Married With A Stranger

Married With A Stranger
Kalah


"Memangnya acara tembak menembak itu penting? kan kita sudah tahu perasaan masing-masing dari kita." Rafi nampak heran dengan pikiran seperti itu, kalau sudah saling tahu perasaan masing-masing kenapa harus dilakukan acara tembak menembak?


Tentu saja menembak atau mengungkapkan perasaan itu penting, karena dari situlah cikal bakal seseorang menjalin hubungan, dengan menembak kita akan tahu perasaan pasangan kita mengingat kita bukanlah cenayang yang tahu isi hati dalam manusia.


"Jelas penting dong Mas," sahut Amanda.


Akhirnya Raffi mengalah dia pun berdiri dan mendekati Amanda di kursi kerjanya, dia menggenggam tangan Amanda dengan erat.


"Aku tak tahu apa yang aku rasakan, semua terjadi begitu saja tiba-tiba rasa aneh telat datang yang membuat aku ingin selalu bersamamu, mengobrol denganmu dan bercerita banyak tentang dunia padamu, aku tahu ini adalah cikal bakal terbentuknya rasa cinta, jadi aku ingin bertanya padamu, apakah kamu mau menjadi kekasihku?"


Cara mengungkapkan perasaannya, membuat Amanda terharu, sungguh menakjubkan, baru kali ini ada orang yang mengungkapkan perasaannya dengan begitu menyentuh hati seperti Rafi.


"Aku mau mas, bahkan aku ingin lebih dari hanya sekedar kekasih," jawab Amanda


Raffi dan Amanda saling berpelukan, mulai detik ini mereka tidak akan terpisahkan lagi. Dunia kini milik mereka berdua, yang lainnya ngontrak.


"Kalau begitu kita secepatnya menikah," sahut Rafi


Menurutnya lebih baik pacaran setelah menikah daripada terlalu lama pacaran sebelum menikah.


Namun sebelumnya mereka harus pergi ke Barcelona terlebih dahulu untuk meminta izin kedua orang tua Amanda.


"Kalau Amanda memutuskan untuk menikah dengan Rafi lantas bagaimana dengan mama Dimitri?


Di rumahnya Mama Dimitri nampak marah-marah pada Yuke, karena Yuke tidak pernah menyerah untuk melepas Dimitri.


"Aku heran padamu, aku tidak menganggapmu menantu, aku memarahimu, aku kasar padamu bahkan aku membawa Amanda ke sini tapi kenapa kamu seakan tidak peduli akan semua itu?


kamu masih saja bertahan di sini." Mama Dimitri mengungkapkan unek-uneknya.


Yuke tersenyum, sebenarnya dia juga tak tahan hidup rumah tangga seperti ini namun bagaimana lagi, setiap rumah tangga ada masalahnya dan yang dia yakini Tuhan tidak akan menguji manusia diluar batas kemampuannya.


"Sebenarnya saya juga tidak tahan tapi bagaimana lagi, status saya adalah seorang istri yang mengandung anak suami saya kalau saya menyerah lalu bagaimana nasib anak yang ada dalam kandungan saya?" ucapan Yuke membuat nama Dimitri berpikir, memang benar kalau sampai Yuke dan Dimitri terpisah bagaimana dengan anaknya?


Meskipun Mama Dimitri sangat membenci Yuke tapi di dalam perut Yuke ada anak Dimitri yang artinya darahnya mengalir disana.


Tak ingin berdebat dengan Yuke, Mama Dimitri memutuskan pergi ke kamarnya, sikap Yuke selama ini perlahan merubah Mama Dimitri.


********


Amanda yang ingin menjalin hubungan serius dengan Raffi terus terang pada mama Dimitri, dia tidak ingin mama Dimitri terus memaksanya untuk mengganggu hubungan Dimitri dan Yuke.


"Maafkan saya Tante, saya telah mencintai pria lain," kata Yuke yang membuat Mama Dimitri sedikit shock.


"Bagaimana bisa kamu mencintai pria lain padahal kamu tinggal di rumahku!" protes Mama Dimitri.


"Lalu saya harus bagaimana tante? Dimitri sangat mencintai istrinya di dalam perut istrinya juga mengalir darah Dimitri, saya tidak bisa memisahkan mereka." Sahut Amanda.


Mama Dimitri nampak terdiam, tak hanya hatinya yang mulai ragu Amanda pun juga telah mundur.


Mama Dimitri yang pusing mengakhiri obrolannya dengan Amanda, dia segera masuk ke kamarnya untuk menenangkan diri.


"Di ruang makan Amanda meminta maaf kepada Yuke maupun Dimitri akan sikapnya selama ini, dia berjanji secepatnya akan keluar dari rumah Dimitri karena rencananya dia ingin membeli rumah sendiri.


"Kami sudah memaafkan kamu Amanda, jangan lagi mengganggu hubungan seseorang," pesan Yuke untuk Amanda.


Amanda tersenyum dia bilang kepada Dimitri dan Yuke kalau dirinya dan Rafi telah jadian bahkan Rafi mengajaknya untuk segera menikah.


Dimitri yang sudah tahu pun hanya tersenyum kecil, ini saatnya mengerjai Rafi kembali yaitu meminta mobil sport kesayangannya.


Keesokannya Dimitri memanggil Raffi ke ruangannya, mereka akan meeting bersama Bryan dan Gilang dan juga beberapa investor yang lain.


Memang benar kata orang kalau virus cinta itu melumpuhkan segalanya, otak yang tajam jadi tumpul, pikiran fokus jadi tidak fokus karena memikirkan orang yang dicintai tak hanya itu yang terjangkit virusnya juga menjadi seorang yang pelupa.


Namun ada juga yang sebaliknya tergantung gejala dari virus cinta yang menyerang.


"Siap Pak," sahud Rafi.


Meeting dengan para investor membawa keuntungan sendiri bagi perusahaan Brian maupun perusahaan Dimitri, banyaknya investor yang menanamkan modal ke perusahaan mereka membuat perusahaan mereka semakin besar, tak hanya itu harga saham pun semakin naik.


"Selamat Dimitri perusahaanmu dan perusahaanku akan menguasai pasar negara ini," kata Bryan sambil memeluk Dimitri.


Dimitri sangat bersyukur semenjak Bryan membantunya kini perusahaannya semakin maju.


"Terima kasih Bryan atas bantuannya selama ini," Dimitri tak tahu harus berucap apalagi terlalu banyak bantuan yang uraian berikan untuknya.


"Kita kan saudara jadi harus tolong menolong," kata Bryan.


Untuk merayakan kemajuan perusahaannya Dimitri mengajak semuanya untuk makan di sebuah restoran bintang 5, dia meminta Rafi untuk memesan kelas VIP supaya lebih privasi.


Setibanya di restoran bintang 5 mereka memesan banyak makanan, dalam sekejap makanan di atas meja hampir ludes.


"Oh ya Raffi aku dengar kamu akan segera menikah dengan Amanda," Dimitri membuka percakapan.


Rafi yang asik makan pun tersedak.


Uhuk


uhuk


uhuk


Gilang segera mengambilkan air putih untuk Rafi dan membantunya minum.


"Wah, Dimitri akan menang taruhan nih," kata Bryan yang membuat Rafi semakin pucat.


"Siapa yang bilang kalau aku dan Amanda akan segera menikah?" tanya Rafi.


"Amanda sendiri," jawab Dimitri.


Rafi memijat kepalanya yang sedikit pening, kenapa Amanda bilang, seharusnya dia tidak bilang kalau ada hubungan minimal sampai mereka selesai menyiapkan segala sesuatu, biar dirinya memiliki waktu lebih lama dengan mobil sport kesayangannya.


"Aku harap kamu tidak melupakan janjimu Raf," kata Dimitri.


Rafi pun pasrah jika mobil kesayangannya harus menjadi milik Dimitri.


Lagi pula dia juga mendapatkan ganti yang lebih berharga yaitu Amanda orang yang dicintainya.


"Ya sudah ambillah mobilku toh aku juga sudah mendapatkan gantinya," Rafi mencoba ikhlas.


Ketiga orang temannya tertawa, ingin sekali mengabadikan ekspresi Rafi yang seperti ini.


"Ya sudah nanti malam kamu antar ke rumahku ya mobilnya," kata Dimitri.


"Baiklah pak, nanti malam akan saya antar," Meski sedih namun Raffi berusaha tenang.


Benar saja malam harinya Rafi mengantar mobilnya ke rumah Dimitri, kalah taruhan harus sportif harus rela memberikan barang yang sudah dijadikan bahan taruhan.


"Ini Pak kunci mobilnya, saya titip mobil kesayangan saya pada Anda tolong jaga baik-baik ya," kata Rafi yang sedikit enggan memberikan kuncinya.


"Jangan khawatir aku akan menjaganya dengan baik," kata Dimitri.