryan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Papa Bryan.
Bryan menjelaskan semua pada papanya, kalau menurut papanya tidak mungkin Raisa tidak kembali jika dirinya baik-baik saja, kalaupun ulah penculik, apa mungkin berani menculik Raisa yang memiliki karakter bar-bar, mikir ribuan kali penculiknya untuk menculik Raisa.
"Apa yang sebenarnya terjadi di mall, coba kamu cerita yang sejujurnya," pinta papa.
"Sebenarnya tadi ada teman cewek Bryan yang tiba-tiba datang, dia duduk di tempat Raisa," ungkap Bryan.
Semua nampak kesal, dari cerita Bryan bisa disimpulkan kalau Raisa cemburu dan pergi dari Mall, kini yang jadi pertanyaannya Raisa dimana?
"Kami sudah mencari di rumah temannya tapi nihil om," sahut Gilang.
Semua nampak bingung, hingga mereka memutuskan untuk mencari Raisa ke tempat yang sering dikunjungi ketika lagi bad mood.
Hingga menjelang malam, semua belum menemukan Raisa dan ini membuat Bryan nampak bersalah andaikan dia lebih tegas mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Maafkan aku sayang," batin Bryan dengan raut wajah sedih.
Semua sudah mentok, tidak tau harus kemana lagi, untuk melapor ke pihak berwajib harus menunggu 2x24 jam.
"Bagaimana ini pa?" tanya Bryan.
"Nggak tau, mangkanya kalau sudah menikah itu jangan dekat-dekat dengan wanita lain," jawab papa Bryan dengan kesal.
"Kita berharap saja semoga Raisa baik baik saja," sahut Papa Raisa mencoba membuat suasana mencair.
Waktu terus berjalan, anak buah papa Bryan dan papa Raisa juga tidak bisa menemukan Raisa tentu ini membuat semua semakin khawatir.
Sibuk mencari Raisa membuat mereka lupa makan hingga pukul sembilan malam mereka memutuskan untuk makan, memang sibuk memikirkan Raisa membuat mereka semua tidak naf-su makan namun mereka harus tetap makan supaya memiliki tenaga untuk mencari Raisa.
"Meski tidak naf-su kamu harus tetap makan Bryan, karena pura-pura tegar juga butuh tenaga," goda Gilang.
Lagi-lagi Gilang mendapatkan lirikan maut dari Bryan, kini yang dipikirkan adalah Raisa, apa saat ini Raisa baik-baik saja, apa sudah makan?
Di dalam kamarnya Raisa lelah menangis, hatinya sungguh hancur mendengar pengakuan Bryan yang mengatakan kalau dirinya hanyalah seorang teman.
Tak seharusnya Bryan malu mengatakan hubungan mereka toh kini mereka juga saling mencintai dan mau menerima satu dan lainnya.
"Wajah tampan tapi kelakuan burik." Lagi-lagi burik disebut oleh Raisa.
"Sudahlah Raisa ngapain menangisi si Burik, memangnya siapa dia." Raisa bermonolog dengan dirinya sendiri.
Menangis dengan durasi yang lama membuat Raisa lelah dan lapar.
"Makan dulu ah, nanti lanjut lagi nangisnya," ucapnya lalu Raisa beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Seusai mencuci muka Raisa berjalan keluar kamar, dia menuju ruang makan yang kebetulan semua orang berkumpul disana untuk makan juga.
Seolah tak ada apa-apa Raisa langsung duduk, tanpa sepatah kata dia mengambil makanan dan melahapnya.
Semua orang disana bengong melihat Raisa, bagaimana tidak, sedari tadi mereka mencari Raisa, kini dengan santainya Raisa turun dari atas dan langsung makan.